Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: Santet Darah
Leyla tidak langsung menjelaskan.
Ia meminta semua orang pindah ke ruang kerja compound.
Alasannya sederhana. Pembicaraan berikutnya tidak boleh terdengar oleh siapa pun yang tidak perlu mendengar.
Keira berjalan di belakang Darren. Scarf di lehernya terasa tiba-tiba terlalu ketat, tetapi ia tidak berani melonggarkannya. Pak Ji membawa map medis dan beberapa catatan lama. Leyla membawa tablet, kotak logam, dan wajah yang tidak berubah.
Di Ruang Kerja, pintu ditutup.
Suara klik kuncinya membuat bahu Keira menegang.
Darren duduk di balik meja. Ia tampak tenang, bahkan lebih tenang daripada biasanya. Justru ketenangan itu membuat Keira takut. Setelah melihatnya kehilangan kendali di ruang bawah tanah, ia mulai paham bahwa diam Darren bukan selalu berarti tidak ada apa-apa.
Kadang diamnya adalah laut sebelum tsunami.
Leyla berdiri di depan meja.
"Di dalam tubuh Anda ada campuran toksin kronis," katanya. "Bukan satu jenis racun. Komposisinya kompleks. Ada unsur logam berat dalam kadar mikro, beberapa senyawa organik yang menyerang sistem saraf, dan komponen herbal yang berfungsi sebagai pemicu periodik."
Keira tidak memahami semua istilah itu.
Tetapi ia memahami kata racun.
Pak Ji menggenggam map sampai buku jarinya memutih.
Darren hanya bertanya, "Namanya?"
Leyla menatapnya. "Di beberapa tradisi Asia Tenggara, pola seperti ini dikenal sebagai Santet Darah."
Santet Darah.
Kata itu jatuh ke ruangan seperti benda berat.
Keira merasakan tengkuknya dingin.
Santet. Darah.
Dua kata yang terdengar seperti cerita dari kampung tua, dari bisik-bisik orang yang tidak ingin menyebut nama penyakit sebenarnya. Namun ia sudah melihat mata merah Darren. Ia sudah merasakan giginya menembus kulit. Ia tidak bisa lagi menertawakan apa pun yang terdengar mustahil.
"Ini bukan sihir murni," lanjut Leyla. "Lebih tepat disebut toksikologi tradisional yang dibungkus ritual. Efeknya medis. Racun masuk perlahan, menumpuk di darah dan sistem saraf. Pada tanggal tertentu, pemicu dalam tubuh bereaksi. Itu menyebabkan nyeri dada, kejang, perubahan perilaku, dorongan agresif, dan..."
Ia berhenti sejenak.
Matanya menyentuh scarf Keira.
"Kecenderungan terhadap darah."
Darren menutup matanya sebentar.
Keira tahu ia mengingat lehernya.
"Sejak kapan?" tanya Darren.
Leyla membuka grafik di tablet. "Berdasarkan pola kerusakan dan akumulasi, paling awal lima belas sampai dua puluh tahun lalu. Saat Anda masih remaja. Ini bukan dosis besar. Pelaku tidak ingin Anda mati cepat. Dia ingin tubuh Anda rusak perlahan."
Pak Ji mundur satu langkah.
Wajahnya berubah begitu pucat hingga Keira takut ia akan jatuh.
"Lima belas sampai dua puluh tahun..." gumamnya.
Darren membuka mata.
"Ji."
Satu suku kata.
Pak Ji menelan sesuatu yang tampak seperti batu.
"Pak Darren," katanya pelan, "ada satu benda yang selalu ada di tangan Anda sejak usia belasan."
Ruangan terasa semakin sempit.
Darren tidak bertanya.
Pak Ji memandang lemari kayu tua di sisi ruangan.
"Stempel Keluarga."
Keira mengikuti arah pandangnya.
Ia pernah melihat stempel itu sekilas. Sebuah cap keluarga dan perusahaan, berat, tua, disimpan dalam kotak kayu gelap. Dalam keluarga seperti Hendrawan, benda seperti itu bukan sekadar alat administrasi. Itu simbol kekuasaan. Simbol siapa yang berhak menandatangani takdir orang lain.
Pak Ji berjalan ke lemari dengan langkah kaku. Ia membuka laci bagian dalam, mengeluarkan kotak kayu, lalu meletakkannya di meja Darren.
Tidak ada yang langsung menyentuhnya.
Leyla mengenakan sarung tangan.
Keira tidak sadar ia menahan napas sampai dadanya sakit.
Kotak itu dibuka.
Stempel Keluarga terbaring di dalam, gagangnya menghitam oleh usia dan pemakaian. Leyla mengambil sampel dari celah kecil di bagian pegangan, dari permukaan yang tampak bersih, dari bagian dalam yang selama ini mungkin tidak pernah diperiksa siapa pun.
Prosesnya hanya beberapa menit.
Tetapi bagi Keira, itu terasa seperti menunggu vonis kematian.
Leyla meneteskan reagen ke tabung kecil dari kotaknya. Cairan bening perlahan berubah warna menjadi merah kecokelatan.
Pak Ji menutup mata.
Darren menatap tabung itu tanpa berkedip.
"Sama," kata Leyla. "Jejak toksin yang sama."
Keira merasa seluruh ruangan miring.
Racun itu ada di Stempel Keluarga.
Benda yang disentuh Darren setiap hari.
Benda yang diwariskan kepadanya sebagai kuasa.
Ternyata juga diwariskan sebagai kematian.
"Siapa yang menaruhnya?" suara Keira keluar tanpa sadar.
Tidak ada yang menjawab segera.
Karena jawabannya sudah berdiri di antara mereka, seperti foto lama yang bingkainya belum pecah.
Pak Ji membuka mata. Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Stempel itu disiapkan oleh Almarhum Pak Tua sebelum Pak Darren resmi mengambil alih urusan keluarga."
Raymond Hendrawan.
Ayah Darren.
Keira pernah mendengar nama itu dengan nada hormat dari orang-orang tua di compound. Pendiri. Kepala keluarga. Lelaki yang membangun pondasi kekuasaan Hendrawan.
Sekarang nama itu berubah menjadi tangan yang menuangkan racun ke hidup anaknya sendiri.
"Kenapa?" Keira bertanya, walau ia takut pada jawabannya.
Pak Ji tampak seperti seseorang yang dipaksa menggali kubur lama dengan tangan sendiri. "Pak Tua selalu lebih sayang pada Ethan. Anak dari perempuan lain itu... lebih mudah dibentuk. Pak Darren terlalu kuat, terlalu pintar, terlalu banyak orang mendukung. Selama Pak Darren hidup dan sehat, Ethan tidak akan pernah menjadi pilihan utama."
Keira merasakan mual naik ke tenggorokan.
Jadi bukan kemarahan sesaat.
Bukan salah paham keluarga.
Bukan ritual gila tanpa arah.
Ini perhitungan.
Seorang ayah melihat anaknya sendiri terlalu unggul, lalu memutuskan untuk membuat tubuh anak itu rusak perlahan agar anak lain bisa naik.
Pak Ji menunduk lebih dalam. "Saya menjaga stempel itu bertahun-tahun, Pak. Saya yang memastikan tidak ada orang sembarangan menyentuhnya. Saya kira saya menjaga simbol keluarga."
Suaranya pecah.
"Ternyata saya menjaga racun."
Darren akhirnya berdiri.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada meja yang langsung dibalik.
Ia hanya berjalan ke dinding tempat foto Raymond Hendrawan tergantung dalam bingkai besar. Pria di foto itu tersenyum tipis, memakai jas tua yang mahal, menatap ruangan seperti ia masih memiliki semuanya.
Darren berdiri di depannya selama tiga puluh detik.
Keira menghitung napasnya sendiri.
Satu.
Dua.
Tiga.
Pada napas keempat, tinju Darren menghantam kaca bingkai.
Suara pecahnya membuat Keira tersentak.
Kaca jatuh ke lantai seperti hujan tajam. Darah langsung muncul di punggung tangan Darren, tetapi ia tidak melihatnya. Ia merobek foto itu dari dinding, melemparkannya ke lantai, lalu membuka rak di sampingnya.
Sebuah pulpen tua.
Sepasang manset.
Kotak cerutu kosong.
Satu per satu, semua benda yang pernah menjadi milik Raymond Hendrawan dilemparkan ke lantai.
Pak Ji tidak mencegah.
Leyla berdiri diam, wajahnya untuk pertama kali tidak sepenuhnya profesional.
Keira ingin maju, tetapi kakinya tertahan.
Ia tahu amarah ini bukan untuk dihentikan.
Ini bukan ledakan anak kecil.
Ini pemakaman kedua bagi seorang ayah yang ternyata sejak lama sudah membunuh anaknya.
Darren berhenti setelah benda terakhir pecah.
Tangannya berdarah.
Napasnya tetap tenang.
Dan justru itu yang membuat Keira ingin menangis.
"Orang itu," kata Darren, suaranya rendah dan bersih, "tidak pantas disebut ayah."
Pak Ji menunduk dalam.
Tidak ada yang membantah.
Darren berbalik. Matanya dingin, tetapi bukan dingin kosong. Ini dingin yang sudah memilih target.
"Kumpulkan semua arsip Raymond Hendrawan. Surat wasiat, transaksi lama, aset yang dialihkan ke Ethan, semua catatan yang selama ini disegel."
Pak Ji mengangkat wajah. "Pak..."
"Aku ingin semuanya dibuka."
"Kalau dibuka, nama keluarga akan terguncang."
"Biarkan."
Darren mengambil tisu dari meja dan menekan luka di tangannya seolah itu hanya noda tinta.
"Keluarga yang berdiri di atas racun tidak pantas dilindungi."
Keira merasa kalimat itu menembus sesuatu di dalam dirinya.
Dalam mimpi masa depan, ia pernah melihat Darren terbakar bersama gedung. Ia pernah melihat mata lelaki itu yang lelah, dunia yang runtuh, darah yang tidak pernah berhenti. Kini potongan-potongan itu tiba-tiba punya nama.
Santet Darah.
Stempel Keluarga.
Raymond Hendrawan.
Kalau dalam kehidupan itu tidak ada Leyla, tidak ada diagnosis, tidak ada Keira yang melihat ruang bawah tanah, berarti Darren mati tanpa pernah tahu mengapa tubuhnya mengkhianatinya.
Ia mati dengan mengira dirinya monster.
Pikiran itu membuat dada Keira sakit.
Leyla mengatakan masih perlu mempelajari cara menetralkan racun. Pak Ji memintanya beristirahat dan menyusun laporan tertulis. Darren hanya mengangguk, lalu masuk ke ruang kerja bagian dalam, tempat pecahan kaca masih tersebar di lantai.
Keira tetap di luar pintu.
Ia mendengar satu benda lagi pecah.
Lalu satu lagi.
Tidak ada teriakan.
Hanya suara kaca, kayu, dan masa lalu yang dihancurkan satu per satu.
Air mata Keira jatuh tanpa izin.
Ia menekan telapak tangan pada pintu, seolah bisa menahan pria di baliknya agar tidak tenggelam terlalu dalam.
Beberapa lama kemudian, pintu terbuka.
Darren berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya sudah dibalut seadanya dengan kain putih. Wajahnya tenang, tetapi matanya berhenti pada air mata Keira.
"Kenapa?"
Keira cepat menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Darren menatapnya lebih lama.
Ia jelas tidak percaya.
Keira menunduk, takut ia melihat terlalu banyak. Takut ia melihat bahwa yang membuatnya menangis bukan hanya ayah yang kejam, bukan hanya racun, bukan hanya darah di tangan Darren.
Ia takut pada satu hal yang lebih gelap.
Bagaimana kalau ia sudah kembali, sudah melihat, sudah mencoba, tetapi tetap tidak bisa mengubah akhir pria ini?