Nidia seorang gadis yg cerdas dan mudah bergaul yang hidup disebuah kota kecil. dia juga ramah dan perhatian terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. meski kecantikannya dianggap rata-rata, tp dia banyak disukai karena kepribadiannya.
suatu ketika, dia memilih meninggalkan kampung halaman karena pria yang bertunangan dengannya selama setahun, menghamili temannya sendiri.
orang tua Sopian tunangannya itu, memaksa Sopian untuk tetap menikahi Nidia dan hanya memberikan biaya saja kepada anak yg dikandung Sopian dr wanita lain. tapi Nidia menolak. dia tidak mau menikah lagi dengan pria yg nyata-nyata tidak setia bahkan sebelum menikah.
kisah hidupnya dimulai saat dikota besar, meski dia hanya berharap mampu menjalani hidup yang sederhana tp segalanya terasa menjadi rumit.
mulai dari pertemuannya dengan Bu Saraswati dan Putranya Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitha Rhaycha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa indra perasanya bermasalah?
"ini terlalu manis.."ucap haikal sambil menatap Nidia lekat.
"benarkah..?" Nidia bertanya heran. bagaimana bik sumi bisa salah dengan takaran nya? bukankah dia yang lebih tau takaran kopi pak haikal? "tapi tadi.. bik sumi"
"kamu tidak percaya?"potong Haikal dengan nada tajam.. "coba kamu minum sedikit dan nilai apakah ini terlalu manis atau tidak" Nidia merasa tersudut saat Haikal sudah menyodorkan gelas kopi kearahnya.
"em.. pak, biarkan saya meminta bik sumi membuatkan yang baru untuk bapak" ujar Nidia berusaha bernegosiasi. bagaimana dia berani meminumnya? disana sudah ada bekas bibir pak haikal. dia mengambil gelas yang disodorkan haikal dan memegang erat dengan kedua tangannya.
"apa perlu aku membantumu meminumnya?"tanya haikal lagi penuh penekanan membuat Nidia merinding. semarah inikah pak haikal padanya? haikal berjalan selangkah mendekati Nidia membuat gadis itu ketakutan."dan satu lagi.."tambah haikal "bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menambah kata 'pak' didepan namaku jika kita hanya berdua?, mengapa kamu melanggarnya dan selalu memanggil namaku dengan sebutan 'pak' di depannya? apa aku setua itu bagimu?"
"bu.. bukan... ma.. maksud saya tidak seperti itu"jawab Nidia terbata
"kalau begitu.. panggil haikal mulai sekarang"ucapnya sedikit kesal. Nidia hanya menunduk "minum kopinya" dengan ragu-ragu Nidia mengangkat gelas kopi itu ke mulutnya, dia menyesapnya sedikit. ekspresinya berubah heran. ini sama sekali tidak manis, apa indra perasa pak haikal bermasalah? pikirnya. "bagaimana, apa aku berbohong?"tanya haikal tajam
"pak.. eh anu... ini, sepertinya tidak terlalu manis"Nidia berusaha menjelaskan
"benarkah? jadi kamu berfikir kalau indra perasa ku bermasalah?"
"bukan.. bukan begitu. maksud saya.. ini memang benar-benar tidak terlalu manis"apa dia bisa membaca pikiranku? gumam nidia panik.
haikal menatapnya tajam dan tanpa meminta persetujuan Nidia, dia kembali merebut gelas kopi ditangan Nidia. terkejut membuat Nidia tak sempat menahan gelas ditangannya. dia hanya mampu membelalakkan matanya saat melihat dengan santainya haikal kembali meminum kopi itu.
Nidia ingin mengatakan banyak hal, tapi semua nya tertahan di tenggorokan nya. tanpa mengindahkan raut terkejut Nidia, haikal sudah berjalan dan duduk dikursi santainya yang tau jauh dari tempat dia berdiri tadi. duduk manis disana, menyeruput kopi dengan nikmatnya seolah-olah tak ada orang lain disana dan seolah-olah tak pernah ada insiden kecil antara dia dan Nidia. semuanya terlihat sangat normal.
dengan syok Nidia berbalik dan meninggalkan haikal sendirian. senyum pria itu muncul ketika Nidia sudah menghilang dari pandangannya ternyata begini senangnya mengerjai gadis itu batin haikal. ingatannya kembali pada peristiwa semalam.
usai perdebatan kecil dengan ibunya, dia memilih menghindar agar tidak terjadi keributan yang berkelanjutan. dia tau betul bagaimana sifat ibunya jika sudah menyangkut bela. wanita yang menjadi masa lalu kelam antara dia dan kakaknya. jika dia tak menghindar, maka perdebatan tidak akan pernah berakhir , karena itu dia segera menghindar. ditambah lagi, ada Nidia diantara dia dan ibunya saat ini.
dia tau bela ada di kota B sekarang, karena mario memberi tahu nya. awalnya dia tak pernah memiliki keinginan untuk bertemu dengan bela lagi. bahkan tujuh tahun ini dia memilih untuk menghindari gadis itu. tapi kali ini dia berubah pikiran dan ingin bertemu dengannya. dia harus memastikan sesuatu dengan bela sebelum dia memutuskan untuk menetapkan masa depannya yang baru bersama dengan wanita lain.
sejam diruang kerjanya, haikal memilih untuk melihat apa yang terjadi dalam rumahnya. dia harus tau apa yang dilakukan Nidia dan ibunya saat dia meninggalkan meja makan. dan yang nampak dalam pandangannya hanyalah sosok gadis yang terlihat dewasa, sedang menenangkan ibunya yang masih emosi.
dia juga mendapati gadis itu melamun didapur setelah satu jam berlalu seolah sedang memikirkan sesuatu. dia berbicara sendiri, sayangnya haikal tak tau apa yang dia ucapkan. dia masih menunggu dan melihat Nidia sudah mengambil gelas dan mengeluarkan toples kopi.
"apa dia diminta mama lagi untuk membuatkan kopi untukku?"batin haikal. ada kehangatan yang tiba-tiba memenuhi dihatinya. dan dia tersenyum tanpa dia sadari. tapi tak berselang lama senyum itu menghilang tatkala melihat Nidia bukan berjalan kearah kamarnya, tapi malah membawa gelas kopi itu menuju teras belakang.
Haikal tiba-tiba berdiri dari kursinya, dia merasa panik dan hampa. bukankah itu untukku? mengapa dia tidak mau mengantarkannya padaku dan malah memilih untuk meminumnya sendiri? Haikal mondar-mandir diruang kerjanya dengan gelisah. tak tahan lagi, dia bergegas keluar dan turun menuju halaman belakang.
Nidia duduk dengan membelakanginya, dia terlihat asik dengan ponselnya mengobrol dengan seseorang diseberang apakah itu seorang pria? Haikal mengira-ngira pasti pria, lihatlah dia bahkan terlihat sangat bahagia. hati Haikal sesak oleh amarah.
Karena penasaran, tiba-tiba dia berubah menjadi penguntit yang berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.. hasilnya.. malah membuat nya tak bisa tidur semalaman. bagaimana bisa syarat untuk siap menikah dengannya harus sekonyol itu? apa dengan tubuh semungil itu akan sanggup memberikan anak yang banyak untuknya?
lihatlah Haikal.. Sepertinya kamu harus membangun sebuah kastil yang megah agar anak-anakmu kelak dapat hidup dengan nyaman disana... rumah ini kekecilan untuk kalian...gumam haikal sambil tersenyum. dia melihat sekeliling dan membayangkan beberapa anak-anak yang lucu dengan berbagai model rambut berlari kesana kemari sambil bernyanyi.
sementara tak jauh dari haikal, ibu Saraswati mengawasi putranya dengan perasaan jengkel yang tak terkira"lihatlah... saking senangnya dia untuk bertemu dengan Bela, dia bahkan tersenyum sendirian sekarang...."desah Bu Saraswati merasa frustasi.
Stlh baca komen²ny, baru tau klo ini adat Sulawesi Utara.
Thor, sedikit saran..utk nama kota/lokasi tdk perlu lah ditulis inisial kota A, daerah B dst...lebih baik ditulis lgsg dg jelas...agar kita sbg pembaca lebih paham..😄😄😄😄
masya Allaah....
orang baik maka akan d mudahkan oleh Allaah......
makasi umi.......
jd ingat cerita2 yg dikau buat dulu saat masih SMK.... menjadi penggemar setia yg selalu menunggu kelanjutan kisah dari novel yg d tulis d catatan buku akuntansi mu....
sayang dlu tidak seperti sekarang ya.../Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/