follow Ig 👉 dindin_812
- Novel ini sudah hadir dalam versi cetak, lebih rapi dan tentunya enak dibaca dan dipeluk kala rindu 🤭🤭🤭
Cerita ini mengandung unsur yang bisa bikin kamu nangis, tertawa, marah, baper juga sedih, jadi sebelum baca siapkan hati jiwa dan raga🤣
Tidak mencantumkan agama ya ....
Audrey Isvara tidak menyangka jika hidupnya jungkir balik tidak menentu. Dia baru saja kehilangan Ayah dan hampir kehilangan ibu, kemudian Audrey mendatangi seorang CEO muda bernama Ravindra Mahavir. Demi menyelamatkan ibu dari ambang kematian, Audrey menawarkan diri menjadi budak seumur hidup.
Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya langsung memiliki suami hanya dalam hitungan hari, status pelayan yang ia sandang berganti menjadi nyonya besar istri CEO. Bagaimana itu bisa terjadi?
Pict from Pinterest, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Masa kecil
"Kak Sean!" panggil Audrey seraya berlarian kecil memanggil nama kakaknya yang umurnya terpaut lima tahun dengan dirinya.
Audrey kala itu berumur tujuh tahun, dia adalah gadis kecil yang manis dan periang. Sedangkan Sean berumur dua belas tahun, dia adalah sosok kakak yang baik dan penyabar.
"Jangan berlarian!" Sean sudah was-was karena adiknya itu terus saja berlari mengejarnya yang sudah berada di depan gerbang.
"Mau kemana?" tanya Audrey kecil seraya mengerjapkan mata berkali-kali dengan wajah imutnya.
"Ke sebelah, rumah Ravin."
"Ikut!" Audrey langsung menggandeng tangan kakaknya itu.
"Ngapain? Kakak mau mengerjakan tugas sekolah." Sean memperlihatkan tangannya yang sudah memegang tas sekolah.
"Pokoknya ikut, aku mau lihat si Avin," rengek Audrey seraya memasang mata kucing yang lucu.
"Hais ... baiklah, tapi saat di sana jangan nakal!" Sean mencubit pelan hidung gadis kecil itu.
Audrey tertawa senang, ia menggandeng tangan kakaknya itu keluar gerbang rumah mereka menuju rumah Ravin yang kala itu bersebelahan dengan rumah mereka.
Gadis kecil polos itu memang senang pergi ke rumah Ravin, karena kesibukan Hana dan Aris membuat Audrey sering merasa kesepian. Hanya Sean dan Ravin yang selalu ada menemani gadis yang kala itu masih duduk dikelas satu sekolah dasar.
Melihat Ravin yang sudah duduk di teras rumahnya, Audrey langsung melepas genggamannya dari tangan Sean dan berlari ke arah pria kecil yang masih berumur sebelas tahun. Ravin setahun lebih muda dari Sean, akan tetapi karena kecerdasannya ia bisa melompat satu tahun dan sekelas dengan kakak Audrey.
"Avin!" teriak Audrey seraya berlari ke arah Ravin.
Ya, meski Audrey sudah berumur tujuh tahun tapi ia tidak bisa mengucapkan huruf 'R', sehingga hanya kata Avin yang keluar dari bibir mungil gadis itu.
Baru akan bangun dari kursi untuk menyambut gadis itu, Ravin melihat Audrey yang tergelincir kerikil kecil hingga jatuh. Gadis kecil itu menangis dengan keras karena lututnya berdarah. Sean maupun Ravin sama-sama terkejut, keduanya berlari menghampiri Audrey yang sudah tersungkur di tanah.
"Sakit!" Audrey duduk seraya menutup lututnya yang berdarah dengan tangan kecilnya.
Ravin tiba terlebih dahulu, ia lantas berjongkok dan melihat luka di lutut gadis itu. "Coba aku lihat."
Audrey menggelengkan kepala, ia masih menutup luka yang terdapat di lututnya.
"Mana yang sakit?" tanya Sean yang ikut berjongkok.
"Tidak apa? Ayo buka!" pinta Ravin halus.
Audrey akhirnya mengalihkan tangan yang menutup lututnya. Sean dan Ravin sama-sama memperhatikan luka yang tidak terlalu dalam.
"Lecet dikit, tidak apa-apa! Ayo ke dalam biar Bu Metha mengobati lukanya," ajak Ravin seraya bangkit dari berjongkok.
"Gendong!" pinta Audrey manja.
"Audrey!" Sean menatap adiknya yang bersikap manja jika bersama Ravin.
Audrey menundukkan kepala takut jika Sean marah. Namun Ravin bersikap lain, ia menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tidak apa, biar aku gendong. Lagian dia juga tidak berat," kata Ravin dengan seutas senyum.
Mendengar Ravin yang tidak menolak permintaannya tentu saja membuat senyum Audrey mengembang. Sean menghela napas melihat kelakuan manja adiknya itu.
Ravin kembali berjongkok memunggungi Audrey, ia sudah memposisikan tubuhnya agar Audrey bisa naik ke punggungnya, baru kemudian ia bangkit dan menggendong gadis kecil itu masuk ke dalam rumahnya.
Bu Metha yang kala itu memang sudah bekerja di rumah itu mengobati luka di lutut Audrey, Sean dan Ravin memperhatikan sampai selesai.
"Sudah Nona kecil," ucap Bu Metha yang kemudian mengemas kembali kotak p3k.
Ravin mendekat ke arah Audrey duduk, jemarinya menyentil dahi gadis kecil itu. "Lain kali hati-hati kelinci kecil."
"Sakit!" Audrey memegangi dahinya yang kena sentil.
Sean tertawa melihat Audrey yang memasang mata kucing, membuatnya maupun Ravin gemas dengan tingkah gadis itu.
"Lihat! Siapa yang datang?" Aashita Mahavir ibunda Ravin baru saja kembali, ia langsung mendekat pada Audrey yang duduk dengan imutnya.
"Halo tante!" sapa Audrey dan Sean bersamaan.
"Mau belajar, ya?" tanya Aashita pada Sean.
"Iya." Sean mengangguk dengan seutas senyum.
"Kalau begitu kalian belajar saja, Audrey biar sama Tante, ya!" pinta Aashita.
Wanita itu memang menyukai Audrey, karena gadis itu begitu menggemaskan, aktif dan mudah diajak bicara. Apalagi Aashita menginginkan seorang anak perempuan agar ia bisa memakaikan pakaian india seperti yang ia kenakan.
"Jadi boneka Balbie lagi?" tanya Audrey polos.
Gadis itu menanyakan hal itu karena setiap datang kesana, dia selalu didandani dengan pakaian ala india kemudian Aashita akan mengabadikan dirinya ke dalam sebuah tangkapan kamera.
"Iya, mau ya? Tante baru aja beli satu set pakaian lagi lho!" Aashita menatap penuh harap agar gadis itu tidak menolak seraya memperlihatkan paperbag yang ada di tangannya.
Audrey memukul jidatnya pelan karena harus sekali lagi jadi boneka Barbie. Ravin dan Sean terlihat menahan tawanya, karena mereka tahu jika Aashita sangat menyukai Audrey dan selalu mengajaknya main jika bertemu gadis itu.
"Ya udah! Tapi kakiku sakit Tante!" Audrey pasrah jika harus didandani sekali lagi seraya menunjukan lututnya yang baru saja di obati.
"Ya ampun! Kenapa itu?" Aashita mengamati lutut Audrey.
"Jatuh!"
Aashita hanya tersenyum, ia kemudian meraup tubuh mungil Audrey dan membawanya dalam gendongan. Audrey tersenyum, meski ia terkadang merasa jika kurang kasih sayang dari ibunya, tetapi bersama Aashita rasa sayang itu seakan terganti. Aashita sudah menyayangi Audrey seperti putrinya sendiri.
Satu jam berlalu, Audrey sudah memakai pakaian model Lehenga Choli dengan rambut yang di kepang kesamping. Gadis itu terlihat begitu cantik, tak lupa Ashita mengambil gambar Audrey lewat kamera, mungkin foto Audrey sudah ada satu album penuh yang diabadikan oleh wanita blesteran India itu.
"Tante suka banget sama aku," ucap Audrey polos seraya memakan Laddu camilan khas india.
"Soalnya kamu gemesin!" Aashita mencubit pelan pipi Audrey.
"Oh ... memang sih aku gemesin, kalau besal aku pasti cantik juga, 'kan?" Audrey mengerjapkan matanya genit.
Aashita tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Audrey, membuatnya semakin gemas dan sayang dengan gadis itu.
"Iya, kamu pasti cantik," kata Aashita seraya mengusap sisa Laddu di ujung bibir gadis itu menggunakan jempolnya. "Makanya besok kalau besar jadi anak Tante, ya!" pinta Aashita.
"Hmm ... boleh, tapi kalau udah besal jangan di dandanin lagi, ya! 'Kan pastinya aku udah bisa dandan sendili, kayak Tante," ucap gadis itu polos karena tidak tahu maksud dari permintaan Aashita.
Aashita hanya tersenyum, ia kemudian menyuapi gadis itu dengan roti Naan yang memang khusus dibuat oleh Bu Metha atas permintaannya.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
Note Author:
Lehenga Choli: Pakaian khas India, terdiri dari rok panjang dan blus yang ketat di bagian pinggang dan di padukan dengan kain panjang aneka warna.
Laddu: Ini adalah camilan khas India berbentuk bulat, rasanya manis karena terbuat dari tepung dan gula.
Roti Naan: Makanan ini terbuat dari tepung yang di campur dengan banyak mentega sehingga membuat rasanya gurih. Naan biasanya di olah dengan cara di panggang menggunakan panggangan tradisional.
Anak aku nomor 2 lelaki,lahiran juga Vacum, karena udah lemah, Dan sebelum lahiran gak ada selera utk makan apa pun..