Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tameng Daging di Ambang Pintu Kamar
BOOM!
Pintu jati utama yang membatasi koridor luar Menara Kuil Tinggi hancur berantakan menjadi kepingan kayu. Hancurnya pertahanan itu dipicu oleh ledakan bom plasma yang sengaja dilepaskan dari jarak dekat oleh para penjarah luar angkasa. Tiga puluh pembunuh bayaran dari sindikat Black-Void merangsek masuk melintasi lorong yang sempit secara agresif. Tubuh raksasa mereka dibalut oleh lapisan baju besi yang tebal, memancarkan bau asap mesin yang kotor. Tawa liar penuh keserakahan yang memekikkan telinga bergaung keras di sepanjang dinding batu kuil yang dingin.
Moncong senjata di tangan mereka sudah menyala merah pekat, siap melepaskan tembakan cahaya penghancur untuk melumatkan siapa pun yang berani menghadang jalan penjarahan malam ini. Mereka bergerak cepat, mengincar seluruh pusaka kristal spiritual dan bersiap menyeret sang putri kuil keluar menuju pasar budak luar angkasa demi menuntaskan rencana busuk Sektor Delapan.
Namun, tepat di ambang pintu masuk jalur kamar tidur Sayuri, langkah kaki bersepatu besi para penjarah tersebut terhenti secara paksa oleh keheningan yang mendadak melanda seluruh koridor. Sesosok bayangan hitam telah berdiri kokoh, menutup total jalur pandangan para pembunuh bayaran tersebut. Ryuken berdiri di sana murni menggunakan kekuatan otot tubuhnya yang kurus, ringkih, dan dipenuhi luka. Dia memikul beban jepitan gaya tarik bumi Planet Akuma yang seratus kali lipat lebih ekstrem tanpa bantuan zirah pelindung mesin sedikit pun. Kain baju hitam jahit tangan miliknya yang kotor tampak berkibar lambat dihantam angin malam yang menyelinap masuk dari sela-sela dinding menara yang hancur.
Kedua tangan kasarnya yang dipenuhi kapalan tebal menggenggam erat gagang katana tua berkaratnya dengan posisi bertarung klan Shinto kuno yang paling rendah, kokoh, dan tegap di atas lantai batu kuil. Tidak ada tenaga sakti, tidak ada pendaran cahaya yang bising, dan tidak ada bantuan mesin canggih yang terpancar dari bilah besi tua senjatanya yang telah lapuk dimakan usia. Yang tersisa di dalam tubuh sang anak buangan hanyalah sebuah kehormatan murni untuk memegang teguh janji ritual pernikahan tradisional yang sore tadi mengunci takdirnya bersama wanita di dalam kamar. Bagi Ryuken, janji itu adalah sumpah suci yang tidak boleh rusak oleh ketakutan akan kematian.
"Langkah kaki kotor kalian... terlalu bising di rumah tempat istriku berada," ucap Ryuken dengan nada suara yang sangat tenang namun membawa aura dingin yang membekukan udara di sekelilingnya, membungkam seluruh suara bising para penjarah.
"Hahaha! Lihat siapa yang berdiri menjadi pahlawan kasta budak di pintu ini!" raung pemimpin pembunuh bayaran sindikat Black-Void. Wajah raksasanya yang penuh luka cakar berkilat memancarkan ejekan kasar. Ia meludah tepat di depan ujung kaki Ryuken yang kotor dipenuhi debu. "Anak cacat dari mendiang Juro Shinto yang telah dibuang secara memalukan oleh Tetua Kaelen! Singkirkan sampah berkarat ini dari hadapanku! Tembak tubuh kurusnya hingga hancur berkeping-keping!"
BZZZZZZT... BZZZZZZT!
Rentetan tembakan cahaya berwarna merah pekat melesat keluar secara bersamaan dari moncong senjata pasukan penjarah, menghantam telak tepat di atas dada, perut, dan pundak Ryuken secara bertubi-tubi tanpa ampun. Tanpa adanya pelindung baja atau energi sihir untuk membelokkan serangan musuh, setiap peluru cahaya tersebut membakar daging Ryuken hingga mengeluarkan kepulan asap hitam berbau hangus. Rasa perih yang luar biasa pekat menghantam seluruh tubuhnya, namun Ryuken menolak untuk mundur satu langkah pun dari tempatnya berdiri. Darah merah segar mengalir dalam jumlah yang sangat banyak, membasahi dinding tiang kuil serta tirai sutra putih kamar tidur Sayuri yang berada di belakangnya.
Namun, sebuah kegilaan kekuatan fisik yang berada di luar batas akal sehat meletus tepat di depan mata para pembunuh bayaran tersebut. Ryuken tidak jatuh tumbang atau mengembuskan napas terakhirnya di atas lantai yang licin akibat genangan darah. Setiap kali dampak ledakan tembakan mendorong tubuhnya mundur setengah langkah, ia memaksakan persendian kakinya yang terluka parah untuk kembali menapak tegap maju ke depan, memposisikan dirinya sebagai tameng daging murni yang menutup total seluruh celah akses masuk pintu kamar Sayuri. Tubuhnya mengeras di bawah siksaan rasa sakit, membalikkan keadaan murni menggunakan keteguhan jiwanya.
Ia melangkah geser dengan gerakan yang sangat halus, senyap, dan cepat, mengayunkan katana berkaratnya murni mengandalkan sisa ingatan lengannya yang telah menempa diri ribuan kali di dalam gudang belakang kuil yang terasing. Lintasan mata pisau besinya bergerak memotong udara, menebas pertahanan baju besi tebal musuh barisan depan tanpa menyisakan sisa getaran sedikit pun.
SLAASSH!
Kepala pemimpin pembunuh bayaran Black-Void terlepas dari leher raksasanya murni karena beratnya momentum ayunan besi tua berkarat Ryuken, menyemburkan cairan darah kental yang membasahi langit-langit koridor kuil dalam sekejap mata.
"Gila! Bocah ini benar-benar monster yang menolak mati!" teriak pembunuh bayaran lain yang berada di barisan tengah. Wajah mesinnya mendadak berubah pucat pasi menahan rasa ngeri yang mendalam karena alat pemindai komputernya mendeteksi detak jantung Ryuken telah berhenti akibat tembakan plasma, namun kakinya tetap melangkah maju menerobos badai tembakan musuh tanpa ada setitik pun rasa takut.
Ryuken membiarkan tubuhnya tertusuk oleh belati musuh yang merobek jubah hitamnya hingga hancur berantakan, namun jari-jari tangannya tetap mempererat cengkeraman pada gagang pedang berkaratnya. Ia murni ingin memastikan tidak ada satu pun pasang kaki penjahat luar angkasa yang mampu melintasi ambang pintu kamar tidur Sayuri. Pengorbanan darah yang sangat kejam sekaligus mengharukan itu ia jalankan dengan ketekunan seorang ksatria sejati yang menolak menyerah, membiarkan aliran darahnya mengalir deras membasahi seluruh permukaan lantai batu kuil yang dingin ditiup angin badai malam yang membeku. Ia berdiri tegap bagai pilar baja hitam tak tergoyahkan yang melindungi kesucian istrinya dari noda kehinaan luar.
CRACK... BOOM!
Sisa-sisa engsel pintu besi penyekat luar kamar tidur utama akhirnya menyerah kalah. Besi tebal itu jebol berkeping-keping menjadi potongan logam yang berhamburan ke dalam bilik tidur Sayuri. Hantaman itu dipicu oleh beratnya tubuh salah satu pembunuh bayaran Black-Void yang dilempar paksa oleh Ryuken murni menggunakan sisa dorongan kekuatan otot tubuhnya yang cedera parah.
Sayuri yang sejak awal sirene bahaya berbunyi berdiri membeku di sudut ruangan, tersentak mundur karena terkejut. Sepasang tangannya yang indah memeluk erat sebilah belati perak kecil upacara tradisionalnya. Debu kayu, uap belerang pekat, dan bau hangus daging terbakar menyelinap masuk memenuhi bilik kamarnya yang mewah seutuhnya.
Pandangan mata biru jernih sang putri Kuil Tinggi kini dipaksa menyaksikan akhir dari pembantaian berdarah yang sangat kejam sekaligus mengerikan tepat di depan kamarnya sendiri. Tirai-tirai sutra putih bersulam benang perak matahari yang menjadi kebanggaannya kini robek berantakan, basah kuyup oleh cipratan darah segar. Dan tepat di tengah ambang pintu yang hancur, berdiri suaminya—pria yang kemarin ia siram dengan air kehinaan—dengan tubuh kurus yang berlubang-lubang akibat luka tembak, namun sepasang matanya yang hitam legam tetap menatap tajam ke arah sisa-sisa musuh, berdiri tegak sebagai dinding pelindung terakhir nyawanya.