NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.

Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.

Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.

Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.

Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !

Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.

baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Tuntutan Rumah Sakit

...Jari-jari Rania bergerak secepat kekuatan mesin di atas papan ketik komputer. ...

...Fokusnya tidak boleh pecah walau hanya satu detik. ...

...Jam dinding di ruang sekretaris luar menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit pagi. ...

...Lima belas menit lagi sebelum tenggat waktu kejam yang diberikan oleh sang iblis habis....

... Di sekelilingnya, suasana terasa sunyi. ...

...Karyawan lain sengaja menjaga jarak dari meja Rania, seolah-olah ketidakberuntungan gadis itu adalah penyakit menular yang harus dihindari....

...Dengan keringat dingin yang membasahi pelipis di balik rambut cepol acaknya, Rania melakukan pengecekan terakhir. ...

...Angka demi angka, grafik demi grafik, hingga analisis risiko yang ia bedah ulang dari awal....

... Begitu jarum jam menyentuh angka dua belas tepat, Rania menekan tombol print, menjilid dokumen baru itu dengan tangan gemetar, lalu melangkah masuk ke ruangan Arkan dengan kepala tertunduk....

...Proses penyerahan draf kali ini tidak disertai dengan dokumen yang melayang di udara....

... Arkan hanya memeriksa lembar demi lembar dengan keheningan selama sepuluh menit, sebelum akhirnya mengibaskan tangan, sebuah isyarat mengusir yang berarti dokumen itu "cukup lolos standar minimal" untuk tidak membuatnya dipecat hari ini....

...Rania keluar dengan sisa tenaga yang nyaris habis. ...

...Namun, neraka siang hari di Arkananta Group barulah awal dari ujian hidupnya yang sesungguhnya....

...Sore hari tiba dengan langit Jakarta yang mulai berubah mendung, tertutup polusi dan awan mendung tipis. ...

...Pukul lima sore, sebagian besar karyawan sudah mulai merapikan meja kerja mereka, bersiap untuk pulang atau sekadar bersantai di kedai kopi bawah gedung....

... Rania masih terduduk di ruangan kecilnya, menatap nanar ke arah layar monitor yang menampilkan sisa pekerjaan administratif yang tidak ada habisnya....

...Tepat saat ia hendak meraih botol minumnya, ponsel usang di atas meja bergetar hebat....

... Layar kaca yang retak itu menampilkan sebuah nomor rumah sakit yang sudah sangat ia hafal luar kepala....

...Jantung Rania mendadak mencelos....

... Setiap kali nomor ini muncul, dadanya selalu dihantam rasa cemas yang luar biasa. ...

...Dengan tangan yang mendadak dingin, ia mengangkat panggilan itu dan menempelkannya ke telinga....

..."Halo, selamat sore. Benar dengan Mbak Rania Adisti, putri dari Ibu Kartika?" suara seorang wanita di seberang sana terdengar sangat formal, tanpa nada ramah yang tulus. ...

...Suara khas bagian administrasi keuangan rumah sakit....

..."I-iya, benar. Saya Rania. Ada apa dengan ibu saya, Sus? Apakah kondisinya memburuk?" Rania langsung mencecar dengan suara bergetar, mengabaikan tatapan sinis dari salah satu staf senior yang berjalan melewati ruangannya....

..."Kondisi medis Ibu Kartika saat ini masih dipantau ketat di ruang perawatan intermediate, Mbak. Namun, dokter spesialis jantung yang menangani beliau baru saja mengeluarkan rekomendasi untuk tindakan medis lanjutan. Katup jantung Ibu Kartika mengalami penyempitan yang semakin parah, dan beliau harus segera menjalani operasi pemasangan ring minggu depan untuk mencegah gagal jantung mendadak."...

...Napas Rania tercekat. ...

...Dunianya seolah berputar. "O-operasi lagi? Tapi Sus, bulan lalu ibu baru saja menjalani prosedur..."...

..."Benar, Mbak Rania. Dan itu membawa kita ke poin berikutnya," suara petugas administrasi itu beralih menjadi lebih dingin dan tegas....

... "Kami dari bagian keuangan ingin mengingatkan bahwa batas waktu penangguhan biaya pengobatan Ibu Kartika sudah lewat tiga hari. Saat ini, akumulasi utang pengobatan ibunya yang belum dibayarkan termasuk biaya rawat inap, obat-obatan dosis tinggi, dan sewa alat bantu napas, sudah mencapai seratus delapan puluh lima juta rupiah."...

...Angka itu menghantam kepala Rania begitu keras. ...

...Seratus delapan puluh lima juta? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?...

..."Dan untuk tindakan operasi ring minggu depan," lanjut petugas itu tanpa memedulikan keheningan Rania yang penuh keputusasaan....

..."pihak rumah sakit mewajibkan adanya uang muka minimal sebesar lima puluh persen dari estimasi biaya operasi, yaitu sekitar tujuh puluh lima juta rupiah, yang harus disetorkan paling lambat tiga hari sebelum tindakan. Jika tidak ada pembayaran atau iktikad baik untuk mencicil sisa utang yang menumpuk, dengan berat hati kami harus meminta Mbak Rania untuk merujuk Ibu Kartika ke rumah sakit daerah atau menghentikan fasilitas obat-obatan non-BPJS yang saat ini menyokong hidup beliau."...

..."Jangan! Tolong jangan dihentikan, Sus!" Rania memohon, suaranya naik satu oktav karena panik, membuat beberapa orang di lantai itu menoleh ke arahnya. ...

...Rania segera menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak pias. ...

..."Saya... saya pasti akan bayar. Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi. Saya mohon jangan putus obat Ibu."...

..."Kami hanya menjalankan regulasi rumah sakit, Mbak Rania. Batas akhir pencairan uang muka dan cicilan utang adalah hari Jumat ini pukul empat sore. Jika tidak ada dana yang masuk sistem, pihak manajemen akan mengambil tindakan tegas. Selamat sore."...

...Tut... ...

...Tut......

... Tut......

...Sambungan terputus. ...

...Rania perlahan menurunkan ponselnya. Tangannya bergetar begitu hebat hingga ponsel itu nyaris merosot dari genggamannya. ...

...Dada gadis itu naik-turun secara tidak teratur, menahan rasa keputusasaan yang siap meluluhlantakkan hidupnya....

...Rania menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menatap langit-langit biliknya dengan pandangan kosong....

... Air mata yang sejak pagi ia tahan mati-matian, kini merebak keluar, membasahi pipinya dan mengaburkan pandangan di balik lensa kacamata bulat besarnya. ...

...Ia melepas kacamata itu dengan kasar, mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang terasa dingin....

...Ia merasa begitu kecil, begitu tidak berdaya. ...

...Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini setelah ayahnya tiada. ...

...Saat ibunya didiagnosis menderita penyakit jantung parah setahun lalu, Rania bersumpah akan melakukan apa saja agar ibunya tetap hidup. ...

...Namun, kenyataan finansial menamparnya tanpa ampun....

...Rania membuka tabungan mobile banking di ponselnya....

... Angka yang tertera di sana tampak seperti sebuah lelucon yang kejam....

...Rp1.250.000....

... Itu adalah sisa uang makannya untuk bulan ini. ...

...Sebagai sekretaris magang di Arkananta Group, gaji yang ia terima setiap bulan tidak lebih dari uang saku transportasi dan makan siang standar....

... Di perusahaan raksasa ini, status magang berada di kasta paling bawah. ...

...Jangankan untuk membayar utang ratusan juta, untuk membeli satu botol parfum murah yang dipakai staf senior saja Rania harus berpikir tiga kali....

..."Gaji magang sialan ini tidak akan pernah cukup bahkan untuk membayar biaya sewa kamarnya semalam," bisik Rania dengan tawa getir yang terdengar menyedihkan di keheningan sudut biliknya....

...Ia menatap ke arah pintu ruangan Arkananta yang tertutup rapat di ujung lorong....

... Di dalam sana, ada pria yang menguangkan jutaan dolar setiap harinya hanya dengan satu tanda tangan. ...

...Pria yang membuang-buang ratusan ribu rupiah untuk biji kopi yang dianggapnya "meleset dua derajat". ...

...Sementara di sini, Rania harus mengemis waktu demi beberapa hari nyawa ibunya disokong oleh mesin rumah sakit....

...Rasa terdesak yang teramat sangat mulai menggerogoti akal sehatnya. ...

...Waktu berjalan mundur. ...

...Hari ini sudah hari Rabu, yang berarti ia hanya memiliki sisa waktu kurang dari empat puluh delapan jam untuk mengumpulkan uang puluhan juta rupiah sebagai jaminan operasi ibunya. ...

...Meminjam ke bank? Mustahil, slip gajinya sebagai anak magang akan langsung dilempar ke tempat sampah oleh pihak analis kredit....

... Meminta bantuan saudara?...

... Mereka semua sudah menjauh sejak ibunya jatuh sakit dan mulai meminjam uang dalam jumlah besar....

...Putus asa. Sedih yang mendalam. ...

...Terdesak hingga ke tepian jurang. ...

...Tiga emosi itu bercampur menjadi satu, meremas ulu hati Rania hingga ia merasa sulit untuk sekadar bernapas dengan benar....

...Namun, di dalam palung keputusasaannya, sekelebat bayangan tentang malam hari mendadak muncul. ...

...Rania memakai kembali kacamata bulatnya, mengeringkan sisa air mata di pipinya dengan tisu, dan menatap pantulan dirinya di layar komputer yang sudah mati....

...Ia mengingat lemari rahasia di kamar kosnya yang sempit....

... Kostum pelayan dengan renda hitam-putih, wig rambut panjang bergelombang, dan lensa kontak abu-abu yang tersimpan rapi di sana....

...Di tempat itu, di Dark Moon Maid Cafe, ia bukan lagi Rania yang menyedihkan, yang bisa diinjak-injak harganya oleh siapapun. ...

...Di sana, ia adalah "Milky", aset berharga yang bisa menghasilkan uang berkali-kali lipat dalam satu malam lewat senyuman dan pelayanan imut....

...Rania menegakkan punggungnya. ...

...Tatapan matanya yang tadinya sayu dan penuh air mata perlahan berubah menjadi tajam dan penuh tekad yang nekat....

..."Aku tidak boleh menyerah," bisik Rania pada dirinya sendiri, meremas jemarinya hingga memutih. ...

..."Kalau siang hari di tempat ini tidak bisa menyelamatkan Ibu, maka aku akan menjual malamku di tempat lain. Apa pun taruhannya. Apa pun risikonya."...

...Rania melirik jam tangan murahnya yang menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit sore....

... Ia harus segera menyelesaikan sisa pekerjaannya, lalu berlari sekencang mungkin menembus jalanan Jakarta....

...Kehidupan ganda yang ekstrem itu harus ia jalani malam ini dengan taruhan yang jauh lebih besar, yaitu nyawa ibunya sendiri....

...***...

...***...

1
Watini Salma
kalau sekarang MLM Minggu berarti besok kantor libur dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!