"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
"S-siap, Kak! Laksanakan!" sahut Julian dengan sisa kesadaran yang hampir nol.
Dengan langkah gontai, ia menyeret gerobak salju berisi satu ekor rubah yang pingsan dibalut syal itu. Begitu siluet rumah mereka terlihat di bawah cahaya rembulan, Astra rasanya ingin sekali sujud syukur.
Krieeek...
Vito langsung melangkah menuju kamarnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Sementara Yisla dengan sigap mengambil alih gerobak.
"Julian, tolong bawakan rubahnya ke dekat tungku ya. Aku mau ambil kotak obat dulu!" bisik Yisla.
Julian hanya mengangguk pasrah. Ia mengangkat tubuh mungil rubah itu dengan hati-hati, lalu membawanya ke ruangan tengah. Karena sudah lelah luar biasa, ia langsung menjatuhkan tubuh kurusnya ke atas karpet kulit hewan, tengkurap tepat di sebelah rubah salju tersebut.
Tidak lama kemudian, Yisla datang membawa baskom air hangat dan obat-obatan herbal. Gadis itu duduk bersimpuh, mulai membersihkan luka di kaki si rubah dengan telaten.
Julian yang masih tiduran memperhatikan gerakan tangan Yisla dengan mata yang merem-melek. Karena gemas dan otaknya sudah tidak sinkron akibat mengantuk, tangan Julian terjulur meraih kaki depan rubah salju itu.
Pencet... pencet...
"Wah, gila... empuk banget," racau Astra dengan suara serak khas orang mengantuk. "Empuknya mirip squishy kw yang dijual di depan SD-ku dulu, Yisla... Gemes banget, pengen aku gigit rasanya."
Yisla langsung menoleh, lalu tawanya pecah secara tertahan. "Julian! Kamu ini ih, ada-ada saja!"
Yisla menepis pelan tangan Julian yang masih asyik memencet-mencet paw milik si rubah.
"Hewannya lagi sakit begini malah dijadikan mainan! Nanti kalau dia bangun terus kamu digigit, aku gak mau ngobatin ya!"
"Nggak apa-apa, digigit rubah imut begini mah..." gumam Julian ngelantur.
Wush....
Suhu ruangan mendadak drop lagi. Duo Hemisphere lagi-lagi muncul secara tiba-tiba di dekat tungku.
"Author," panggil Animus, sambil bersedekap dada menatap Astra. "Apakah kau mau menambahkan elemen fantasi atau cukup metafiction seperti ini saja?"
"Iya, Sayangku~" timpal Anima dengan mata berbinar. "Kalau mau elemen fantasi magic, kami bisa kok ubah rubah salju ini menjadi seorang putri penyihir yang dikutuk. Dia punya kekuatan sihir es yang hebat kalau kau mau."
Astra yang tadinya merem langsung melek sepenuhnya. "Hah? Jadi putri penyihir?"
"Tapi perlu kau tahu resikonya," sela Animus cepat. "Setiap penambahan genre, ada konsekuensinya. Kalau kau menambahkan genre fantasi magic, setelah ini bakal ada penyihir jahat, siluman, dan perang sihir yang bakal mencari rubah ini. Jadi, pikirkan matang-matang."
Astra langsung menelan ludah dengan horor. Otak author-nya langsung membayangkan skenario terburuk: istana es runtuh, sihir ledakan di mana-mana, dan fisik Julian yang kerempeng ini pasti bakal mati paling pertama di babak penyisihan.
"Nggak! Gak usah! Tolak fantasi!" desis Astra panik setengah mati. "Aku nggak mau mati cepet gara-gara kena kombo sihir!"
Animus mendengus, lalu menatap rubah di karpet dengan pandangan datar.
"Pilihan yang bagus untuk keselamatanmu dan orang-orang terdekatmu. Tapi... kalau kau menolak elemen fantasi itu, rubah salju biasa ini bakal mati besok pagi karena infeksi lukanya terlalu parah untuk hanya diobati secara tradisional."
"Eh?! Mati?!" Astra melotot.
"Iya, Sayangku~ Kasihan kan Yisla nanti nangis seharian? Tapi mending nangis sih dari pada harus melihatnya mati kena sihir kan?" goda Anima, sebelum akhirnya kedua sosok itu lenyap perlahan.
Astra seketika membatu di tempatnya, ia kini dilanda dilema yang luar biasa brutal. Kerutan di dahinya makin dalam.
Sialan! Kalau aku terima fantasinya, aku yang terancam mati. Tapi kalau aku tolak, rubah imut ini yang bakalan mati dan Yisla bakal sedih parah! Kenapa plot cerita ini malah bikin pusing Authornya sendiri begini sih?! batin Astra menjerit frustrasi.
...***...
"Julian? Hei, Julian!"
Sebuah tangan mungil mengibas-ngibas di depan wajah Julian yang sedang bengong, seketika membuyarkan kepanikan masif di otaknya. Julian tersentak, mendapati wajah Yisla kini sudah berada sangat dekat dengan dahi berkerut cemas.
"Kamu... kenapa, Jul?" tanya Yisla lembut. "Dari tadi melamun terus sambil pasang wajah ketakutan begitu. Kepalamu beneran masih sakit?"
Julian menggeleng pelan. Suasana hatinya seketika berubah menjadi sangat bad mood dan gusar. Rasa bersalah mulai menusuknya saat melihat binar ketulusan di mata Yisla yang begitu menyayangi rubah salju ini.
Sialan. Kenapa aku harus dikasih pilihan buah simalakama begini sih? batin Astra merana.
Julian mengembuskan napas berat. Ia mengulurkan tangan, lalu mengelus kepala rubah salju yang terbaring di atas karpet kulit hewan itu. Bulunya halus, namun suhu tubuh hewan kecil itu terasa agak terlalu hangat—sepertinya demam akibat infeksi yang di katakan Animus mulai menyerang.
"Enggak apa-apa, Yisla. Aku cuma... tiba-tiba capek banget," ujar Astra dengan nada suara meredup, seolah kehilangan seluruh energi jahilnya.
Ia menarik tangannya, lalu menatap Yisla dengan senyum lelah yang dipaksakan.
"Aku izin tidur duluan, ya? Badanku beneran udah nggak bisa diajak kompromi lagi malam ini."
Yisla tertegun melihat perubahan drastis dari sikap Julian, namun ia segera mengangguk maklum.
"Ah, iya, tentu saja. Maaf ya, harusnya dari tadi aku nggak usah mengajakmu mengobrol terus. Kamu istirahatlah."
Dia memaksakan diri untuk bangkit berdiri, mengabaikan sendi-sendinya yang berprotes ria. Sebelum melangkah pergi, matanya sempat melirik ke arah si rubah salju itu untuk terakhir kali.
Aku hanya berharap besok Yisla tidak menangis kalau sampai rubah salju itu mati, batin Astra pasrah.
Ia langsung merebahkan diri di sudut ruangan, bersiap mengarungi malam yang panjang penuh dengan kalkulasi plot yang memusingkan kepalanya.