Silvira, wanita berparas cantik yang ditinggal meninggal suaminya, ia memiliki putra kembar yang pintar namun selalu merindukan kasih sayang ayahnya.
Silvira tak sengaja bertemu mantan kekasihnya waktu kuliah dulu. Namun sang mantan sudah berkeluarga, dia sebenarnya sangat menginginkan mantan kekasihnya itu kembali, namun keinginan itu ditepis jauh-jauh setelah mengenal istrinya, dan dia mendapat hidayah untuk belajar agama lebih baik menjadi wanita sholiha agar mendapat pasangan yang sholih pula.
Siapakah lelaki yang memikat hatinya? Bahagiakah kehidupannya selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Sepekan berlalu, Azam diizinkan pulang ke rumah. Silvira membawanya pulang ke rumah. Azam turun dari mobil dibantu Silvira, kemudian Silvira memberikan sepasang kruk untuk membantu Azam berjalan.
"Hati-hati sayang," ucap Silvira. Terlihat Azam masih kesulitan beradaptasi menggunakan kruk itu. Bu Wati yang ada di sana segera membantu Silvira membawa koper mereka.
"Taruh di kamar atas saja ya Bu, biar saya yang cuci," ucap Silvira. Kemudian Silvira membantu Azam berjalan.
"Mas mau ke atas atau sementara kita tinggal di kamar tamu di bawah?" tanya Azam.
"Ke atas saja sayang, Mas bisa in syaa Allah," ucap Azam. Silvira dengan sabar membantu Azam menaiki satu-persatu anak tangga hingga bisa masuk ke kamarnya. Kemudian Azam duduk di tepi ranjangnya.
"Alhamdulillah, lega sekali bisa kembali ke sini lagi," ucap Azam, keringatnya bercucuran.
Silvira segera membuka pakaian Azam dan menyalakan AC kamarnya. Kemudian dia sendiri berganti baju dengan daster midi warna pink bergambar hellokitty, mencepol rambutnya ke atas. Azam yang baru pertama kali melihat Silvira bergaya ibu-ibu tersenyum simpul.
"Kenapa senyum-senyum, belum pernah lihat emak-emak berdaster?" ucap Silvira. Senyum Azam semakin lebar.
"Kenapa my baby jadi galak ya," goda Azam.
"Habisnya Mas itu senyam-senyum aja, sudah ah Mas, ini remote tv, ini buku, ini ponsel baru Mas, semuanya aku letakkan di sini, kalau minum tinggal ambil di sebelah Mas, ini camilan low kalorinya, tersedia di samping Mas semuanya, aku mau beresin koper dulu," ucap Silvira.
"Iya beib, tapi kenapa gak suruh bu Wati saja yang beresin kopernya,"
"Sayang, mungkin sepele, tapi di dalam koper itu tersimpan banyak pahala yang siap aku raih, mencuci bajumu, kemudian mempersiapkannya untukmu, aku sangat menikmatinya," ucap Silvira sambil berlalu ke kamar mandi.
Azam tersenyum mendengarnya. Dia akhirnya menyalakan tv untuk menghapus kebosanannya.
Silvira memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, kemudian memencet tombolnya dan mesin cuci itu bekerja. Kemudian dia menyikat lantai kamar mandi.
"Beib.. sayang.. Silvi.." Azam memanggil Silvira, namun Silvira mungkin tidak mendengar dari kamar mandi. Kemudian Azam berusaha berdiri sendiri, dan berusaha meraih kruknya.
"Mas mau kemana?" tanya Silvira dari pintu kamar mandi.
"I wanna pee," sahut Azam. Silvira segera membantu Azam ke kamar mandi.
Setelah selesai mereka kembali ke kasur lagi, Azam menunggu di atas kasur sampai Silvira selesai mencuci hingga Azam ketiduran. Setelah menjemur baju, Silvira segera mandi dan menyusul Azam ke pembaringan untuk beristirahat sejenak.
Adzan Dhuhur berkumandang, Azam juga terbangun, didapatinya Silvira tidur di pelukannya.
"Baby, sweety honey," panggil Azam, Silvira mengeriyipkan matanya lalu perlahan terbangun.
"I'm so sorry, maaf sayang, aku tahu kamu kelelahan, tapi aku kebelet pipis," ucap Azam.
"It's okay," Silvira segera bangun dan membantu Azam ke kamar mandi.
"Bantu aku mandi sekalian ya," ucap Azam. Silvira tersenyum dan mengangguk.
"Tok..tok tok.." terdengar ketukan pintu di pintu kamar mereka.
"Sebentar ya Mas, aku lihat dulu, mungkin bu Wati ada perlu," ucap Silvira. Azam hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
"Iya Bu," ucap Silvi sambil membuka sedikit pintu kamarnya.
"Itu Mba ada tamu yang ngantar mas Farhan dan mas Fahri," sahut bu Wati.
"Iya, sajikan camilan yang ada di kulkas, sama bikin jus jeruk, terus siapkan makan siang ya, ini saya masih bantu pak Azam mandi, suruh mereka menunggu ya," ucap Silvira kemudian menutup kembali pintunya dan segera kembali ke kamar mandi dimana suaminya menunggu.
Bu Wati segera turun lagi ke bawah.
"Maaf Bu, Mba Silvi masih bantu pak Azam mandi, kalau sudah selesai mereka segera turun," ucap bu Wati.
"Oh iya Bu," ucap Adistia yang datang mengantar si kembar.
"Umma sama abati masih lama ya bu Wati?" tanya si kembar.
"Tunggu saja sambil main nak," jawab bu Wati.
Silvira selesai membantu Azam mandi, dan Azam akan sholat.
"Yuk kita sholat bareng sayang," ajak Azam.
"Aku kedatangan tamu bulanan Mas,"
"Tamu??" Azam masih belum paham.
"Aku haid," jawab Silvira.
"Yah, padahal nanti malam aku pengen,"
"Mas itu kan lagi sakit,"
"Yang sakit cuma kaki sama kepala, yang lain masih sehat kok,"
"Iya percaya, sudah sholat sana, aku mau ganti baju dulu," ucap Silvira.
Kemudian Azam sholat dengan duduk, karena kakinya belum kuat berdiri terlalu lama.
Setelah Azam Sholat, Silvira membantunya turun ke bawah.
"Mba Adis," sapa Silvira kemudian mereka cipika-cipiki.
"Umma, Abati,!!!" seru si kembar. Mereka berlari memeluk Silvi dan Azam bergantian.
"Senang di sana sayang?" tanya Azam.
"Senang dong, banyak temannya," jawab keduanya.
"Ya uda, main dulu sama Mas Rafli sana," ucap Silvira, si kembar pun berlari kembali ke ruang keluarga bersama sepupunya.
"Gimana Mas Azam sudah baikan?" tanya Indra suami Adistia.
"Iya alhamdulillah sudah mendingan, cuma untuk mobilitas masih agak kesulitan, beruntung punya istri yang sabar merawat saya, maa syaa Allah," ucap Azam.
"Mba, kita ngobrol di belakang yuk," ucap Silvira mengajak Adistia. Adistia setuju dan berjalan ke belakang mengikuti Silvira meninggalkan Indra dan Azam agar bisa mengobrol lebih dekat.
Bu Warsi sedang menggoreng kentang, dan filet ayam. Juga mengukus kentang dan merebus wortel dan brokoli, juga memanggang dada ayam untuk Azam. Silvira membuat saus lada hitam kesukaan Azam.
"Lagi masak apa sih?" tanya Adistia.
"Bikin steak, yang krispi buat anak-anak, yang ini dada ayam yang di grill buat yang dewasa, ini menu kesukaan si kembar dan mas Azam," jawab Silvira.
"Aku senang lihat kamu bahagia, dan kalian terlihat begitu saling mencintai," ucap Adistia. Silvira hanya tersenyum mendengarnya.
"Oh iya, pasti kamu kemarin waktu suamimu kecelakaan begitu panik dan sedih, kenapa gak ngabarin kami biar segera kesini menemanimu,"
"Iya Mba, pastinya, trauma juga sama kejadian Mas Adam, tapi aku ada yang menemani kok, ada teman kantornya sama aku, aku gak menghubungi kalian karena aku takut si kembar panik juga, mereka sangat menyayangi mas Azam," ucap Silvira.
"Sudah siap, yuk kita bawa ke meja makan,"
Silvira dan Adistia dibantu bu Wati menyajikan menu makan siang mereka. Silvira kemudian ke depan memanggil yang di depan.
"Kita makan dulu yuk, Mas Indra, beib, ayo kids kita makan, umma bikin steak ayam krispi,"
Mendengar makanan kesukaannya anak-anak bersorak girang, dan berlari menuju meja makan.
Silvira membantu Azam berdiri dan memberikan kruk nya.
"Thank u beib, jazaakillahu khayr," ucap Azam.
"Wa anta fa jazaakallahu khayr sayang," jawab Silvira.
Mereka kemudian makan siang bersama. Indra dan Adistia menikmati menu sehat yang disajikan Silvira.
"Hmm masakan Umma terbaik!!!" seru Fahri dan Farhan.
wa fiiki baarokalloh ukhti Shakeena..