Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jalan Pedangku Sendiri
CLAAANG!
Percikan api kembali memenuhi seluruh langit berbintang yang sunyi, menandakan pertarungan yang semakin sengit dan mematikan.
Dua sosok itu bergerak begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar yang saling beradu pedang puluhan kali.
Setiap benturan keras melahirkan gelombang Qi yang sangat kuat, merobek ruang putih di sekitar mereka dengan sangat brutal.
Retakan-retakan hitam mulai menjalar ke segala arah, namun tidak satu pun dari mereka yang berniat untuk segera berhenti.
Tubuh Lin Yuan telah dipenuhi oleh banyak luka, darah segar terus mengalir dari bahu, rusuk, hingga kedua lengannya.
Napasnya semakin berat dan tersengal, tetapi sorot matanya justru memancarkan cahaya keyakinan yang semakin terang dan sangat tajam.
Pria berjubah putih kembali melangkah maju menggunakan Langkah Pembelah Takdir, namun kali ini gerakannya terasa jauh lebih alami.
Seolah dia tidak sedang menggunakan teknik apa pun, melainkan sedang berjalan mengikuti kehendak dunia yang sangat luas ini.
SWISH!
Pedangnya turun dari atas dengan kecepatan kilat, namun Lin Yuan tidak memilih untuk mundur satu langkah pun.
Ia memutar pergelangan tangannya perlahan, menggerakkan pedang besinya tanpa pola dan bentuk yang tetap namun sangat efektif sekali.
DANG!
Benturan keras kembali mengguncang dunia berbintang, membuat pria berjubah putih sedikit mengangkat alisnya karena merasa sangat heran.
"Bagus sekali, tapi sayangnya kemampuanmu saat ini masih belum cukup untuk bisa mengalahkanku," ucapnya dengan nada suara tenang.
Tubuhnya menghilang sekali lagi dan muncul tepat di belakang Lin Yuan, menusukkan pedangnya lurus ke arah punggung lawan.
Lin Yuan bahkan tidak menoleh, dia hanya memiringkan tubuhnya sedikit agar ujung pedang lawan meleset tipis dari bahunya.
Dalam waktu yang bersamaan, pedang Lin Yuan berputar dari bawah mengarah tepat ke arah pergelangan tangan milik lawannya.
Pria berjubah putih menarik tangannya tepat waktu, namun senyum tipis kepuasan perlahan mulai muncul di wajahnya yang tenang.
"Kau akhirnya mulai berhenti memikirkan teknik," ucapnya. Lin Yuan tidak menjawab, seluruh pikirannya kini hanya tertuju pada pedang.
Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia selalu mencari jawaban terbaik melalui Naluri Tempur dan juga Mata Takdir.
Ia selalu mencari gerakan paling sempurna dari warisan orang lain, namun kini ia memilih untuk hanya mengikuti keyakinannya.
SWISH!
Lin Yuan maju tiga langkah dan menebas dari kanan, membuat pria berjubah putih segera mengangkat pedang untuk menahan.
Namun di tengah ayunan, Lin Yuan mengubah arah tebasannya secara alami, sebuah keputusan yang baru dia ambil saat itu.
CLAAANG!
Pedang mereka kembali bertabrakan hebat, dan untuk pertama kalinya jejak kaki pria berjubah putih bergeser setengah langkah.
Lin Yuan segera menangkap perubahan kecil itu dan melesat maju melancarkan satu tebasan, dua tusukan, hingga satu putaran.
Gerakannya sangat sederhana namun ritmenya terus berubah tanpa ada pola, aturan, ataupun teknik baku yang pernah dia pelajari.
Semua lahir murni dari insting dan keyakinannya sendiri, membuat pria berjubah putih mulai dipaksa untuk bertahan lebih keras.
"Ya, begitulah seharusnya, karena pedang sejati tidak pernah diciptakan hanya untuk menjadi sebuah salinan dari teknik orang lain."
BOOOM!
Aura pria berjubah putih meledak hebat, tekanannya meningkat berkali-kali lipat hingga membuat langit berbintang berguncang dengan sangat dahsyat.
Puluhan retakan ruang muncul di sekitar mereka, membuat dada Lin Yuan terasa sangat sesak dan kedua lututnya hampir tertekuk.
Namun ia tetap berdiri tegak sambil menggenggam pedangnya semakin erat, sementara Pecahan Kenangan Jiwa di jiwanya berdenyut sangat cepat.
Bukan memberikan teknik baru, melainkan seolah ikut menyaksikan kelahiran sesuatu yang sangat agung dari dalam diri Lin Yuan.
Pria berjubah putih mengangkat pedangnya ke arah langit. "Lin Yuan, jika jalanmu benar-benar telah lahir, maka bertahanlah dari ini."
Detik berikutnya, seluruh langit berbintang berubah menjadi lautan cahaya, dan ribuan pedang cahaya perlahan muncul di atas kepala mereka.
Masing-masing pedang memancarkan niat pedang yang sangat kuat, membuat seluruh dunia seolah dipenuhi oleh ujung tajam pedang cahaya.
"Ini adalah ujian terakhirmu," ucapnya tenang. Ribuan pedang cahaya mulai bergetar hebat, lalu serempak melesat lurus ke arah Lin Yuan.
Suara sistem kembali bergema memberikan peringatan bahaya tingkat tinggi yang melebihi batas analisis dan merekomendasikan penggunaan Naluri Tempur.
Puluhan garis cahaya memenuhi pandangan Lin Yuan, menunjukkan jalur menghindar, namun dia hanya meliriknya sekilas lalu menggelengkan kepala perlahan.
"Tidak, aku sudah terlalu lama bertarung menggunakan jawaban orang lain," ucapnya lirih namun penuh dengan rasa percaya diri.
Ia mengembuskan napas panjang lalu menutup kedua matanya, mengabaikan peringatan sistem mengenai risiko kematian yang kini meningkat sangat drastis.
Di dalam kegelapan, ia hanya merasakan keberadaan pedang di tangannya yang terasa sangat dingin, kasar, namun juga sangat akrab.
Pedang itu telah setia menemaninya sejak meninggalkan sekte, melewati banyak pertempuran hingga hampir patah dan dipenuhi oleh banyak darah.
"Kalau begitu, mari kita melangkah bersama," bisiknya sambil menggenggam gagang pedang lebih erat lagi dengan penuh rasa keyakinan besar.
Pria berjubah putih mengayunkan tangannya. "Jatuh!"
WUSSHHH!
Ribuan pedang cahaya melesat turun seperti hujan yang sangat menyesakkan seluruh jiwa.
Ruang bergetar hebat dan permukaan putih mulai hancur, namun Lin Yuan tetap diam membisu selama beberapa tarikan napas panjang.
Saat ribuan pedang tinggal beberapa meter saja, ia perlahan membuka matanya yang kini terlihat sangat tenang, jernih, dan tanpa ragu.
"Aku tidak lagi membutuhkan jalan milik orang lain," ucapnya. Pedangnya perlahan terangkat melakukan satu gerakan yang sangat sederhana sekali.
Gerakan itu tidak mengikuti teknik mana pun, benar-benar lahir murni dari dirinya sendiri sebagai sebuah tebasan yang sangat hening.
SWIISSSHH!
Satu tebasan melintas dengan sangat sunyi, seolah dunia baru saja kehilangan seluruh suaranya dalam sekejap mata.
Detik berikutnya,
PRANG!
Ribuan pedang cahaya hancur berkeping-keping menjadi serpihan berkilauan yang memenuhi seluruh langit berbintang yang sangat luas.
Seluruh dunia kembali sunyi, dan pria berjubah putih menatap pemandangan itu dengan senyuman bangga yang muncul di wajahnya.
"Itulah pedang milikmu yang sesungguhnya," ucapnya. Lin Yuan masih berdiri tegak meskipun tubuhnya dipenuhi oleh banyak luka yang perih.
Pria berjubah putih mulai berubah menjadi butiran cahaya. "Sekarang kau bukan lagi orang yang berjalan di belakang para pendahulu."
"Kau telah memulai jalanmu sendiri," lanjutnya. Suara sistem bergema memberikan selamat atas keberhasilan Lin Yuan menyelesaikan ujian Gerbang Takdir.
[Selamat! Ujian Gerbang Takdir selesai! Pemahaman Pedang meningkat drastis dan benih Jalan Pedang milik Tuan telah berhasil dibentuk!]
[Sinkronisasi dengan Pecahan Kenangan Jiwa kini telah meningkat menjadi 45%, memberikan kekuatan baru yang sangat luar biasa bagi Tuan!]
Butiran cahaya semakin banyak dan tubuh pria berjubah putih perlahan mulai memudar sepenuhnya dari pandangan mata Lin Yuan sekarang.
Sebelum benar-benar menghilang, dia memberikan satu pesan terakhir yang sangat penting bagi perjalanan Lin Yuan di masa depan nanti.
"Ingatlah, Lin Yuan. Takdir bukanlah sesuatu yang harus kau patuhi, melainkan sesuatu yang harus kau potong dengan pedangmu sendiri."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, tubuh pria berjubah putih sepenuhnya berubah menjadi cahaya putih dan menghilang ditelan langit berbintang.
Cahaya putih itu perlahan masuk ke dalam Pecahan Kenangan Jiwa di tangan Lin Yuan, membuat kristal tersebut berdenyut dengan sangat kuat.
Dunia berbintang perlahan mulai retak dan hancur, dan kesadaran Lin Yuan kembali ditarik menuju Aula Delapan Gerbang yang sangat luas.
Bersambung...