Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Tidak Ada yang Boleh Pergi
Petugas pengadilan itu baru saja melangkah keluar dari gerbang rumah, meninggalkan atmosfer yang mendadak mencekam dan terasa mencekik di dalam ruang tamu. Lembaran kertas tuntutan yang sudah diremas oleh Baskara hingga hancur berhamburan di atas lantai marmer.
Kinanti berdiri terpaku, memandangi gumpalan kertas tersebut dengan tatapan kosong. Pikirannya mendadak kalut. Sebagai seorang gadis desa berusia sembilan belas tahun yang tidak pernah berurusan dengan hukum, kata-kata dalam dokumen itu terasa seperti vonis mati. Dia dituduh merusak mental Natasha. Dia dituntut untuk dipisahkan dan diusir dari rumah ini. Rasa bersalah yang teramat besar menyerang dadanya, mengubur habis rasa kemenangan atas pabrik beras yang baru saja mereka raih sore tadi.
Tanpa suara, Kinanti membalikkan badannya dan melangkah terburu-buru menaiki anak tangga menuju kamar utama. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. Begitu sampai di kamar, dengan tangan yang bergetar hebat, Kinanti menarik sebuah tas kain besar dari kolong tempat tidur. Dia mulai memasukkan beberapa helai pakaian sederhananya ke dalam tas dengan tergesa-gesa.
"Aku harus pergi... aku tidak boleh membuat Om Baskara dan Juragan Ramli hancur karena kasus ini," bisik Kinanti pada dirinya sendiri, suaranya terputus-putus oleh isakan.
Brak!
Suara pintu kamar yang dibuka dengan sentakan kasar membuat Kinanti tersentak. Dia menoleh dengan mata yang sembap, mendapati Baskara berdiri di ambang pintu. Napas pria matang itu tampak memburu, dan sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah tas pakaian yang sedang diisi oleh Kinanti.
Baskara melangkah maju dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka hanya dalam hitungan detik. Sebelum Kinanti sempat bereaksi, tangan besar Baskara mencengkeram kasar namun lembut pergelangan tangan Kinanti, menghentikan gerakannya. Dengan tangan satunya, Baskara menyambar tas kain itu dan membantingnya ke lantai hingga isinya berhamburan kembali.
"Apa-apaan ini, Kinanti?!" bentak Baskara, suaranya menggelegar di dalam kamar yang luas itu, sarat akan kemarahan dan rasa tidak terima yang teramat sangat.
"Lepaskan, Om! Aku harus pergi!" balas Kinanti, mencoba memberontak dan melepaskan cengkeraman tangan Baskara yang sekeras besi karang. "Om tidak lihat apa yang tertulis di surat itu? Mantan istrimu menuduhku merusak mental Natasha! Hukum meminta kita berpisah! Jika aku tetap di sini, nama baik Om dan pabrik beras Juragan Ramli akan hancur total di mata hukum dan masyarakat! Aku ini cuma pembawa sial!"
Mendengar kata-kata keputusasaan yang keluar dari bibir istrinya, kilat kemarahan di mata Baskara mendadak berubah menjadi tatapan posesif yang teramat dalam. Pria itu menyentak tubuh ramping Kinanti ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah-olah jika dia melonggarkan pelukannya sedikit saja, gadis itu akan menghilang.
Baskara menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kinanti, menghirup aroma tubuh istrinya yang menenangkan, mencoba meredam amarah yang membakar dadanya. "Siapa yang mengizinkanmu pergi, hm?" bisik Baskara dengan suara rendah yang serak namun sarat akan wibawa mutlak. "Dengar baik-baik, Kinanti Larasati. Tidak ada satu hukum pun di dunia ini yang bisa menyeret istriku keluar dari rumahku sendiri. Kau tetap di sini, di sisiku. Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari gerbang itu tanpa izinku."
Kinanti terdiam di dalam dekapan bidang suaminya. Rasa hangat dan aman yang menjalar dari tubuh tegap Baskara perlahan-lahan meredakan kepanikan di dalam hatinya. Isakannya perlahan mereda, berganti dengan debaran jantung yang kembali berpacu liar karena kedekatan mereka yang teramat intim. Baskara merenggangkan pelukannya sedikit, lalu memegang kedua pipi Kinanti, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam mata elangnya.
"Chynthia dan Herman Wijaya pikir mereka bisa menggunakan hukum kota untuk menindas kita. Mereka salah besar," ucap Baskara dengan nada dingin yang mematikan. "Aku akan menyelesaikan ini. Sekarang, ikut aku."
Baskara menggandeng tangan Kinanti dengan erat, membimbingnya melangkah keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ujung lorong, tempat kamar Natasha berada. Baskara tidak mengetuk pintu. Pria itu langsung memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu mendorongnya terbuka.
Di dalam kamar yang serba mewah itu, Natasha sedang duduk di tepi ranjang sembari memegang sebuah ponsel cadangan tipis berwarna perak. Begitu melihat papanya masuk dengan wajah yang mengerikan, Natasha seketika tersentak dan buru-buru menyembunyikan ponsel itu di balik bantalnya. Wajah remaja manja itu memucat.
Baskara tidak berbasa-basi. Dia melangkah mendekati ranjang, lalu dengan satu gerakan cepat, dia menarik bantal Natasha dan menyambar ponsel cadangan tersebut.
"Jadi ini senjata yang diberikan mamimu?" tanya Baskara dingin, mengangkat ponsel itu di depan wajah Natasha. "Kau diam-diam menyalakan perekam suara saat aku menyidangkan malam itu, lalu menyerahkannya pada Chynthia untuk diedit?"
Natasha menelan ludahnya dengan susah payah. Nyalinya ciut melihat kemurkaan papanya, namun rasa iri dan ego remajanya yang terlanjur terluka membuat dia nekat berteriak. "Iya! Memangnya kenapa?! Papa jahat! Papa memotong semua uang jajanku dan menyita mobilku hanya demi membela jalang kampung ini! Mami benar, perempuan ini hanya mau menguasai harta Papa! Aku benci Papa! Aku mau ikut Mami saja!"
Plak!
Suara tamparan tidak terjadi, karena Kinanti dengan cepat menahan lengan Baskara yang hampir saja melayang ke arah pipi Natasha. Kinanti menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Baskara dengan tatapan memohon agar pria itu tidak mengotori tangannya dengan kekerasan fisik pada anaknya sendiri.
Baskara menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya. Namun tatapan matanya pada Natasha jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. "Kau ingin ikut mamimu, Natasha? Silakan. Tapi ingat satu hal... saat kau melangkah keluar dari rumah ini untuk mengikutinya, detik itu juga namamu akan aku hapus dari kartu keluarga Dirgantara. Kau tidak akan pernah menerima satu sen pun warisan, dan kau bukan lagi anakku."
Natasha membelalakkan matanya sempurna, tangisnya seketika pecah mendengarkan ancaman mutlak dari papanya. Dia tidak pernah menyangka papanya akan sejauh ini.
Baskara melempar ponsel cadangan itu ke lantai lalu menginjaknya dengan sepatu boot kulitnya hingga hancur berkeping-keping. "Kau dikurung di kamar ini sampai persidangan dimulai. Jangan harap kau bisa menghubungi ular-ular itu lagi," perintah Baskara mutlak sebelum berbalik dan menarik Kinanti keluar, mengunci pintu kamar Natasha dari luar dengan rapat.
Malam semakin larut ketika Baskara mengumpulkan orang-orang kepercayaannya di ruang kerja lantai satu. Namun, alih-alih memanggil pengacara necis bertarif mahal dari ibu kota, Baskara justru menghubungi seorang pria paruh baya berpakaian sederhana bernama sersan purnawirawan ikhsan, yang kini berprofesi sebagai pengacara hukum adat dan pidana di daerah mereka. Dia adalah sahabat lama Juragan Ramli yang paham betul seluk-beluk hukum akar rumput.
Di atas meja, rekaman utuh dari kamera pengawas (CCTV) tersembunyi yang terpasang di sudut ruang kerja Baskara diputar ulang di layar laptop. Rekaman itu menampilkan visual yang sangat jelas,Natasha yang berlutut secara dramatis dan mengakui dengan jujur bahwa dia disuruh maminya untuk mencuri kotak kayu milik Kinanti.
Pengacara Ikhsan tersenyum tipis sembari membetulkan letak kacamatanya. "Ini lebih dari cukup, Bas. Rekaman suara yang diajukan oleh pihak Chynthia adalah rekaman ilegal yang diambil tanpa izin pengadilan, dan yang paling krusial... rekaman itu terbukti telah mengalami proses penyuntingan atau editing untuk memanipulasi fakta."
Ikhsan menunjuk ke arah dokumen tuntutan. "Di mata hukum pidana, tindakan memotong rekaman untuk menjebak seseorang dengan tuduhan palsu masuk dalam pasal pencemaran nama baik berat dan manipulasi barang bukti. Kita tidak perlu bertahan, Bas. Kita akan menyerang balik. Besok pagi, kita serahkan bukti CCTV utuh ini ke Polres dan ajukan gugatan balik atas laporan palsu serta tindakan pencurian yang direncanakan oleh Chynthia Wijaya."
Baskara mengangguk puas, rahangnya sedikit melunak. "Pastikan wanita itu tidak punya celah untuk lolos lagi, Kang Ikhsan. Aku ingin dia membusuk di dalam sel."
Kinanti yang duduk di pojok ruangan mendengarkan penjelasan itu akhirnya bisa bernapas lega. Air mata haru perlahan menggenang di sudut matanya. Ternyata, dengan ketenangan dan taktik yang tepat, jebakan hukum yang semula terlihat begitu mengerikan bisa dibalikkan menjadi senjata pemukul yang mematikan untuk musuh mereka.
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit menyinari kota Jakarta. Baskara sudah bersiap dengan kemeja batik formalnya, bersiap menuju kantor polisi bersama Pengacara Ikhsan untuk menyerahkan bukti CCTV dan melakukan serangan balik hukum. Kinanti berdiri di depan pintu, "Hati-hati, Om," bisik Kinanti.
Baskara tersenyum tipis, menggenggam tangan istri kecilnya. "Tunggu aku di rumah. Siang ini, semuanya akan selesai."
Namun, tepat saat Baskara hendak melangkah keluar menuju mobilnya, suara kegaduhan yang teramat besar terdengar dari arah luar pagar gerbang utama rumah mereka. Suara klakson mobil yang bersahut-sahutan dan teriakan orang-orang mendadak memecah keheningan pagi.
Supir keluarga berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah yang pucat pasi dan napas terengah-engah. "Tuan Besar! Gawat, Tuan!"
"Ada apa, Joko?" tanya Baskara, suaranya kembali meninggi penuh kewaspadaan.
"Di depan gerbang... ada tiga mobil polisi dan puluhan awak media infotainment serta wartawan surat kabar, Tuan! Mereka memblokir jalanan! Katanya mereka datang atas laporan darurat dari pengacara keluarga Wijaya untuk menjemput non Natasha dan memaksa Nyonya Muda Kinanti keluar dari rumah ini secara paksa di depan kamera!" lapor Joko dengan tubuh gemetar.
Kinanti seketika membeku di tempatnya berdiri. Tangannya mendadak terasa dingin kembali. Herman Wijaya dan Chynthia ternyata benar-benar licik,tahu bahwa mereka mungkin kalah di dalam ruang penyidik, mereka sengaja menggiring opini publik dan menggunakan media massa untuk menghancurkan nama baik Baskara serta mempermalukan Kinanti sebagai "gadis kampung perusak keluarga" di depan seluruh masyarakat Indonesia melalui siaran langsung televisi.
Baskara melihat kepanikan di wajah Kinanti. Pria matang itu berbalik, menatap tajam ke arah pintu gerbang luar yang kini mulai digedor-gedor oleh kerumunan wartawan yang haus akan berita skandal. Bukannya ketakutan, sebuah senyuman dingin yang teramat mengerikan justru terukir di wajah tampan Baskara.
Pria itu menggandeng jemari Kinanti dengan teramat erat, menguncinya di dalam genggamannya yang kokoh. "Mereka ingin bermain sirkus di depan rumahku?" desis Baskara dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Ayo kita keluar, Kinanti. Mari kita perlihatkan pada seluruh dunia bagaimana cara menghancurkan sebuah kesombongan konglomerat kota."
Baskara melangkah dengan tegap, menuntun Kinanti yang berjalan di sampingnya dengan kepala tegak, bersiap membuka gerbang dan menghadapi badai yang sudah menunggu di depan mata.