Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Amplop Coklat
Nara terdiam sejenak, memandangi jemarinya sendiri.
"Dan semalam... aku bilang aku menerima perjodohan itu. Tapi begitu bangun tidur pagi ini, rasa takut itu datang lagi, Ras. Aku bimbang luar biasa. Apakah aku mengambil keputusan ini hanya karena aku kecewa sama Devino? Apakah aku cuma menyerah pada kehendak orang tuaku? Aku takut melangkah ke pernikahan tanpa rasa cinta, Ras. Aku takut terjebak dalam rumah tangga yang dingin."
Laras mendengarkan setiap patah kata Nara dengan penuh empati. Ia mengusap punggung tangan sahabatnya itu, memberikan dorongan kekuatan.
"Ra, wajar banget kalau kamu merasa bimbang," tutur Laras dengan nada lembut namun bijak. "Kehilangan hubungan bertahun-tahun dalam sehari, lalu dihadapkan pada komitmen seumur hidup di hari yang sama... otak dan hatimu butuh waktu untuk bernapas. Tapi dengar aku baik-baik."
Laras menatap lurus ke dalam mata Nara. "Kamu kenal dirimu sendiri lebih baik dari siapa pun. Apakah Zaid pria yang buruk? Dari ceritamu, dia terdengar punya integritas. Pria yang mau memberi ruang untuk kamu memilih di depan orang tuamu itu jarang, Ra. Tapi kalau kamu ragu karena takut belum mencintainya, ingat ini: 'cinta bisa tumbuh dari rasa hormat dan rasa aman. Sesuatu yang mungkin nggak kamu dapatkan dari Devano belakangan ini."
Laras tersenyum tipis, meremas lembut tangan Nara. "Tapi kalau kamu bimbang karena merasa dipaksa situasi, ambil jeda, Ra. Jangan melangkah karena panik. Bicarakan lagi dengan Zaid. Dari ceritamu, pria bernama Zaid itu sepertinya tipe orang yang bisa diajak bicara rasional."
Mendengar bait-bait nasihat dari Laras, beban di dada Nara seolah terangkat sebagian. Kehadiran sahabat lamanya malam ini sungguh seperti penawar dahaga di tengah gurun kebingungan. Nara tersenyum tulus, rasa hangat menyelimuti hatinya.
"Terima kasih ya, Ras," kata Nara lirih. "Aku bersyukur banget bisa ketemu kamu malam ini. Kalau nggak... mungkin kepalaku sudah meledak."
Laras terkekeh pelan. "Sama-sama, Kaynara. Kita ini sahabat dari jaman seragam putih-merah sampai kuliah. Mau terpisah berapa lama pun, kalau kamu butuh tempat cerita, aku bakal selalu ada."
.
.
.
Sementara itu, di sudut lain kota, di dalam sebuah ruang kerja minimalis bertatanan serba kayu gelap, Zaid sedang duduk di balik meja kerjanya. Suasana ruangan itu hening, hanya dihiasi suara denting jarum jam dinding dan hembusan pendingin ruangan.
Di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas bermaterai yang baru saja ia cetak.
Zaid menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya, memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa lelah. Matanya menatap berkas dokumen di meja.
Itu bukan dokumen bisnis, melainkan sebuah Draft Kesepakatan Pra-Nikah yang ia susun sendiri secara khusus untuk Kaynara.
Zaid sadar betul siapa dirinya dan siapa Nara. Ia adalah pria dewasa dengan masa lalu yang panjang dan karakter yang sudah terbentuk kaku oleh pengalaman hidup, sementara Nara adalah wanita muda yang masih memiliki banyak mimpi yang ingin diraih.
Keputusan Nara untuk menerima perjodohan ini semalam, meski diucapkan dengan tegas, tidak lantas membuat Zaid merasa berpuas diri.
Sebagai pria yang matang, Zaid bisa membaca bahwa ada riak keraguan dan keterkejutan yang masih tersisa di mata gadis itu.
Ia tidak ingin pernikahan ini menjadi penjara bagi Nara. Ia tidak ingin Nara merasa kehilangan jati dirinya hanya karena berstatus sebagai istrinya kelak.
Zaid meraih pulpen bertinta hitamnya, lalu membaca ulang setiap poin yang telah ia ketik dengan cermat:
Kebebasan Karier dan Impian, Kaynara memiliki hak penuh untuk melanjutkan karier, pendidikan, serta mengejar seluruh impian pribadinya tanpa batasan atau campur tangan yang mengekang dari pihak suami.
Ruang Pribadi dan Waktu Adaptasi. Pernikahan ini akan dijalankan atas dasar saling menghormati batas wilayah pribadi (personal space). Tidak ada pemaksaan kewajiban emosional maupun fisik sampai kedua belah pihak merasa siap dan nyaman secara sukarela.
Kemandirian Finansial. Seluruh kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab penuh suami, sementara pendapatan pribadi Kaynara tetap menjadi hak milik penuh Kaynara tanpa tuntutan kontribusi rumah tangga.
Keterbukaan dan Evaluasi: Kedua belah pihak berhak mengajukan diskusi atau penyesuaian atas kehidupan bersama jika di kemudian hari timbul rasa tidak nyaman atau tekanan psikologis.
Zaid mengetukkan ujung pulpennya di atas meja. Dokumen ini dibuatnya bukan untuk bersikap formalitas atau dingin, melainkan sebagai bentuk perlindungan dan jaminan kebebasan bagi Nara.
Ia ingin memberikan kebebasan mutlak agar gadis itu bisa menikmati hari-harinya tanpa merasa terbebankan oleh pernikahan yang tak berlandaskan cinta sejak awal ini.
"Saya ingin kamu masuk ke rumah saya sebagai seorang wanita yang berdaya, Nara, bukan sebagai tawanan dari keadaan," gumam Zaid pelan pada keheningan ruangan.
Zaid merapikan lembaran kertas tersebut, memasukannya ke dalam sebuah amplop cokelat tegap yang rapi.
Dokumen ini akan ia serahkan langsung kepada Nara esok hari, agar gadis itu bisa membaca, memahami, dan memikirkannya baik-baik sebelum janji suci itu benar-benar diucapkan di hadapan penghulu.
Zaid menatap ke luar jendela kantornya yang memantulkan kerlip lampu kota di bawah naungan malam.
Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Namun, jika ini adalah jalan yang harus ia tempuh untuk melindungi dan mendampingi Kaynara, maka ia akan memulainya dengan cara yang paling terhormat: memberi rasa aman dan kebebasan tanpa syarat.
.
.
.
Akhir pekan tiba membawa hembusan angin pagi yang sejuk, namun dinginnya tak mampu meredakan gemuruh halus yang bersemayam di dada Nara.
Sesuai janji yang telah disepakati melalui pesan singkat dua hari lalu, Nara melangkah masuk ke sebuah restoran bergaya klasik Eropa yang terletak di kawasan bernuansa tenang di pusat kota.
Interior restoran itu begitu megah sekaligus hangat. Dinding-dinding kayu mahoni dipadukan dengan cermin berukir emas, sementara alunan musik piano klasik mengalun lembut membelah keheningan.
Di salah satu sudut meja yang agak terisolasi dekat jendela berkorden beludru, sosok Zaid sudah duduk menanti.
Pria itu tampak sangat berkelas. Mengenakan kemeja rajut warna abu-abu gelap berpola simpel namun pas di tubuhnya, Zaid memancarkan aura dewasa yang tenang sekaligus dominan.
Wajah tampannya dengan garis rahang tegas tampak begitu tenang tanpa ekspresi yang berlebihan.
Di atas meja di hadapannya, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak rapi di samping cangkir kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap tipis.
Nara menarik napas panjang untuk menata hatinya sebelum melangkah mendekat.
"Selamat pagi, Zaid. Maaf kalau aku membuatmu menunggu," sapanya pelan seraya menarik kursi di seberang Zaid.
Zaid mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap Nara. Sorot matanya yang dalam dan dingin menghujat lembut keraguan Nara.
"Selamat pagi, Nara. Kamu tepat waktu. Saya baru saja tiba sepuluh menit yang lalu," balas Zaid dengan suara basnya yang khas dan tenang.
Seorang pelayan datang menyajikan secangkir hot cappuccino pesanan Nara. Setelah pelayan pergi, keheningan sempat merayapi meja mereka selama beberapa saat.
Nara menggenggam cangkirnya, merasakan hangat yang merambat ke jemarinya, sementara Zaid menatapnya dengan lekat—mengamati setiap gurat kelelahan dan kebingungan yang berusaha Nara sembunyikan.
Tanpa basa-basi atau kata-kata manis yang berbelit-belit, Zaid meraih amplop cokelat tersebut dan menggesernya pelan ke hadapan Nara.
"Sesuai apa yang saya katakan semalam di rumahmu, saya adalah pria yang menghargai kejelasan," ujar Zaid memulai percakapan dengan gaya bicaranya yang tegas dan lugas.
"Ini adalah berkas kesepakatan pra-nikah yang saya susun sendiri untuk kamu."
Nara menatap amplop cokelat itu dengan dahi berkerut tipis. Jemarinya ragu-ragu menyentuh permukaannya yang kaku.
"Kesepakatan pra-nikah?"
"Buka dan bacalah. Saya ingin kamu memahami setiap poinnya sebelum kamu benar-benar mengikatkan diri dalam pernikahan ini,"
Tutur Zaid, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang kokoh. Wajahnya tetap dingin, namun ada keseriusan yang mutlak di mata hitamnya.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏