NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Gadis dari Panti

Dari dalam api.

Kalimat itu terus berputar di kepala Keira bahkan setelah siang berubah menjadi malam dan tubuhnya sudah dibaringkan di sebuah kamar kecil di sisi Sayap Giok.

Dokter keluarga tadi datang memeriksa sebentar. Katanya ia hanya terlalu lelah, terlalu lama terkena panas, lalu pingsan. Keira mengangguk seperti pasien yang penurut. Ningsih berdiri di sudut kamar dengan mata bengkak, mengiyakan semua ucapan dokter meski wajahnya jelas masih belum percaya.

Keira juga tidak percaya.

Orang yang hanya pingsan tidak melihat aula terbakar. Tidak mendengar suara pria berdarah memanggil nama yang hilang di tengah api. Tidak menggenggam Liontin Giok seolah benda itu lebih penting dari napas.

Ia menoleh ke samping. Kamar itu disebut kamar tamu sementara, tetapi tempat tidurnya keras seperti ranjang pegawai. Seprai putihnya bersih, lemari kayunya tua, dan jendelanya menghadap bagian belakang compound yang tidak terlalu terang. Untuk ukuran rumah keluarga Hendrawan, kamar ini mungkin tidak berarti apa-apa.

Untuk Keira, kamar ini tetap lebih baik daripada ranjang besi Panti Harapan yang berderit setiap kali ia bergerak.

Ia memejamkan mata.

Panti Harapan.

Nama itu terdengar seperti doa, tetapi masa kecil Keira di sana lebih mirip utang yang tidak pernah lunas.

Ia masuk ke panti saat berusia lima tahun. Yang ia ingat dari hari itu hanya panas Surabaya, bau bunga melati yang terlalu manis, dan punggung seorang perempuan yang berjalan menjauh setelah menyerahkan uang ke tangan Bu Wati.

Perempuan itu ibunya.

Atau setidaknya, begitu kata orang-orang.

"Mama akan kembali," ucap perempuan itu sambil berjongkok di hadapan Keira kecil.

Tangannya dingin. Matanya tidak berani menatap lama. Di keranjang bambu yang ia bawa, bunga melati putih bergoyang pelan tertiup angin jalanan. Keira kecil menggenggam ujung bajunya, tidak mengerti kenapa Bu Wati berdiri di belakangnya dengan senyum tipis.

"Kapan, Ma?"

Perempuan itu mengelus rambutnya satu kali.

"Nanti."

Nanti ternyata bisa sepanjang enam belas tahun. Bisa sepanjang hidup.

Di Panti Harapan, Keira belajar bahwa orang dewasa punya banyak cara untuk menyebut anak-anak yang tidak diinginkan. Anak titipan. Anak susah. Mulut tambahan. Beban.

Bu Wati paling suka kata terakhir.

"Kalau mau makan, kerja," katanya hampir setiap pagi.

Keira menyapu halaman, mencuci piring, memotong sayur, menjemur kasur, dan belajar tersenyum ketika ada donatur datang. Jika donatur membawa kue kotak, anak-anak harus berdiri rapi, menyanyi, lalu berterima kasih. Setelah mereka pergi, kue itu dihitung ulang di dapur. Anak yang terlalu cepat mengambil bagian akan mendapat pukulan bambu di betis.

Keira tidak cepat mengambil.

Ia belajar menunggu. Belajar melihat siapa yang kenyang, siapa yang lengah, siapa yang meninggalkan sisa nasi di piring. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling baik, tetapi siapa yang tahu kapan harus menunduk dan kapan harus berlari.

Pada usia enam belas tahun, ia keluar dari Panti Harapan dengan tas kain, dua set pakaian, dan uang yang cukup untuk tiga kali makan. Bu Wati melepasnya tanpa air mata.

"Jangan balik kalau gagal," kata perempuan itu.

Keira tersenyum.

"Kalau berhasil juga saya tidak akan balik, Bu."

Itu pertama kali Bu Wati menamparnya sebagai orang dewasa, bukan anak kecil.

Setelah itu, Surabaya menerimanya dengan cara yang kasar tetapi jujur. Ia mencuci piring di warteg dekat pasar, menjual sayur dari subuh sampai siang, menjaga kios pulsa, lalu akhirnya bekerja di sebuah cafe kecil dekat Tunjungan. Gajinya tidak besar. Kadang telat. Kadang dipotong karena gelas pecah atau pelanggan kabur tanpa bayar. Tapi setidaknya tidak ada yang mengunci lemari makanan.

Di cafe itulah ia bertemu Kevin Salim.

Hari itu hujan turun deras. Seorang pelanggan meninggalkan setengah potong cake cokelat di piring. Keira menunggu sampai meja dibersihkan, lalu diam-diam membungkus sisa cake itu dengan tisu. Ia berniat memakannya di kos, mungkin dengan teh tawar hangat kalau gas kompor tetangga boleh dipinjam.

Manajernya melihat.

"Kamu pikir ini rumahmu? Makanan sisa tamu juga mau dicuri?"

Keira menahan lapar dan malu. Semua mata menoleh. Di pojok ruangan, seorang pria muda berjas abu-abu mengangkat wajah dari laptopnya.

"Kalau sudah dibayar tamu dan mau dibuang, namanya bukan mencuri, Pak," jawab Keira. "Namanya mengurangi sampah."

Beberapa pelayan menahan tawa. Manajer makin merah.

Pria berjas abu-abu itu justru tertawa pelan.

Setelah jam kerja selesai, ia menunggu di luar cafe di bawah payung hitam. Wajahnya tampan dengan cara yang rapi, suaranya hangat, dan jam tangannya terlihat lebih mahal daripada seluruh kos Keira.

"Nama kamu Keira?"

"Iya. Kalau mau komplain, ke manajer saja."

Pria itu tersenyum. "Saya Kevin Salim."

Keira tidak tahu Salim Group sebesar apa saat itu. Yang ia tahu, seminggu kemudian ia bekerja di rumah Kevin sebagai asisten rumah tangga merangkap pembantu pribadi. Pekerjaannya jelas. Gajinya jelas. Makan tiga kali sehari. Kamar kecilnya punya kipas angin sendiri.

Untuk pertama kali, Keira tidur tanpa menyembunyikan roti di bawah bantal.

Kevin baik. Terlalu baik untuk orang seperti dia. Ia tidak pernah menyentuhnya sembarangan, tidak pernah berteriak, tidak pernah memanggilnya anak panti. Jika Keira salah menata jas atau terlambat menyiapkan kopi, Kevin hanya menghela napas dan mengajari ulang.

"Ko Kevin ini orang kaya paling aneh yang pernah saya lihat," kata Keira suatu malam.

Kevin tertawa. "Kenapa?"

"Biasanya orang kaya kalau marah lebih mahal suaranya."

"Marah juga perlu tenaga. Saya lebih suka hemat tenaga."

Keira mengingat percakapan itu dengan senyum yang hampir muncul. Hampir.

Karena sebulan lalu, Kevin membawanya ke Jakarta.

Katanya ada acara kerja sama antara Salim Group dan Hendrawan Group. Keira diminta ikut untuk membantu barang-barang pribadi Kevin. Ia mengenakan blus terbaiknya, yang tetap terlihat murah di antara gaun satin dan setelan jas orang-orang Jakarta.

Di ballroom hotel, lampu kristal menggantung seperti hujan emas. Pelayan membawa gelas tinggi berisi champagne. Keira, yang mengira minuman itu semacam soda mahal, meneguknya terlalu cepat. Gelembungnya naik ke hidung. Ia terbatuk.

Beberapa perempuan bergaun rapi menoleh.

"Dari mana Kevin memungutnya?" bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk didengar.

Keira menurunkan gelas. Pipinya panas. Ia ingin menjawab, tetapi Kevin menyentuh sikunya pelan.

"Abaikan," katanya.

Keira menurut. Namun sebelum menunduk, ia melihat seseorang di sudut ruangan.

Seorang pria berdiri di dekat jendela tinggi. Jas hitam, wajah dingin, tatapan datar. Orang-orang mendekatinya dengan senyum hati-hati, tetapi tidak ada yang berani berdiri terlalu dekat. Matanya sempat bertemu dengan mata Keira.

Hanya sebentar.

Keira langsung merasa seperti sedang dinilai harga dan cacatnya sekaligus.

Tiga hari setelah acara itu, Kevin masuk ke kamarnya dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Ada seseorang yang ingin bertemu kamu."

"Siapa?"

Kevin diam terlalu lama.

"Pak Darren Hendrawan."

Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Keira saat itu, kecuali bahwa semua orang di rumah Kevin mendadak bergerak lebih hati-hati setelah mendengarnya.

"Saya harus ikut?"

Kevin menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang mirip rasa bersalah.

"Dia tidak akan menyakiti kamu."

"Itu bukan jawaban, Ko."

Kevin tidak menjawab lagi.

Sore itu, Keira dibawa melewati gerbang tinggi Menteng compound. Tidak ada penjelasan, tidak ada kontrak kerja baru, tidak ada pilihan. Kevin hanya berdiri di sisi mobil, tangannya mengepal, lalu berkata pelan, "Maaf, Keira."

Sejak hari itu, Keira menjadi gadis yang dibawa Pak Darren.

Bukan tamu resmi. Bukan keluarga. Bukan kekasih. Para pelayan memandangnya seperti noda di lantai marmer. Ia makan di sudut dapur, memakai baju lama dari Surabaya, dan tidur di kamar samping yang mungkin dulunya dipakai pegawai. Jika ia lewat, bisik-bisik selalu mengikuti.

"Anak panti itu."

"Katanya dari rumah Ko Kevin."

"Pak Darren bawa pulang buat apa?"

Keira pura-pura tidak mendengar. Ia sudah ahli dalam hal itu.

Namun malam ini, setelah hampir tenggelam di Kolam Teratai, setelah mendengar suara yang sama dari api dan dari taman, pura-pura tidak cukup lagi.

Keira bangkit dari ranjang. Kepalanya masih berat, tetapi kakinya bisa menapak. Ia berjalan ke cermin tua di dekat lemari.

Pantulan di sana memperlihatkan perempuan muda dengan rambut setengah kering, wajah pucat, dan mata yang terlalu hidup untuk seseorang yang seharusnya hanya pingsan. Di lengan kirinya, bekas pukulan bambu Bu Wati masih tampak. Di dekat leher, ada bekas luka tipis dari cipratan minyak panas saat ia bekerja di dapur cafe.

Ia mengeluarkan Liontin Giok dari saku bajunya.

Benda itu adalah satu-satunya miliknya di tempat ini. Bahkan kamar ini bukan miliknya. Bahkan nasibnya belum tentu miliknya.

Keira menutup jari di atas giok dingin itu.

Di luar sana, orang-orang boleh menyebutnya anak panti. Boleh menebak-nebak kenapa Pak Darren membawanya. Boleh menunggu ia malu lalu pergi sendiri.

Tapi ada nasi di rumah ini. Ada atap. Ada jawaban yang belum ia temukan.

Dan Keira sudah terlalu lama hidup dari sisa orang lain untuk menolak kesempatan hanya karena harga dirinya terluka.

Ia menatap cermin, lalu berkata pada perempuan pucat di dalamnya, "Tidak peduli bagaimana caranya, aku harus tetap di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!