"Demi Ibuku, Aku akan terima hukuman ini,"
"Apakah aku pantas diperlakukan seperti ini? Apakah aku pantas dibenci karena kesalahan yang tidak pernah aku perbuat,"
Nayla Anggita harus mendekam didalam jeruji besi selama 4 tahun karena sebuah kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Setelah 4 tahun berlalu, Nayla akhirnya menikah dengan seorang pria yang membuatnya jatuh cinta karena kebaikannya. Tetapi setelah menikah sikap laki - laki itu berubah padanya. Bahkan, Nayla harus berurusan kembali dengan Ilham saat Ilham menjadi calon tunangan dari adik iparnya.
Bagaimana kelanjutan dari cerita ini? Ayo terus ikuti cerita "RAHASIA HATI"
Cerita ini adalah versi baru dari novel "Rahasia Dibalik Pernikahanku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DianPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - PERDEBATAN
Rumah Akbar
Pukul 17:00.
Nayla baru saja sampai di rumah. Ia melihat Akbar yang sepertinya sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Akbar menatap wajah Nayla dengan tatapan tajam.
"Darimana saja kamu, Nay?,"
"Aku habis dari rumah sakit,"
"Rumah sakit?! Ngapain? Ngecek kandungan kamu? Perut kamu sakit lagi?,"
"Enggak, Aku hanya menemui ayahku saja. Ini surat yang kamu mau untuk bangunan proyek kamu itu. Aku sudah menepati janjiku,"
"Aku sudah gak butuh surat ini,"
"Kenapa?,"
"Karena aku sudah terlanjur kecewa sama kamu. Aku sudah terlanjur kecewa saat aku tau kamu hamil anak dari pria lain. Kamu tau setelah aku tau semua itu untuk menjalankan proyek ini lagi saja aku sudah tidak memiliki semangat,"
"Apa?! Kak Nayla hamil, anak dari pria lain. Ini gak mungkin," Batin Silvana yang mendengar ucapan Akbar dari kejauhan.
"Aku sudah berapa kali bilang sama kamu, Mas. Anak ini itu anak kamu. Kamu harus percaya sama aku kalau anak ini itu anak kamu. Aku gak pernah tidur dengan siapapun kecuali sama kamu. Lalu, saat di Prancis kamu tidak pulang seharian, kamu kemana? Kamu sama pria itu kan, aku yakin anak yang kamu kandung itu pun anak dari pria itu,"
"Cukup, Mas. Mau sampai kapan kamu menuduhku seperti itu,"
"Sampai kamu ngaku kalau anak yang kamu kandung ini itu memang anak dari pria itu,"
"Mau berapa kali aku bilang sama kamu Mas kalau anak ini itu memang anak kamu. Aku tau kamu itu gak suka sama aku karena aku yang sudah merenggut nyawa mantan istri kamu dan calon anak yang ada di kandungnya. Tapi bukan berarti kamu membalasku dengan cara seperti ini. Aku gak apa - apa jika kamu tidak ingin anak ini, silahkan ajukan gugatan cerai di pengadilan. Bahkan kalau kamu ingin menuntut aku kembali karena kasus itu lagi pun gak apa - apa, Mas. Aku ikhlas. Tapi jangan pernah sekalipun kamu bilang kalau anak ini itu adalah anak dari pria lain karena anak ini itu memang darah daging kamu. Kamu ingat ya Mas, kamu akan menyesal jika suatu saat aku berhasil bisa membuktikan kalau anak ini itu memang anak kandung kamu,"
Nayla pun sambil menangis berlari menuju ke kamarnya.
"Nayla tau semua itu darimana?! Darimana dia tau kalau Monica itu adalah istriku. Siapa yang memberitahu dirinya,"
Nayla menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Ia terduduk di lantai dan tubuhnya bersandar di tempat tidurnya. Nayla terus menangis tersedu - sedu saat ia merasa benar - benar sangat kecewa pada Akbar karena Akbar tidak mau mempercayai dirinya. Ia selama ini sudah mencoba untuk menjadi wanita yang kuat. Tetapi apalah daya, ia juga seorang wanita biasa yang memiliki batas ambang kesabaran.
"Tuhan, Aku sudah lelah. Sejak kecil aku sudah hidup dipenuhi kesedihan. Apakah tidak ada kebahagiaan untukku, aku hanya ingin sedikit saja merasakan kebahagiaan. Apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu?,"
...****************...
Kamar Nayla.
Pukul 23:00.
Akbar masuk ke kamar. Ia melihat Nayla yang tidur sambil terduduk di lantai. Airmatanya masih membasahi pipi Nayla.
"Dia menangis, apa aku sudah sangat menyakitinya. Aku sebenarnya sudah tidak ingin menyakitimu. Tapi kenapa, Nay. Kenapa kamu membuatku kecewa saat aku mulai mencintaimu. Aku merasa sakit hati saat tau kalau kamu mengandung anak dari orang lain dan kamu tidak mau mengakui hal itu,"
Akbar mengusap airmata yang masih membasahi pipi Nayla. Ia pun menggendong tubuh Nayla secara perlahan dan memindahkan tubuh Nayla ke atas ranjang tempat tidur. Setelah itu, Akbar pun pergi meninggalkan kamar Nayla.
...******************...
Rumah Akbar.
Pukul 08:00.
Seluruh anggota keluarga di rumah itu pun menikmati sarapan mereka masing - masing. Suasana di ruang makan sangat hening, tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Akbar yang duduk berhadapan dengan Nayla pun hanya saling menatap satu sama lain tanpa ada yang mau berbicara. Silvana juga tidak mau memulai pembicaraan karena ia tau keadaannya sedang tidak baik.
Seorang pelayan wanita tiba - tiba saja datang dan menyampaikan bahwa Ilham sedang berada diluar ingin menemui Silvana.
"Maaf, Tuan, Nyonya, Nona Muda, diluar ada Tuan Muda Ilham,"
"Ilham?!,"
"Iya, Nona,"
"Kenapa dia datang pagi - pagi begini,".
"Katanya dia ingin mengobrol sebentar saja dengan Nona Silvana,"
"Hmmmm....Baiklah kalau begitu aku akan menemuinya. Kamu bisa tolong bantu aku untuk kembali ke kursi roda,"
"Baik, Nona,"
Pelayan itu pun membantu Silvana untuk duduk kembali ke kursi roda.
"Kak Akbar, Kak Nayla, aku temui Ilham dulu ya,"
"Iya, Silvana," Ucap Akbar.
"Pelayan, tolong dorong kursi roda aku sampai depan ya,"
"Baik, Nona,"
Pelayan wanita itu pun mengikuti perintah dari Silvana. Ia mendorong kursi roda Silvana sampai keluar rumah.
...****************...
Diluar rumah, Ilham sudah menunggu Silvana untuk keluar. Beberapa menit kemudian, Silvana pun keluar dari rumah. Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain saat bertemu.
"Maaf sudah membuatmu menunggu sangat lama sayang,"
"Tidak kok, Aku juga baru saja datang,"
"Pelayan, kamu bisa kembali bekerja sekarang. Saat ini, saya hanya ingin mengobrol berdua saja dengan kekasih saya,"
"Baik, Nona Silvana,"
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Silvana dan Ilham hanya berdua saja.
"Kamu tumben banget pagi - pagi begini udah kesini,"
"Aku ingin kasih kamu sesuatu,"
"Apa itu?,"
"Sebuah hadiah yang sangat istimewa,"
"Sebuah hadiah?! Tapi aku kan tidak ulangtahun hari ini,"
"Ini itu bukan hadiah ulangtahun. Tapi ini itu hadiah yang akan memperkuat ikatan cinta kita berdua,"
"Sebenarnya apa sih yang ingin kamu berikan padaku? Aku jadi penasaran,"
Ilham pun mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah yang saat ia buka terdapat sebuah cincin yang sangat indah.
"Cincin ini untuk aku?,"
"Iya sayang, ini untuk kamu. Maukah dirimu menjadi teman hidupku untuk selamanya?,"
Silvana pun menganggukkan kepalanya. Ia sangat senang dan terharu saat Ilham melamar dirinya. Ilham yang sangat bahagia karena lamarannya diterima pun langsung memeluk Silvana. Setelah itu, ia pun langsung memakaikan cincin itu di jari manis Silvana.
"Apakah kamu menyukainya?,"
"Iya Ilham, aku sangat menyukainya,"
"Baguslah kalau kamu menyukainya, besok aku mau kamu ajak kakak ipar dan kakak kamu ke rumahku ya,"
"Untuk apa?,"
"Untuk bertemu dengan kedua orangtuaku. Aku ingin memberitahukan seluruh pihak keluarga kita bahwa kita berdua sudah siap untuk menikah,"
"Iya Ilham, aku akan memberitahukan kak Nayla dan kak Ilham untuk memenuhi undangan darimu menemui kedua orangtuamu,"
dan agak sedih jga sih
jgn lama2 dong thor