NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenaikan Jabatan

Keheningan yang membalut ruang tengah griya utama di Menteng terasa begitu menenangkan. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai sutra, membiaskan cahaya keemasan di atas meja kayu tebal yang dipenuhi bunga krisan segar.

Seminggu telah berlalu sejak malam pengakuan spektakuler di gedung konvensi, namun gelombangnya masih terasa di seantero negeri.

Berita mengenai pernikahan resmi Devan Dirgantara dan Alina Dania mendominasi halaman depan koran-koran bisnis ternama dan menjadi topik hangat yang tak ada habisnya.

Namun, alih-alih merobohkan stabilitas perusahaan seperti yang diprediksikan Pak Hendra, pengakuan jujur dan sikap tegas Devan justru melambungkan reputasi Dirgantara Group. Publik dan para investor internasional mengagumi integritas sang CEO muda yang berani menolak intimidasi politik demi mempertahankan prinsip dan cintanya.

Nilai saham PT Dirgantara Megah Karya bahkan melonjak naik lima persen hanya dalam waktu tiga hari, sebuah tamparan telak bagi faksi-faksi yang tadinya meragukan kepemimpinan Devan.

Di ruang makan utama yang luas, Alina duduk bersantai menikmati teh hangat. Ia mengenakan gaun rumah kasual berwarna merah muda lembut.

Di sampingnya, Bu Rahmi, yang kini telah menetap bersama mereka di griya Menteng atas permintaan Devan, sedang tersenyum lebar sambil mengusap lembut jemari putrinya.

"Ibu masih sering merasa seperti bermimpi, Alina," bisik Bu Rahmi tulus, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling ruangan yang megah namun hangat itu. "Melihat kamu bahagia, melihat Devan yang begitu menyayangi dan menghormatimu ... rasanya semua penderitaan kita dulu terbayar tuntas."

Alina tersenyum manis, menggenggam balik tangan ibunya. "Ini bukan mimpi, Bu. Devan benar-benar pria yang menepati setiap kata janji yang diucapkannya."

Langkah kaki yang mantap terdengar dari arah tangga utama. Devan melangkah turun mengenakan kemeja putih santai dengan lengan tergulung rapi. Raut wajahnya yang dulu selalu diliputi garis-garis ketegangan kini tampak jauh lebih rileks dan hangat.

"Selamat pagi, Ibu," sapa Devan sopan, membungkuk kecil dan menyalami ibu mertuanya dengan penuh rasa hormat sebelum mengambil tempat duduk di samping Alina.

"Selamat pagi, Devan. Mau Ibu ambilkan sarapan?" tawar Bu Rahmi sigap.

"Tidak perlu repot-repot, Bu. Bagas dan para pelayan sudah menyiapkan kopi saya," jawab Devan lembut. Pria itu kemudian berpaling menatap Alina. Ditatapnya wajah istrinya dengan binar kehangatan yang tak lagi ia sembunyikan. "Bagaimana tidurmu semalam, Nyonya Dirgantara?"

Pipi Alina seketika merona merah mendengar sebutan itu. "Sangat nyenyak... Terima kasih, Devan."

Devan meraih jemari Alina di atas meja, mengecup punggung tangannya dengan lembut di depan Bu Rahmi, membuat ibunya tersenyum geli dan beranjak ke taman belakang untuk memberikan ruang pribadi bagi pasangan muda tersebut.

Pukul sepuluh pagi. Sebuah mobil sedan hitam meluncur masuk ke pelataran griya Menteng. Pak Bagas turun dari mobil membawa dua buah folder dokumen tebal dan sebuah laporan resmi bersampul abu-abu.

Devan dan Alina menyambut Pak Bagas di ruang kerja pribadi Devan yang berdinding perpustakaan kayu.

"Selamat pagi, Tuan Devan, Ibu Alina," sapa Pak Bagas dengan senyum lega yang sangat jarang terlihat di wajah tegasnya.

"Bagaimana perkembangan keputusan dewan komisaris pagi ini, Bagas?" tanya Devan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi eksekutif, sementara Alina duduk di sampingnya.

Pak Bagas membuka folder pertama. "Pagi ini, rapat pleno luar biasa dewan komisaris telah secara resmi mencabut wewenang eksekutif Pak Hendra dari jajaran direksi. Beliau diwajibkan menjual kembali sepuluh persen kepemilikan sahamnya kepada perusahaan akibat pelanggaran berat kode etik dan tindakan memata-matai direksi."

Alina menahan napas. "Lalu, di mana Pak Hendra sekarang, Pak Bagas?"

"Pak Hendra telah menerima keputusan tersebut dan memilih untuk mengundurkan diri sepenuhnya dari dunia korporat. Beliau dilaporkan pindah ke kediaman pribadinya di Singapura pagi ini," terang Pak Bagas. "Sementara untuk pihak Rekso Group ... Nona Arimbi dan ayahnya telah menerbitkan surat permohonan maaf resmi dan menyatakan tetap melanjutkan investasi murni pada proyek mobil listrik tanpa syarat aliansi pernikahan."

Devan mengangguk pelan, tidak ada rasa jemawa di wajahnya. Semuanya berjalan sesuai dengan perhitungan matangnya. Benteng yang dibangunya kini benar-benar bersih dari ancaman parasit korporat yang selama ini menggerogoti perusahaan dari dalam.

"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Bagas," ujar Devan tulus.

"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Tuan. Dan satu hal lagi ..." Pak Bagas menyerahkan folder kedua kepada Alina.

"Ini adalah berkas pengangkatan resmi dari HRD pusat. Atas persetujuan dewan direksi, Ibu Alina dialih tugaskan menjadi Head of Corporate Social Responsibility (CSR) & Internal Relations PT Dirgantara Megah Karya."

Alina membelalakkan matanya terkejut. "Kepala Divisi CSR?"

Devan menatap Alina dengan senyum penuh kebanggaan. "Kamu punya kepedulian yang besar terhadap sesama dan integritas tinggi, Alina. Posisi itu tidak ada hubungannya dengan statusmu sebagai istriku, melainkan karena kinerjamu yang terbukti luar biasa selama memegang proyek-proyek penting. Kamu adalah orang yang paling tepat untuk memimpin divisi itu."

Rasa haru membuncah di dalam dada Alina. Devan tidak pernah berniat mengurungnya di dalam rumah sebagai hiasan kemewahan; pria ini selalu menghargai potensi, impian, dan kemandiriannya sebagai seorang wanita.

"Terima kasih, Devan ... Saya janji akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya," ucap Alina tulus dengan mata berkaca-kaca.

Senja mulai membayang di ufuk barat. Warna jingga keemasan mewarnai langit Jakarta saat Devan mengajak Alina berjalan-jalan di area atap (rooftop garden) griya Menteng. Dari ketinggian itu, pemandangan lanskap kota Jakarta membentang luas dan indah di bawah mereka.

Angin sepoi-sepoi memainkan ujung jilbab dan gaun Alina. Devan berdiri di belakangnya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Alina dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. Suasana di antara mereka terasa teramat damai, sebuah kedamaian yang dahulunya terasa mustahil untuk dicapai.

"Kamu sedang memikirkan apa?" bisik Devan lembut tepat di dekat telinga Alina.

Alina menyandarkan kepalanya di dada Devan, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan hangat. Tangannya mengusap jemari Devan yang melingkar di perutnya.

"Saya cuma sedang mengingat kembali perjalanan kita," kata Alina pelan, menatap lurus ke arah matahari yang perlahan terbenam. "Dulu ... saat pertama kali saya melangkah masuk ke ruanganmu di lantai 20 dengan amplop cokelat dan surat perjanjian pernikahan rahasia itu, saya merasa dunia saya telah runtuh. Saya pikir saya sedang menyerahkan masa depan saya kepada seorang pria asing yang dingin bagaikan es."

Devan terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang menggetarkan dada Alina. Devan memutar tubuh Alina agar menghadapnya, menatap lurus ke dalam manik mata bening yang sangat dicintainya itu.

"Dan sekarang?" tanya Devan dengan mata berbinar goda.

Alina tersenyum sangat manis, meraih kedua pipi Devan dengan jemarinya yang halus. "Dan sekarang ... saya tahu bahwa di balik es itu ada hati yang teramat hangat. Pria asing itu ternyata adalah pelindung terbaikku, tempat teraman bagi hatiku untuk pulang."

Devan menatap bibir Alina yang tersenyum, lalu kembali menatap matanya dengan kelembutan yang tak bertepi. Tangan kokoh Devan merengkuh pinggang Alina, mengikis habis jarak di antara mereka.

"Pernikahan kita memang dimulai dari sebuah kesepakatan rahasia di atas kertas, Alina," ujar Devan dengan suara bass yang dalam dan penuh rasa tekun. "Tapi setiap janji, setiap perlindungan, dan setiap rasa yang tumbuh di hatiku untukmu ... adalah kenyataan paling murni dalam hidupku.

Kamu bukan lagi sekadar rahasia yang harus kusembunyikan, melainkan takdir terindah yang selalu kubanggakan."

Air mata bahagia menetes halus di pipi Alina. Devan mendekatkan wajahnya, mengecup air mata itu dengan lembut sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di atas bibir Alina, sebuah ciuman yang manis, hangat, dan sarat akan cinta yang telah mekar sempurna di tengah badai.

Di atas puncak gedung yang menatap keabadian langit Jakarta, di antara helaian angin malam yang mulai memeluk kota, rahasia di balik dinding kaca itu telah bertransformasi menjadi sebuah kisah cinta yang tak tergoyahkan.

Alina Dania tidak lagi berjalan di dalam bayang-bayang ketakutan; ia telah menemukan rumahnya, mahkotanya, dan cinta sejatinya di dalam dekapan Devan Dirgantara.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!