(Novel Ketiga = Puskesmas Di Tengah Hutan)
Berawal dari rasa geram Nala pada pemilik kos-an membuatnya nekat untuk pindah yang ternyata, malah membawanya kepada pusaran terror ghaib nan mencekam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar Kembali
Reza tengah bersiap untuk tidur kala sebuah panggilan membuat ponselnya berdering. Nama Roni tertera di layar. Reza pun bergegas mengangkatnya.
"Halo Ron!"
"Ada kabar baik Za."
"Apa?"
"Ayahku mendapat kabar tentang orang pintar yang mungkin saja bisa menolong Nala."
"Siapa?"
"Namanya kyai Mansyur, rumahnya bertetangga desa denganku. Sekitar empat desa dari tempatku tinggal, agak jauh sedikit sih."
"Gak masalah, jumat malam kita ke rumahmu lagi!"
"Iya Za!"
"Makasih ya Ron!"
"Santai aja Za, yaudah gitu aja ya!"
"Iya."
...🌸🌸🌸...
Jumat malam selepas magrib, Roni dan Reza kembali menggeber motornya menuju kampung halaman Roni. Mereka memilih untuk beristirahat saat sampai dan baru keesokan paginya mendatangi rumah kyai Mansyur.
"Sabar ya! semoga kyai Mansyur bisa menolong Nala!" ucap ayah Roni sebelum mempersilahkan Reza untuk tidur.
"Iya pak aamiin," jawab Reza.
...🌸🌸🌸...
"Silahkan masuk!" ucap istri kyai Mansyur saat Reza dan Roni bertandang ke rumahnya.
"Mas-mas sekalian ini mencari siapa?" tanyanya lagi.
"Mencari kyai Mansyur, saya Roni, ini teman saya Reza."
"Oh iya, silahkan duduk, saya panggilkan sebentar!"
"Baik."
Tak berselang lama, kyai Mansyur pun datang dan dengan ramah menanyakan maksud kedatangan Roni dan Reza. Roni mempersilahkan Reza untuk bercerita. Kyai Mansyur mendengarkan dengan seksama seraya memejamkan matanya.
"Hemm... emm... hemm... iya-iya sudah saya lihat. Gadis ini memang ditawan oleh raja jin tapi diperlakukan layaknya tuan putri sebab raja jin hendak menikahinya. Sekarang, gadis ini bingung karena mulai mencurigai banyak hal."
"Mencurigai apa pak kyai?" tanya Reza.
"Curiga tentang siapa sebenarnya sosok yang disebut raja oleh semua makhluk di sana dan lain sebagainya. Masalahnya, raja jin membuatnya lupa akan semua kehidupan manusianya. Gadis ini menganggap bahwa dirinya memang selama ini tinggal di sana."
Reza menghela napas panjang.
"Lalu bagaimana pak kyai? apa masih bisa ditolong?" tanya Reza lagi.
"Saya hanya bisa mengembalikan kesadaran Nala saja tapi tidak bisa menariknya kembali ke alam manusia."
Reza terdiam lalu Roni menimpalinya.
"Bukankah itu jauh lebih baik ya? setidaknya, Nala bisa mengingat kembali dan tidak semakin lama terperdaya."
"Iya, itu maksud saya tapi kalau untuk mengembalikannya ke alam manusia, jujur saja, kemampuan saya belum mumpuni."
"Apa yang akan terjadi jika Nala berhasil disadarkan sementara dia masih berada di sana?" tanya Reza khawatir.
"Itu yang kita semua tidak tahu. Paling tidak, dia bisa menolak atau membentengi diri dengan berdoa. Kalau dia masih dalam kondisi terperdaya begini, saya rasa, akan semakin sulit."
"Ada benarnya Za kata pak kyai. Lebih baik, Nala disadarkan dulu sembari yang di sini berusaha untuk menolongnya. Mencari orang yang bisa menariknya kembali ke alam manusia. Jika berhasil, hal ini juga termasuk kemajuan besar," ucap Roni.
"Kamu benar, Baiklah pak kyai, saya mohon bantuannya untuk menyadarkan Nala kembali!"
"Baik, bismillah kita coba ya. Saya akan berusaha, kalian juga tolong bantu berdoa!"
"Baik pak kyai," jawab Roni dan Reza serentak.
Pak kyai mengajak keduanya ke sebuah ruangan yang digunakan sebagai musholla keluarga di rumah itu. Meminta mereka berwudhu lalu melaksanakan solat hajat disusul dengan berdoa sebisa mereka. Sedangkan kyai Mansyur mulai melakukan serangkaian doa untuk mengembalikan ingatan Nala.
...🌸🌸🌸...
Di alam Jin, samar-samar, Nala mulai mengingat. Perihal bayangan masa kecilnya bersama keluarga hingga hari-hari yang Nala habiskan bersama Reza. Termasuk ingatan saat pertama kali, Nala masuk ke kosan milik bu Yanti. Lambat laun, ingatan itu kian menajam dan Nala pun mulai tersadar.
"Astaghfirulloh.. ternyata aku.. ini.. tempat ini.. di mana ini?"
Reaksi awalnya adalah panik lalu perlahan mulai ketakutan sebab Nala telah mengerti, tempat apa yang telah ia tinggali akhir-akhir ini.
"Tidak seharusnya, aku berada di sini tapi bagaimana caraku untuk pergi?"
Nala mondar-mandir di kamarnya, melongok sedikit ke luar jendela, coba mencari celah untuk pergi namun sayangnya, ia tak bisa ke mana-mana.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Jika aku berontak, apa yang akan mereka lakukan padaku selanjutnya?"
Nala berpikir dengan keras hingga akhirnya, ia putuskan untuk menyembunyikan kesadarannya dulu sembari mencari waktu dan cara yang tepat untuk kabur. Gadis itu menyadari bahwa dia hanyalah seorang diri di alam jin dan ia pun mulai menangis.
...🌸🌸🌸...
"Alhamdulillah," ucap kyai Mansyur.
"Bagaimana pak kyai?" tanya Reza.
"Alhamdulillah mas. Sekarang, Nala sudah kembali sadar."
"Alhamdulillah."
"Saya hanya bisa membantu menyadarkannya saja. Semoga, mas Reza beserta keluarga bisa berjodoh dengan orang yang mampu mengembalikan Nala ke alam manusia!"
"Amin pak kyai, saya sangat berterima kasih. Orang tua Nala pasti turut senang. Saya ucapkan terima kasih juga mewakili mereka."
"Iya mas. Semua pertolongan datangnya dari Alloh. Jangan lupa berterima kasih juga pada-Nya. Terus berdoa dan berusaha, insha alloh akan segera datang hasil yang diinginkan."
"Iya pak kyai, semoga saja! aamiin."
...🌸🌸🌸...
Sepulang dari rumah kyai Mansyur, Reza lekas mengabarkannya ke orang tua Nala.
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur terdengar bersahut-sahutan. Kedua orang tua Nala merasa senang dan mengucapkan terima kasih kepada Reza.
"Maaf ya Za merepotkan kamu terus!" ucap ibu Nala.
"Reza sama sekali tidak repot buk. Reza juga ingin agar Nala cepat kembali. Dapat berkumpul lagi dengan kita semua."
"Terima kasih banyak, tolong Reza terus berusaha ya! bapak dan ibuk juga akan melakukan hal yang sama."
"Iya buk, Reza akan terus berusaha. Kalau ada perkembangan lagi, akan segera Reza kabari."
"Iya Za, Nala beruntung punya kamu."
Reza terdiam sesaat, air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya.
"Nala juga beruntung punya bapak dan ibuk yang selalu mendukung."
Terdengar suara isakan pelan yang jelas berasal dari ibunya.
"Baiklah Za, ibuk tutup dulu ya teleponnya!"
"Iya buk, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Reza meletakkan ponselnya di meja seraya mulai menitikan air mata.
"Nangis aja Za, jangan sungkan!"
Reza menangis tanpa mengeluarkan suara. Kiranya, itulah jerit hatinya yang paling dalam. Rasa bersalah, iba dan rindu melebur menjadi satu. Tak ada lagi malu atau gengsi seiring kian derasnya air mata membelah pipi. Otaknya terus memikirkan bagaimana nasib kekasihnya sekarang. Semua kenangan seolah kembali membayang.
"Rasanya, baru kemarin kita berboncengan tapi kini, ragamu pun tak bisa kulihat," benak Reza.
"Aku sangat merindukanmu Nala. Semoga kamu baik-baik saja! Sabar ya! kita semua sedang berusaha."
Roni menepuk pelan pundak Reza.
"Kuat Za kuat! Kurang sebentar lagi menuju berhasil."
Reza menganggukkan kepalanya sembari menghapus bulir-bulir air mata.
...🌿 DONE, Akhirnya.. sadar juga si Nala. 🌿...
ada swara g ada bntuk
🏃🏻🏃🏻💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨💨
makasih Thor 🤗