Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Cemburu
Brandon mengirim pesan pada Naomi dua hari setelah acara pulpen dan laporan yang tidak Naomi ketahui.
"BEM butuh volunteer penerjemah untuk booth tamu kampus dari Jerman. Cuma dua jam. Honornya kecil, tapi sertifikatnya lumayan untuk portofolio. Kalau kamu tertarik, aku daftarkan."
Naomi membaca pesan itu di kantin bersama Sinta dan Ayu.
"Dari Kak Brandon?" tanya Sinta.
Naomi mengangguk.
Ayu langsung menyipit. "Kamu sudah kasih lihat Kelvin?"
"Kenapa harus?"
"Karena terakhir kali dia membuang lowongan dari Brandon ke tempat sampah."
"Itu karena vendor-nya bermasalah."
"Dan karena dia cemburu," kata Ayu datar.
Naomi menunduk menatap layar ponsel. Kata itu membuat sesuatu bergerak tidak tenang di dadanya.
Cemburu.
Kelvin tidak pernah mengaku. Ia hanya berkata Brandon terlalu rapi. Ia hanya mengatakan soal Brandon, aku yang urus. Ia hanya menatap punggung Brandon seperti sedang menilai ancaman bisnis.
Itu bukan cemburu.
Mungkin.
"Aku akan tanya dulu," kata Naomi akhirnya.
Ia mengirim screenshot pesan Brandon ke Kelvin.
Balasan datang dua menit kemudian.
"Jam berapa?"
Naomi menjawab, "Besok sore. Di aula kampus."
Kelvin membalas, "Aku datang."
Naomi menatap layar.
Bukan boleh.
Bukan jangan.
Aku datang.
Ayu yang ikut membaca dari samping langsung tertawa. "Nah. Itu bukan izin. Itu pengawalan."
***
Keesokan sorenya, aula kampus Universitas Nusantara penuh oleh stand organisasi mahasiswa dan tamu dari beberapa kampus mitra. Acara itu resmi, terang, dan terlalu ramai untuk disebut mencurigakan. Ada banner BEM, meja registrasi, booth makanan, dan mahasiswa memakai ID card.
Naomi berdiri di salah satu booth, membantu dua mahasiswa Jerman bertanya arah ruang seminar. Pekerjaannya sederhana, dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan minimarket, ia merasa kemampuannya dipakai untuk sesuatu yang bukan sekadar bertahan.
Brandon datang membawa map acara.
"Kamu lancar sekali," katanya.
"Mereka cuma tanya toilet dan ruang seminar."
"Tetap saja. Tidak semua orang bisa menjelaskan dengan tenang."
Naomi tersenyum kecil. "Terima kasih sudah memberi info."
"Aku senang kamu mau datang." Brandon menyerahkan botol air mineral. "Minum dulu. Dari tadi kamu berdiri."
Naomi menerima botol itu. "Terima kasih, Kak."
Di saat yang sama, aula yang ramai seperti berubah arah pandang.
Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu.
Kelvin datang.
Ia masuk dari pintu utama bersama Danny. Kelvin memakai kemeja hitam sederhana, tapi pada tubuhnya, sederhana tetap terlihat seperti sesuatu yang mahal. Danny berjalan di sampingnya dengan ekspresi orang yang sudah siap menonton kekacauan.
Beberapa mahasiswa langsung berbisik.
"Itu Kelvin Hartono?"
"Dia datang ke acara BEM?"
"Pacarnya volunteer di sana."
Naomi berdiri lebih tegak tanpa sadar.
Brandon menoleh, senyumnya tetap sopan. "Kelvin."
Kelvin mendekat. "Brandon."
Nada mereka sama-sama tenang. Justru itu membuat udara terasa seperti kaca tipis.
"Naomi membantu booth tamu Jerman," kata Brandon. "Dia sangat membantu."
"Aku tahu."
Kelvin berdiri di samping Naomi, bukan di depan. Ia tidak mengambil botol dari tangan Naomi, tidak menyuruhnya pergi, tidak mengatakan apa pun yang bisa disebut kasar.
Ia hanya meletakkan tangannya di pinggang Naomi.
Ringan.
Pasti.
Terlihat semua orang.
Tubuh Naomi menegang sesaat. Kelvin menunduk sedikit, suaranya hanya untuknya.
"Tidak nyaman?"
Naomi menatap wajahnya.
Di belakang Kelvin, Danny mengangkat alis seperti komentator pertandingan.
Naomi menelan ludah, lalu menggeleng sangat kecil.
Kelvin tidak menariknya lebih dekat. Tangannya tetap di sana, menjadi batas yang tidak perlu dijelaskan.
Brandon melihat gerakan itu. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya berubah setipis bayangan.
"Aku tidak tahu kamu juga tertarik acara kampus seperti ini," kata Brandon.
"Aku tertarik pada pacarku."
Aula yang sudah berisik terasa mendadak lebih berisik di kepala Naomi.
Brandon tertawa pelan. "Tentu."
Danny yang berdiri di belakang Kelvin menutup mulut, jelas menahan komentar.
Naomi mencoba mengalihkan suasana. "Aku masih harus bantu sampai jam lima."
"Aku tunggu," kata Kelvin.
"Di sini?"
"Di sini."
Brandon melirik jam. "Kalau begitu aku tinggal koordinasi panggung dulu. Naomi, kalau ada masalah, panggil aku."
Sebelum Naomi menjawab, Kelvin sudah berkata, "Dia bisa panggil aku."
Brandon menatap Kelvin.
Kelvin balas menatap.
Danny akhirnya tidak tahan. Ia menarik napas panjang dan bergumam, cukup keras untuk didengar Naomi, "Itu bukan cemburu. Itu sudah level obsesi."
Naomi tersedak air mineral.
Kelvin menoleh. "Danny."
"Apa? Gue memuji intensitas."
"Diam."
"Baik, Bos Muda."
Naomi menunduk, tapi senyum kecil muncul sebelum sempat ia sembunyikan. Tangan Kelvin di pinggangnya bergerak sedikit, seolah memastikan ia baik-baik saja.
Selama satu jam berikutnya, Kelvin benar-benar menunggu.
Ia berdiri tidak jauh dari booth, berbicara dengan Danny atau mengecek ponsel, tapi setiap kali ada orang mendekati Naomi terlalu dekat, matanya naik. Naomi tahu karena ia merasakannya. Bukan seperti diawasi untuk dibatasi, lebih seperti ada dinding hangat di belakang punggungnya.
Ketika seorang mahasiswa laki-laki terlalu lama bertanya setelah urusan terjemahan selesai, Kelvin datang membawa segelas air.
"Baby, minum."
Kata itu jatuh di tengah aula.
Mahasiswa itu langsung mundur setengah langkah.
Naomi menerima gelas dengan wajah panas. "Terima kasih."
Kelvin menatap mahasiswa itu. "Masih perlu bantuan?"
"Tidak, Kak. Sudah."
Setelah mahasiswa itu pergi, Naomi berbisik, "Kamu menakuti orang."
"Dia sudah selesai bertanya."
"Dia cuma ramah."
"Terlalu ramah."
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Naomi sempat menahannya.
Kelvin menatapnya.
Untuk sesaat, semua suara aula terasa mundur.
Kelvin tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, merapikan sehelai rambut Naomi yang jatuh ke pipi, lalu berkata, "Kerja kamu belum selesai."
Itu bukan jawaban.
Tapi entah kenapa lebih berbahaya daripada iya.
Setelah acara selesai, Brandon masih sempat memberi Naomi sertifikat volunteer. Kelvin berada tepat di sampingnya saat Naomi menerimanya. Kali ini ia tidak membuang apa pun. Ia hanya membaca nama Naomi di sertifikat, lalu berkata, "Bagus."
Brandon tersenyum. "Naomi memang bagus."
Tangan Kelvin di pinggang Naomi kembali terasa jelas.
Danny menepuk bahu Kelvin saat mereka berjalan keluar aula.
"Kel."
"Apa?"
Danny menunggu sampai Naomi berjalan beberapa langkah di depan bersama Sinta yang baru datang mengambil foto sertifikat. Lalu ia berkata lebih pelan, tapi tetap cukup jelas bagi Kelvin.
"Lo tahu lo sudah bukan akting lagi, kan?"
Kelvin tidak menjawab.
Ia hanya melihat Naomi yang sedang tersenyum malu pada kamera Sinta, sertifikat kecil di tangannya, sementara aula di belakangnya masih penuh orang yang menatap.
Danny tidak mendesak lagi. Untuk sekali ini, bahkan dia tahu kapan harus diam.
Kelvin tetap melihat ke arah Naomi, seolah jawaban atas pertanyaan itu berdiri tepat di sana.
Diamnya Kelvin lebih keras daripada bantahan apa pun.