Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA Bab 1 - Kandidat Nomor 7
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA
Bab 1 - Kandidat Nomor 7
Private Room, Restoran Jepang Omakase di Hotel Mulia.
Sinta Aniswari, 21 tahun saat itu, merasa seperti sedang interview kerja untuk posisi yang tidak pernah ia lamar, bukan dijodohkan.
Bayangannya, perjodohan itu akan terjadi di ruang tamu yang hangat, dengan teh dan kue kering. Kenyataannya, dia duduk di private room sebuah restoran Jepang super mahal yang bahkan untuk baca menunya saja harus pakai Google Translate. Ruangan itu terlalu sunyi. Hanya ada suara denting es di gelas dan suara AC yang terlalu dingin. Di depannya ada meja kayu hinoki yang panjang dan mengkilap. Piring-piring kosong tertata rapi, sashimi premium yang belum ada yang menyentuh karena semua orang terlalu tegang. Bahkan pelayan yang berdiri di pojokan pun menahan napas.
Di depannya ada 3 orang. Papanya yang duduk di sebelahnya, yang keringat dingin padahal AC 16 derajat, yang dari tadi meremas-remas sapu tangan sampai basah. Lalu ada Bu Ratna, Mamanya Dean, perempuan elegan usia 50-an dengan sanggul rapi dan tatapan yang bisa menilai harga tas seseorang hanya dalam 2 detik. Dan di ujung meja, seorang pria yang sejak tadi menatap laptop tipis berwarna silver yang terbuka di samping piring sashiminya. Dia tidak menatap Sinta sama sekali.
Dean Galang Wijaya. 28 tahun saat itu. Kemeja putihnya licin tanpa kerutan sedikit pun, seolah baru keluar dari laundry bintang lima. Dasinya hitam, sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.00 tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Makan siang yang dijadwalkan seperti rapat direksi.
"Sinta Aniswari, 21 tahun, Fakultas Kedokteran semester akhir, IPK 3.9, hobi... " Bu Ratna membuka map berisi CV Sinta di atas meja makan, persis seperti sedang membuka menu untuk memesan makanan. Kacamata bacanya melorot sedikit. "...membaca dan merangkum jurnal medis, memasak, dan merawat tanaman? Wah, hobi yang sangat anggun."
Sinta yang asli — yang ceria, yang cerewetnya minta ampun — hampir saja tersedak air putihnya.
HOBI APA? MEMBACA JURNAL MEDIS? MERAWAT TANAMAN? TANTE, TANAMAN KAKTUS SAYA AJA MATI KARENA LUPA SAYA SIRAM! SAYA KIRA KAKTUS BISA HIDUP DARI KENANGAN! SIAPA YANG NULIS CV SAYA SE-AMBISIUS DAN SE-ANGELIC INI?
Sinta melirik Papanya di sebelah. Papanya langsung buang muka, pura-pura batuk keras dan fokus melihat lukisan ombak di dinding restoran dengan sangat serius, seolah lukisan itu adalah lukisan paling menarik di dunia.
OH JADI PAPA! JADI PAPA YANG NULIS! SAYA INGAT! SEMALAM PAPA BILANG 'BIAR PAPA SAJA YANG ISI PROPOSALNYA, KAMU GAK USAH PUSING'. TERNYATA INI ISINYA!
Bu Ratna melanjutkan membaca dengan anggukan puas, matanya berbinar. Dia memang mencari menantu seperti ini.
"Deskripsi dari ayahanda: Sinta adalah anak yang penurut, pemalu, tidak banyak bicara, sangat berprestasi, jago masak, pandai mengurus rumah, dan sangat menjaga wibawa keluarga. Anaknya kalem dan tidak neko-neko."
PENURUT? PEMALU? TIDAK BANYAK BICARA? JAGO MASAK? PANDAI NGURUS RUMAH? PAPA! APA PAPA SALAH NGISI FORMULIR ANAK ORANG LAIN? SAYA ITU KALAU DISURUH DIEM 5 MENIT AJA GATAL SELURUH BADAN, PAPA! JAGO MASAK APAAN, MASAK AIR AJA PERNAH SAMPAI GOSONG DAN PANCI HILANG! KALEM DARI MANA? SAYA KALAU KETAWA SATU KOS DENGER! INI BUALAN APA KARANGAN BEBAS BUAT LOMBA MENGARANG TINGKAT NASIONAL?
Sinta yang asli — yang kalau di kos ngomongnya bisa 3 jam nonstop tanpa jeda, yang kalau curhat bisa bikin temennya ketiduran tapi dia masih lanjut ngomong — rasanya ingin menjerit dan membongkar semua kebohongan itu. Dia ingin nyaut dengan gaya ceria khasnya, "Iya Tante, itu semua bohong Tante! Aslinya saya cerewet banget! Hobi saya ngomong! Bakat saya ngomong! Kalau disuruh diem saya bisa sesak napas, Tante!"
Tapi sebelum satu kata pun keluar, Papanya menginjak kakinya pelan di bawah meja. Keras. Sangat keras. Kode keras yang artinya: DIAM NAK, JANGAN BONGKAR! PAPA SUDAH TERLANJUR! INI DEMI RUMAH SAKIT KELUARGA KITA!
Sinta langsung menelan semua 1000 kata protesnya bulat-bulat. Dia hanya tersenyum. Senyum paling anggun, paling kalem, paling putri keraton yang pernah dia buat seumur hidupnya. Senyum yang dia latih 2 jam di depan kaca tadi pagi sampai rahangnya pegal.
"Baik, Tante."
Baik dari Hongkong! Papa tega banget jual anaknya dengan deskripsi palsu! Nanti kalau ketahuan gimana? Kalau Dean tahu aslinya saya berisik gimana?
Bu Ratna mengangguk, sangat puas dengan keanggunan palsu itu. "Hmm. Bagus. Kamu tidak pakai make-up tebal seperti kandidat kemarin. Dan deskripsi ayahmu sangat bagus. Dean memang butuh istri yang penurut dan tidak banyak tuntutan."
Baru saat itu Dean Galang Wijaya mengangkat kepalanya dari laptop. Akhirnya. Setelah 10 menit Sinta diceramahi mamanya dengan CV palsu itu, dia menatap Sinta untuk pertama kalinya. Tatapannya... ya Tuhan. Tatapannya tidak menilai cantik atau tidak. Tidak ada kekaguman seperti di sinetron. Tidak ada benci juga. Tatapannya datar. Kosong. Profesional. Seperti sedang menilai... efisiensi sebuah kulkas baru. Apakah kulkas ini hemat listrik? Apakah kulkas ini berisik?
"Nama saya Dean Galang Wijaya," katanya. Suaranya datar. Kaku. Dalam. Berat. Seperti robot customer service versi paling mahal di dunia yang baru di-update software-nya tapi lupa di-install fitur empati. "28 tahun. Pemilik Wijaya Group. Saya tidak punya waktu untuk pacaran."
Oke. Wow. Perkenalan macam apa ini? Ini perkenalan atau baca profil LinkedIn? Apa next-nya dia bakal bilang 'skill saya Microsoft Excel dan leadership'? Pak, ini restoran Jepang, bukan ruang interview HRD! Senyum dong Pak, dikit aja!
Sinta hanya bisa mengerjap. Menahan diri untuk tidak nyeletuk.
Dean menggeser map coklat itu perlahan di atas meja kayu yang mahal itu, melewati gelas air dan piring kecap asin. Gerakannya hati-hati. Dia mendorongnya ke arah Sinta.
"Mungkin Mama sudah menjelaskan di proposal," katanya, kali ini suaranya sedikit melunak, dan dia menatap Sinta, bukan laptopnya. Matanya hitam pekat dan jujur. Tidak ada main-main. "Saya membutuhkan seorang istri, Nona Sinta. Bagi saya pernikahan adalah soal tanggung jawab besar. Untuk menjaga nama keluarga dan membangun keluarga yang stabil. Saya akan memastikan kamu mendapat posisi dan penghargaan yang sepantasnya."
DEG.
Kalimatnya sopan. Sangat sopan. Jauh lebih sopan dari yang Sinta bayangkan. Dia memanggilnya Nona Sinta. Bukan 'kamu' yang kasar. Dan dia bilang akan memberi penghargaan yang sepantasnya. Tapi justru itu yang paling menyakitkan. Karena tidak ada kata cinta sama sekali di sana. Hanya tanggung jawab. Posisi. Penghargaan. Seperti sedang menawarkan jabatan komisaris, bukan pernikahan. Tapi setidaknya, Sinta merasa dihargai sebagai manusia, bukan sebagai barang lelang.
Sinta membuka map itu dengan tangan sedikit gemetar. Pelayan yang berdiri di pojokan ruangan ikut menahan napas melihatnya.
Isinya adalah... CV calon istri lain. Lengkap dengan foto studio mahal berbingkai emas.
Kandidat 1: Putri pengusaha sawit, S2 luar negeri, usia 26. Alasan ditolak: Terlalu banyak bicara soal liburan dan tas branded.
Kandidat 2: Dokter spesialis bedah, usia 29. Alasan ditolak: Tidak menginginkan anak dalam 5 tahun ke depan karena fokus karir. Visi keluarga tidak sejalan.
Kandidat 3: Model, brand ambassador, usia 24. Alasan ditolak: Tidak bisa diam selama 5 menit.
Kandidat 4: Anak pengusaha properti, usia 25. Alasan ditolak: Menangis saat dijelaskan pernikahan ini adalah komitmen jangka panjang.
Dan di halaman terakhir, dengan kertas yang lebih tipis, dirinya... Kandidat 7. Sinta Aniswari. Dokter umum co-ass. Foto 3x4 formal dengan rambut hitam sebahu yang disisir rapi, senyum tipis yang dipaksakan karena diminta fotografer. Bukan foto studio mahal, hanya foto untuk ijazah wisuda. Alasan dipilih: "Keluarga memiliki rumah sakit daerah, dapat disinergikan dengan portofolio kesehatan Wijaya Group. Karakter: penurut, kalem, tidak banyak tuntutan (menurut observasi awal). Ingin menjadi dokter anak - nilai plus untuk citra keluarga."
Darah Sinta berdesir. Panas dingin.
Jadi ini toh kenapa aku dipilih. Karena aku kelihatan penurut. Karena CV bualan Papa. Karena aku mau jadi dokter anak. Aku adalah opsi ketujuh. Cadangan dari cadangan. Kalau 6 orang di depan menolak, baru aku dipanggil.
Dean masih melanjutkan dengan nada lempengnya, tanpa sadar dia baru saja meremukkan sedikit harga diri Sinta, tapi juga memberinya sedikit harapan dengan kalimat sebelumnya.
"Saya sudah mewawancarai 6 kandidat sebelumnya. Kandidat 2 adalah dokter yang hebat, tapi visi kami soal keluarga tidak sama. Saya menghargai perempuan yang berkarir, Nona Sinta. Justru itu alasan saya memilih kamu. Kamu ingin menjadi dokter anak. Itu sejalan dengan visi saya. Saya butuh Nyonya Wijaya yang penyayang dan bisa membangun keluarga yang stabil, bukan hanya mengejar jabatan. Saya tidak akan melarang kamu bekerja."
Untuk pertama kalinya, Sinta menatap Dean dengan sedikit terkejut. Di balik kekakuannya, ada logika yang... adil. Dia tidak melarangnya jadi dokter.
"Kamu... dari tadi diam. Bagus. Sesuai deskripsi ayahmu. Saya suka yang tidak banyak tanya. Lebih efisien," lanjut Dean, kembali ke mode robotnya sambil melirik laptopnya yang menyala.
SAYA DIAM KARENA DISURUH PAPA! KAKI SAYA UDAH DIINJEK PAPA SAMPE MEMAR, PAK! ASLINYA SAYA CEREWET BANGET! KALAU SAYA JADI DIRI SENDIRI, RESTORAN MAHAL INI UDAH SAYA BIKIN JADI TEMPAT STAND-UP COMEDY 30 MENIT NONSTOP! EFISIEN APAANNYA!
Sinta hampir tersedak sashiminya sendiri.
"Jadi," Dean melirik jam tangannya lagi. Pukul 14.07. Tujuh menit. Makan siang bisnis ini sudah memakan waktu tujuh menit dari jadwalnya yang padat. "Apakah kamu bersedia menikah dengan saya, Nona Sinta? Pernikahan minggu depan. Selasa, jam 10 pagi. Jangan terlambat. Semua sudah saya siapkan. Kamu hanya perlu datang."
Semua orang di ruangan private itu menatap Sinta. Pelayan pun menatap Sinta dengan tatapan kasihan.
Papanya menatap dengan harap, dengan mata yang berkata tolong selamatkan rumah sakit keluarga kita, Nak. Papa tidak punya pilihan lain. Maafkan Papa harus berbohong.
Mamanya Dean menatap dengan penilaian, menunggu jawaban dari Kandidat Nomor 7 yang penurut itu.
Dan Sinta, gadis 21 tahun yang ceria dan cerewet itu, yang bermimpi menikah karena cinta dan dilamar dengan bunga dan lutut yang bertekuk di tepi pantai sambil sunset, harus menjawab lamaran paling tidak romantis di dunia di restoran Jepang yang dingin, di depan sashimi yang tidak dimakan, dari pria paling kaku yang pernah ia temui, dengan CV palsu buatan Papanya sendiri.
Sinta menarik napas panjang. Mengeluarkan senyum anggunnya lagi. Senyum yang akan ia pakai selama 2 tahun ke depan. Senyum topengnya.
"Ya, Pak Dean. Saya bersedia."
Dean mengangguk puas. Seperti baru saja berhasil merekrut manajer baru yang potensial. Dia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Akhirnya, makan siang selesai.
"Bagus. Keputusan yang bijak. Saya suka efisiensi."
Di dalam mobil pulang, Sinta tidak bisa lagi menahan senyum anggunnya. Senyum itu luruh seketika. Bahunya turun. Matanya yang tadi dibuat kalem dan sayu, sekarang kembali berbinar-binar cemas, cerewet, dan penuh air mata.
"Pah! Papa keterlaluan!" Sinta langsung meledak, kembali menjadi Sinta yang asli yang berisik. "Penurut? Pemalu? Tidak banyak bicara? Jago masak? Papa ngarang dari mana? Papa jual anak Papa dengan deskripsi kulkas hemat energi! Gimana kalau nanti dia tahu aslinya aku cerewet kayak toa masjid, Pah? Gimana?"
Papanya yang di sebelahnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus kepala anak gadisnya yang rambut sebahunya sudah sedikit berantakan.
"Maafkan Papa, ya, Sayang. Papa terpaksa. Papa tahu kamu anak yang paling ceria di dunia. Tapi... kita butuh ini."
Sinta menatap keluar jendela mobil. Jakarta macet. Sama macetnya dengan pikirannya. Restoran mahal itu sudah jauh di belakang, tapi bau dinginnya masih terasa.
Dan Sinta tahu, sejak hari itu, di usia 21 tahun, di private room restoran Jepang itu, dia harus mengubur Sinta yang ceria dan cerewet itu dalam-dalam. Setidaknya untuk 2 tahun ke depan.
Dan mulai belajar menjadi Sinta yang anggun, penurut, dan efisien sesuai CV bualan Papanya.
Seorang Nyonya Wijaya.