Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ada apa? Apa yang ingin papa katakan padaku," ucap Karen yang saat ini berhadapan dengan papa Ardan.
Sang papa yang melihat itu segera berdiri dari duduknya, dari dulu kasih sayang papa Ardan tidak pernah berbeda antara Karen dan juga Lilian, hanya saja dia sedikit lebih memanjakan Lilian di karenakan dia anak perempuan, di keluarga Pratama anak perempuan sangat jarang di dapatkan dalam keturunan mereka, jadi kehadiran Lilian adalah sebuah keberkahan di keluarga tersebut. Bukan tidak memanjakan Karen, sang papa hanya akan sedikit lebih tegas karena dia seorang laki-laki.
"Nak, adikmu telah kembali ke mansion ini, tidak kah kau ingin menemui nya? Sejak kembali dia langsung mencari mu, apakah sampai detik ini kau masih membencinya?" ucap papa Ardan sambil berdiri di hadapan Karen, ia kemudian menatap kedua kaki putra nya yang lumpuh itu.
Karen terdiam setelah mendengar ucapan sang papa, ia menunduk dan menatap kedua kakinya dan kemudian mencengkram erat kain yang selalu menjadi penutup bagian atas kaki nya itu.
"Aku, aku tidak pernah membencinya," ucap Karen dengan suara lirih. Tak lama setelah itu bulir bening yang selama ini dia tahan menetes membasahi pipinya.
Hati ayah mana yang tidak hancur melihat kedua anak nya memiliki penderitaan hidup yang berat seperti Karen dan Lilian.
"Papa tau kau tidak akan pernah bisa membenci adik mu, tetapi papa bisa merasakan rasa sakit yang kau rasakan, biar bagaimanapun, kelumpuhan yang terjadi padamu adalah karena Lilian," ucap sang papa lagi.
"Jangan katakan hal itu lagi pa, aku memang menyesali kondisi ku yang seperti ini, aku tidak pernah membencinya, aku hanya belum siap untuk bertemu dengan nya karena aku tau dia akan sangat sedih melihat kondisi ku seperti sekarang, bagaimana kalau dia mengajukan pertanyaan? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya? Itu tidak mungkin pa, seumur hidupnya dia akan merasa bersalah jika dia tau kalau dialah penyebab aku menjadi cacat," ungkap Karen, kedua matanya memerah menatap sang papa, ia tampak sangat sedih.
Di dunia ini, dimana lagi kalian bisa menemukan kakak sebaik Karen? Oh tidak, kakak laki-laki seperti ini hanya ada di dalam novel, itupun tergantung author nya.
Papa Ardan seketika terdiam mendengar ucapan Karen barusan, selama ini dia selalu berfikir kalau pastinya ada sedikit rasa kesal di diri anak laki-lakinya itu terhadap sang adik, ternyata dia salah, yang terjadi malah sebaliknya, Karen ternyata memilih menjauh dari Lilian karena takut kalau sang adik tau dirinya jadi penyebab kecelakaan Karen.
"Nak, dengar kan papa, jika memang kau tidak ingin memberi tahu Lilian hal yang sebenarnya, maka simpan lah kenyataan itu selama yang kau bisa, kau bisa membohongi nya dengan mengatakan kalau kau kecelakaan baru-baru ini, tapi jangan sampai kalian tidak bertemu karena menjaga jarak dengan Lilian hanya akan membuat nya semakin curiga kalau kau menyembunyikan sesuatu," ucap sang papa menasehati.
"Papa benar, aku tau apa yang harus aku lakukan pa, kalau begitu aku permisi," ucap Karen yang kemudian berlalu pergi dari ruang kerja sang papa.
papa Ardan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis dan membiarkan Karen meninggalkan ruang kerja nya.
"Apa yang papa katakan memang benar, tapi aku benar-benar belum siap menemui Lilian dengan kondisi seperti ini," ucap Karen dalam hatinya.
Keesokan harinya,
Matahari bersinar cerah, sangking cerah nya sinar itu mampu menembus gorden kamar Lilian dan pancaran itu tepat mengenai wajah Lilian yang saat ini tertidur dengan damai dan lelap di dalam kamar nya yang luas.
"Huaaam," ia menguap sambil mengucek matanya yang terasa silau, ini pertama kalinya setelah tiga tahun ia tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dari siapapun.
"Sudah jam berapa sekarang?" ucap Lilian sambil melihat ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamar nya.
"Aku pikir masih sangat pagi, tapi kenapa matahari terbit sangat cepat, sinar nya begitu terang," ucap Lilian, ia bangun dan melihat sekeliling kamar dan seketika ingat kalau saat ini dia sudah kembali kekeluarga Pratama.
Hatinya seketika terasa tenang, kini tak ada lagi orang yang akan berisik menjadikan dirinya seperti pelayan yang harus bangun di pagi hari dan menyiapkan segala kebutuhan di rumah.
tok ...
Tok ...
Tok ...
Terdengar ketukan di luar pintu kamar Lilian,
"Siapa?" Tanya Lilian sambil sedikit meninggikan suaranya, karena jika terlalu pelan tidak akan didengar dari luar.
"Nona Lilian, sarapan pagi sudah siap, mau di antar ke kamar atau turun makan bersama tuan muda dan tuan besar?" Terdengar suara pelayan di luar pintu kamar tersebut.
"Kakak," lirih Lilian dengan jantung yang seketika berdegup kencang.
"Nona!" sang pelayan kembali memanggil.
"Turun, aku akan turun ke bawah untuk makan bersama, katakan kepada papa dan kakak untuk menunggu sepuluh menit saja," ucap Lilian penuh semangat.
"Baik nona," jawab sang pelayan yang kemudian berlalu pergi.
Kini Lilian kembali menikmati hidup sebagai putri kaya raya di keluarga Pratama, dan kemungkinan besar tak akan lagi ada yang berani menganggu nya kecuali mereka tidak tau siapa dia.
Lilian bergegas turun dari ranjangnya, mengambil handuk dan kemudian berlalu pergi ke kamar mandi, rasanya sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Karen, meskipun ada rasa takut tapi rasa rindu itu jauh lebih besar.
Sepuluh menit kemudian.
Sepanjang menunggu lift yang dia naiki turun ke lantai bawah Lilian terus memikirkan apa yang akan dia katakan kepada sang kakak ketika mereka pertama kali bertemu setelah sekian lama berpisah.
"Apa yang akan aku katakan nanti? Hallo kak? Ah tidak, apakah kakak akan menerima ku? Bagaimana kalau dia masih benci padaku karena keputusan bodoh yang sudah aku buat tiga tahun lalu?" gumam Lilian tak ada habisnya.
Tak lama kemudian, lift tersebut pun akhirnya berhenti, Lilian merapikan baju yang dia pakai, jujur saja saat ini dia masih memakai baju lama nya, beberapa helai ia bawa dari keluarga Bayron. ia bahkan belum sempat menyentuh lemari pakaian nya di kamar yang sudah lama dia tinggalkan.
"Lilian tenang lah, jangan gugup," ucap nya sambil melangkah menuju ruang makan mansion.
Sementara itu.
"Tuan muda selalu dingin dan cuek kepada semua orang setelah kecelakaan yang menimpa nya, aku yakin dia tidak akan pernah bisa memaafkan nona," ucap seorang pelayan yang saat itu tengah bergosip.
"Jaga bicaramu, jangan pernah ikut campur urusan keluarga Pratama, kita di sini hanya pelayan, lihat saja apa yang akan terjadi dan jangan sampai gosip itu terdengar ke telinga nona Lilian," ucap kepala pelayan yang mendengar bawahan nya bergosip.
Seketika para pelayan yang tadinya bergosip langsung bungkam.
****
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍