Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panti Asuhan Greys
Sembari membenahi pakaian lusuhnya yang penuh tambalan. Gadis berusia 7 tahun dengan rambut merah bak bunga mawar panjang yang terlihat kusam itu, meraih sepotong roti yang disodorkan oleh seorang wanita dengan gaun yang terlihat cukup mewah, berdiri di depannya.
Ella lantas menundukkan kepala, membiarkan beberapa helai anak rambut menutupi matanya. "Te-terima, kasih."
Suara tawa yang dibuat anggun sebagai respon dari pengucapan tidak lancar dari kalimat yang ia dengar, mengalun masuk ke telinga gadis kecil itu.
Ella tidak sedikitpun mengangkat pandangannya dari ujung gaun yang menjuntai indah ke tanah milik sang wanita bangsawan.
"Nah, Nak. Terima ini juga."
Tangan yang dibalut sarung tangan putih bermotif bunga Lilac indah itu memberikan 5 koin perak di atas telapak tangan kiri Ella yang wanita itu buka. "Berdoalah untukku saat Perayaan Cahaya Kekaisaran nanti sebagai balasannya, oke?"
Tersenyum, wanita itu lantas beranjak pergi dari dari tempatnya berdiri. Seolah dirinya sudah tidak tahan berada disana sedari tadi, tanpa sekalipun berniat untuk kembali melihat keadaan sekitar yang jelas memerlukan bantuan.
Wanita itu segera menaiki kereta kuda yang telah menunggunya di ujung gang pemukiman untuk segera pergi meninggalkan daerah pemukiman kumuh tempat Ella tinggal.
Seperti pada umumnya, setiap kali mendekati hari perayaan besar kekaisaran, para bangsawan akan terlihat di sekitar daerah miskin untuk sekedar memberi sumbangan.
Bukan tanpa alasan, namun hal itu merupakan kewajiban mereka, para bangsawan, yang nantinya akan dimintai laporannya oleh pemimpin setiap daerah.
Formalitas.
Mengingat hal itu, Ella yang biasanya harus mengumpulkan barang bekas dengan mengelilingi kota Ador untuk ditukarkan menjadi beberapa koin perunggu agar dapat membeli setidaknya sepotong roti untuk ia makan hari itu. Kini, gadis kecil itu hanya perlu berada di sekitar kawasan panti yang ia tinggali.
Ella mengangkat sedikit pandangannya setelah suara langkah dari sepatu hak tinggi wanita itu tidak lagi terdengar. Sinar keemasan dari matahari sore menyapa wajah, menyipitkan matanya, membuat dahi Ella terlihat mengerut tipis.
Warna dari matahari terlihat menyatu dengan warna mata gadis itu, yang membedakan hanyalah warna mata Ella yang terlihat lebih keruh dibanding cahaya matahari yang memancarkan warna emas yang agung. Warna dari matanya seolah sudah cukup untuk menjelaskan kehidupan yang telah dilewati Ella.
'Satu koin perak bisa membeli 2 roti. Kalau lima koin, berarti ... ' Senyum merekah di bibir Ella. Ada binar di kedua matanya saat memandangi koin-koin di atas telapak tangannya.
Ella melihat roti pemberian wanita tadi di tangan kanannya. ‘Jika aku membeli satu setiap harinya, aku bisa bertahan dan tidak kelaparan sampai tujuh hari menjelang perayaan!’
Cukup sampai dirinya pergi, kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...“Kau adalah anak yang dibuang dan tidak diinginkan untuk lahir. Kau tidak memiliki keluarga. Jadi, jika ingin terus menumpang hidup disini maka kau juga harus ...
...mengemis seperti yang lainnya setiap hari. Jangan pernah merengek seperti anak kecil."...
Ella kembali ke kamarnya di dalam panti. Terlihat ada beberapa ranjang kayu yang tak layak ditempati. Ia bergerak ke sudut ruangan dimana miliknya berada.
Setelah menyembunyikan koin-koin berharganya disebuah tas selempang yang terlihat memiliki tambalan di setiap sudut tas. Ella segera menaruh kembali tas yang bagaikan kotak harta karun baginya, dimana seluruh aset pribadi berharga seperti koin-koin perak yang berhasil ia sembunyikan dari anak-anak pemalak di panti, di bawah tempat tidur.
“Hei, Kau!”
Seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri congkak di pintu kamar setelah berteriak memanggil si pemilik ruangan. Zero menyunggingkan senyumnya kala gadis kecil bagai boneka yang tak terawat itu berbalik kaku.
Ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Ella. Perbedaan ukuran yang sangat kontras terlihat dimana Ella yang hanya sebatas dada anak itu, membuat perasaan Zero semakin angkuh.
“Kudengar kau keluar sepanjang hari ini. Apa yang kau dapatkan?” Zero memicing mendekatkan wajahnya.
Jemari gadis kecil itu mulai bergetar. 'Koin-koin berhargaku ... mereka tidak terlihat kan?' Pandangan mata Ella diam-diam melirik ke sudut.
Gotcha! Tas harta karunnya sudah masuk sempurna ke bawah ranjang.
Namun saat Ella kembali menundukkan pandangannya ke lantai kayu yang kasar, hal tersebut malah membuat emosi Zero mulai tersulut. Anak laki-laki itu menganggap perilaku Ella saat ini adalah mengabaikan dirinya.
Tangan kanan Zero dengan ringan menarik rambut panjang Ella kuat. Ella sontak meringis, pandangannya kini sedikit mengadah paksa menatap raut wajah Zero yang terlihat mengeras.
“Tadi, aku bertanya ... Apa yang kau dapatkan dari menjilat para bangsawan dengan wajah cantikmu hari ini?! Berani sekali tidak menjawab!"
“Da-dapat, roti. Sepotong roti.” Lengannya menunjuk ke arah nakas kecil di sebelah tempat tidur. Dimana sepotong roti terbungkus dengan aroma yang masih menguar tergeletak.
Zero melirik ke arah yang ditunjuk Angel. Menghembuskan napas kasar. “Menjawab pertanyaan mudah saja masih terbata tidak jelas padahal sudah berusia tujuh tahun? Dasar gadis bisu!”
Zero melepaskan cengkramannya dengan cepat dan merampas roti milik gadis itu.
"Pantas saja kau dibuang."