Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL3
Suatu sore, hampir tiga minggu setelah percakapan itu, Hannah akhirnya kembali mengajak Romi berbicara.
Mereka baru saja selesai makan malam. Piring-piring masih tergeletak di atas meja ketika Hannah menyerahkan sebuah map bening kepada suaminya.
"Apa ini?"
"Jadwal pemeriksaan."
Romi membukanya pelan.
Beberapa lembar hasil konsultasi dokter terselip di dalamnya, lengkap dengan tanggal pemeriksaan yang sudah ditentukan.
"Aku sudah buat janjinya."
Romi mengangkat wajah.
"Kamu sudah daftar?" tanya Romi.
Hannah mengangguk pelan. "Iya."
"Kok nggak bilang dulu?"
"Aku takut kalau aku bilang dulu... akhirnya nggak jadi lagi."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Romi menurunkan kembali map yang ada di tangannya. Tatapannya berhenti cukup lama pada nama rumah sakit yang tercetak di bagian atas kertas.
"Aku belum siap, Na."
Hannah mengembuskan napas pelan.
"Aku tahu."
"Kamu tahu tapi—
"Tapi aku juga nggak bisa terus-terusan begini, Mas."
Romi mengusap wajahnya perlahan.
Ia bukan tidak peduli. Bukan pula tidak ingin memiliki anak. Justru karena ia sangat menginginkannya, ia takut menghadapi kemungkinan yang selama ini selalu ia hindari. Selama dua tahun terakhir, setiap hasil pemeriksaan Hannah selalu baik. Tidak ada masalah. Semuanya normal. Dan entah sejak kapan, keyakinan itu berubah menjadi tempat persembunyian paling nyaman baginya.
Selama Hannah dinyatakan sehat… berarti dia tidak perlu ikut diperiksa.
Pikiran itu memang tidak pernah benar-benar ia akui, bahkan kepada dirinya sendiri. Namun malam itu, ketika Hannah kembali mengajaknya menjalani pemeriksaan bersama, rasa takut yang selama ini ia tekan perlahan mulai muncul ke permukaan.
"Mas."
Suara Hannah memecah keheningan.
"Aku nggak sedang nyari siapa yang salah."
Romi menatap istrinya.
"Aku cuma pengin kita sama-sama berjuang."
Kalimat itu membuat dada Romi terasa sesak. Ia tahu Hannah berkata jujur. Tidak ada tuduhan dalam nada bicaranya. Tidak ada kemarahan. Justru karena itulah ia semakin merasa bersalah.
"Aku minta waktu."
"Lagi?"
Nada itu keluar begitu pelan, namun cukup membuat keduanya sama-sama terdiam.
Hannah buru-buru menundukkan kepala.
"Maaf. Aku nggak bermaksud maksa."
Romi menggeleng.
"Bukan. Aku yang belum berani."
Hening kembali mengambil tempat di antara mereka. Tidak ada suara selain detik jam yang terus bergerak di dinding ruang makan. Beberapa saat kemudian, Hannah meraih kembali map bening itu. Ia memasukkannya perlahan ke dalam tas tanpa berkata apa-apa lagi.
Gerakan tangannya terlihat biasa. Tetapi justru itulah yang membuat hati Romi terasa semakin berat. Untuk pertama kalinya, ia melihat istrinya berhenti membujuk. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi alasan-alasan yang biasanya selalu Hannah ucapkan agar ia mau berubah pikiran.
Perempuan itu hanya diam.
Dan entah kenapa, diam Hannah malam itu terasa jauh lebih menakutkan daripada tangisnya.
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Hannah masih menyambut Romi setiap sore ketika pria itu pulang bekerja. Masih menanyakan apakah suaminya sudah makan siang. Masih mengingatkan untuk membawa payung saat cuaca mendung. Masih tersenyum.
Namun Romi mulai menyadari sesuatu. Senyum itu tidak lagi sampai ke mata Hannah. Perempuan itu tetap menjalankan semua perannya sebagai seorang istri. Tetapi perlahan, ia berhenti membicarakan masa depan. Tidak ada lagi obrolan tentang nama anak. Tidak ada lagi candaan tentang kamar bayi. Tidak ada lagi video-video lucu yang dulu sering Hannah kirimkan saat jam istirahat kerja. Seolah tanpa mereka sadari, satu demi satu impian kecil yang dulu mereka bangun bersama mulai menghilang dari percakapan sehari-hari.
Dan yang paling menyakitkan... tidak satu pun dari mereka benar-benar tahu bagaimana cara mengembalikannya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐