NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 – Para Petualang Senior

Haruto masih mencoba mengatur napas yang terengah-engah setelah pertempuran melawan dua Beruang Hutan. Dada nya naik turun dengan cepat, namun matanya tetap fokus pada tas kecil yang tergantung di pundaknya—di dalamnya, Jamur Bulan yang telah dikumpulkannya tersimpan aman, beberapa di antaranya bahkan masih memancarkan cahaya kebiruan yang lembut melalui celah kain tas.

Di sekitarnya berdiri empat orang petualang yang telah menyelamatkannya dari situasi berbahaya itu. Mereka berdiri dengan sikap yang tenang dan percaya diri, seolah pertemuan dengan monster tingkat E bukanlah hal yang luar biasa bagi mereka.

Pemimpin kelompok tersebut, seorang pria berambut cokelat tua dengan alis yang sedikit menonjol dan pedang panjang bergagang kayu hitam di punggungnya, menginjakkan kakinya dengan lembut mendekati Haruto. Wajahnya yang awalnya tampak tegas kini menunjukkan senyuman ramah yang membuat Haruto merasa lebih tenang.

“Kau baik-baik saja, anak muda? Tak ada yang terluka kan?” tanyanya dengan suara yang dalam namun hangat.

Haruto mengangguk cepat, sambil mengusap keringat yang masih menetes di dahinya. “Ya, pak. Saya baik-baik saja. Terima kasih banyak sudah datang membantu saya tepat waktu.”

Pria itu tertawa rendah, suara badannya bergema lembut. “Kalau kami terlambat beberapa menit lagi—atau kalau kamu tidak cukup cerdas untuk menghindari serangan mereka—mungkin kamu sudah jadi camilan malam untuk kedua beruang itu. Hebat saja kamu bisa bertahan sendirian sejauh itu.”

Haruto hanya bisa tersenyum canggung, tangannya secara tidak sengaja mengelus tubuh Pochi yang sedang beristirahat di bahunya. “Hehe… saya juga tidak tahu bagaimana bisa bertahan sampai saat itu.”

Pochi mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan sambil mengeluarkan suara lembut. “Pyoo…”

Mata para petualang langsung tertuju pada slime biru kecil itu, wajah mereka penuh dengan rasa penasaran.

“Slime sebagai hewan peliharaan?” ucap salah satu dari mereka, seorang wanita berambut merah yang membawa busur panjang di pundaknya.

“Lucu juga bentuknya, warnanya biru muda yang tidak biasa dilihat pada slime biasa,” tambah pria bertubuh besar yang menyandang kapak raksasa di bahunya.

“Tidak biasanya petualang pemula membawa slime sebagai teman sekutu. Biasanya mereka memilih binatang peliharaan yang terlihat lebih gagah atau berguna dalam pertempuran,” kata penyihir muda berkacamata yang berdiri di belakang mereka.

Untungnya, tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyadari identitas asli Pochi sebagai keturunan Slime Naga. Haruto menghela napas lega dan sedikit menepuk kepala Pochi untuk membuatnya tenang.

Pria berpedang itu kemudian mengulurkan tangannya dengan sikap yang sopan. “Perkenalkan, namaku Akira Sasaki. Petualang kelas B dari Guild Lumin.”

Haruto segera menjabat tangannya dengan penuh hormat, meskipun tangan nya masih sedikit gemetar akibat ketegangan tadi. “Haruto Kazehara. Baru saja menjadi petualang kelas F minggu lalu.”

Akira tersenyum lebih lebar setelah mendengarnya. “Misi pertama kamu ya?”

“Ya, pak.”

“Pantas saja kamu menghadapi dua Beruang Hutan dengan cara yang cukup cerdik. Banyak petualang baru yang langsung panik dan membuat kesalahan fatal saat menghadapi satu saja monster tingkat E.”

Di samping Akira, wanita berambut merah yang telah menarik perhatian Haruto sejak tadi melangkah mendekat. Rambutnya yang diikat rapi di belakang kepala membuat wajahnya yang cantik dan sedikit tegas terlihat lebih jelas. Ia membawa busur panjang dengan tali yang sudah siap digunakan kapan saja.

“Aku Yuna Kurosawa. Pemanah dan pengawas jarak jauh dari kelompok ini. Aku yang menembakkan panah ke arah beruang untuk mengalihkan perhatian mereka tadi,” katanya dengan suara yang jelas dan penuh kepercayaan diri.

Haruto segera membungkuk hormat padanya. “Terima kasih banyak, Bu Yuna. Kalau bukan karena panah kamu, saya mungkin sudah tidak bisa berlari lagi.”

Yuna menggeleng dan memberikan senyuman ramah. “Jangan terlalu formal ya, cukup panggil aku Yuna saja. Kita semua anggota guild yang sama kan?”

Di sebelahnya, pria bertubuh besar dengan wajah yang sedikit kasar namun mata yang hangat mengangguk dan mengangkat kapaknya sebentar. “Aku Goro Tanaka. Seperti yang kamu lihat, aku yang bertugas menghancurkan monster yang terlalu keras kepala dan tidak mau mundur dengan sendirinya. Kapak ini bukan hanya untuk hiasan lho,” katanya dengan senyum yang membuat dagunya tampak lebih menonjol.

Haruto tertawa kecil mendengarnya. “Senang bertemu denganmu, Goro-san.”

Kemudian penyihir muda berkacamata dengan rambut cokelat pendek melambaikan tangannya dengan ceria. Ia mengenakan jubah biru muda dengan berbagai simbol sihir yang terjahit di bagian lengan dan dada. “Aku Ren Yamamoto. Penyihir angin dan juga bertugas sebagai perencana dalam kelompok kita. Kalau ada monster yang bisa terbang atau butuh strategi khusus, biasanya itu urusanku,” jelasnya dengan mata yang bersinar melalui kaca matanya.

Haruto mulai merasa kagum melihat para petualang ini. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu sebuah tim petualang sungguhan yang bekerja sama dengan kohesi yang terlihat kuat, jauh berbeda dengan apa yang pernah ia bayangkan dari cerita-cerita yang didengarnya di guild.

Akira kemudian melihat tangan Haruto yang masih sedikit berkilau dengan sisa energi mana dari sihir airnya. “Kau pengguna sihir air ya?”

“Benar sekali, pak Akira. Saya baru mulai belajar mengendalikannya beberapa bulan yang lalu.”

Mata Ren langsung berbinar setelah mendengarnya. “Sihir air? Wah, itu cukup langka lho di antara penyihir muda sekarang. Kebanyakan lebih suka sihir api atau tanah yang dianggap lebih mudah untuk menyerang.”

Haruto mengangguk pelan, matanya sedikit menunduk. “Ya, memang begitu. Tapi saya merasa lebih nyaman dengan air daripada elemen lain.”

Yuna tertawa kecil mendengarnya. “Untuk ukuran pemula, kamu cukup berani lho. Biasanya petualang baru yang pertama kalinya keluar misi langsung panik dan berlari tanpa berpikir saat melihat sekelompok Beruang Hutan. Tapi kamu malah mencoba menggunakan sihir dengan cara yang cukup kreatif.”

Haruto menggaruk kepalanya dengan rasa malu. “Jujur saja… saat itu saya juga sangat ingin lari. Tapi saya ingat nasihat dari guruku tentang bagaimana harus tetap tenang dalam kondisi darurat, jadi saya coba saja berpikir dengan jernih.”

Semua anggota tim langsung tertawa mendengar jawaban jujur dari Haruto. Bahkan Akira sampai menepuk bahu Haruto dengan lembut.

“Itu jawaban yang jujur dan sangat baik, anak muda. Tidak ada salahnya untuk takut, tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa tetap tenang dan mengambil keputusan yang tepat di tengah ketakutan itu.”

Pochi ikut ikut merespon dengan suara yang terdengar seperti tertawa. “Pyoo! Pyoo!” membuat semua orang tertawa lebih keras lagi.

Tak lama kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di tepi sungai kecil yang jernih mengalir di dekat jalur pulang menuju kota. Air sungai yang segar dan jernih itu berasal dari mata air pegunungan yang terkenal akan kejernihannya di wilayah Hutan Lumin.

Akira membuka kantongnya dan mengambil beberapa botol air yang sudah diisi sebelumnya, kemudian menyerahkannya kepada Haruto. “Minumlah, kamu pasti sudah sangat haus setelah berlari dan bertempur seperti itu.”

“Terima kasih banyak, pak Akira,” ujar Haruto sambil menerima botolnya dengan tangan gemetar. Ia langsung meneguk airnya dengan lahap, merasa kesegaran yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.

Setelah beberapa saat berbincang santai tentang pengalaman mereka di hutan dan beberapa lokasi yang aman untuk mengumpulkan bahan-bahan alami, Akira akhirnya bertanya dengan suara yang sedikit lebih serius.

“Kalau boleh tahu, siapa yang melatihmu dalam sihir air itu? Kamu punya teknik dasar yang cukup baik untuk pemula.”

Haruto berpikir sejenak sebelum menjawab, ingatannya kembali pada sosok wanita penyihir air yang selalu sabar mengajarinya. “Guruku bernama Mizuna. Mizuna Hayashi.”

Mendengar nama itu, seluruh anggota tim langsung terdiam sejenak. Ekspresi wajah mereka berubah dari senang menjadi terkejut bahkan sedikit kagum.

“Mizuna? Bukankah dia… Sang Penyihir Air Mizuna?” tanya Yuna dengan suara yang sedikit pelan, bahkan ia sampai bersiul pelan sebagai tanda kagum.

“Tunggu… Mizuna Hayashi dari Tim Azure?” tambah Ren dengan mata yang membesar di balik kaca matanya. “Tim terkuat yang pernah ada di Guild Lumin beberapa tahun yang lalu?”

Goro mengangguk perlahan, wajahnya yang biasanya rileks kini menunjukkan ekspresi penuh rasa hormat. “Ya… dia adalah pengendali sihir air terhebat di zamannya. Banyak monster kuat yang berhasil dikalahkannya hanya dengan kekuatan sihir airnya yang luar biasa.”

Haruto hanya bisa mengangguk, mulai menyadari betapa besar nama gurunya di kalangan para petualang senior. “Ya, tepat sekali. Beliau yang mengajari saya dasar-dasar sihir air dan bagaimana mengendalikan mana dengan benar.”

Akira dan yang lainnya saling berpandangan, jelas terkejut dengan informasi yang baru mereka dapatkan. Setelah beberapa saat sunyi, Akira tersenyum kembali dengan rasa hormat yang lebih dalam.

“Pantas saja kamu punya dasar yang baik dan bisa tetap tenang di tengah bahaya. Dengan guru seperti itu, kamu pasti akan menjadi penyihir yang hebat kelak.”

Ren tertawa ringan sambil menggaruk kepalanya. “Waduh, anak ini ternyata punya guru yang luar biasa ya. Kami harus lebih memperhatikan kamu dari sekarang.”

Haruto merasa wajahnya sedikit memerah karena pujian yang diterimanya. “Tidak lah, pak Ren. masih banyak yang harus saya pelajari. Beliau sering bilang bahwa saya masih butuh banyak latihan agar sihir saya bisa lebih stabil dan kuat.”

Akira berdiri perlahan dan mengusap seragamnya dari debu hutan. Ia kemudian menunjuk jalan tanah yang sudah lebih jelas menuju arah Kota Lumin, di mana sudah bisa dilihat siluet menara kota yang terpancang tinggi ke langit.

“Kami juga akan kembali ke kota untuk melaporkan misi kami dan menyerahkan hasil tangkapan. Bagaimana kalau kita pulang bersama saja? Perjalanan pulang bisa jadi membosankan kalau sendiri,” ajaknya dengan senyuman ramah.

Mata Haruto langsung berbinar dengan kegembiraan. Ia merasa sangat senang bisa berjalan bersama para petualang senior yang telah menyelamatkannya. “Bolehkah, pak Akira? Saya sangat senang bisa berjalan bersama kalian.”

“Tentu saja boleh. Anggap saja hadiah kecil karena kamu berhasil bertahan hidup dan menyelesaikan misi pertamamu dengan baik. Selain itu, mungkin kita bisa berbagi cerita dan kamu bisa belajar sesuatu dari pengalaman kita,” jawab Akira sambil mulai berjalan.

Semua anggota tim mengangguk dan mulai mengikuti langkahnya, sementara Haruto menggendong Pochi dengan lebih erat dan mengikuti mereka dengan langkah yang lebih ringan. Suara tawa dan pembicaraan mereka mengisi jalanan pulang yang teduh karena pepohonan besar di kedua sisinya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Haruto mulai mengenal petualang lain selain Daichi dan Mizuna. Ia merasa seperti menemukan sebuah keluarga baru di antara mereka, orang-orang yang mengerti betapa beratnya menjadi seorang petualang namun juga betapa menyenangkannya menjalani hidup penuh petualangan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!