Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUH
Arun mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Saat ini tubuh Arun masih terasa lemas meski sudah tidur semalaman.
Kejadian semalam kembali berputar di dalam kepala Arun. Dimana Bio memeluknya hingga berusaha menyuapi Arun dan membantu Arun meminum obat. Bahkan Bio sampai membantu Arun menarik selimutnya untuk beristirahat malam itu.
Namun pagi ini tidak terlihat Bio didalam kamar Arun. Mungkin Bio sudah kembali ke kamarnya saat Arun sudah tertidur pulas.
"Hari ini gue izin dulu aja deh" monolog Arun.
Tangan Arun mencoba mencari ponselnya di atas meja di samping ranjang tersebut. Saat mendapatkannya Arun langsung mencari nomor kontak Tia dan segera memekan menu panggil di layar ponselnya.
"Hallo Ti" sapa Arun sambil mencoba menarik tubuhnya agar bisa bersandar di sandaran ranjang tersebut.
"Lemes amat lo, sakit?" tanya Tia.
"Heem, tolong izinin gue ya? Badan gue masih lemes banget, gak sanggup kalo harus ke kampus".
"Abis diapain lo sama si Bio?".
"Diapain apa sih?!!, gue demam semalem gara-gara kemarin kehujanan waktu pulang" jelas Arun agar Tia tidak salah paham nantinya.
"Ohh, kirain. Ya udah iya nanti gue izinin. Nanti selesai kelas gue kesitu deh"
"Okee, thanks ya" ujar Arun lalu menutup panggilan telponnya.
Arun meletakan kembali ponselnya lalu memejamkan sebentar matanya. Hanya lima menit Arun kembali membuka matanya dan berniat untuk keluar. Arun cukup tahu diri saat ini, meski dirinya sakit bukan berarti Arun menghindar dari tugasnya untuk membereskan rumah ini.
Arun langsung membuka pintu kamarnya dan pemandangan yang pertama dilihat adalah sepi. Tidak ada siapa-siapa, begitu pun dengan lantai atas tidak ada aktifitas apapun.
"Udah pergi ke cafe kayaknya" monolog Arun.
Arun memilih melangkahkan kakinya menuju dapur terlebih dahulu. Benar saja saat sampai di dapur terlihat beberapa piring dan gelas kotor bekas mereka semalam. Arun mengambil asal karet yang terdapat di atas meja lalu ia gunakan untuk mengikat rambutnya dengan cepol asal.
Setelah itu, Arun mulai menghidupkan kran dan mencuci piring dan gelas tersebut. Tidak berhenti sampai disitu Arun pulang langsung menyapu, mengepel dan mencui baju. Untungnya badan Arun bisa diajak kompromi tidak terasa lemas saat dirinya melakukan pekerjaan rumah tersebut.
Mulai pukul setengah sembilan dan Arun tepat menyelesaikan semua pekerjaan rumah pada jam menunjukan angka dua belas pas. Arun sudah mandi dan membasahi rambutnya karena terasa lengket akibat keringat yang keluar saat dirinya melakukan pekerjaan rumah tadi.
"Alhamdulilah, akhirnya bisa istirahat" ucap Arun setelah berhasil mendaratkan tubuhnya pada sopa di depan televisi.
Arun menyalakan televisi denga mencari siaran kesukaan nya yaitu tentang musik. Beberapa musik mulai mengalun sampai membuat Arun terhanyut hingga memejamkan matanya dengan kondisi rambut masih tertutup oleh handuk.
Saat bel rumah berbunyi, Arun langsung tersadar dan berjalan dengan langkah gontai menuju pintu. Saat menarik pintu Arun sempat menguap tanpa menutup mulutnya.
"Ehh, lo ..." ucap Arun malu karena mulutnya masih terbuka akibat dia menguap tadi.
"Lo gak kuliah?" tanya Bio.
Iya, Bio. Dia lah yang datang, Arun pikr tadi Tia yang datang.
Arun menggelengkan kepala, "enggak, badannya masih lemes tadi. Tapi udah izin kok, titip sama Tia" ujar Arun.
Arun segera berjalan masuk diikuti oleh Bio sambil menutup pintu rumahnya kembali. Arun memilih berdiri di depan televisi lalu mematikanya, sedangkan Bio berjalan menuju meja makan. Bio melihat rumah ini sudah bersih jauh dari keadaan pagi tadi, pasti ini semua karena Arun.
"Lo udah makan?" tanya Bio yang mampu menghentikan langkah Arun untuk pergi menuju ke kamarnya.
"Oh iya, hari ini gue gak masak. Lo beli aja di luar, tadi gak sempet masak soalnya baru aja selesai beres-beres rumah" jelas Arun sambil melangkah mendekati meja makan.
"Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue" balas Bio sambil menatap Arun.
"Ohh, ya itu sekedar info aja. Gue gak sarapan nanti aja sekalian makan siang" ucap Arun.
Bio meliha jam ditangannya, "siang kapan? Besok? Lo gak liat ini jam berapa?" tanya Bio.
Arun langsung melihat ke segala arah rumah tersebut untuk mencari jam dinding. Dan saat menemukannya Arun melihat sekarang pukul setengah dua dan itu artinya hampir satu jam lebih Arun tertidur didepan televisi.
"Ya nantilah gampang, gue belum laper juga" ucap Arun.
"Makan sekarang" ucap Bio sambil melangkah menuju rak piring dan mengambilnya sebanyak dua lalu meletakannya di meja.
"Lo aja" tolak Arun.
"Gue gak minta pendapat lo! Duduk. Bentar lagi makanannya dateng".
"Ckkk, nyebelin banget sih" gumam Arun sambil menarik kursi untuk duduk.
Ting Tong
Suara bel berbunyi, Arun berniat untuk bangkit kembali dari duduknya demi mengambil makanan "biar gue aja" ucap Bio membuat Arun duduk kembali.
"ARUNNNN"
Suara tersebut terdengar lebih nyaring dan keras dibandingkan biasanya karena berada dalam ruangan. Arun yang terkejut saat mendengar panggilan tersebut langsung membulatkan matanya sempurna, "Tia?" gumam Arun sambil membalikan tubuhnya kebelakang.
Terlihat Tia berlari kecil menghampirinya, "lohh, gojeknya mana?" tanya Arun sambil terus melihat ke arah belakang Tia.
"Pulang lah, ngapain ikut masuk" balas Tia.
"Eh bukan, maksud gue tadi Bio kan ambil makanan. Nahh lo bisa masuk ... Bio nya mana?" tanya Arun dengan bingung.
"Bia, Bio, Bia, Bio. Suami lo tuh, panggilan mesra kenapa sihh!" tegur Tia.
Saat itu juga muncul Bio sambil membawa dua buah sterofoam yang terbungkus plastik dengan erat. Arun hanya memperhatikan dan melihat saja gerak-gerik yang dilakukan oleh suaminya itu.
Mulai dari menyiapkan nasi padang sampai membawakan minum untuk mereka nanti, "harusnya itu kerjaan lo Run! Lo kan istri" bisik Tia.
Arun yang mendengar dengan jelas hanya mendengus, "dia gak minta tolong, tadi awal juga gue udah mau ambil makanannya tapi dia bilang dia aja. Yaudah .. gue bisa apa?" ujar Arun menjelaskan.
"Tia, kalo kamu mau makan ini makan aja. Tadi saya cuma beli dua, saya kira gak akan ada tamu" ucap Bio sambil menyodorkan nasi padang yang masih terbungkus rapi di atas piring.
Tia dan Arun hanya saling pandang, "kamu sini makan" ujar Bio sambil menepuk kursi yang ada sebelahnya pada Arun.
"Kamu?" Batin Arun.
"Ehh, gak usah. K--amu makan aja, nanti aku bisa barengan sama Tia" balas Arun dengan salah tingkah karena menggunakan kata 'kamu' saat ini.
Tia langsung mengambil piring yang disodorkan padanya dan memeluknya dengan erat, "sorry Run, kali ini gue gak mau berbagi. Soalnya gue laper banget tadi selesai kelas belum sempat makan" ucap Tia.
"Hah? Kan itu banyak Ti, gue juga cuma makan dikit aja kok" balas Arun.
Arun tahu akal bulus Tia saat ini sengaja tidak ingin makan dengan Arun suapaya Arun bisa dekat dan makan sepiring berdua dengan Bio.
"Udah kasihan teman kamu, laper dia itu" ucap Bio.
"Iya, udah sana lo pindah deket suami. Gue mau duduk nih, mau makan" usir Tia.
Posisi duduk Arun saat ini memang berada di ujung meja. Pasti tadi mereka akan makan saling berhadapan namun ujung dengan unjung, "ishh, lo aja sana" tolak Arun dengan wajah cemberutnya.
"Arun!" nada tegas Bio mampu membuat Arun kicep dan langsung berjalan mendekat pada Bio dan sekaligus duduk di sampingnya.
Arun menurut bukan karena takut tapi tidak enak bila bertengkar di hadapan sahabatnya ini.
Tia sudah duduk dan menikmati makanannya begitu juga dengan Bio, namun Arun hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah Bio dari samping dan sesekali melihat ke arah Tia.
"Kamu mau saya suapin?".
Lontara pertanyaan yang keluar dari mulut Bio tersebut langsung membuat Tia menghentikan kunyahannya dan memandang Arun. Pasalnya saat ini wajah Arun dengan merah karena blushing.
Bagaimana mungkin Bio bisa mengatakan hal tersebut saat ada orang lain disini?.
Arun langsung menggeleng dan memasukan sesuap nasi menggunakan tanganya langsung pada mulutnya. Tia hanya bisa memandangi sahabatnya dengan tersenyum.
Tbc.
Siapa yang setuju, kalau makan nasi padang enaknya pake tangan???????