NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Cara Menang Tanpa Berkelahi

"Nak, malam ini kita harus pulang dengan kepala dingin."

Suara Pak Udin pelan, tetapi cukup untuk membuat Hendra berhenti bernapas sesaat.

Tiga pikap itu tidak menutup jalan sepenuhnya. Justru ada celah yang sengaja dibiarkan. Di Martapura, ancaman kadang tidak perlu menghalangi. Cukup membuat orang tahu bahwa jalan pulang harus melewati izin seseorang.

Bayu merasakan dingin di belakang leher.

Firasat Bahaya menyala pelan. Tekanan terukur sedang dibangun untuk membuatnya salah langkah; pukulan langsung belum akan datang.

"Mereka mau bicara," kata Bayu.

Hendra menoleh cepat. "Yu, kalau bicara di tempat gelap dengan tiga pikap, itu namanya bukan diskusi."

"Karena itu kita buat terang."

Bayu mengeluarkan ponsel. Pesan pertama ia kirim ke Budi: pastikan semua hasil hari ini sudah masuk rekening, lot diamond tetap diasuransikan dan disimpan di rekanan Haji Mahmud, tidak ada barang bernilai di mobil.

Balasan Budi datang kurang dari satu menit.

Sudah. Kas tercatat. Inventory titipan. Pajak dicadangkan. Jangan bawa uang tunai. Jangan tanda tangan apa pun.

Pesan kedua Bayu kirim ke Haji Mahmud.

Pak Haji, ada tamu di depan pasar. Saya akan menerima ajakan bicara di tempat terbuka.

Pak Udin melihat layar itu, lalu mengangguk pelan.

"Kamu tidak lari?"

"Kalau saya lari, besok pasar hanya akan mengingat orang luar yang menang lalu ketakutan."

Hendra menggigit bibir. "Aku ikut."

"Kamu ikut. Tapi tangan di saku. Mulut juga kalau bisa."

"Mulutku susah masuk saku."

"Usahakan."

Pak Udin mengusap wajah. "Kalau salah kata, Samsul akan bilang kalian menghina orang sini. Kalau salah langkah, pasar akan bilang saya membawa tamu yang tidak tahu adat."

"Maka kita pakai adat yang bisa dilihat semua orang," jawab Bayu. "Minum teh di warung, bayar terbuka, tidak ada amplop."

Pak Udin menatapnya beberapa detik. Di matanya ada tegang, tetapi juga rasa hormat yang mulai tumbuh.

"Kamu cepat belajar, Nak."

Mereka berjalan ke arah pikap. Seorang pria turun dari kendaraan tengah. Usianya tiga puluhan, kemeja hitam, sandal mahal, senyum terlalu santai.

"Mas Bayu. Bos kami dengar Mas menang besar. Selamat."

"Terima kasih. Nama Bapak?"

"Panggil saja Ardan."

Nama yang mungkin asli, mungkin tidak. Bayu tidak mengejar.

"Bos kami ingin ngajak minum teh. Silaturahmi. Orang baru menang di tanah orang, biasanya pamit baik-baik."

Hendra bergerak setengah langkah. Bayu menahan dengan siku.

"Saya menghormati adat," kata Bayu. "Kita minum teh di warung depan pasar. Terang, ramai, dan saya traktir."

Senyum Ardan menipis. "Bos kami punya tempat lebih nyaman."

"Malam ini saya tamu Haji Mahmud dan Pak Udin. Kalau saya pergi tanpa memberi tahu penjamin, saya mempermalukan mereka."

Kalimat itu membuat dua orang di bak pikap saling pandang.

Di Martapura, nama penjamin bukan hiasan.

Ardan akhirnya mengangkat bahu. "Warung juga boleh."

Warung yang dipilih Bayu berada di tepi jalan, lampunya putih, pemiliknya mengenal Pak Udin. Beberapa pedagang masih duduk setelah lelang. Hendra sengaja memesan teh manis keras-keras, membuat semua orang tahu mereka ada di sana.

Ardan duduk berhadapan dengan Bayu. Dua anak buahnya berdiri di luar, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

"Mas Bayu orang pintar," katanya. "Tapi Kalimantan punya cara. Orang yang menang besar biasanya meninggalkan tanda terima kasih untuk keamanan. Tiga puluh persen bukan angka besar kalau dibandingkan nama baik."

"Keamanan dari siapa?"

Ardan tersenyum. "Dari masalah. Jalan lambat, barang tertahan, orang iri. Kami membantu supaya semuanya lancar."

"Jadi ini pungutan liar. Pajak, komisi, dan biaya resmi tidak ditagih seperti ini."

Senyum itu hilang sedikit.

"Mas jangan terlalu kaku."

Bayu menaruh gelas teh di meja.

"Uang hasil lelang sudah masuk bank. Barang bernilai sudah diasuransikan dan dititipkan. Semua transaksi ada berita acara. Saya tidak membawa uang tunai untuk dibagi di warung."

Ardan mengetuk meja dengan jari.

"Transfer bisa."

"Bisa. Kalau ada invoice resmi, NPWP, dasar jasa, dan kontrak yang bisa dibaca Budi Santoso, bagian keuangan saya."

Hendra menunduk, berusaha keras tidak tertawa.

Ardan menatapnya tajam.

Bayu melanjutkan, suaranya tetap rendah. "Hari ini banyak orang merekam potongan batu. Nama Martapura naik bersama nama saya. Kalau malam ini orang luar yang menang hilang dari hotel atau dipaksa membayar uang keamanan tanpa dasar, nama saya dan Martapura sama-sama jatuh. Pasar ini akan terlihat tidak mampu menjaga tamunya."

Ia sengaja membawa nama Martapura ke dalam perkara itu dan tidak memberi Samsul panggung pribadi.

Menyerang nama orang akan membuat lawan naik darah. Menjaga nama kota membuat orang sekitar ikut merasa punya kepentingan. Beberapa pedagang di meja belakang mulai melirik. Pemilik warung memperlambat gerakan menuang teh. Di luar, dua anak buah Ardan tampak sadar bahwa percakapan ini tidak lagi berada di ruang gelap yang bisa mereka atur sendiri.

"Mas pintar membuat orang banyak mendengar," kata Ardan.

"Saya hanya tidak ingin ada salah paham."

Untuk pertama kalinya, Ardan tidak langsung menjawab.

Di luar warung, dua mobil berhenti.

Haji Mahmud turun bersama dua orang tua bersarung dan seorang polisi berseragam yang tampak seperti sedang patroli biasa. Tidak ada drama. Tidak ada teriakan. Hanya kehadiran.

Mahmud masuk, tersenyum kepada pemilik warung, lalu duduk di samping Bayu.

"Ardan," katanya hangat. "Bosmu sehat?"

Wajah Ardan berubah sehalus kertas terkena air.

"Sehat, Haji."

"Bagus. Sampaikan salam saya. Mas Bayu tamu saya. Kalau ada yang mau bicara soal kerja sama, datang siang hari, bawa surat, bawa wajah, bawa niat baik. Jangan kirim anak muda malam-malam sampai orang pasar salah paham."

Polisi itu memesan kopi di meja sebelah. Ia tidak menatap siapa pun, tetapi buku catatan kecilnya terbuka.

Ardan berdiri pelan.

"Saya hanya menyampaikan undangan."

"Undangan sudah diterima," kata Bayu. "Saya masih akan kembali ke Martapura sebagai mitra. Tapi saya tidak membayar uang yang tidak bisa saya jelaskan kepada ayah saya, kantor pajak, atau penjamin saya."

Pak Udin menundukkan kepala, menahan senyum.

Ardan mengangguk kaku, lalu keluar. Pikap-pikap itu pergi satu per satu, mesin mereka menghilang di ujung jalan.

Hendra baru berani bernapas panjang.

"Yu, aku tadi sudah siap pura-pura pingsan kalau perlu."

"Itu rencana cadangan yang buruk."

"Tapi damai."

Mahmud tertawa pelan. "Mas Bayu, malam ini kemenanganmu datang dari keberanian menjaga nama. Batu hanya membawamu ke sini."

Di bandara Banjarmasin keesokan paginya, Pak Udin menyalami Bayu lebih lama daripada saat pertama bertemu.

"Kamu tidak mempermalukan saya."

"Saya justru berutang pada Pak Udin."

"Utang dalam bisnis bisa dihitung. Utang nama tidak bisa. Kita simpan baik-baik."

Saat pesawat naik, hutan Kalimantan terbentang luas di bawah jendela. Hijau itu tidak memberi angka atau sertifikat. Bayu hanya mendapatkan arah: tanah ini menyimpan nilai yang jauh lebih besar daripada satu batu hitam, meski bukti dan janji belum ada.

Suatu hari, ia akan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!