NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️


Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.

Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.

Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.

Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.

Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !

Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.

bac

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Interogasi Arkan

...Rania sedang fokus mengetik laporan di mejanya ketika suara intercom berbunyi tajam. ...

...Ia segera menekan tombol jawab....

..."Rania, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa laporan data riset yang baru saja selesai."...

...Suara Arkan terdengar datar, tapi ada nada perintah yang sangat keras. ...

...Rania segera bangkit, merapikan bajunya, dan mengambil map biru di mejanya. ...

...Tangannya sedikit berkeringat. Ia merasa Arkan sedang mencurigainya sejak kejadian parfum pagi tadi....

...Ia berjalan menuju pintu ruangan Arkan, mengetuknya tiga kali, lalu masuk....

...Arkan sedang berdiri di dekat jendela besar, membelakangi pintu. Ia tidak menoleh saat Rania masuk....

..."Taruh di meja saya, Rania."...

...Rania melangkah mendekat, meletakkan map itu di atas meja kerja Arkan yang luas....

... "Ini laporannya, Pak."...

...Arkan tidak segera memeriksa laporan itu. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, lalu berjalan mendekati Rania....

... Rania mencoba tetap berdiri tegak, tapi instingnya memintanya untuk mundur....

... Ia tidak bisa melakukannya karena meja Arkan sudah tepat di belakangnya....

...Arkan berhenti tepat di depan Rania. Jarak mereka sangat dekat, mungkin kurang dari sepuluh sentimeter....

... Arkan tidak bicara apa pun, ia hanya menatap mata Rania dengan tatapan tajam dan menyelidik....

...Rania menunduk. Ia merasa sesak. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?"...

...Arkan tidak menjawab. Ia justru melangkah lebih dekat lagi, membuat Rania harus menyandarkan punggungnya ke meja kerja....

... Arkan memiringkan kepalanya sedikit, mendekat ke arah leher Rania. Rania merasa napasnya tercekat. ...

...Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Arkan di kulit lehernya....

...Arkan sengaja menghirup aroma di dekat leher Rania dalam-dalam. Rania memejamkan mata, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa Arkan pasti bisa mendengarnya....

..."Parfum apa yang kamu pakai, Rania?" tanya Arkan dengan suara rendah yang serak....

... "Aromanya... sangat tidak asing."...

...Rania berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar gemetar....

... "Sudah saya bilang tadi pagi, Pak. Parfum murah dari pasar malam."...

...Arkan tersenyum miring. Ia tidak menjauh. "Pasar malam? Kamu yakin?"...

..."Iya, Pak. Kenapa Bapak terus menanyakan hal ini?" Rania memberanikan diri menatap mata Arkan....

...Arkan meletakkan satu tangannya di meja, tepat di samping tubuh Rania, mengunci pergerakannya....

... "Karena saya merasa aroma ini bukan aroma parfum murah. Ini aroma yang sangat spesifik. Aroma yang saya cium setiap malam di kafe, saat pelayan itu menyajikan teh untuk saya."...

...Rania merasa kakinya lemas. ...

...Ia harus tetap tenang. "Mungkin hanya kebetulan, Pak. Banyak parfum yang wanginya mirip di luar sana."...

...Arkan menatap mata Rania lekat-lekat....

... "Benarkah? Atau jangan-jangan, kamu memang pelayan itu?"...

...Rania tertawa kecil, meski terdengar sangat dipaksakan....

... "Pak, jangan bercanda. Saya sekretaris magang Bapak. Saya harus bekerja di kantor setiap hari dari pagi sampai sore. Bagaimana mungkin saya punya waktu untuk bekerja sebagai pelayan di kafe malam-malam?"...

...Arkan menatap Rania lama sekali, seolah sedang mencari kebohongan di wajahnya....

... "Kamu tahu, Rania? Saya punya banyak cara untuk mencari tahu kebenarannya. Saya bisa saja mengecek rekaman CCTV di kafe itu."...

...Rania merasa dunianya runtuh....

... Jika Arkan mengecek CCTV, semuanya akan terbongkar. Tapi kemudian ia teringat, ia selalu memakai wig, lensa kontak, dan makeup tebal di kafe. ...

...Arkan tidak akan mengenali wajah aslinya....

...Rania memberanikan diri....

... "Silakan saja, Pak. Kalau Bapak mau membuang waktu untuk mencari pelayan yang mirip dengan saya, saya tidak bisa melarangnya."...

...Arkan terdiam. ...

...Ia melepaskan tangannya dari meja dan menjauh sedikit dari Rania. Ia tampak berpikir....

..."Kamu terlihat sangat yakin," kata Arkan....

..."Karena saya memang bukan dia, Pak," jawab Rania mantap....

...Arkan berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang....

... "Saya harap kamu memang berkata jujur, Rania. Karena kalau saya sampai tahu kamu berbohong, kamu tahu apa risikonya."...

...Rania mengangguk. "Saya tahu, Pak."...

..."Sudah, silakan keluar. Dan satu lagi, jangan pakai parfum itu lagi. Saya tidak suka baunya," kata Arkan sambil mulai fokus ke komputernya....

...Rania segera berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan sangat cepat. ...

...Begitu pintu tertutup, Rania menyandarkan tubuhnya di dinding koridor....

... Ia menarik napas panjang. Kakinya gemetar hebat. Hampir saja tadi ia mengaku....

...Di dalam ruangan, Arkan menatap layar komputernya dengan tatapan kosong....

... Ia tidak benar-benar membaca laporan itu. Ia memikirkan aroma parfum Rania tadi....

...Dia bukan Milky, pikir Arkan. Tapi aromanya sama persis. Kenapa?...

...Arkan tidak bisa menghilangkan rasa curiganya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rania. ...

...Sesuatu yang sangat besar....

...Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Tedi....

...Arkan: Milky memakai parfum apa?...

...Beberapa saat kemudian, Tedi membalas....

...Tedi: Milky memakai parfum stroberi-vanila, Tuan. Itu merk khusus yang dia beli sendiri....

...Arkan membaca pesan itu. Dia tahu, itu adalah bukti yang paling kuat....

... Dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa membiarkan misteri ini berlarut-larut....

...Malam ini, pikir Arkan. Malam ini aku akan memastikan semuanya....

...Arkan kembali bekerja, tapi pikirannya sudah berada di kafe....

... Ia menunggu jam kerja berakhir. Ia merasa waktu berjalan sangat lambat....

...Sementara itu, Rania kembali ke mejanya dengan perasaan cemas. Ia tahu Arkan tidak akan berhenti begitu saja....

... Ia merasa seperti sedang berada di dalam kandang singa yang siap menerkamnya kapan saja....

..."Apa yang harus aku lakukan?" bisik Rania pelan....

...Rania tahu ia harus lebih berhati-hati. Jika Arkan mulai menyelidiki lebih dalam, penyamarannya tidak akan bertahan lama. ...

...Ia memikirkan ibunya di rumah sakit. Ia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini, baik sebagai sekretaris maupun sebagai pelayan....

...Ia memutuskan untuk tidak memakai parfum stroberi itu lagi. Tidak akan pernah lagi....

...Ia akan bersikap seolah-olah ia tidak tahu apa pun tentang kafe itu....

... Ia akan berakting sebagai sekretaris magang yang patuh....

...Tapi di dalam hatinya, ia merasa takut. ...

...Ia tahu Arkan adalah pria yang sangat teliti. Pria itu tidak akan menyerah sampai ia menemukan jawaban yang ia cari....

...Rania mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi pikirannya selalu kembali ke interogasi Arkan tadi. ...

...Ia merasa Arkan sedang menjebaknya....

...Dia sengaja melakukan itu tadi, pikir Rania. Dia sengaja mendekat untuk melihat reaksimu....

...Rania harus lebih kuat. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan apa pun di depan Arkan....

...Saat jam pulang kantor tiba, Rania segera merapikan mejanya. Ia tidak ingin berlama-lama di kantor. Ia ingin segera pergi dan memastikan semuanya aman....

...Saat ia berjalan melewati ruangan Arkan, ia melihat Arkan sedang mematikan lampunya. Arkan menoleh dan menatap Rania....

..."Pulanglah, Rania. Jangan lupa besok datang tepat waktu," kata Arkan datar....

..."Baik, Pak. Selamat malam," jawab Rania....

...Arkan hanya mengangguk. Ia pun melangkah keluar dari ruangannya. Rania menunggu Arkan pergi terlebih dahulu sebelum ia melangkah menuju lift....

...Saat lift terbuka, Rania masuk ke dalamnya. Ia menekan tombol lantai dasar. Sambil menunggu lift turun, ia memikirkan apa yang akan terjadi malam ini di kafe....

...Ia tahu, Arkan akan datang ke kafe malam ini. Dan ia tahu, Arkan akan mengawasinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya....

...Rania harus siap. Ia harus menjadi Milky yang sempurna. Ia harus menjadi Milky yang tidak punya kaitan apa pun dengan sekretaris magang bernama Rania Adisti....

...Rania keluar dari lift dan menuju parkiran. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju medan perang. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus menghadapi semuanya....

..."Ini demi ibu," ucapnya pelan....

...Rania masuk ke dalam taksi dan meminta sopir untuk mengantarnya ke tempat yang jauh dari kafe, agar ia bisa berganti pakaian di sana. ...

...Ia tidak ingin ada orang yang melihatnya masuk ke kafe sebagai Milky....

...Rania merasa lelah secara fisik dan mental. Tapi ia tahu, ia tidak boleh menyerah. Ia akan terus berakting sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan....

...Di dalam taksi, Rania menatap pemandangan kota dari balik jendela. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Malam yang akan menentukan nasibnya....

...Ia hanya bisa berharap, semuanya akan baik-baik saja. Ia berharap, Arkan tidak akan menemukan kebenaran yang ia cari....

..."Semoga," bisik Rania pelan....

...Ia pun memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya sebelum harus kembali menjadi Milky yang ceria. Ia harus menjadi Milky yang sempurna. ...

...Milky yang tidak punya masalah di kantor. Milky yang tidak punya bos tiran bernama Arkananta Narendra....

...Malam ini, semuanya akan ditentukan. ...

...Rania tahu itu. Dan ia harus siap untuk menghadapinya....

...Ia menarik napas panjang, mencoba membuang semua rasa takutnya. Ia harus kuat. Ia harus menang. Ia tidak boleh kalah di dalam permainannya sendiri....

...Taksi itu terus melaju, membawa Rania semakin dekat ke pertemuannya dengan Arkan. Pertemuan yang mungkin akan mengubah segalanya....

...Rania sudah siap. Atau setidaknya, ia berusaha untuk menjadi siap. Ia tahu, permainannya baru saja dimulai. Dan ia tidak akan berhenti sebelum semuanya berakhir sesuai rencananya....

...Ia pun membuka matanya dan menatap jalanan di depannya dengan tekad yang bulat. Malam ini adalah malam penentuan. ...

...Dan ia harus menang. Ia harus bisa melindungi rahasianya dengan apa pun caranya....

...Rania tidak akan menyerah. Tidak sekarang. Tidak saat ia sudah sedekat ini dengan tujuannya....

...Ia akan menghadapi semuanya dengan kepala tegak. Ia akan menjadi Milky. Dan Arkan tidak akan pernah tahu kebenarannya....

...Itu adalah tekadnya. Dan ia akan memegang tekad itu dengan sekuat tenaga. Apapun yang terjadi....

...Rania tahu bahayanya. Tapi ia juga tahu, ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. ...

...Dan ia akan melakukannya. Untuk ibunya. Untuk masa depannya. Dan untuk dirinya sendiri....

...Taksi itu pun berhenti di tempat tujuan. Rania membayar sopirnya dan keluar dari mobil. Ia berjalan cepat menuju tempat ia biasa berganti pakaian....

...Ia harus segera berubah menjadi Milky. ...

...Ia harus segera menjadi orang lain....

..."Selamat tinggal Rania," bisiknya pelan. "Halo Milky."...

...Ia pun memulai perubahannya. Ia harus menjadi Milky yang sempurna. Milky yang tidak akan pernah dicurigai oleh Arkan....

...Rania merasa siap. Ia siap untuk menghadapi malam ini. Ia siap untuk menghadapi Arkan....

... Ia siap untuk semuanya....

...Permainan ini baru saja dimulai. ...

...Dan Rania sudah siap untuk memenangkannya. Apapun yang terjadi....

...Ia pun melangkah menuju kafe dengan hati yang mantap. Malam ini, ia akan menjadi Milky. Milky yang akan selalu dicintai oleh Arkananta Narendra....

...Dan ia tidak akan membiarkan rahasianya terbongkar. Tidak akan pernah....

...Rania pun masuk ke dalam kafe dengan senyum yang sudah disiapkan. Ia siap menghadapi tantangan malam ini. Ia siap menghadapi Arkan. Ia siap untuk semuanya....

...Ini adalah malam penentuan. Dan Rania sudah siap....

...Ia pun berjalan menuju bar dengan senyum yang manis. Ia sudah menjadi Milky. Dan ia tahu, ia bisa melakukannya. Ia bisa melewati malam ini dengan sempurna....

...Rania siap. Dan ia akan menang. Ia tahu itu. Ia yakin itu. Apapun yang terjadi....

...Ia pun mulai bekerja....

... Menyiapkan teh untuk para pelanggan, menyapa dengan ramah, dan menjadi Milky yang sempurna....

...Saat pintu kafe terbuka, ia melihat sosok yang ia kenal masuk. Arkananta Narendra....

...Rania menarik napas dalam-dalam. "Ini dia," bisiknya pelan....

...Malam penentuan itu pun tiba. Rania siap menghadapi Arkan. Ia siap untuk menghadapi segalanya....

...Ia pun berjalan menghampiri Arkan dengan senyum manisnya. ...

..."Selamat datang di kastel kami, Tuan~" sapanya dengan nada yang imut....

...Arkan menatap Rania. Ia memperhatikan setiap inci wajah Milky. ...

...Ia mencari kebohongan di sana. Tapi Rania sudah siap. Ia sudah berakting dengan sangat baik....

..."Milky," sapa Arkan dingin....

... "Kamu sudah sehat?"...

..."Sudah Tuan~ Berkat doa Tuan Besar yang agung, kelinci kecil ini sudah sehat kembali! ✨" jawab Rania imut....

...Arkan menatap mata Rania. ...

...Ia mencari kebenaran di sana. Tapi ia tidak menemukannya. Rania sudah siap. Ia sudah memenangkan hatinya....

..."Baguslah," jawab Arkan singkat. ...

..."Kalau begitu, siapkan teh saya seperti biasa."...

..."Siap, Tuan Besar!" jawab Rania senang....

...Rania pun berjalan menuju bar dengan hati yang lega. Ia berhasil. ...

...Ia berhasil meyakinkan Arkan. Ia berhasil melindungi rahasianya....

...Malam ini, Rania menang. Dan ia tahu, ia akan terus menang. Ia akan terus menjadi Milky. Dan ia akan terus menjaga rahasianya....

...Permainan ini memang melelahkan, tapi Rania tidak akan berhenti. Ia akan terus berjuang. Sampai semuanya berakhir....

...Rania pun tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia. Ia berhasil. Ia berhasil melewati malam ini dengan sempurna....

...Ia sudah menang. ...

...Dan ia tahu, ia akan terus menang. Apapun yang terjadi....

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
yang banyak update nya 😉😉😉
Tya
bagusssssss bgttt
Tya
crazy up dong authorrrrrr😭🙏 gbisa bgt cerita sebagus ini ditunda2 buat dibaca😭
Watini Salma
kalau sekarang MLM Minggu berarti besok kantor libur dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!