Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pengakuan James
Rumah sakit itu terasa sunyi meskipun dipenuhi oleh suara mesin dan langkah kaki perawat yang tergesa-gesa. Lampu di ruang tunggu berwarna putih pucat, menyinari wajah-wajah yang penuh kecemasan. Helena duduk di kursi plastik, menggenggam tangan James yang masih basah oleh darah Arthur. Di sebelah mereka, Robert dan Maria duduk diam, dengan mata yang sesekali menatap pintu ruang operasi.
James terdiam sejak tadi. Matanya menatap lantai, tidak berkedip. Tangannya bergetar, dan Helena bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berkecamuk di dalam hati remaja itu.
"Ma," panggil James pelan, suaranya serak.
Helena menoleh. "Iya, Sayang? Ada apa?"
James mengangkat wajahnya. Matanya merah, dan ada air mata yang menggenang di sana. "Ma, aku mau tanya sesuatu. Dan aku mau jawaban yang jujur."
Helena mengangguk pelan. "Tanya saja, James. Mama akan jawab sejujur-jujurnya."
James menatap pintu ruang operasi, lalu kembali menatap Helena. "Pria yang ada di dalam ruangan itu... dia benar-benar ayahku, kan? Bukan ayah angkat, bukan ayah tiri. Ayah kandungku."
Helena menarik napas panjang. Dia sudah tidak bisa lagi berbohong. Arthur sudah berjuang untuk James, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya. Helena menatap mata James, dan air matanya mulai mengalir. "Iya, James. Dia adalah ayah kandungmu. Namanya Arthur Fernando. Dia adalah mantan suamiku. Dan dia adalah ayahmu."
James menunduk, tangannya mengepal. "Aku sudah tahu, Ma."
Helena terkejut. "Apa? Kamu tahu dari mana?"
James mengangkat wajahnya. Matanya tajam, tapi ada rasa sedih di dalamnya. "Ma, satu tahun yang lalu, saat aku masih di sekolah menengah pertama, ada seorang kakek tua yang datang ke sekolah. Dia bilang dia kenal dengan Mama. Dia bilang dia adalah kakekku."
Helena membelalak. Dia menoleh ke arah Robert yang duduk di sebelahnya. Robert juga terkejut, tapi dia menunduk pelan, seolah mengingat sesuatu.
"Kakek itu," lanjut James, "dia tidak bilang siapa nama aslinya. Tapi dia memberiku sebuah amplop berisi foto-foto lama. Foto Mama muda, foto seorang pria yang tidak pernah aku kenal, dan foto pernikahan. Dia bilang, jika aku sudah siap, aku boleh mencari tahu sendiri."
Robert akhirnya membuka suara, suaranya berat. "James... aku yang datang ke sekolahmu. Aku sengaja tidak memberitahu Helena, karena aku tidak ingin dia panik. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa kamu memiliki keluarga besar di Jakarta. Dan suatu hari nanti, jika kamu ingin, kamu bisa menemui mereka."
James menatap Robert. "Kakek... kenapa kau tidak bilang langsung bahwa kau adalah kakekku? Kenapa kau hanya memberikan foto-foto itu?"
Robert menghela napas. "Karena aku takut, James. Aku takut jika aku langsung memberitahumu, Helena akan marah. Dia sudah berjuang keras melindungimu selama lima belas tahun. Dan aku tidak ingin merusak semua yang sudah dia bangun. Jadi aku memberimu pilihan. Jika kamu ingin tahu, kamu bisa mencarinya. Dan kamu melakukannya."
James menatap Helena. "Ma, selama satu tahun ini, aku diam-diam mencari tahu tentang ayahku. Aku mencari nama Arthur Fernando di internet. Aku membaca berita-berita tentang dia, tentang perusahaannya, tentang keluarganya. Dan aku mulai menyadari bahwa Mama mungkin menyembunyikan sesuatu dariku."
Helena menangis, memeluk James erat. "Maafkan Mama, James. Mama tidak ingin kamu terluka. Mama takut jika kamu tahu, seseorang akan menyakitimu."
James memeluk Helena kembali. "Ma, aku tidak marah. Aku hanya... aku ingin tahu siapa ayahku. Dan sekarang, aku melihat dia berjuang untukku. Dia melindungiku dari peluru. Dia nyaris mati untukku."
Helena melepaskan pelukannya, menatap James. "Kamu tahu, James? Arthur tidak pernah tahu tentang kamu. Mama menyembunyikan kamu darinya. Dia baru tahu beberapa hari yang lalu. Dan dia langsung mencari kamu, meskipun dia harus melawan keluarganya sendiri."
James menatap pintu ruang operasi. "Dia berjuang untukku, Ma. Dan aku bahkan belum pernah memanggilnya 'ayah' dengan benar."
James berdiri, berjalan mendekati pintu ruang operasi. Dia menempelkan telapak tangannya di pintu itu, seolah dia bisa merasakan kehadiran Arthur di baliknya.
"Ayah... tolong bertahan," bisik James, suaranya lirih. "Aku belum bisa memanggilmu 'ayah' dengan suara keras. Aku belum bisa bercerita tentang mimpiku. Aku belum bisa mengenalmu. Jangan pergi sekarang."
Air mata James jatuh di lantai. Di belakangnya, Helena, Robert, dan Maria menatap James dengan tatapan penuh haru. Seorang remaja yang baru bertemu ayahnya, dan kini harus menunggu apakah ayahnya akan selamat.
Helena berjalan mendekati James, meletakkan tangannya di bahu James. "Dia akan selamat, James. Aku percaya. Dia belum sempat melihat kamu tumbuh besar. Dia belum sempat bangga pada prestasimu. Dia akan bertahan."
James menatap Helena. "Ma, bagaimana jika dia selamat? Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa kita akan kembali ke Surabaya? Atau kita akan tetap di sini?"
Helena terdiam. Pertanyaan James mengguncang hatinya. Selama lima belas tahun, dia hidup dengan keyakinan bahwa dia dan Arthur tidak akan pernah bersatu lagi. Tapi sekarang, Arthur sudah membuktikan bahwa dia rela mati demi James.
"Jika dia selamat," jawab Helena pelan, "kita akan membicarakan semua ini bersama-sama. Mama tidak akan lagi menyembunyikan sesuatu darimu. Dan kamu berhak memilih. Apakah kamu ingin tinggal di Surabaya, atau ingin pindah ke Jakarta. Apapun pilihanmu, Mama akan mendukung."
James mengangguk. "Aku ingin mengenalnya, Ma. Aku ingin tahu seperti apa ayahku. Aku ingin dia melihatku tumbuh."
Helena tersenyum, meskipun air matanya terus mengalir. "Kamu akan mengenalnya, James. Aku janji."
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dengan masker dan baju operasi keluar. Helena, James, Robert, dan Maria langsung berdiri.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Helena dengan napas yang tertahan.
Dokter melepas maskernya, wajahnya terlihat lelah tapi ada senyuman tipis di bibirnya. "Peluru berhasil dikeluarkan. Tidak mengenai organ vital. Pasien kehilangan banyak darah, tapi kami berhasil melakukan transfusi. Dia kritis, tapi stabil. Dia akan bertahan."
Helena menghela napas, dan air matanya langsung tumpah. Dia memeluk James erat.
"Papa selamat," bisik Helena di telinga James.
James memeluk Helena, dan untuk pertama kalinya hari ini, dia tersenyum. "Aku mau menemuinya, Ma."
Dokter mengangguk. "Satu jam lagi, dia akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalian boleh melihatnya sebentar, tapi jangan terlalu lama. Dia butuh istirahat."
James menatap Helena. "Ma, aku mau menunggu. Aku mau melihat Papa bangun."
Helena mengangguk, menggandeng tangan James. "Kita akan menunggu bersama, Sayang. Mama juga tidak akan pergi kemana-mana."
Malam itu, Helena, James, Robert, dan Maria duduk bersama di ruang tunggu, menunggu Arthur sadar dari operasi. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Helena merasa bahwa masa lalu yang gelap mulai berlalu. Ada harapan baru yang bersinar di depan mata.