Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Sepuluh Bersaudara
Hartono tidak mengadakan pesta besar untuk menyambut Keira.
Engkong menolak wartawan, menolak papan bunga, menolak ucapan selamat dari orang-orang yang baru muncul setelah kabar kepulangan Keira mulai beredar. Yang ia izinkan malam itu hanya keluarga inti, beberapa orang kepercayaan, dan mereka yang selama empat tahun terakhir tidak pernah berhenti mencari.
Namun bagi Keira, makan malam itu tetap terasa besar.
Meja panjang di ruang makan keluarga dipenuhi hidangan hangat. Lina memastikan buburnya tetap ada meski Keira sudah bisa makan lebih banyak. Richard berbicara pelan dengan dokter keluarga sebelum duduk. Kevin berdiri di dekat jendela, memeriksa halaman seperti kebiasaan yang tidak bisa ia matikan. Bryan mengatur posisi kursi sambil mengeluh bahwa suasana terlalu serius untuk acara pulang rumah.
"Kalau semua orang tegang begini, Kei bisa mengira kita mau rapat direksi," kata Bryan.
Engkong mengetuk lantai dengan tongkat. "Kau saja yang terlalu berisik."
"Itu bagian dari pesonaku, Engkong."
"Pesona yang membuat orang ingin menutup pintu."
Keira menunduk, senyum kecil muncul tanpa ia rencanakan.
Lina melihat senyum itu, lalu matanya kembali basah.
"Mama," Keira memperingatkan pelan.
"Iya, iya. Mama tidak menangis." Lina cepat mengambil tisu, jelas-jelas berbohong.
Sebelum makan dimulai, Om De masuk dan menunduk. "Mereka sudah tiba."
Ruangan langsung berubah.
Kevin meluruskan tubuh. Bryan berhenti bercanda. Bahkan Engkong tampak lebih tegak.
Keira menatap pintu.
Satu per satu, para pria berpakaian gelap masuk ke ruang makan. Tidak semuanya berusia sama. Ada yang terlihat lebih tua, ada yang masih muda, ada yang wajahnya keras seperti prajurit, ada yang tersenyum dengan mata basah. Mereka tidak berdiri terlalu dekat, tetapi formasi mereka otomatis membentuk perlindungan di sekitar ruangan.
Aqil masuk di tengah mereka.
Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya kembali, wajah pengawal itu tidak sepenuhnya tenang.
"Nona," katanya, lalu menunduk lebih dalam.
Sembilan pria lain mengikuti.
"Nona Besar."
Panggilan itu terdengar serempak, rendah, dan membuat dada Keira bergetar.
Sepuluh Bersaudara.
Nama itu muncul dari ingatan seperti cahaya kecil. Bukan saudara kandung, tetapi orang-orang yang tumbuh di sekitar keluarga Hartono, dilatih untuk melindungi, menjalankan tugas, dan dalam banyak hal, menjadi pagar hidup bagi Keira.
Salah satu dari mereka berlutut satu kaki. Yang lain menunduk dengan mata merah. Seorang pria yang lebih tua mengepalkan tangan di dada, suaranya serak saat berkata, "Akhirnya kami menemukan Anda."
Yang paling muda di antara mereka membuka sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada gelang tali hitam yang sudah pudar.
"Nona pernah memberi ini sebelum pergi kuliah," katanya, malu-malu. "Katanya supaya saya tidak takut saat latihan pertama."
Pria lain mengeluarkan pisau lipat kecil yang sudah tumpul, bukan untuk mengancam, melainkan seperti benda kenangan. "Nona menyuruh saya berhenti pamer benda tajam di meja makan. Saya masih ingat."
Bryan langsung menunjuknya. "Nah, itu nasihat bagus. Tolong dipatuhi terus."
Tawa kecil kembali muncul, tetapi mata beberapa orang tetap basah.
Keira merasakan dadanya hangat dan perih sekaligus malam itu.
Keira berdiri perlahan.
Kevin langsung bergerak, tetapi Keira mengangkat tangan. Ia ingin berdiri sendiri.
"Aku belum mengingat kalian semua," katanya jujur.
Tidak ada kekecewaan di wajah mereka.
Aqil menjawab, "Tidak apa-apa, Nona. Kami yang mengingat."
Kalimat itu membuat tenggorokan Keira tercekat.
Selama menjadi Anisa, ia berjuang agar satu orang mengingat keberadaannya. Di sini, sepuluh orang berdiri di hadapannya dan berkata ingatan mereka cukup untuk menunggunya kembali.
Bryan mengusap hidung, pura-pura batuk. "Aduh. Kalian ini masuk langsung bikin drama. Aku yang sepupu kandung saja kalah efek."
Salah satu anggota Sepuluh Bersaudara melirik Bryan. "Tuan Bryan memang selalu kalah efek."
Ruang makan yang tadi berat pecah oleh tawa kecil.
Keira tertawa.
Kali ini lebih lepas.
Rusuknya masih terasa tertarik, tetapi ia tidak menyesal. Tawa itu membuat semua orang di ruangan terdiam sejenak, lalu wajah mereka melembut. Lina menutup mulut. Richard menunduk, menyembunyikan mata merah. Engkong memalingkan wajah, tetapi tangannya mengusap sudut mata.
Makan malam dimulai setelah itu.
Tidak formal seperti yang Keira bayangkan. Bryan terus mengganggu suasana dengan cerita berlebihan. Kevin menegur kalau ia terlalu dekat dengan makanan pedas Keira. Lina menambah lauk ke piring Keira sampai Keira harus menahannya. Engkong memerintahkan semua orang makan, tetapi setiap lima menit bertanya apakah Keira lelah.
Sepuluh Bersaudara tidak duduk di meja utama, tetapi mereka tidak pergi. Mereka berada di sisi ruangan, sebagian makan bergantian, sebagian menjaga pintu dan halaman.
Keira memperhatikan pola itu.
"Kalian akan terus berjaga seperti ini?"
Aqil menjawab, "Mulai malam ini, kami bagi jadwal. Dua orang di rumah utama, dua di luar, sisanya rotasi."
"Aku bukan tahanan."
"Bukan, Nona." Aqil menunduk. "Anda pusat formasi."
Bryan mengangkat sendok. "Itu cara mereka bilang kamu bos."
Keira menatap Aqil. "Aku yang menentukan ruang gerakku."
"Benar."
"Kalau aku bilang mundur?"
"Kami mundur sejauh yang Nona izinkan, tetapi tetap dalam jarak aman."
Keira menghela napas. Itu bukan jawaban bebas, tetapi juga bukan kendali kasar. Ia bisa menerimanya untuk sementara.
Setelah makan malam, satu per satu anggota Sepuluh Bersaudara menyampaikan laporan singkat pada Kevin dan Om De. Jalur keluar rumah, jadwal kendaraan, pengamanan digital, daftar tamu yang boleh masuk. Semua berjalan rapi.
Keira menyadari sesuatu dengan tenang.
Ia tidak lagi sendirian.
Bukan hanya karena keluarganya kaya. Bukan hanya karena Hartono punya nama besar. Tetapi karena orang-orang ini menempatkan keselamatannya sebagai pekerjaan, kehormatan, dan urusan hati sekaligus.
Saat malam makin larut, tamu internal mulai bubar. Lina mengantar Keira sampai ruang duduk kecil, lalu membiarkan Engkong bicara berdua dengannya.
Engkong duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya tampak lelah setelah malam penuh emosi, tetapi matanya tetap tajam.
"Cucu," katanya pelan. "Ada satu hal yang belum Engkong ceritakan."
Keira duduk di seberangnya. "Tentang apa?"
"Tentang orang yang ikut mencarimu."
Keira teringat ucapan Bryan di ruang kaca. Jakarta.
Engkong menatap halaman gelap di luar jendela.
"Selama empat tahun kamu hilang, bukan hanya Hartono yang mencari. Jakarta juga bergerak."
Jantung Keira berdenyut lebih cepat.
"Siapa di Jakarta?"
Engkong tidak langsung menjawab.
Di luar, Aqil berdiri di teras bersama dua anggota Sepuluh Bersaudara lain. Rumah itu hangat, penuh orang, penuh perlindungan. Namun nama Jakarta membuat kabut ingatan Keira bergerak lagi.
Sepasang mata gelap.
Suara rendah.
Rasa aman yang berbeda.
Engkong akhirnya berkata, "Keluarga Tanuwijaya."
Keira menatapnya.
Nama itu terdengar asing di telinga, tetapi entah kenapa, dadanya mengenal getarannya lebih dulu.