Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Kayla menarik napas panjang sebelum melangkahkan kaki menuju rumah. Sejujurnya ia enggan pulang. Rumah itu tak pernah benar-benar menjadi tempatnya beristirahat. Namun hari ini adalah ulang tahun ibunya. Jauh di dalam hatinya masih tersisa secercah harapan, semoga wanita yang telah melahirkannya itu akhirnya mau membuka hati dan mulai mencintainya.
Di tengah perjalanan, Kayla sempat berhenti di sebuah toko kue. Ia memilih kue ulang tahun berukuran cukup besar dengan hiasan sederhana, lalu membawanya pulang. Angin sore bertiup lembut menerpa wajahnya. Rambut panjangnya berkibar mengikuti hembusan angin, sementara langkahnya terasa semakin berat mendekati rumah.
Sesampainya di halaman, pandangan Kayla langsung tertuju pada sebuah mobil Avanza hitam yang terparkir rapi. Mobil itu jelas bukan milik keluarganya. Entah mengapa, hatinya mendadak dipenuhi firasat yang kurang baik.
Kayla membuka pintu rumah perlahan. Baru beberapa langkah masuk, ia langsung dibuat terkejut. Saraswati menyambutnya dengan senyum yang begitu lebar. Pemandangan yang hampir tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Untuk sesaat, dada Kayla terasa hangat. Ia benar-benar berharap ibunya akhirnya berubah.
"Eh, Kayla baru datang," ucap Saraswati dengan ramah.
Wanita itu segera menghampiri Kayla, menggandeng tangannya dengan penuh kehangatan, lalu mengajaknya menuju ruang makan. Di sana sudah duduk kedua kakaknya, Niko dan Arif, bersama seorang pria asing yang belum pernah dilihat Kayla sebelumnya.
"Kayla, Ibu kenalkan. Ini Fendi. Usianya baru lima puluh tahun. Dia duda dan sudah punya satu anak yang sekarang berumur dua belas tahun," ucap Saraswati dengan wajah penuh semangat.
Kayla menoleh ke arah pria itu. Rambut Fendi telah memutih seluruhnya. Kerutan memenuhi wajahnya, membuat usianya tampak jauh lebih tua daripada yang disebutkan Saraswati. Cara lelaki itu memandang Kayla membuat bulu kuduknya meremang. Tatapan itu bukan tatapan seorang tamu, melainkan seperti seekor serigala yang sedang mengincar mangsanya.
Kayla memaksakan senyum tipis.
"Salam kenal, Paman Fendi."
Ucapan itu membuat Fendi tersentak. Hampir saja air minum yang sedang diteguknya menyembur keluar.
"Kayla," sela Arif buru-buru. "Beliau baru lima puluh tahun. Usianya tidak terlalu jauh dari kamu. Panggil saja Kak Fendi."
Fendi segera berdiri. Senyumnya melebar, sementara tatapannya masih terus menelusuri wajah Kayla tanpa berkedip.
"Benar kata kakakmu," katanya penuh antusias. "Panggil saja aku Kak Fendi. Sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga."
"Keluarga?" ulang Kayla datar sambil menatap Fendi dari ujung kepala hingga kaki. "Apa Paman akan menjadi ayah tiriku?"
Ucapan itu membuat suasana langsung membeku. Saraswati, Niko, dan Arif saling berpandangan panik. Sementara wajah Fendi berubah masam karena merasa dipermalukan.
"Kayla, kamu ini ngomong apa?" geram Saraswati sambil mencubit lengan putrinya.
Wanita itu lalu tersenyum kembali ke arah Fendi, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Fendi datang ke sini untuk melamar kamu, Kayla. Kebetulan hari ini ulang tahun Ibu. Jadi sekalian saja kita adakan pertunangannya. Setelah itu langsung tentukan tanggal pernikahan supaya kalian cepat hidup bersama."
Saraswati mengucapkannya dengan wajah berbinar-binar, seolah dirinyalah yang akan menikah hari itu.
Di sisi lain, senyum Fendi kembali mengembang. Ia tampak semakin puas melihat bagaimana Saraswati begitu bersemangat mendorong putrinya ke pelaminan.
Sementara itu, hati Kayla benar-benar remuk. Harapan yang tadi sempat tumbuh seketika hancur berkeping-keping. Ternyata senyum hangat ibunya bukan karena kasih sayang. Semua itu hanya karena ada kepentingan yang ingin dicapai. Di mata ibunya, mungkin dirinya memang tak lebih dari mesin uang... atau bahkan barang dagangan yang bisa ditukar dengan keuntungan.
"Menikah dengan dia?" Kayla memandang Fendi, lalu mengalihkan tatapannya kepada Saraswati. "Umur kami beda tiga puluh tahun. Dia sudah pernah menikah. Dia juga sudah punya anak."
"Apa salahnya?" sahut Saraswati cepat. "Duda itu justru lebih berpengalaman, lebih pengertian, dan jauh lebih dewasa."
"Lebih dewasa?" Kayla tersenyum sinis. "Dia bukan dewasa, Bu. Dia itu bandot tua. Bahkan aku merasa bisa mencium bau tanah kuburan dari tubuhnya."
"Kamu!" bentak Fendi. Wajahnya langsung merah padam menahan amarah dan rasa malu.
"Kayla!" Saraswati menggeram. Kali ini cubitan di lengan Kayla jauh lebih keras hingga meninggalkan rasa perih.
"Lepaskan aku!" bentak Kayla sambil menepis tangan ibunya.
Dadanya naik turun menahan emosi. Air mata hampir jatuh, tetapi ia menolak terlihat lemah di depan mereka.
"Katakan padaku, Bu," ujar Kayla dengan suara bergetar. "Dia kasih Ibu berapa uang sampai Ibu ngotot menjodohkan aku dengannya? Berapa harga yang Ibu pasang untuk menjual anak kandung Ibu sendiri?"
"Kayla!" bentak Arif dengan suara keras. "Ibu cuma ingin mencarikan suami supaya kamu hidup bahagia."
"Bahagia?" Kayla tertawa hambar. Tatapannya beralih kepada Arif. "Bahagia untuk siapa? Untuk aku... atau untuk kalian? Kalau memang menurutmu dia pria yang sempurna, kenapa Kakak saja yang menikah dengannya? Pokoknya aku tidak akan pernah mau."
Wajah Fendi langsung menghitam menahan penghinaan. Niko dan Arif pun sama kesalnya. Namun, tidak ada yang mampu membalas ucapan Kayla.
Saraswati menggertakkan rahangnya. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol. Kemarahannya telah mencapai puncak, sementara wajah Kayla justru tetap tegak menatapnya tanpa rasa takut.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Kayla. Kepalanya terhempas ke samping. Rasa panas langsung menjalar hingga ke sudut matanya. Dengan napas memburu, Kayla mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pipinya yang kini berdenyut nyeri.
"Dasar anak durhaka!" bentak Saraswati tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. "Pokoknya malam ini kamu harus menikah dengan Kak Fendi. Kamu menginap di rumah dan tidak boleh pergi ke mana pun!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Saraswati menoleh ke arah Fendi. Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya, seolah baru saja menyelesaikan sebuah urusan yang menguntungkan.
"Fendi, kamu tenang saja. Kayla pasti akan menurut setelah nanti tidur sama kamu."
"Benarkah?" tanya Fendi sambil menyeringai lebar. Tatapannya yang penuh nafsu membuat Kayla merasa muak hingga ingin muntah.
Kayla masih memegang pipinya yang terasa perih. Air matanya menggantung di pelupuk mata, tetapi tidak sampai jatuh. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Saraswati dengan sorot mata penuh luka.
"Ibu..." suaranya bergetar. "Sebenarnya aku ini anak kandung Ibu, bukan?"
Tidak ada jawaban. Saraswati hanya memandangnya dengan wajah dingin.
"Kenapa Ibu memperlakukanku seperti barang dagangan?" lanjut Kayla dengan suara yang semakin lirih. "Sekarang katakan padaku... sebenarnya berapa uang yang Ibu terima dari bandot tua ini?"
Tatapan Kayla berpindah dari wajah ibunya menuju Fendi. Sorot matanya dipenuhi rasa kecewa yang begitu dalam. Ia masih sulit mempercayai bahwa keluarganya sendiri tega menjual masa depan dan harga dirinya.
"Tiga puluh juta."
Suara itu datang dari Niko.
"Ka Fendi kasih keluarga kita tiga puluh juta rupiah. Menurutku dia baik sekali. Mana ada laki-laki lain yang mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menikahi perempuan seperti kamu."
Mendengar jawaban itu, Kayla memejamkan mata sesaat. Napasnya terasa berat. Dadanya sesak seolah ada batu besar yang menindih.
"Jadi... hanya tiga puluh juta?" gumamnya pelan sambil tersenyum pahit. "Lumayan juga. Naik sepuluh juta rupiah dibanding sebelumnya."
Kayla kembali membuka matanya. Kali ini tatapannya benar-benar kosong.
"Kalian memang benar-benar kejam," ucapnya lirih. "Ternyata harga seorang anak kandung hanya dihitung dengan setumpuk uang."
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak seorang pun menyahut ucapan Kayla. Bahkan Fendi hanya berdiri sambil terus mengawasi setiap gerak-geriknya.
Kayla mengembuskan napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia tahu, setelah mengucapkan kalimat berikutnya, tidak akan ada lagi jalan untuk menyembunyikan rahasia yang selama ini dijaganya.
"Aku tidak mungkin menikah dengan bandot tua ini," ucap Kayla tegas.
Semua orang langsung menatapnya.
"Karena..."
Kayla membuka tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dari dalamnya, ia mengeluarkan selembar hasil pemeriksaan USG, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja makan.
"...aku sedang hamil."
Seisi ruangan mendadak membeku. Tidak ada lagi suara. Wajah Saraswati, Niko, Arif, bahkan Fendi berubah drastis. Mata mereka membelalak menatap lembar hasil USG yang tergeletak di atas meja, seolah tidak percaya dengan pengakuan yang baru saja keluar dari mulut Kayla.