ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Pagi menyingsing dengan udara yang masih terasa kaku dan dingin, sama seperti suasana di antara mereka berdua. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada tanya kabar. Gyantara sudah siap dengan setelan kerjanya, berjalan cepat menuju ruang makan tanpa menoleh ke arah Adelia yang duduk diam di sudut meja. Makanan di piringnya hampir tak tersentuh; matanya sembab, dan wajahnya masih tampak lesu menyimpan sisa tangisan semalam.
Gyantara melirik sekilas, ingin sekali bertanya apakah pipinya masih sakit, tapi gengsi dan kekecewaan semalam menahan kata-kata itu di tenggorokan. Ia hanya menyesap kopinya dengan cepat, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Hari ini ada rapat penting pembahasan proyek pengembangan lahan di daerah pinggiran kota yang tertunda sejak lama, dan ia harus segera menyiapkan berkas-berkasnya.
Namun nasib seolah ingin terus mempertemukan mereka. Saat Gyantara membuka tas kerjanya di meja ruang kerja, ia menyadari satu hal penting: map berisi analisis risiko dan perhitungan anggaran yang baru disusun minggu lalu tertinggal di meja samping tempat tidur. Dengan napas berat, ia berjalan kembali ke kamar, berharap Adelia belum pergi dari sana.
Ia mendorong pintu perlahan, dan langkahnya terhenti seketika. Adelia sedang duduk di meja belajar kecil di sudut kamar, berkas-berkas yang berantakan di atasnya adalah catatan lama milik Adelin yang entah kenapa tersimpan di sana—berisi angka-angka semrawut, perkiraan yang tidak masuk akal, dan coretan tanda tanya di mana-mana. Alih-alih hanya melihat-lihat, Adelia sedang memegang pensil, menggarisbawahi bagian-bagian tertentu, dan menulis rumus serta perhitungan baru di pinggir kertas dengan gerakan yang sangat terlatih.
Ia begitu fokus hingga tidak menyadari kehadiran Gyantara. Alisnya berkerut halus, bibirnya bergerak pelan seolah menghitung dalam hati, lalu sesekali ia mengangguk puas setelah menemukan jawaban yang pas.
"Kamu sedang apa?" tanya Gyantara akhirnya, suaranya masih datar namun sudah tidak setajam semalam.
Adelia tersentak kaget, lalu segera menutup berkas itu dengan canggung. "Maaf... aku tidak bermaksud mengambil berkasmu. Aku hanya melihat angka-angkanya berantakan, jadi aku mencoba merapikannya sedikit. Kalau mengganggu, aku simpan kembali sekarang."
Gyantara mendekat, lalu mengambil lembaran yang baru saja ditulis Adelia. Sekilas pandang, matanya membelalak. Ia melihat perhitungan yang sangat teliti, rincian biaya yang dihitung hingga hitungan terkecil, serta catatan mengenai potensi kerugian yang tidak terpikirkan oleh tim perencanaannya. Bahkan Adelia menambahkan saran untuk mengurangi biaya pembangunan tanpa mengurangi kualitas, dengan memanfaatkan bahan lokal yang lebih murah namun kokoh.
"Siapa yang mengajarkanmu hal ini?" tanyanya tiba-tiba, matanya menatap tajam namun penuh rasa ingin tahu. "Selama lima tahun aku mengenal Adelin, dia bahkan tidak mau mendengar kata 'anggaran' atau 'risiko'. Dia pernah bilang bahwa berurusan dengan angka itu membosankan dan membuat pusing kepala. Dia lebih suka membiarkan orang lain yang mengurus semuanya."
Adelia menunduk, memainkan ujung jarinya. "Aku... dulu di rumah, ayahku sering kesulitan mengurus keuangan keluarga. Aku sering melihatnya bingung menghitung utang dan pengeluaran. Jadi aku belajar sendiri dari buku-buku lama di perpustakaan umum. Aku ingin bisa membantunya, tapi ternyata tidak pernah berguna."
Suaranya terdengar sedih, tapi tidak ada rasa rendah diri. Gyantara terkesima. Ia melihat tulisan tangan yang rapi, logika yang tajam, dan pandangan yang jauh ke depan—hal yang sangat jarang dimiliki orang, apalagi seseorang yang diduga hanya tahu hidup mewah.
"Kamu tulis ini semua sendiri?" tanyanya lagi sambil menunjuk lembaran berisi skema penghematan yang cerdas.
"Iya. Menurutku, kalau kita membeli bahan bangunan dari pengrajin lokal di sana, biaya transportasi bisa berkurang sepertiga, dan kita juga membantu ekonomi warga setempat. Tapi harus dipastikan kualitasnya diuji dulu," jelas Adelia perlahan, berani mengangkat wajah sedikit menatap mata Gyantara.
Penjelasannya begitu jelas, masuk akal, dan bijaksana. Gyantara tertegun lama. Ia menyadari bahwa di hadapannya berdiri seseorang yang jauh lebih cerdas, lebih teliti, dan lebih berhati daripada wanita yang dulu ia kenal. Namun kehebatan ini justru menambah beban di hatinya—perbedaan antara keduanya terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja.
"Kamu luar biasa," ucap Gyantara pelan, jujur tanpa disangka. "Analisismu bahkan lebih baik dari konsultan yang kubayar mahal. Kenapa kamu tidak pernah bilang soal kemampuanmu ini sebelumnya?"
Adelia tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. "Karena tidak ada yang pernah bertanya. Dan tidak ada yang mengizinkanku belajar lebih jauh. Kakakku yang mendapat hak sekolah tinggi, aku hanya boleh membantu pekerjaan rumah."
Kalimat itu seperti palu yang menghantam kesadaran Gyantara. Ia teringat sikap orang tua Adelin yang selalu membandingkan mereka berdua, cara mereka memuji Adelin dan menundukkan yang lain. Kini ia paham dari mana ketulusan dan kehati-hatian wanita ini berasal. Ia tumbuh dengan berjuang diam-diam, menimba ilmu sendiri di tengah keterbatasan, dan tetap berhati lembut meski sering diperlakukan tidak adil.
"Maafkan aku," kata Gyantara tiba-tiba, suaranya melembut sepenuhnya. "Maafkan aku karena semalam marah tanpa tahu apa yang sedang kamu rasakan. Dan maafkan aku karena selama ini hanya melihat apa yang terlihat di luar saja."
Adelia menatapnya kaget, matanya berkaca-kaca. "Kamu tidak perlu minta maaf. Aku juga salah karena menutup diri dan tidak mau bicara."
Mereka berdua terdiam sejenak, jarak dingin di antara mereka perlahan mencair. Gyantara menyadari bahwa pertengkaran semalam bukan sekadar kesalahpahaman biasa, melainkan benturan antara keinginannya untuk melindungi dan ketakutan Adelia untuk dipercaya.
"Bersiaplah," kata Gyantara akhirnya sambil merangkul bahu Adelia perlahan. Kali ini gadis itu tidak menolak, justru membiarkan dirinya bersandar ringan. "Ikut aku ke kantor hari ini. Aku ingin kamu ikut rapat. Aku ingin mereka mendengar pendapatmu. Bakatmu tidak boleh disembunyikan seperti ini."
"Tapi aku tidak pantas..."
"Kamu pantas lebih dari siapa pun," potong Gyantara tegas namun lembut. "Kamu istriku, dan pendapatmu adalah pendapatku juga."
Siang itu di ruang rapat perusahaan, semua orang tertegun. Saat Adelia menyampaikan pandangannya dengan tenang, lugas, dan penuh perhitungan cermat, tak ada satu pun yang menyela. Bahkan Rama yang sudah sangat mengenal kemampuan majikannya pun mengangguk kagum.
"Masukan Nona Adelin sangat tepat," ujar salah satu direktur setelah rapat selesai. "Ini mengubah seluruh rencana kami menjadi jauh lebih baik dan menguntungkan."
Gyantara tersenyum bangga sambil menatap Adelia yang tampak malu namun bahagia. Ia tahu, di balik segala rahasia dan perbedaan yang ada, ia sedang melihat sisi paling berharga dari wanita di sampingnya. Ia mungkin belum tahu siapa dia sepenuhnya, tapi ia tahu satu hal: kecerdasan dan ketulusan ini adalah hal yang nyata, dan tidak ada yang bisa menyangkalnya.
Meskipun hati masih menyimpan tanda tanya besar, hari itu Gyantara belajar satu hal penting: semakin ia mengenal wanita ini, semakin ia tak ingin melepaskannya. Dan rahasia apa pun yang disembunyikannya, ia berjanji akan menemukannya dengan cara yang tidak menyakiti hati gadis itu.