Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kabar Baik Buat Emak
Sore ini, Depy pergi ke Fit Yan Swalayan mengantar Ibunya beli bedak dan sekalian ingin mencari jilbab untuk pasangan gamis barunya.
Bu Alnie ini, memang sangat memperhatikan penampilannya.
Meski penampilannya tak berlebihan, tapi ia selalu pandai memadu padankan penampilan dari jilbab, gamis sampai sandal dan tas yang ia pakai.
Saat dulu jadi Bu Lurah, bahkan sampai saat ini sang suami sudah tak jadi lurah dan kerja di kantor kecamatan, Bu Alnie masih jadi pusat perhatian ibu-ibu sekitar untuk masalah penampilannya.
Maklum saja, kiblat Bu Alnie memang Ibu Ani Yudhoyono, isteri Pak SBY mantan presiden kita itu memang selalu terlihat mantesi kalau kata orang Jawa bilang.
Tidak berlebihan, tapi terlihat elegan, anggun dan enak dipandang mata.
"Kamu mau sekalian beli jilbab nak?"
Tanya Ibu Alnie pada Depy, putrinya.
Depy yang berjalan di samping sang Ibunda terlihat menggeleng saja.
Mereka saat ini sudah berada di lantai dua Fit Yan swalayan yang memang di lantai itu khusus tempat untuk pakaian dan jilbab, dari pakaian anak, dewasa pria dan juga wanita.
Tak seperti biasanya, di mana jika mengantar sang Ibu beli jilbab maka Depy juga akan minta beli satu, kali ini Depy memang tak ingin membeli apa-apa.
Yang Depy inginkan hanya Ibunya segera selesai memilih lalu mereka bisa cepat pulang.
Ya, Depy sejak pagi tadi masuk kampus, lalu saat ini mengantar Ibu ke swalayan, merasa ada yang mengikuti terus.
Beberapa kali Depy terus melihat seperti ada yang berkelebat tak jauh dari posisinya, kadang ia juga melihat seperti wajah mengintip di sekitar tempat yang Depy sedang berdiri.
Depy meraih lengan Ibunya, ketika tiba-tiba ia merasa seperti melihat ada bayangan berkelebat lagi di antara banyak pengunjung.
Bayangan yang lebih jelas dari sebelumnya, di mana ia membentuk seperti perempuan berambut panjang dengan baju terusan berwarna putih.
"Bu, apa belum ketemu jilbabnya?"
Tanya Depy yang kakinya kini sudah mulai gemetaran.
Ia yakin apa yang ia lihat itu yang mengikutinya juga sejak pagi.
Saat di kampus, Depy juga melihat bayangan seperti itu meskipun belum begitu jelas.
"Kenapa memangnya?"
Ibu Alnie menatap anaknya yang wajahnya pucat.
"Kamu sakit?"
Bu Alnie meletakkan telapak tangannya di kening Depy.
"Pulang yuk Bu, Depy takut."
Kata Depy akhirnya.
Ia tak bisa lagi menutupi ketakutannya, kali ini ia benar-benar takut jika bayangan itu lama-lama akan muncul dalam bentuk yang lebih jelas dan lebih dekat.
Ibu Alnie yang meskipun heran dengan Depy akhirnya mengangguk, tentu saja sebagai Ibu yang baik, ia tak perlu cerewet tanya ini itu lagi setelah melihat ekspresi anaknya demikian.
"Kuat bawa motor tidak? Kalau tidak Ibu saja yang bawa."
Ujar Bu Alnie.
Depy mengangguk.
"Iya Bu, maafin Depy, tangan Depy lemas."
Kata Depy.
Ah entahlah, apa sebetulnya yang terjadi.
Bayangan itu, Depy rasa bayangan itu adalah hantu.
Hantu perempuan.
Tapi pertanyaannya, kenapa dia tiba-tiba mengikuti Depy? Bahkan sampai seharian ini?
Apa salah Depy?
Bukankah selama ini Depy tak pernah macam-macam jadi anak?
Depy takut setengah mati jadinya.
Ah dia harus bicara pada Ela begitu nanti sampai di rumah. Batin Depy.
**------------**
Senja sudah turun di kaki langit, manakala Asep dengan motor pinjaman dari Sobir akhirnya memasuki kampung Raja Pete lagi.
Sepanjang jalan, orang-orang yang berpapasan dengan Asep menyapa.
Dari cara mereka memandang Asep, terlihat sekali jika mereka cukup kaget dengan penampilan baru Asep saat ini.
Asep yang tak lagi dekil, tak lagi cerumut, dan tak lagi lusuh.
Asep kini tampil bersih, rapi dan wangi.
Senyum Asep yang merekah juga membuat wajah Asep semakin bersinar terang macam matahari di musim semi.
Asep dan motornya mulai mendekati rumah dengan banner LISA AULIA TAILOR yang melambai-lambai macam tangan yang gemulai.
Sementara di depan rumah tampak motor jenis scooter terparkir manis.
Asep menghentikan motor Sobir di dekat motor scooter, lalu turun dari motornya untuk kemudian masuk ke dalam rumah.
Dan...
Waw, siapa ini?
Asep terkejut sekaligus deg degan manakala dilihatnya Anggita berdiri di ruangan depan rumahnya sedang diukur oleh Emak.
"Sep."
Emak tampak tersenyum merekah menyambut kedatangan sang anak satu-satunya.
Asep menyalami tangan Emak dan mencium punggung tangannya.
Baru setelah itu menyapa Anggita, si bunga desa.
Anggita yang seperti agak terkejut juga melihat perubahan pada diri Asep tampak tersenyum manis sekali.
Jika ada lebah, pasti banyak lebah langsung menggerumut bibir Anggita dikira banyak madunya.
(Jontor jontor dah lo Nggit)
Asep yang ceritanya tak ingin mengganggu aktivitas Emak, memilih permisi masuk ke dalam ruangan berikutnya.
Meskipun sesekali Asep masih terlihat menoleh ke arah Anggita untuk curi-curi pandang.
Benar, cantik sekali si Anggita ini, apa bisa Asep merebutnya dari pacarnya yang pakai pajero itu?
Ah sepertinya itu pacar Anggita kalau dari segi ketampanan sebetulnya masih di bawah Aseplah, secara Asep kan wajahnya saja mirip Verrell, berarti sudah di atas rata-rata.
Sementara jika melihat Anggita yang cantiknya mirip Natasya Willona, berarti kan cocoknya sama Asep dong?
Hihihi...
Asep jadi ingin mengatur jodohnya sendiri.
Tapi...
Ah sudahlah, Asep harus ingat tujuannya pulang adalah untuk menemui Emak.
Batin Asep mengingatkan dirinya, namun kepalanya tetap melongok lagi dari balik tembok pembatas ruangan dalam dan ruangan depan untuk mencuri pandang pada Anggita.
Sialnya, tepat saat Asep kepalanya nongol, Emak melihat ke arahnya.
Tampak Emak dengan matanya mengisyaratkan agar Asep jangan berperilaku seperti keong racun.
Longak-longok tidak jelas.
Anggita tak lama akhirnya pamit, Emak mengantar sampai depan teras.
Basa basi ala Emak seperti biasa, titip salam untuk Ibunya Anggita dan ucapan terimakasih adalah basa basi standar.
Setelah Anggita pulang, barulah Emak masuk kembali ke dalam rumah.
Asep juga kembali ke ruang depan.
"Mak, Asep pulang bawa kabar baik."
Kata Asep.
"Kabar apa?"
Tanya Emak.
Asep lalu mengajak Emak duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Mak, ada pelanggan lama Bapak datang."
Kata Asep.
"Pelanggan lama mana?"
Tanya Emak.
"Pengusaha besar Mak, keren, teope, namanya Mister Mikimos."
kata Asep.
"Hah, tikus?"
Emak membulatkan matanya.
Asep diam sejenak.
Kayaknya dia salah sebut nama.
Lalu...
"Ya namanya begitulah Mak, susah, mungkin keturunan bule Mak."
Kata Asep akhirnya.
"Ooo... kamu punya pelanggan Bule?"
Emak mantuk-mantuk sambil tersenyum bangga.
Asep juga mantuk-mantuk.
"Katanya pelanggan lama Bapak Mak, memangnya Emak tak pernah dengar?"
Tanya Asep heran.
"Lah Emak mana pernah tanya nama pelanggan Bapakmu, yang penting kan uangnya kalau Emak mah."
Dan Emak pun terkekeh.
Haiiish... Asep mendesis.
Dasar Emak.
Kemudian Asep...
**-----------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus