NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:921.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membantumu rileks

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar berukiran bunga-bunga khas Kerajaan Utara yang nampak indah dan berkilauan karena dipoles hingga mengilap. Di sisi kiri dan kanan pintu, berdiri dua orang pelayan berpakaian rapi dengan seragam berwarna krem bersulam benang perak. Melihat kedatangan rombongan itu, kedua pelayan itu segera membuka pintu lebar-lebar, memperlihatkan keindahan ruangan di dalamnya.

Ruangan itu luas, hangat, dan sangat mewah. Lantainya terbuat dari batu marmer berwarna putih bersih. Di sudut ruangan, terdapat bak pemandian besar yang terbuat dari batu pualam berwarna biru muda, di mana uap air hangat sudah mulai mengepul naik. Di sisi lain, terdapat tempat tidur besar dengan tirai beludru tebal berwarna ungu, serta perabotan kayu yang kokoh dan berukir indah.

Elish berbalik menghadap mereka, memasang kembali senyum manisnya yang paling sempurna, senyum yang terlihat ramah namun matanya menyimpan kilatan kebencian dan rasa iri yang membara. Ia menatap Azura yang masih berdiri di samping Xavier, dengan tangan sang pangeran masih setia melingkar di pinggang wanita itu.

"Silakan masuk, Pangeran, Putri. Semuanya sudah disiapkan sesuai permintaan Pangeran. Airnya sudah hangat, dan minyak wangi terbaik juga sudah tersedia," ucap Elish dengan nada lembut, namun ada nada sarkasme halus yang terselip di sana.

Azura menatap wanita itu dengan tatapan datar namun berwibawa. Ia tahu betul siapa Elish, ia tahu betapa sombong dan munafiknya wanita ini. Dulu, saat mereka masih kecil, Elish selalu berusaha menyaingi dirinya dalam segala hal, namun selalu kalah karena posisi dan kedudukannya. Dan sekarang, meski sudah dewasa, rasa iri hati itu masih sama besarnya. Azura tahu dia salah satu orang yang menyebarkan ke rakyat tentang dirinya yang sombong dan suka seenaknya.

Dengan sikap anggun yang melekat sejak lahir sebagai seorang Putri Agung, Azura mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan status yang jauh lebih tinggi dari putri seorang perdana menteri di hadapannya. Ia berbicara dengan nada tenang namun tegas, jelas mengingatkan posisi masing-masing.

"Terima kasih, Elish. Persiapanmu cukup baik. Sampaikan salamku pada ayahmu. Katakan aku rindu nasihat-nasihat bijaknya seperti dulu," ucap Azura pelan namun jelas.

Jawaban itu terdengar sopan, namun bagi Elish, kalimat itu seperti tusukan tajam. Mendengar nama ayahnya disebut, dan mendengar bagaimana Azura masih berbicara seolah dialah tuan putri sejati di tanah ini, tangan Elish saling meremas kuat di balik punggungnya, menahan amarah yang meluap-luap. Ia ingin sekali berteriak, ingin sekali memaki wanita di depannya itu, namun ia tahu ia tidak boleh melakukannya di depan Xavier. Ia harus tetap terlihat manis, lembut, dan rendah hati di mata pria tampan itu.

"Tentu saja, Putri. Akan aku sampaikan," jawab Elish sambil membungkuk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan kekesalannya. Lalu ia menoleh ke arah Xavier, tatapannya berubah menjadi tatapan memuja dan penuh harap.

"Jika ada apa-apa, pangeran ... atau jika pangeran merasa bosan atau butuh teman bicara, saya ada di kamar sebelah. Jangan ragu memanggil saya kapan saja."

Kalimat itu jelas sebuah undangan terselubung. Elish menatap Xavier dengan tatapan menggoda, berharap pria itu akan menanggapi atau setidaknya menatapnya lebih lama. Namun Xavier hanya mengangguk sekilas dengan wajah datar, tanpa ekspresi sedikit pun, seolah wanita cantik di depannya itu hanyalah tiang kayu biasa.

"Terima kasih. Kami butuh istirahat. Jangan ada yang mengganggu," jawab Xavier singkat, lalu langsung menuntun Azura masuk ke dalam ruangan itu dan membiarkan pintu ditutup oleh para pelayan, meninggalkan Elish yang berdiri kaku di lorong dengan wajah merah padam menahan rasa malu dan marah.

Begitu pintu tertutup rapat dan suara langkah kaki Elish menjauh terdengar hilang, Xavier baru melepaskan tangannya dari pinggang Azura. Ia berjalan santai menuju kursi dekat jendela, duduk bersila sambil menatap wanita itu dengan tatapan menilai.

"Kau cukup pandai berakting juga, ternyata," ucap Xavier sinis.

"Cara kau pada wanita tadi, cara kau bersikap angkuh dan menekan posisimu... sangat natural. Seorang putri sejati, atau seorang penipu ulung?"

Azura menghela napas panjang, lalu berjalan tertatih menuju bangku kecil di dekat bak pemandian. Ia merasa seolah seluruh tulangnya akan rontok kapan saja. Ia duduk perlahan, wajahnya menampakkan kelelahan, tanpa lagi menyembunyikannya di depan Xavier.

"Aku tidak sedang berakting saat bersikap seperti itu padanya," jawab Azura sambil mengusap pahanya yang masih terasa nyeri luar biasa.

"Elish membenciku sejak kecil hanya karena ayahnya lebih menghormatiku. Dia selalu menganggap aku mengambil segalanya darinya. Padahal, apa yang aku miliki? Gelar? Hanya itu. Sementara dia punya ayah yang menyayanginya, kebebasan bergerak, dan hidup yang tenang. Aku... aku hanya boneka kerajaan yang dipajang untuk kepentingan politik."

Azura tidak sengaja mengeluarkan segala isi hatinya itu dan merutuki dirinya sendiri. Xavier yang masih berdiri di belakang sana terdiam cukup lama.

Jangan percaya kata-katanya lagi. Jangan mengasihaninya Xavier. Ingat, dia cuma seorang penipu ul...

Kata-kata dalam hatinya itu tertahan saat melihat Azura yang tampaknya benar-benar kelelahan. Berkuda sendiri hampir seharian memang melelahkan buat seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah berkuda. Dan Xavier sadar benar kalau kelelahan yang itu bukan hanya akting. Dia benci mengakuinya, tapi ada sedikit rasa bersalah di dalam hatinya karena membiarkan wanita itu berkuda sepanjang hari.

Lelaki itu mendekat. Ketika tangannya terulur menyentuh bahu Azura, wanita itu kaget, menatapnya dengan wajah waspada.

"Kau mau apa?"

Xavier mendengus.

"Membantumu rileks."

Mata Azura menyipit curiga. Jelas yang ada di pikirannya sekarang adalah Xavier ingin memaksanya berhubungan intim lagi.

"Pangeran, aku sedang tidak bertenaga kalau kau ingin..." kata-kata Azura terputus, wajahnya memerah padam bercampur rasa takut dan malu. Ia menarik bahunya menjauh, menatap pria itu dengan mata yang melebar penuh kewaspadaan, bersiap menolak.

Xavier mendengus keras, lalu menepuk kasar bahu wanita itu hingga Azura meringis pelan. Tatapannya kembali dingin dan penuh cibiran.

"Kau pikir aku binatang buas yang tidak punya perasaan dan hanya memikirkan hal kotor seperti itu saja?" seru Xavier tajam, namun suaranya tetap rendah agar tidak terdengar oleh orang di luar. Ia menggelengkan kepala sambil melipat tangan di dada, menatap Azura dengan pandangan meremehkan.

"Jangan terlalu berlebihan menilai dirimu sendiri. Meskipun kau istriku, bukan berarti aku selalu menginginkanmu, apalagi saat kau terlihat sekarat begitu. Aku hanya tidak ingin kau jatuh sakit dan menjadi beban bagiku.

"Ayo. Tubuhmu ini perlu berendam di air hangat."

"Kalau begitu aku bisa berendam sendi akgkh!" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah terangkat ke udara.

1
Lis mania
Terima kasih banyak Thor, bagus banget ceritanya 👍🙏
Hatijah Cantik
cocoklah kan katanya Xavier jg TDK bisa punya keturunan itu kata sang Ratu ibunya xavier
Hatijah Cantik
dalam sinopsisnya Xavier ,pangeran kerajaan selatan tapi dalam cerita sebelumnya dia pangeran kerajaan barat , mana yg benar nih.
Elta Sugiarti Solibut
ceritanya luar biasa menarik
Rizky Manik
👍🏻👍🏻👍🏻
Yeni Ismayani
bagus
Dewi Ansyari
Endingnya bagus banget soalnya semuanya bahagia, semoga sukses selalu thorr🥰🥰
Dewi Ansyari
Itulah hukumanmu Elish,makanya jangan fitnah Xavier,apalagi selama ini Dy
udah menderita kehilangan Azura, makanya jangan sombong dan seenaknya saja
Dewi Ansyari
Akhirnya pulang istanah juga Azura dan Violet
Dewi Ansyari
Akhirnya raksasanya mati juga,bagus bantuannya cepat datang dari istanah
Dewi Ansyari
Ternyata benar Azura masih hidup,dan Sudah punya anak cewek dengan xavier
Dewi Ansyari
Jangan2 sebelum jatuh di jurang Azura sedang hamil,dan itu anaknya dengan Xavier
Dewi Ansyari
Kasihan Orion nyesekk banget kehilangan ibunya yg sudah berjuang selama ini agar Dy selamat 😭😭😭😭
Dewi Ansyari
RAsakan kamu Xavier peneysalanmu sudah percuma
Dewi Ansyari
Astaga Azura mati thorr nyesek banget,kasihan Arion😭😭😭, dan Xavier percuma saja kamu menyesal semuanya sudah jadi bubur😡😡😡
Dewi Ansyari
Semoga saja Azura bisa menang
Dewi Ansyari
Kasihan anak Azura😭😭di siksa
Dewi Ansyari
Anak Azura siapa Ayahnya apakah Xavier atau malah orang lain
Dewi Ansyari
Kasihan Azura 😭😭😭 Dy seakan hidup sendiri karena sekarang Dy tidak punya Sandaran😭😭😭
mariama ama
akhirnya happy ending Terima kasih banyak kaka author sayangkuhh lope lope sekebon jeruk 😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!