Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Bunga di Kebun Tua
Sekar mulai datang ke Rumah Tua bukan hanya saat Renard memanggil.
Awalnya, ia datang karena Lukisan Mei Dingin. Harun membutuhkan satu ukuran bingkai tambahan. Hans mengantar dokumen. Renard tidak ada di rumah. Sekar seharusnya pulang setelah menyerahkan map kecil itu, tetapi hujan tipis turun, dan ia terjebak di serambi belakang.
Dari sanalah ia melihat kebun tua.
Kebun itu berbeda dari taman Kediaman Liem yang terlalu rapi. Di sini, rumput tumbuh tidak rata. Pot tanah liat retak. Beberapa tanaman merambat sudah mengambil alih pagar rendah. Di sudut dekat tembok, ada petak bunga yang jelas pernah dirawat dengan cinta, lalu ditinggalkan terlalu lama.
Sekar berdiri di bawah atap serambi dan merasakan sesuatu di dadanya melunak.
Tempat rusak kadang lebih mudah dipercaya daripada tempat sempurna.
Keesokan harinya, ia datang lagi dengan alasan mengambil dokumen asuransi palsu. Di tasnya ada sarung tangan kebun, gunting kecil, dan beberapa bibit bunga melati putih yang ia beli tanpa memberitahu siapa pun. Ia tahu ini tindakan konyol. Ia tinggal di rumah orang lain dengan identitas palsu, terjebak dalam rencana berbahaya, dan masih sempat memikirkan tanah.
Namun saat tangannya menyentuh tanah basah, napasnya terasa lebih ringan.
Ia mencabut rumput liar, memotong cabang kering, memindahkan pot yang pecah. Tidak banyak. Hanya satu petak kecil. Tetapi satu petak kecil yang kembali terlihat bisa bernapas.
"Nona."
Sekar menoleh. Hans berdiri di jalur batu, membawa payung hitam meski hujan sudah berhenti.
"Aku tidak merusak apa pun," kata Sekar cepat.
"Saya tidak bilang begitu."
"Renard marah?"
Hans melihat petak bunga yang baru dibersihkan. "Tuan belum tahu."
Itu tidak membuatnya lebih tenang.
Sekar melepas sarung tangan. "Kalau ini tidak boleh, aku akan berhenti."
Hans diam cukup lama sampai Sekar mengira ia tidak akan menjawab. Lalu pria itu berkata, "Dulu, taman ini dirawat Ibu Michelle."
Nama itu membuat Sekar berhenti.
Michelle Tjin. Ibu Renard.
"Dan ayahnya?" tanya Sekar pelan.
"Pak Yandy lebih sering merusak daripada merawat." Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang hampir menyerupai humor di suara Hans. "Tapi beliau selalu pura-pura membantu."
Sekar membayangkan seorang pria ilmuwan berjongkok di taman, mungkin memegang sekop dengan cara salah, sementara istrinya tertawa. Gambaran itu terlalu hangat untuk seseorang seperti Renard. Mungkin karena itu justru terasa menyakitkan.
"Mereka menyukai bunga apa?"
"Melati putih. Michelle bilang aromanya membuat rumah terasa pulang."
Sekar melihat bibit yang ia bawa.
Melati putih.
Kebetulan itu membuat tengkuknya meremang.
Hans juga melihatnya, tetapi tidak berkomentar.
Sejak hari itu, Sekar merawat petak kecil itu diam-diam. Tidak setiap hari. Tidak cukup sering untuk menarik perhatian pelayan luar. Hanya ketika ia punya alasan ke Rumah Tua, atau ketika Hans mengirim pesan singkat bahwa rumah kosong.
Dalam beberapa hari, tanah menjadi lebih bersih.
Dalam seminggu, daun-daun baru mulai tegak.
Renard baru mengetahuinya pada sore ketika langit mendung dan Sekar sedang memindahkan pot melati ke dekat dinding.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
Suara itu membuat Sekar hampir menjatuhkan pot. Ia menoleh dan melihat Renard berdiri di ujung jalur batu. Kemeja hitamnya digulung sampai siku, wajahnya dingin seperti biasa. Tetapi matanya tidak berhenti pada Sekar. Matanya jatuh pada petak bunga.
Pada melati putih.
Sekar segera berdiri. "Tidak ada. Aku hanya..."
Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Bahwa tanah yang rapi membuatnya bisa bernapas? Bahwa bunga lebih mudah diselamatkan daripada dirinya sendiri? Bahwa ia tidak sengaja memilih bunga yang sama dengan ibunya?
"Kalau tidak boleh, aku akan cabut."
"Jangan."
Kata itu keluar terlalu cepat.
Sekar terdiam.
Renard tampak menyadari kecepatannya sendiri. Ia memalingkan wajah ke arah lain, tetapi sudah terlambat. Untuk satu detik, topeng dinginnya retak. Bukan kemarahan yang muncul dari baliknya, melainkan kehilangan yang begitu tua sampai tidak lagi punya suara.
"Biarkan," katanya kemudian, lebih datar. "Taman ini terlalu lama mati."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Sekar berdiri dengan tangan masih penuh tanah. Di tempat Renard tadi berdiri, udara terasa lebih berat. Ia baru mengerti kenapa Hans tidak melarangnya. Kebun itu bukan sekadar kebun. Ia telah menyentuh sesuatu yang masih berdarah di dalam rumah tua ini.
Suatu sore, saat menggemburkan tanah di dekat akar tanaman lama, ujung sekop kecilnya membentur sesuatu yang keras.
Sekar berhenti.
Ia menggali dengan tangan. Tanah basah menempel di jarinya. Beberapa sentimeter di bawah permukaan, ada kotak besi kecil, berkarat di sisi-sisinya. Bukan kotak mahal. Lebih seperti benda yang dulu disembunyikan anak-anak dan dilupakan orang dewasa.
Ia ragu sebentar.
Lalu membuka tutupnya.
Di dalamnya ada selembar foto yang sudah menguning, dibungkus plastik tipis. Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri muda berdiri di taman yang sama. Perempuan itu tersenyum lembut, rambutnya tertiup angin. Pria di sampingnya memegang bahu seorang anak laki-laki berusia mungkin dua belas tahun.
Anak itu tidak tersenyum.
Matanya tajam, keras kepala, dan terlalu serius untuk wajah sekecil itu.
Sekar tidak perlu membaca nama di belakang foto untuk tahu siapa dia.
Renard.
Sebelum bekas luka, sebelum Eclipse, sebelum semua orang menyebutnya berbahaya, ia pernah berdiri di taman ini sebagai anak yang mungkin masih punya rumah.
Sekar menatap foto itu lama sekali.
Untuk pertama kalinya, Renard Liem tidak terlihat seperti pria yang lahir dari kekuasaan dan kegelapan.
Ia terlihat seperti anak yang kehilangan sesuatu terlalu cepat, lalu tumbuh dengan menggenggam kehilangan itu sampai berubah menjadi senjata.