Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"Kamu juga pasti capek, kamu tidur yah!" gue bangun dan memeluk Bima.
"Iya sayang, nanti aku tidur." Jawab Bima tersenyum.
"Sayang, aku lagi pengen malam ini, mungkin bawaan dedek, he-he...." gue merayu Bima dan menarik Bima. Entah kenapa malam ini malah gue yang agresif duluan, mungkin Bawaan bayi. Bima yang tidak kuat melihat gue mendesah, langsung bergairah.
Gak lama, gue langsung mual-mual lagi. Bima mengolesi gue dengan minyak kayu putih, dan memijat-mijat leher gue.
"Sayang, maafin aku ya! jadi ke tunda." Sahut gue menatap Bima.
"Gak apa-apa sayang, kalau sudah gak mual kan bisa lanjut lagi, he-he...." sahut Bima menggoda gue.
"Sini! aku mau ngomong sama dedek! Dek, Ayah mohon sama Dedek yah, jangan bikin Bunda sakit yah! kasian Bundanya, kamu harus bikin Bunda kuat! muuachh... Ayah sayang kamu Dek." Bima mencium perut gue dan berusaha berbicara dengan Dedek bayi dalam perut gue.
"Aku udah gak mual sayang, he-he..." sahut gue tersenyum.
"Oh berarti dedeknya pengen di ajak bicara sama Ayahnya, ha-ha... lanjut gak?" ajak Bima.
"Ahhh, he-he...." sahut gue manja dan merangkul Bima.
"Dih, kok maksa ha-ha." Bima menggoda gue dan langsung menggendong gue ke kamar.
****
Gak terasa sudah pagi lagi, seperti biasa kita salat berjamaah.
"Sayang, kamu masih libur yah?" tanya gue mencium tangan Bima sehabis salat.
"Iya sayang libur, seharian aku bakal temenin kamu dan jaga kamu." Ucap Bima tersenyum dan memegang kepala gue.
"Sayang aku masih ngantuk, aku tidur dulu yah!" Bima langsung tiduran di ranjang.
"Iya sayang, gak apa-apa kamu tidur lagi aja! aku mau belanja sayur dulu." Gue tersenyum dan melipat mukena yang habis gue pakai.
Di jalan gue bertemu Bu Jenah, dan memberi gue jamu. Gue sangat berterima kasih ke Bu Jenah karena sudah baik sama gue. Di sepanjang jalan gue bertemu Anjar.
"Zahra, ya Allah lo ini?" tanya Anjar kaget melihat gue.
"Iya, lo apa kabar?" ucap gue tanya balik.
"Baik, katanya lo udah nikah sama Bima? selamat ya Ra, lo tetap cantik aja." Sahut Anjar meledek gue.
"Iya, udah ya gue buru-buru!" gue langsung berjalan meninggalkan Anjar.
Ra, gue prihatin liat lo. Andaikan lo jadi milik gue, hidup lo bakal enak, gak kaya gitu.
****
Gue pun sampai rumah, dan melihat Bima sudah bangun.
"Kamu udah pulang? sayang, ini apa?" tanya Bima sambil memegang jamu yang di kasih Bu Jenah.
"Itu jamu sayang, dari Bu Jenah." Sahut gue menunjuk jamu yang di pegang Bima.
"Kamu hati-hati lho, aku takut ah!" sahut Bima khawatir.
"Bu Jenah baik kok, gak mungkin ngeracunin aku, he-he." Sahut gue sambil memegang tangan Bima.
"Kalau sampai kamu kenapa-napa, aku penjarakan dia." Ucap Bima cemas.
"Enggak sayang! percaya yah, kok kamu udah bangun aja, katanya ngantuk?" tanya gue ke Bima.
"Gak bisa tidur, kalau gak sama kamu." Sahut Bima tersenyum.
gue bilang ke Bima gak yah? tadi ketemu Anjar. Gak usah deh.
****
"Sayang aku mau ke supermarket dulu yah, mau beli makanan sama susu hamil buat kamu! Dedek, Ayah mau ke luar dulu yah, mau beli susu buat kamu, kamu jaga Bunda yah! jangan bikin Bunda capek." Bima mencium kening gue dan mencium perut gue.
"Kamu hati-hati, jangan lama-lama." Sahut gue cemas Dan khawatir.
Bima pun pergi, di perjalanan Tio melihat Bima. Tapi Bima tidak melihat Tio, Tio dendam ke Bima. Dan menabrak Bima hingga terpental. Bima di bawa ke rumah sakit, saat itu handphonenya Bima ada sama polisi. Dan pihak rumah sakit menghubungi gue.
"****** lo Bima! lo udah ambil kebahagian gue! Zahra lebih memilih lo di banding gue, jadi lo harus mati!" ucap Tio.
****
Gue kaget dan langsung berlari ke rumah sakit. Di sepanjang jalan gue menangis dan ingin cepat-cepat bertemu Bima.
"Dokter, gimana suami saya? hiks...hiks..." gue panik dan menghampiri Dokter yang keluar dari ruangan Bima.
"Suami Ibu, harus segera di operasi! Silakan Ibu membayar adminnya di kasir, jika tidak membayar, kami tidak akan bisa mengoperasi suami Ibu." Jawab Dokter tegas.
"Dokter, tolong suami saya! tolong Dok! saya secepatnya akan membayarnya, tolong Dokter!!! Tolong!!" gue memohon dan menangis ke Dokter agar Bima segera di operasi.
Ya Allah hujan lagi, enggak gue harus nekat, gue harus lari ke rumah Mamah meskipun hujan. hiks-hiks-hiks...
Hujan deras yang mengguyur tubuh gue, dan bercampur dengan air mata gue yang menetes. Dinginnya air hujan gue lalui sampai gue lemas terjatuh dan bangun lagi gue paksain demi Bima.
Gue pun sampai di rumah Mamah, tapi rumah kosong. Tidak ada orang, lampu pun gelap. Gue bertanya ke tetangga, katanya Nyokap dan Bokap gue sudah pindah ke Jakarta.
Hiks...hiks...hiks... gimana ini gue bingung harus kaya gimana? harus pinjam ke siapa lagi? ya Allah tolong suami hamba. Mamah gak aktif nomor handphonenya. hiks...hiks....
****
Akhirnya gue meminta pertolongan ke Anjar hanya dia yang bisa menolong gue. Anjar pun tidak ada di rumah, sore sudah berangkat ke Belanda. Dan gue meminta tolong ke Tio tapi dia memberi syarat kalau gue harus menikah dengan dia. Gue pun menolaknya dan marah padanya.
Aku bingung ya Allah, harus gimana? tolong aku ya Allah.
Gue menangis di tengah jalan, sampai kedinginan karena ke hujanan. Gue bertemu Rio, Rio sekarang telah menjadi Dokter meskipun dulu terkenal dia playboy. Dia meneruskan warisan Ayahnya. Setelah selesai wisuda, Rio melanjutkan menggantikan Papahnya tanpa waktu lama. Harusnya, Bima dan Gue pun sama selesai Wisuda, tapi malah menikah. Dia langsung menolong gue dan ternyata yang menangani Bima itu Rio. Rio menjelaskan ke pihak rumah sakit dan langsung membawa Bima ke ruang operasi.
"Rio, gue sangat berterima kasih sama lo, lo udah menolong suami gue." Gue berterima kasih dengan raut wajah memelas.
"Sama-sama Ra, semoga Bima cepat siuman dan lekas sembuh yah!" Rio tersenyum dan meninggalkan gue.
Akhirnya, Bima selesai di operasi. Dia pun masih koma. Gue menunggu Bima dan memegang tangan Bima sambil menangis.
"Hiks...hiks...hiks... sayang bangun! aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Dedek pasti sedih lihat Ayahnya koma." Gue menangis mencium tangan Bima.
"Sayang, aku di mana?" Bima siuman dan memanggil nama gue.
"Alhamdulillah, sayang kamu udah sadar, hiks-hiks-hiks..." gue memegang pipi Bima dan mencium tangan Bima.
"Sayang, jangan nangis! aku enggak apa-apa." Jawab Bima tersenyum dan menghapus air mata gue.
"Kamu tuh di operasi sayang, sudah seminggu kamu baru siuman, kamu di tabrak orang, tapi orang yang nabrak kamu belum ketemu." Ucap gue menjelaskan.
"Apa? operasi? terus uang dari mana sayang?" tanya Bima kaget dan penasaran.
"Saat itu aku bingung cari uang buat kamu kemana, sampai kehujanan gak dapet, minjam ke Mamah gak ada, sudah pindah ke Jakarta. Sedangkan Anjar di Belanda, dan aku pinjam sama Tio harus ada syarat aku menikah sama dia. Tapi aku menolak dan tetap setia sama kamu." Sahut gue Menjelaskan kembali.
"Lalu siapa yang membayar sayang?" tanya Bima.
"Rio. Saat aku putus asa, aku bertemu Rio. Rio Dokter, kebetulan Rumah sakit ini warisan Papahnya, jadi dia yang menolong kamu! meminta rumah sakit agar cepat menangani kamu!" sahut gue tersenyum.
"Ya Allah, Di mana dia sekarang? aku mau berterima kasih dengannya." Bima berusaha untuk bangun.
"Sayang, kamu masih sakit! dia sekarang gak tugas di sini! kalau ketemu kita berterima kasih yah! sekarang kamu sembuh dulu!" ucap gue sambil memegang perut gue sendiri.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪