Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Senjata di Tangan
Sekar memilih bertemu Wira di tempat yang sama sekali tidak romantis: area parkir belakang sebuah minimarket.
Tempat itu terang, ramai, dan terlalu biasa untuk percakapan tentang pemerasan. Justru karena itu ia memilihnya. Wira tidak bisa terlalu dekat tanpa terlihat kamera. Ia juga tidak bisa terlalu keras tanpa menarik perhatian ibu-ibu yang keluar membawa kantong belanja.
Kali ini, Sekar datang tanpa sopir keluarga Liem.
Hans mengatur mobil aplikasi dengan nama berbeda, lalu hanya mengirim satu pesan.
Jangan masuk mobil yang tidak sesuai pelat.
Itu bentuk perhatian paling dingin yang pernah Sekar terima.
Wira sudah menunggu di dekat mesin ATM. Ia tampak kesal ketika melihat Sekar datang sendirian, tanpa tas besar, tanpa tanda-tanda membawa uang.
"Aku harap kamu tidak datang cuma untuk membuang waktuku."
Sekar berhenti dua langkah darinya. "Saya datang untuk mengubah kesepakatan."
Wira tertawa pendek. "Kamu tidak dalam posisi mengubah apa pun."
Sekar membuka amplop kecil dan mengeluarkan satu lembar foto. Bukan semua bukti. Renard sudah memperingatkan: jangan menunjukkan seluruh senjata pada tembakan pertama.
Foto itu memperlihatkan Wira di depan ATM.
Senyum Wira hilang.
"Dari mana kamu dapat itu?"
"Pertanyaan yang salah." Sekar menjaga suaranya tetap rendah. "Pertanyaan yang benar adalah, berapa banyak salinan yang saya punya."
Wira menatapnya dengan mata menyipit. "Kamu minta bantuan Renard."
"Saya belajar dari Anda. Bukti harus punya cadangan."
"Jangan main-main denganku."
"Saya tidak sedang main-main." Sekar mengeluarkan kertas kedua, daftar nama korban yang sebagian ditutup tinta hitam. "Orang-orang ini mungkin tidak berani bicara dulu. Tapi jika satu orang mulai, yang lain bisa ikut. Anda tahu sendiri, kan? Rasa takut bisa menular. Begitu juga keberanian."
Wira meraih kertas itu, tetapi Sekar menariknya kembali.
"Tidak."
Tangannya gemetar sedikit, tetapi kali ini ia tidak menyembunyikannya. Biarkan Wira melihat ia takut. Orang takut pun bisa menggigit.
"Kesepakatan baru," kata Sekar. "Anda tidak menghubungi saya selama satu bulan. Anda tidak mendekati Kediaman Liem. Anda tidak menyebut nama Celine, Lilian, atau keluarga saya. Kalau Anda melanggar, satu berkas tentang Anda akan keluar."
Wira menatapnya lama.
Di belakang mereka, seorang anak kecil merengek minta es krim. Pintu minimarket berbunyi setiap kali terbuka. Dunia tetap berjalan dengan murah dan terang, sementara dua orang saling menodong dengan rahasia.
"Kamu tidak berani," kata Wira.
Sekar membuka ponsel dan menunjukkan layar tanpa menyerahkannya. Di sana ada pesan terjadwal yang sudah ia siapkan dengan bantuan instruksi Hans, hanya berisi satu lampiran dan satu alamat surel. Ia belum tahu apakah ia benar-benar berani menekan kirim. Tetapi Wira tidak perlu tahu itu.
"Saya juga berharap tidak perlu berani."
Untuk pertama kalinya, Wira melihat ponsel itu, bukan wajahnya. Keserakahan di matanya bercampur dengan perhitungan. Ia mulai paham bahwa perempuan di depannya tidak lagi datang hanya membawa ketakutan.
"Kamu pikir kamu sudah jadi orang besar?" Wira bertanya.
"Tidak." Sekar memasukkan kembali foto itu. "Saya hanya tidak mau mati sendirian kalau Anda menyeret saya jatuh."
Wira mengumpat pelan.
Tetapi ia mundur.
Sedikit saja, namun cukup untuk membuat Sekar tahu amplop di tangannya bukan kertas kosong.
"Satu bulan," katanya. "Setelah itu, aku mau uang."
"Kita bicara lagi kalau waktunya datang."
"Kamu berubah, Nona Felicia."
Sekar menatapnya. "Mungkin karena terlalu banyak orang mencoba mengubah saya menjadi sesuatu yang bisa mereka pakai."
Ia pergi lebih dulu.
Baru setelah berbelok ke sisi jalan yang lebih sepi, lututnya hampir lemas. Ia berhenti di depan toko roti kecil, berpura-pura melihat etalase. Di kaca, wajahnya pucat tetapi matanya hidup.
Ia berhasil.
Belum menang.
Tapi berhasil membuat Wira mundur.
"Kamu baik-baik saja?"
Suara itu membuatnya menoleh cepat.
Elvin Ong berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja biru muda tanpa jas. Tidak ada rombongan. Tidak ada asisten. Di tangannya ada kantong kertas dari toko roti yang sama, seolah ia benar-benar hanya kebetulan lewat.
Terlalu kebetulan.
Sekar menggenggam amplop di dalam tas. "Pak Elvin."
"Elvin saja," katanya, masih dengan nada lembut yang sama. "Tapi kamu sepertinya lebih nyaman menjaga pagar."
"Pagar membuat orang tahu batas."
"Benar." Ia tidak mendekat. "Aku tidak akan melewatinya."
Sikap itu justru membuat Sekar tidak tahu harus menaruh kecurigaannya di mana. Renard akan mendekat jika ingin menguasai ruangan. Wira akan mendekat untuk menekan. Kevin mendekat hanya untuk menyalahkan. Elvin tetap di tempatnya dan membiarkan Sekar memilih apakah ia mau bicara.
"Pak Elvin kebetulan lewat?"
"Tidak sepenuhnya."
Sekar menegang.
Elvin mengangkat kantong roti sedikit. "Aku memang membeli ini. Tapi aku juga melihatmu dari seberang jalan. Kamu tampak seperti baru keluar dari pertempuran kecil."
"Saya tidak butuh bantuan."
"Aku tahu. Kalau kamu butuh, kamu mungkin tidak akan mengatakannya."
Kalimat itu terlalu tepat. Sekar memalingkan wajah.
"Tentang ayahku," katanya akhirnya, sebelum keberanian hilang. "Anda bilang ada hal yang seharusnya saya tahu."
Wajah Elvin berubah lebih serius. "Ada. Tapi bukan di pinggir jalan."
"Kenapa semua orang selalu berkata seperti itu? Renard juga tahu sesuatu. Anda juga. Semua orang tahu, kecuali saya."
Elvin menatapnya dengan kesedihan yang tidak dibuat-buat. "Karena kebenaran tentang Ardy Sie melibatkan orang-orang yang masih punya kuasa untuk menyakiti orang hidup."
Nama ayahnya diucapkan lengkap. Bukan sekadar ayahmu. Bukan orang itu. Ardy Sie.
Sekar merasakan dadanya nyeri.
"Kalau begitu, beri tahu saya siapa yang harus saya takutkan."
Elvin diam beberapa detik.
Lalu ia berkata, "Belum. Kalau aku memberitahumu sekarang, kamu akan pulang dengan wajah yang tidak bisa kamu sembunyikan dari Renard."
Sekar membeku. "Apa hubungannya Renard?"
Elvin melihat ke arah jalan, tempat mobil-mobil lewat seperti sungai lampu.
"Lebih banyak daripada yang siap kamu dengar hari ini."
Sekar merasa roti hangat di tangan Elvin, jalan yang ramai, bahkan cahaya toko berubah jauh. "Anda sedang menakut-nakuti saya?"
"Tidak." Elvin kembali menatapnya. "Kalau aku ingin menakutimu, aku akan menyebut nama orang yang membuat ayahmu kehilangan segalanya. Aku belum akan melakukan itu."
"Ada hal tentang ayahmu yang seharusnya kamu tahu," katanya pelan. "Tapi ini bukan tempat yang tepat."
Ia meletakkan kantong roti kecil di bangku dekat etalase.
"Makanlah kalau kepalamu pusing. Gula membantu setelah ketakutan."
Lalu ia pergi.
Sekar tidak menyentuh kantong roti itu sampai Elvin menghilang di tikungan. Ketika akhirnya ia mengambilnya, aroma roti manis yang hangat keluar dari celah kertas.
Bantuan tanpa syarat.
Atau syarat tersembunyi yang belum ia lihat.
Sekar tidak tahu mana yang lebih berbahaya.