NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Halo Pembaca!

Senang sekali kalian bisa mampir ke perjalanan Julian dan Yisla dalam proyek novel terbaruku. Novel ini adalah proyek yang sangat personal bagiku. Sebelum kalian lanjut ke prolog, ada beberapa hal kecil yang ingin aku sampaikan diantaranya:

Feedback: Aku sangat terbuka untuk kritik dan saran yang membangun dari kalian. Silakan berikan vote atau comment agar aku makin semangat untuk lanjut menulis dan "membangun dunia" ini bersama kalian.

Jangan terlalu pusing dengan genre yang berubah-ubah di setiap Babnya, karena seperti kata Animus, cerita ini masih "draf yang belum pernah ditulis".

Selamat membaca dan selamat menikmati berpetualang di Negeri Utara!

...-Prolog-...

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

"Wajah lo tuh bikin mual, tahu gak?! Dasar kutu buku!"

Bugh!

Satu tendangan keras bersarang tepat di perut Astra. Tubuhnya tersungkur, sementara itu wajahnya mencium tanah di gang sempit yang kotor.

"Uhuk!" Astra terbatuk, memuntahkan air liur bercampur dengan darah.

"Heh, sampah! Berani-beraninya lo natap gue kayak gitu?! Lo pikir lo siapa hah?!" Reza mencengkeram kerah baju Astra, mengangkatnya dengan paksa.

"Lo itu cuma anak haram yang gak guna! Gak punya masa depan! Kerjaan lo cuma nulis cerita sampah di kamar, kan? Nih, rasain plot buatan gue!"

Plak! Plak!

Dua tamparan keras membuat pipi Astra terasa kebas. Di sekelilingnya, antek-antek Reza menertawakan Astra yang tidak berdaya, mereka bersorak ria seolah ini adalah tontonan paling menghibur sedunia.

"Sialan..." bisik Astra lirih, matanya menyipit menahan perih.

"Masih bisa ngomong lo, hah?! Mati aja lo, anjing!"

Bugh! Dum!

Satu hantaman terakhir di pelipisnya membuat dunia Astra seketika hening. Pandangannya mengabur, suara tawa dari anak-anak biadab itu perlahan meredup, digantikan oleh kegelapan total.

...***...

Krieeet... sreeek...

Dingin yang luar biasa menusuk tulang belakangnya, memaksa kelopak mata Astra untuk terbuka. Samar-samar, terdengar suara gesekan roda kayu di atas tebalnya salju.

Astra terbelalak. Bau sampah gang sempit kini lenyap, berganti dengan udara sedingin es. Saat ia melihat ke bawah, tangannya tampak lebih kurus dan pakaiannya berubah jadi jubah yang sangat usang yang terasa gatal di badannya.

"Di... di mana ini?" gumamnya panik. "Loh... Ini badan siapa pula, kayak bukan aku."

"Kau sudah bangun, Julian?"

Astra tersentak. Di hadapannya, tiba-tiba saja berdiri dua sosok jangkung yang tampak sangat kontras dengan dirinya sendiri.

Seorang pria berambut putih sedang memeluk gulungan kertas tebal, dan seorang wanita berambut pirang dengan gaun musim dingin ala tradisional.

"Siapa kalian?! Julian siapa?!" Astra mundur dengan panik.

"Kau sekarang sedang berada di dalam dunia yang belum diciptakan," jawab si pria berambut putih.

"Jangan bercanda, ya! Aku itu kayaknya tadi pingsan karena digebukin, bukan karena ketiduran!"

Si wanita berambut pirang melangkah maju, sembari tersenyum manis yang malah terasa seram menurut Astra.

"Maksudnya itu, Sayangku... kamu sekarang berada di tempat di mana belum diciptakan hukum dunia penulisan. Tempat di mana imajinasimu pernah terlintas sesaat, tapi belum sempat kamu tulis menjadi sebuah cerita."

Astra melongo. "Maksud kalian... Aku masuk ke otak-ku sendiri gitu?"

"Tepat. Kamu bertugas menyusun plot itu secara langsung," timpal si pria lagi. "Tapi kini, tanpa bantuan outline, tanpa riset, dan tanpa terpaku pada genre."

"Setiap keputusanmu akan menentukan alur yang akan kau jalani dalam semesta ini," tambah si wanita, matanya berbinar.

"Lalu siapa sebenarnya kalian?!" bentak Astra, frustrasi.

"Aku Animus Hemisphere," jawab si pria seraya menepuk gulungan kertas kosongnya.

"Dan dia adalah saudariku, Anima. Kami adalah bagian dari alam bawah sadarmu. Semua yang terjadi di sini akan tertulis di kertas ini."

Anima melambaikan tangan, tubuhnya perlahan memudar menjadi butiran cahaya.

"Selamat berpetualang, Author-ku sayang..."

"Heii! Tunggu! Jangan pergi dulu!"

Wush! Keduanya lenyap begitu saja, meninggalkan Astra dalam kebingungannya.

"Sialan!" Astra memaki. Belum sempat ia mencerna semuanya, sebuah bentakan kasar terdengar dari arah depan.

"Hei! Kita istirahat sebentar di desa depan! Dinginnya minta ampun!" seru sebuah suara berat dari balik kemudi kereta kuda.

"Hahaha, sabar! Yang penting anak di belakang itu tidak mati kedinginan," sahut suara lain.

"Bocah yang kita bawa ini bakal laku mahal di kalangan bangsawan untuk dijadikan budak. Wajahnya cukup lumayan menjual."

Jantung Astra berdegup dua kali lebih cepat.

Budak?!

Dia melirik tangannya yang kurus dan kotor itu, yang tidak lain adalah milik sang protagonis utama bernama Julian. Baru saja lolos dari dunia nyata tempat ia di-bully habis-habisan, sekarang justu dia malah terjebak di imajinasinya sendiri sebagai komoditas budak! Sungguh miris Astra.

Aku gak punya outline, gak punya persiapan... Astra mencengkeram kepalanya yang mendadak terasa amat pening.

Berpikir, Astra... berpikir! Gimana caranya aku nulis bab pertama hidupku di sini kalau tanganku sendiri aja dalam kondisi terikat begini?!

...***...

Sekitar sepuluh menit mereka akhirnya sampai di desa tujuan.

Krieeet...

Kereta kuda sialan itu akhirnya berhenti. Hawa dingin langsung menusuk celah dinding jubah usang yang Astra kenakan. Dari luar, terdengar derap langkah bot berat menapak di atas salju.

Astra buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napasnya sehalus mungkin.

Pura-pura pingsan. Cuma ini satu-satunya cara. pikirnya.

Brak!

Pintu gerbong belakang ditendang paksa.

"Hei! Bangun, bocah!" Bahu Astra diguncang kasar sampai kepalanya pusing.

Astra melenguh pelan, membuka mata dengan akting setengah sadar. "Ugh... di... di mana..."

"Jangan banyak tanya! Cepat turun sebelum aku seret!"

Astra mengangguk lemah. Mengikuti dua pria yang membawanya itu menembus badai salju menuju ke sebuah penginapan kayu di desa terpencil itu. Begitu masuk, hangatnya perapian dan bau alkohol murah langsung menyengat indra penciumannya.

"Satu kamar. Pastikan jendelanya terkunci rapat," ujar si pria pertama di meja resepsionis.

Sementara itu, pria kedua yaitu si penjaga Astra-malah asyik duduk di meja kosong, sibuk menghitung koin emas di dalam kantong kulit dengan mata berbinar.

"Satu... dua... tiga..." Dia benar-benar buta oleh kilauan uang.

Sekarang atau mati jadi budak.

Astra melangkah mundur tanpa suara. Satu langkah... dua langkah... Begitu jaraknya aman, ia berbalik dan melesat keluar lewat pintu samping dekat dapur.

Di meja resepsionis, si pria pertama selesai membayar. "Selesai. Hei, bawa bocah itu naik."

Pria kedua menyahut tanpa menoleh, "Itu... di belakang."

"Mana?!"

Pria kedua reflek menoleh. Ia mengerjap, seketika kicep melihat ruang kosong di belakangnya.

"T-tadi... tadi di sini!"

"Bodoh! Dia kabur!" teriak temannya murka. "Cepat kejar!"

...***...

Napas Astra memburu, keluar menjadi kepulan uap putih. Ia berlari membabi buta menembus labirin desa salju yang tampak asing.

Bahkan sialnya, kakinya beberapa kali hampir tergelincir!

"Sial, sial, sial! Aku gak tahu ini di mana pula!"

Astra berbelok ke sebuah gang sempit, lalu berjongkok di pojokan yang gelap sambil memeluk lututnya yang gemetar hebat.

"Dia pasti belum jauh! Periksa gang sebelah sana!"

Suara teriakan itu terdengar tepat di depan gang persis dimana Astra sedang bersembunyi.

Astra menahan napasnya sebisanya, menempelkan punggungnya ke dinding kayu yang sedingin es itu. Begitu bayangan kedua pria itu melewatinya dan menjauh, Astra mengembuskan napas dengan lega. Namun, baru saja ia hendak berdiri...

Set!

Sebuah tangan mendadak membekap mulutnya, sementara tangan yang lain menarik lengannya kuat-kuat ke balik tumpukan kayu bakar.

"Sstt... diam," bisik sebuah suara lembut perempuan.

Klik.

Ternyata terdapat pintu yang tersembunyi di balik tumpukan kayu bakar tepat dibelakang tempatnya jongkok, Astra bahkan tak menyadarinya.

Astra seketika ambruk di atas lantai tanah berlapis jerami kering. Di dalam ruangan temaram yang hanya diterangi cahaya satu lilin, seorang gadis berambut cokelat dengan mantel usang tampak sedang mengatur napasnya yang ikut memburu.

"Mereka gak akan cari sampai ke sini. Rumah ini jarang dilewati orang," ucap gadis itu, berusaha menenangkan. Ia mengulurkan tangan sambil tersenyum.

"Aku Yisla."

Astra masih terpaku. Lidahnya terasa kelu. Antara harus menyebut dirinya sebagai "Astra" atau "Julian".

Melihat pemuda di depannya masih gemetar dengan bibir memucat, Yisla menarik kembali tangannya dengan maklum. Ia berjalan ke sudut ruangan, menuangkan air hangat dari teko tanah liat ke dalam cangkir kayu, lalu menyodorkannya pada Astra.

"Minumlah," kata Yisla dengan nada agak gak enak hati. "Maaf... aku cuma bisa nyediain air hangat ini."

Astra menatap cangkir itu, lalu mendongak menatap Yisla. Bukannya kecewa, ia justru menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Nggak, nggak apa-apa. Ini lebih dari cukup," sahut Astra, suaranya masih agak serak. Ia menerima cangkir itu dengan kedua tangan yang bergetar, lalu menatap Yisla dengan tatapan penuh rasa syukur.

"Makasih banyak... Serius, makasih. Kalau tadi gak ada kamu, aku pasti udah dibawa ke kota dan dijual jadi budak."

Yisla tertegun mendengar kata 'budak', matanya sedikit melebar sebelum akhirnya tatapannya berubah menjadi lebih lembut dan bersimpati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!