Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Delapan Nona Cantik
Kalau mereka mau main rumah tangga, Nyonya Muda baru punya anggaran.
Keesokan paginya, delapan perempuan cantik itu datang seperti katalog hidup.
Ada yang berambut panjang bergelombang, ada yang memakai kacamata tipis dan terlihat intelektual, ada yang berpakaian seolah baru keluar dari drama kantor, ada yang senyumnya begitu manis sampai gula di dapur terasa kalah.
Mereka berdiri di ruang depan PIK villa dengan koper kecil dan folder lamaran.
Bibi Susi sudah tidak ada, Bibi Yanti sudah keluar, tapi ternyata Veronica punya stok kejutan tanpa batas.
Pemimpin kelompok itu memperkenalkan diri. "Saya Clara. Kami dikirim Nyonya Besar untuk membantu Tuan Muda dan Nyonya Muda."
Membantu.
Tentu.
[Pemindaian grup.]
[Clara: mantan model, tugas utama mendekati Reynard.]
[Maya: merekam aktivitas rumah.]
[Jenny: mencari dokumen keuangan.]
[Dina: kontak langsung dengan staf Veronica.]
[Empat lainnya: pendukung operasi, tingkat kompetensi rumah tangga rendah.]
Aku menatap mereka satu per satu.
Mereka cantik. Sangat cantik.
Sayangnya, rumah ini baru saja selesai dari era mata-mata. Aku tidak menerima langganan baru.
Reynard berdiri di sisi tangga, wajah datar.
"Kirim balik," katanya.
Clara langsung menunduk dengan mata berkaca. "Tuan Muda, kami hanya menjalankan perintah Nyonya Besar. Kalau kami pulang, kami yang dimarahi."
Teknik korban.
Lumayan.
Aku mengangkat tangan. "Tidak perlu pulang."
Reynard menoleh.
Delapan perempuan itu juga menoleh.
Aku tersenyum manis. "Kalau memang dikirim untuk membantu, tentu saya terima."
Di kepalaku, Si Kepo meniup peluit perang.
[Mode pembersihan sosial aktif.]
Aku membuka daftar tugas rumah yang semalam kususun bersama Pak Hadi.
"Clara, kamu terlihat teliti. Tolong cek semua kamar mandi tamu. Pakai sarung tangan. Sikat sela nat sampai putih."
Senyum Clara retak.
"Maya, kamu bantu laundry linen. Pisahkan handuk putih, lap dapur, dan kain Boba. Jangan tercampur."
"Jenny, garasi bawah perlu dibersihkan. Ada tiga mobil yang harus dicuci manual."
"Dina, ikut Sari ke gudang. Inventaris ulang semua alat makan. Hitung satu per satu."
Empat lainnya kuberi tugas membersihkan kaca tinggi, menyusun pantry, mengepel area servis, dan mencuci carrier Boba.
Ruangan hening.
Reynard menatapku.
Aku menatap balik.
Apa? Mereka bilang mau membantu.
Sudut bibirnya bergerak.
Clara tampak ingin protes. "Nyonya Muda, kami sebenarnya dilatih untuk administrasi dan pendampingan eksekutif."
"Bagus. Administrasi rumah dimulai dari memahami rumah."
Pak Hadi muncul dengan wajah sangat profesional. "Saya akan mengawasi."
Anto, di dekat pintu, memalingkan wajah. Aku yakin ia tersenyum.
Hari itu menjadi hari paling produktif dalam sejarah PIK villa.
Delapan perempuan cantik yang datang dengan parfum mahal berakhir memakai sarung tangan karet. Clara hampir menangis saat melihat kamar mandi tamu. Maya salah memisahkan lap dapur dan handuk wajah, lalu Sari dengan suara lembut tapi mematikan menyuruhnya ulang dari awal. Jenny yang memakai kuku panjang harus mencuci velg mobil sampai punggungnya pegal.
Dua lainnya mencoba memakai alasan alergi debu. Pak Hadi langsung menyediakan masker, sarung tangan baru, dan obat antihistamin dari kotak P3K rumah. Alasan mereka mati di tempat.
Yang paling muda, Livia, hampir menangis saat diminta membersihkan bekas kaki Boba di lantai marmer. Aku memberinya kain pel baru dan berkata, "Boba juga anggota rumah ini. Kalau mau dekat dengan Tuan Muda, mulai dari menghormati keluarganya."
Reynard, yang kebetulan lewat, berhenti setengah detik.
Keluarganya.
Aku baru sadar kata itu keluar begitu saja.
Boba menggonggong kecil dari balik pagar bayi.
Delapan perempuan itu tampak makin putus asa.
Aku tidak membentak.
Tidak menghina.
Hanya memberi pekerjaan.
Pekerjaan nyata.
Dan ternyata tidak ada yang lebih menyiksa mata-mata cantik daripada disuruh melakukan tugas yang benar-benar berguna.
Siang harinya, aku pergi ke SCBD bersama Reynard karena tiga dari mereka juga dijadwalkan masuk kantor. Di Wijaya Group headquarters, pemandangan itu makin lucu. Clara yang seharusnya memegang folder rapat malah kusuruh membantu tim administrasi merapikan arsip lama. Maya yang ingin mendekati ruang kerja Reynard dialihkan Anto ke ruang tunggu vendor.
Reynard bekerja seperti biasa.
Tapi aku bisa merasakan ia memperhatikanku.
Aku juga tidak datang tanpa persiapan. Semalam Pak Hadi sudah memberiku daftar area kantor yang boleh disentuh staf sementara dan area yang sama sekali tidak boleh didekati.
Ruang arsip lama boleh.
Pantry eksekutif boleh.
Meja Steven tidak boleh.
Ruang server jelas tidak boleh, bahkan kalau mereka datang membawa air mata, parfum, atau surat dari Veronica yang dibingkai emas.
Ketika Jenny mencoba mengambil lift khusus direksi, kartu aksesnya berbunyi merah.
Aku muncul di belakangnya sambil membawa map.
"Lift itu untuk direksi."
"Saya hanya ingin membantu mengantar dokumen."
"Dokumen apa?"
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
[Kebohongan terdeteksi: tidak ada dokumen.]
"Kalau belum ada dokumen, mulai dari fotokopi formulir cuti lantai tiga. Dua ratus lembar."
Jenny tersenyum kaku. "Baik, Nyonya Muda."
Di ujung koridor, Steven mengangkat ibu jari sangat kecil, nyaris tidak terlihat.
Aku membalas dengan anggukan seperti jenderal perang rumah tangga.
Ketika Clara mencoba masuk membawakan kopi, aku berdiri lebih dulu.
"Tuan Muda tidak minum kopi dari staf baru tanpa pengecekan Pak Hadi."
Clara membeku. "Saya hanya..."
"Aturan rumah."
Reynard mengangkat cangkir teh yang memang sudah disiapkan Sari dari PIK.
"Ikuti aturan Nyonya Muda," katanya.
Satu kalimat itu cukup membuat semua orang kantor paham posisiku.
Aku pura-pura tenang.
Di dalam hati, aku menari dangdut.
[Status otoritas rumah: meningkat.]
Sore menjelang, Si Kepo membuka data tambahan.
[Salah satu anggota grup mengirim laporan ke Veronica.]
[Isi: Keira tidak cemburu, malah menjadikan kami pembantu.]
Aku hampir tertawa di lift.
[Lampiran laporan: keluhan fisik, foto sarung tangan karet, permintaan instruksi baru.]
Aku membayangkan Veronica membaca itu sambil minum teh mahal.
Mungkin tehnya langsung terasa seperti air pel.
"Mereka melapor?" tanya Reynard tiba-tiba.
Aku hampir tersedak udara. "Kenapa kau tanya?"
"Wajahmu terlalu puas."
Aku menyentuh pipi. "Kelihatan?"
"Sangat."
"Kalau begitu, anggap saja aku sedang menikmati efisiensi operasional."
"Efisiensi operasional biasanya tidak membuat orang ingin tertawa."
"Di tanganku bisa."
Reynard menatapku beberapa detik, lalu berkata, "Kalau begitu teruskan."
Perintah sederhana itu membuat ruang lift terasa lebih sempit.
Aku memalingkan wajah ke angka lantai, pura-pura fokus pada panel.
Di kepalaku, Si Kepo menampilkan efek kembang api kecil yang sangat tidak perlu.
Reynard menatapku. "Apa?"
"Tidak. Aku hanya membayangkan wajah Veronica."
"Pasti menarik."
"Kau ingin lihat?"
"Aku lebih ingin lihat apa yang kau lakukan berikutnya."
Kalimat itu membuatku diam.
Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya. Bukan mengejek. Bukan menguji. Seolah ia benar-benar menikmati melihatku mengambil tempat.
Malamnya, setelah kembali ke PIK, delapan perempuan itu tampak layu. Rambut rapi mereka mulai lepas, riasan memudar, dan senyum profesional berubah menjadi rasa ingin pulang.
Aku memberi mereka makan malam staf yang layak, lalu berkata, "Besok jadwal dimulai jam enam."
Clara hampir menjatuhkan sendok.
Namun rupanya salah satu dari mereka masih belum menyerah.
Lewat tengah malam, ketika rumah mulai sunyi, Si Kepo tiba-tiba berkedip.
[Peringatan: pergerakan mencurigakan.]
[Lokasi: koridor kamar utama.]
Aku duduk tegak di tempat tidur.
Di layar kecil, kamera koridor memperlihatkan salah satu perempuan, Clara, berjalan tanpa alas kaki menuju pintu kamar Reynard.
Gaunnya tipis.
Tangannya memegang botol kecil.
[Kemungkinan skenario: jebakan intim / rekaman rahasia.]
Aku baru akan keluar ketika bayangan hitam bergerak dari sisi koridor.
Anto.
Ia muncul begitu cepat sampai Clara tidak sempat mengetuk.
"Mau ke mana?" suaranya datar.
Clara pucat.
Pintu kamar Reynard terbuka dari dalam.
Reynard berdiri di sana, wajahnya lebih dingin daripada malam.
Dan aku tahu, besok pagi Veronica akan menerima kabar yang lebih buruk.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih