Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Pelatih Ayu
Raka tidak langsung masuk kembali ke ruang belajar.
Ia berdiri di depan meja dengan kertas hasil tryout di tangan, seperti angka di sana baru saja menamparnya di depan banyak orang. Padahal yang melihat hanya Ayu, Nenek Sari yang mengintip dari dapur, dan Datuk Harun yang pura-pura membaca koran lama.
"Kak Raka," kata Ayu pelan.
"Saya tahu ini baru tryout pertama."
"Bagus kalau tahu."
"Tapi kalau jaraknya sejauh ini, saya tidak yakin bisa mengejar."
Ayu mengambil kertas itu, melipatnya, lalu meletakkannya di meja. "Kalau Kak Raka terus menatap nilai, nilainya tidak naik."
Raka menatapnya.
"Kita lihat kesalahan, bukan rasa malu," lanjut Ayu.
"Kita?"
"Pelatih tidak boleh meninggalkan murid setelah tryout pertama."
Raka tertawa kecil, tapi wajahnya masih pucat. "Muridnya sudah tua."
"Muridnya tinggi, bukan tua."
Nenek Sari muncul membawa piring berisi pisang goreng. "Murid tinggi makan dulu."
Dalam dua hari, ruang belajar berubah menjadi medan latihan kecil.
Ayu membeli timer meja berwarna putih, sticky notes, dan map transparan. Raka mengumpulkan soal-soal TIU dari beberapa sumber, lalu Ayu memaksa semuanya dipisah berdasarkan jenis kesalahan. Deret angka. Silogisme. Perbandingan kuantitatif. Analogi kata. Soal cerita.
"Kalau semua salah dicampur, kepala Kak Raka cuma ingat panik," kata Ayu.
"Mbak Ayu terdengar seperti pernah ikut CPNS."
"Tidak. Tapi saya pernah memimpin dapur hotel saat tamu VIP datang bersamaan dengan buffet habis. Prinsipnya sama."
"CPNS sama dengan buffet?"
"Sama-sama kacau kalau tidak ada sistem."
Raka tidak bisa membantah.
Mereka membuat ritual baru. Pagi setelah Raka menulis, ia mengerjakan tiga puluh soal TIU dengan timer. Ayu tidak duduk di sampingnya, karena ia tahu keberadaannya membuat Raka terlalu sadar diri. Ia hanya meletakkan segelas air dan sepiring buah di meja, lalu pergi ke restoran.
Setelah selesai, Raka menandai soal salah. Malamnya, setelah restoran tutup, mereka membahas sepuluh soal paling menyebalkan. Kadang Ayu benar-benar tidak paham soalnya, tapi justru itu membantu. Raka harus menjelaskan dari awal, dan saat menjelaskan, ia sering menemukan sendiri bagian yang membuatnya keliru.
"Jadi masalahnya bukan saya tidak bisa," kata Raka pada malam keempat.
"Masalahnya?"
"Saya panik saat timer jalan."
"Berarti besok timer lebih sering."
Raka menatapnya dengan ngeri. "Pelatih Ayu kejam."
"Pelatih Ayu ingin muridnya lolos."
Kalimat itu membuat Raka diam.
Ayu baru sadar nada suaranya terlalu sungguh-sungguh. Ia menunduk, pura-pura mencoret catatan.
Di luar ruang belajar, kehidupan tetap berjalan. Restoran menerima pesanan baralek untuk tiga ratus porsi. Ayu harus mengatur belanja daging, cabai, santan, dan tenaga tambahan. TikTok tetap ramai. Tamu homestay datang dan pergi. Nenek Sari beberapa kali ingin meminta Raka mengangkat barang, tapi berhenti sendiri ketika melihat pintu ruang belajar tertutup.
"Biarkan dia belajar," kata Nenek suatu sore, padahal ia sendiri yang biasanya paling cepat memanggil.
Datuk Harun mengangguk. "Nanti kalau lolos, yang bangga juga kamu."
"Memang."
Ayu mendengar itu dari dapur dan tersenyum.
Raka mulai menjadi bagian dari kebanggaan rumah ini bahkan sebelum hasil apa pun keluar.
Pada malam ketujuh latihan, hujan turun deras. Restoran tutup lebih cepat karena tamu terakhir memilih pulang sebelum jalan semakin licin. Ayu naik ke ruang belajar membawa teh panas dan menemukan Raka tertidur di meja.
Laptop masih menyala. Buku soal terbuka. Di kertas kosong, ada deret angka yang belum selesai. Kacamata Raka sedikit miring. Satu tangannya masih memegang pulpen.
Ayu berhenti di pintu.
Ia seharusnya membangunkannya. Punggung Raka pasti sakit kalau tidur begitu. Tapi wajah laki-laki itu terlihat terlalu lelah. Ada lingkar tipis di bawah matanya. Selama seminggu, ia menulis pagi, belajar siang, membantu sedikit saat sore, lalu review malam. Ia tidak pernah mengeluh.
Pelan-pelan, Ayu masuk. Ia meletakkan teh di meja samping, mengambil pulpen dari tangan Raka, lalu menutup buku yang paling dekat dengan siku agar tidak kusut. Raka bergerak sedikit, tapi tidak bangun.
Ayu mengambil selimut tipis dari kursi dan meletakkannya di bahu Raka.
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri," bisiknya, sangat pelan.
Raka membuka mata.
Ayu membeku.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut biasa. Raka masih setengah sadar, suaranya serak ketika berkata, "Mbak Ayu?"
"Maaf. Aku cuma..." Ayu hampir mundur. "Kak Raka ketiduran."
Raka menatap selimut di bahunya. Kesadaran masuk perlahan ke wajahnya, bersama warna merah tipis di telinganya.
"Terima kasih."
"Tidur di kamar. Besok lanjut."
"Saya belum review lima soal."
"Besok."
"Tapi jadwal..."
Ayu menatapnya tajam. "Pelatih Ayu memerintahkan istirahat."
Raka menutup mulutnya.
"Baik."
Ia berdiri, sedikit limbung karena kakinya kesemutan. Ayu refleks mengulurkan tangan, tapi berhenti sebelum menyentuh lengannya. Raka melihat gerakan itu. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum kecil.
"Saya baik-baik saja."
"Bagus."
"Tapi kalau besok nilai saya turun karena dipaksa tidur?"
"Saya tanggung jawab."
"Bagaimana caranya?"
Ayu mengangkat dagu. "Saya buatkan sarapan khusus."
"Kalau begitu saya sengaja turun nilai."
"Kak Raka."
Raka tertawa, lalu akhirnya keluar dari ruang belajar menuju kamarnya. Ayu menunggu sampai langkahnya hilang, kemudian mematikan lampu.
Keesokan paginya, Raka mengerjakan tryout kedua.
Ayu tidak menunggu di depan pintu. Ia sibuk menyiapkan pesanan baralek, tapi pikirannya terus kembali ke timer di ruang belajar. Ketika Raka akhirnya keluar menjelang siang, wajahnya masih serius, tapi kali ini tidak pucat.
"Bagaimana?" tanya Ayu.
Raka menunjukkan layar.
Nilainya naik.
Belum aman. Belum cukup untuk bersantai. Tapi naik.
TIU yang sebelumnya paling membuatnya jatuh kini bertambah belasan poin. Deret angka masih salah beberapa, tapi soal logika verbal hampir bersih. TKP stabil. TWK turun sedikit karena ia terlalu lama di soal lain, tapi secara keseluruhan grafiknya bergerak ke arah yang benar.
Ayu mengambil napas lega. "Lihat? Bukan tidak bisa. Belum terbiasa."
Raka menatap angka itu seperti belum sepenuhnya percaya.
Nenek Sari yang kebetulan lewat membawa kain lap ikut menunduk melihat layar. "Naik berapa?"
Ayu menjelaskan singkat. Nenek tidak benar-benar paham sistem nilainya, tapi begitu tahu hasilnya membaik, ia langsung berseru ke ruang tengah, "Datuk! Anak CPNS kita naik nilai!"
Raka terkejut. "Nek, belum jadi anak CPNS."
"Belum. Tapi sudah belajar di rumah ini, jadi sementara milik rumah ini."
Datuk Harun hanya menjawab dari jauh, "Bagus. Lanjutkan."
Raka menunduk, tapi senyumnya akhirnya muncul.
Kali ini tidak dipaksakan.
Ayu tersenyum lebar sebelum sempat menahan diri.
Raka menatap senyum itu, lalu berkata pelan, "Sepertinya saya tidak boleh mengecewakan Pelatih Ayu."
Di dada Ayu, sesuatu bergerak terlalu cepat.