NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Gelap di Puncak

Kesakitan.

Satu kata itu cukup membuat seluruh darahku dingin.

Aku berlari melewati ruang makan, melewati koridor villa yang baru beberapa jam lalu terasa hangat, lalu berhenti di depan kamar Reynard.

Di lantai, gelas pecah berserakan.

Reynard berdiri setengah membungkuk di dekat meja obat. Satu tangannya menekan dada, satu lagi mencengkeram tepi meja. Wajahnya putih, bibirnya hampir biru.

"Reynard!"

Ia mengangkat kepala, tapi matanya tidak fokus.

"Jangan..." Suaranya serak. "Jangan dekat."

Tentu saja aku mendekat.

Anto masuk hampir bersamaan denganku. Budi muncul dari sisi lain seperti bayangan. Steven dan Natasha menyusul, wajah mereka berubah pucat.

"Panggil Leo," kataku.

Steven sudah menelepon.

Aku memegang tangan Reynard.

Dingin.

Lebih dingin daripada serangan sebelumnya.

[Peringatan: serangan Racun Dingin tingkat berat.]

[Obat standar tidak cukup.]

Ya Tuhan.

"Si Kepo, lakukan sesuatu."

[Analisis darurat.]

[Bahan penstabil sementara tersedia di sekitar lokasi.]

[Tanaman target: heliconia liar, ekstrak batang muda.]

[Lokasi perkiraan: lereng belakang villa, dekat aliran air kecil.]

Aku menatap panel itu.

Lereng belakang.

Malam-malam.

Hujan tipis mulai turun.

Tentu saja. Kenapa tidak sekalian suruh aku bertarung dengan babi hutan?

[Tidak ada data babi hutan dalam radius dekat.]

Itu bukan bagian penting!

Reynard merosot. Aku dan Anto menahannya.

"Bawa ke ranjang," kata Steven. Suaranya berubah total, tidak ada lagi nada bercanda. "Leo bilang hangatkan tubuhnya, jangan pindahkan keluar."

Natasha berdiri di pintu dengan wajah putih. Tangan yang biasanya sibuk menunjuk dan memarahi orang kini gemetar memegang ponsel.

"Ci Kei..."

"Ambil semua selimut tebal. Air hangat. Jangan biarkan jendela terbuka."

Aku tidak tahu sejak kapan suaraku bisa setegas itu. Mungkin karena kalau aku tidak memberi perintah, aku akan jatuh panik.

Budi sudah menutup tirai dan memeriksa luar kamar. Anto mengangkat Reynard ke ranjang dengan hati-hati, seolah tubuh pria itu bisa retak kalau salah sudut.

Reynard menggigil begitu keras sampai ranjang ikut bergetar.

[Suhu ekstrem.]

[Waktu respons kritis: pendek.]

Kata pendek itu membuat dadaku seperti diremas.

"Aku pergi cari bahan."

Empat kepala menoleh padaku.

"Apa?" tanya Natasha.

"Ada tanaman di lereng belakang. Aku bisa ambil."

Reynard membuka mata sedikit. "Tidak."

"Kau tidak berhak menolak ketika sedang hampir membeku."

"Gelap."

"Aku tahu."

"Berbahaya."

"Aku tahu."

Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku. Lemah, tapi memohon.

Untuk sesaat, aku hampir goyah.

Lalu Si Kepo menampilkan angka suhu tubuhnya.

Aku melepaskan tangannya pelan.

"Tunggu aku."

Natasha menangis. "Ci Kei, aku ikut."

"Kamu tetap di sini. Kalau dia bangun, marahi dia supaya tidak bergerak."

Steven mengambil jaket dan senter. "Aku ikut."

"Tidak. Kamu bantu Anto. Budi ikut aku."

Budi mengangguk sekali.

Kami keluar lewat pintu belakang. Kabut menebal, tanah licin. Senter Budi memotong gelap, tapi lereng di belakang villa turun tajam. Aku memakai jaket seadanya, sepatu rumah, dan keberanian yang jelas tidak memenuhi standar keselamatan.

Di belakang, suara Natasha memanggil namaku sekali lagi, tapi pintu sudah tertutup. Aku tidak berani menoleh. Kalau melihat wajahnya, mungkin aku akan sadar bahwa ini ide gila.

Dan aku tidak punya waktu untuk sadar.

[Arah kiri tiga puluh meter.]

"Kiri," kataku.

Budi tidak bertanya. Ia hanya membuka jalan.

Hujan membuat daun teh berkilau gelap. Setiap langkah membuat lumpur menempel di sol. Aku hampir tergelincir dua kali. Tangan kiriku tergores ranting, lututku menghantam batu kecil, tapi aku terus berjalan.

Budi beberapa kali menawarkan tangan. Aku menerimanya tanpa gengsi. Harga diriku tidak lebih penting daripada membawa pulang bahan obat.

"Nyonya Muda yakin arahnya?" tanyanya pelan.

"Tidak."

Ia menoleh.

"Tapi aku yakin harus jalan."

Budi tidak bertanya lagi.

Di kepala, hanya ada satu kalimat.

Tunggu aku.

Tunggu aku.

Tunggu aku.

[Jarak target: dua belas meter.]

Lalu senter Budi berkedip.

Mati.

Kami berhenti dalam gelap.

Angin bergerak di antara daun, membawa suara air kecil dan sesuatu yang seperti langkah.

Budi langsung berdiri di depanku.

"Nyonya Muda, di belakang saya."

Sebelum aku sempat menjawab, ada suara tua dari sisi kiri.

"Mencari tanaman di malam begini bukan pekerjaan orang kota."

Aku hampir menjerit.

Seorang pria tua berdiri di bawah pohon besar, memegang lampu minyak kecil. Rambutnya putih, tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana. Matanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang muncul di lereng gelap seperti NPC rahasia.

[Pemindaian.]

[Mbah Suryo.]

[Status: tidak biasa.]

Terima kasih, Si Kepo. Sangat informatif.

"Mbah," kata Budi, hormat.

Jadi Budi kenal?

"Penjaga rumah teh Wijaya masih ingat jalan ke kebun tua," kata pria itu pada Budi.

Budi menunduk sedikit. "Saya hanya mengikuti Nyonya Muda."

"Malam ini memang begitu."

Pria tua itu menatapku. Tatapannya tidak tajam, tapi rasanya seperti ia melihat lapisan kulitku, nama Keira, lalu sampai ke Naomi yang sedang panik di dalam.

"Bukan badanmu yang paling jauh berjalan malam ini," katanya pelan.

Jantungku berhenti.

Ia tahu.

Atau hampir tahu.

Aku menunduk. "Saya butuh heliconia liar. Untuk suami saya."

Mbah Suryo tersenyum tipis. "Untuk yang darahnya dingin."

Aku tidak bertanya dari mana ia tahu.

"Mbah bisa bantu?"

"Kalau kau berani mengambilnya sendiri."

Ia berjalan tanpa menunggu. Aneh, kakinya tampak ringan di tanah licin. Budi dan aku mengikuti. Tidak jauh dari aliran air kecil, rumpun heliconia tumbuh di antara batu, daun panjangnya basah, batang mudanya merah kehijauan.

Air kecil itu tidak lebar, tapi arusnya cepat karena hujan. Batu-batu di sekitarnya licin seperti sabun. Mbah Suryo berhenti di seberang, menaruh lampu minyak di atas batu datar.

"Yang menyembuhkan tidak selalu tumbuh di tempat mudah," katanya.

"Mbah, sekarang bukan waktu untuk peribahasa."

Ia tertawa pelan. "Justru waktu seperti ini yang paling membutuhkan peribahasa."

Aku hampir ingin menangis dan tertawa sekaligus.

[Target cocok.]

[Ambil batang muda, jangan bunga.]

Aku berjongkok. Tanah licin membuat lututku tenggelam dalam lumpur. Aku memotong batang muda dengan pisau kecil yang diberikan Budi. Jari-jariku gemetar.

"Tiga batang," kata Mbah Suryo.

[Benar.]

Aku mengambil tiga.

Saat berdiri, kakiku terpeleset.

Budi menangkap lenganku, tapi telapak tanganku tergores batu. Perihnya membuat mataku panas, tapi aku menggenggam tanaman itu lebih erat.

"Jangan sampai jatuh," gumamku.

Mbah Suryo menatap tanganku. "Kadang jiwa yang datang dari jauh justru paling kuat menggenggam."

Aku membeku.

"Mbah..."

Ia menggeleng. "Tidak semua hal perlu diberi nama malam ini."

Kami kembali ke villa lebih cepat daripada saat turun. Di dapur, Si Kepo memberi instruksi seperti koki gila.

[Cuci bersih.]

[Tumbuk batang muda.]

[Ambil cairan.]

[Campur dengan air hangat dan satu dosis obat Leo.]

"Kalau ini membunuhnya, aku akan menghantui sistem lintas dimensi," bisikku.

[Risiko lebih rendah daripada menunggu.]

Aku tidak punya pilihan.

Sari sudah menyiapkan talenan, mangkuk, air panas, dan kain bersih. Tangannya gemetar, tapi ia tetap bergerak cepat.

"Nyonya Muda, tangan Nyonya berdarah."

"Nanti."

"Tapi..."

"Reynard dulu."

Sari menggigit bibir, lalu mengangguk.

Leo yang masih di video call awalnya memaki ketika melihat bahan asing, lalu berhenti setelah mendengar penjelasan gejala dan melihat warna cairannya.

"Berikan sedikit dulu. Steven, awasi napas. Anto, siapkan mobil kalau gagal."

Aku membawa sendok ke bibir Reynard.

"Rey," bisikku. "Minum."

Matanya terbuka sedikit.

Mungkin ia mendengar suaraku.

Mungkin ia hanya mengenali keputusasaan.

Ia menelan.

Satu sendok.

Dua sendok.

Tiga.

Menit pertama tidak terjadi apa-apa.

Menit kedua, tangannya masih dingin.

Menit ketiga, aku mulai menangis tanpa suara.

Menit keempat, Leo di layar berkata, "Denyut?"

Steven memegang pergelangan Reynard. "Lemah. Tapi ada."

"Napas?"

"Masih dangkal."

"Jangan tambah dosis."

"Kalau tidak cukup?"

Leo menatapku dari layar. "Kalau kau tambah tanpa respons, jantungnya bisa kacau."

Aku menggenggam tepi ranjang sampai luka di telapak tangan terbuka lagi.

Jadi bahkan harapan pun harus ditakar.

Lalu panel berkedip.

[Respons positif.]

[Suhu inti naik perlahan.]

[Serangan akut tertahan.]

Aku hampir jatuh duduk.

Natasha memelukku dari belakang sambil menangis. Steven menutup mata. Anto mengembuskan napas yang mungkin ia tahan sejak tadi. Budi berdiri di pintu, lumpur masih menempel di sepatunya.

Leo di layar tidak ikut lega terlalu cepat.

"Pantau tiap lima menit. Kalau suhu naik terlalu cepat, lapor. Kalau napasnya berubah, lapor. Kalau dia bangun dan mencoba bekerja, pukul dengan bantal."

"Om Leo," bisik Natasha, masih menangis, "boleh pukul betulan?"

"Untuk Reynard? Kadang perlu."

Di tengah ketegangan, tawa kecil yang pecah terdengar seperti benda rapuh. Tidak menyelesaikan apa pun, tapi membuat kami semua ingat bahwa ia belum pergi.

Reynard belum sadar, tapi warna bibirnya membaik.

Aku memegang tangannya.

"Kau janji menunggu," kataku pelan.

Entah bagaimana, jari Reynard bergerak sedikit di genggamanku.

Sangat kecil.

Mungkin refleks.

Tapi bagiku, itu seperti seluruh langit memberi jawaban.

Aku menunduk sampai dahiku hampir menyentuh punggung tangannya.

"Bagus," bisikku. "Sekarang terus begitu. Satu napas lagi. Satu lagi."

Aku tidak akan menghitung mundur kematianmu malam ini.

Di luar villa, Mbah Suryo berdiri di bawah hujan tipis. Ia tidak masuk.

Ketika aku menoleh, ia sudah berbalik menuju gelap.

Namun Si Kepo menangkap suaranya yang sangat pelan.

"Seribu tahun berputar, akhirnya kembali juga."

Ia menatap langit.

"Pemilik gelang emas..."

Suara hujan menelan sisanya.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!