Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Pertama Kali Dekat
Gedung Kesenian Jakarta berdiri dengan wibawa tua yang berbeda dari gedung-gedung kaca SCBD.
Pagi itu, langit cerah setelah hujan semalam. Senja turun dari mobil dengan sepatu flat hitam, kemeja putih sederhana, dan celana kain yang mudah dipakai bergerak. Rayhan berjalan di sampingnya, mengenakan kemeja gelap tanpa jas, sesuatu yang membuatnya terlihat sedikit kurang seperti pria dari ruang rapat.
Sedikit saja.
Manajer program yang bernama Ibu Ratna menyambut mereka di pintu samping.
"Pak Wijaya, Nyonya Senja, selamat datang."
Senja segera berkata, "Panggil Senja saja, Bu. Hari ini saya datang sebagai penari dari Sanggar Tari Jefri."
Ibu Ratna tersenyum, matanya melirik Rayhan seolah memastikan itu tidak menyinggung sponsor besar.
Rayhan hanya berkata, "Ikuti yang dia minta."
Empat kata itu membuat Senja menoleh kepadanya.
Dia tidak menatap balik, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Mereka masuk ke dalam gedung. Aroma kayu tua, kain panggung, dan debu halus menyambut Senja seperti salam dari tempat yang sudah lama dia kenal meski belum sering dia datangi. Kursi-kursi merah menghadap panggung, lampu di langit-langit masih dimatikan, dan panggung kosong terlihat luas, tenang, menunggu.
Senja berhenti di tengah auditorium.
Tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya.
Ruang ini bisa menampung napas yang besar.
"Kamu suka?" tanya Rayhan.
Senja hampir menjawab terlalu cepat, lalu menahan diri. "Aku suka ruangnya. Tapi akustik dan lantainya perlu dicek untuk tari."
Ibu Ratna langsung mengangguk. "Lantai panggung bisa memakai vinyl tambahan. Kalau untuk kontemporer, biasanya kami pasang sesuai kebutuhan."
Senja berjalan ke dekat panggung. "Boleh saya naik?"
"Silakan."
Rayhan mengikuti sampai tangga kecil, tetapi berhenti di bawah. Senja melepas sepatunya sebelum naik, kebiasaan yang membuat Ibu Ratna tersenyum.
Begitu telapak kakinya menyentuh lantai panggung, seluruh tubuh Senja berubah.
Di bawah lampu biasa, tanpa kostum, tanpa musik, dia hanya berdiri. Namun Rayhan melihat perbedaannya. Bahunya turun, lehernya memanjang, tangan yang biasanya sering mencengkeram sesuatu kini terbuka pelan di sisi tubuh.
Seolah di atas panggung, Senja tidak perlu meminta izin untuk bernapas.
Dia berjalan beberapa langkah, menguji lantai. Lalu memutar setengah lingkaran, kecil saja. Gerakan itu bukan pertunjukan, tetapi cukup untuk membuat ruang kosong terasa terisi.
Ibu Ratna berkata pelan, "Cantik."
Rayhan tidak menjawab.
Dia tidak tahu kata apa yang tepat.
Senja turun dari panggung setelah mencatat beberapa hal. "Kalau pertunjukan donasi dibuat satu malam, penonton tidak perlu terlalu banyak. Lebih baik intim, fokus pada cerita anak-anak yang akan dibantu."
"Ko Jefri sudah punya konsep?" tanya Ibu Ratna.
"Belum final. Mungkin tiga bagian. Tubuh yang jatuh, tubuh yang ditolong, tubuh yang tumbuh lagi."
Rayhan mendengar kata-kata itu dan berpikir, tanpa ingin, bahwa konsep itu terdengar seperti Senja sendiri.
Mereka berjalan ke belakang panggung. Ibu Ratna menunjukkan ruang ganti, jalur masuk penari, tempat penyimpanan properti, dan panel lampu. Rayhan bertanya beberapa hal teknis tentang kapasitas listrik, jadwal sewa, dan perizinan sponsor. Pertanyaannya tajam, tetapi tidak mendominasi. Setiap kali pembahasan menyentuh koreografi, dia berhenti dan melihat Senja.
Membiarkannya menjawab.
Hal kecil itu disadari Senja.
Di ruang kontrol lampu, teknisi mencoba menyalakan beberapa fokus panggung. Cahaya putih jatuh ke lantai panggung, lalu berubah menjadi amber lembut. Senja berdiri di sisi panggung, melihat bayangan tubuhnya memanjang.
"Kalau lampu terlalu hangat, gerak tangan bagian Bedhaya bisa terlihat lambat," katanya.
Rayhan menoleh ke teknisi. "Bisa dibuat lebih netral?"
Teknisi mengubah pengaturan.
"Begitu?" tanya Rayhan kepada Senja.
Dia mengangguk, sedikit terkejut karena Rayhan bertanya padanya, bukan pada teknisi.
"Lebih baik."
"Catat," kata Rayhan.
Teknisi langsung mencatat.
Senja mendekat ke Rayhan. "Kamu tidak perlu mengatur semua orang secepat itu."
"Dia bertugas mencatat."
"Tetap saja."
Rayhan menatapnya. "Kamu ingin aku diam?"
Senja memikirkan jawabannya. "Aku ingin kamu bertanya dulu sebelum memutuskan."
Rayhan diam dua detik.
Lalu dia menoleh ke teknisi. "Tolong catat opsi lampu netral. Nanti keputusan final dari Senja dan Ko Jefri."
Teknisi mengangguk. "Baik, Pak."
Senja tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Apa?" tanya Rayhan.
"Tidak apa-apa."
"Kalimat itu dilarang."
"Aku senang."
Kata itu keluar begitu saja.
Rayhan berhenti.
Senja sendiri terkejut, tetapi kali ini dia tidak menariknya kembali.
"Karena kamu bertanya," tambahnya, lebih pelan.
Wajah Rayhan tetap datar, tetapi telinganya mungkin sedikit memerah. Mungkin hanya pantulan lampu amber. Senja tidak berani memastikan.
Setelah survei selesai, Ibu Ratna memberikan daftar biaya dan jadwal kosong. Senja menerimanya dengan kedua tangan. Rayhan tidak mengambil alih kertas itu. Dia hanya berdiri di sampingnya, membaca dari jarak yang sopan.
Di halaman belakang gedung, sebelum masuk mobil, Senja berhenti.
"Rayhan."
"Hm?"
"Terima kasih sudah tidak mengambil alih tadi."
"Aku hampir mengambil alih."
"Tapi kamu berhenti."
"Karena kamu mengingatkan."
Senja menatapnya. "Dan kamu mendengar."
Kalimat itu membuat keduanya sama-sama diam.
Jakarta di sekitar mereka terdengar ramai, tetapi di halaman kecil itu, ada jeda yang aneh. Tidak canggung seperti malam pertama. Tidak tajam seperti pertengkaran. Lebih seperti ruang kosong di atas panggung tadi, menunggu musik.
Rayhan membuka pintu mobil untuknya.
"Kamu terlihat berbeda di panggung," katanya tiba-tiba.
Senja memegang pintu. "Berbeda bagaimana?"
"Lebih... bebas."
Kata itu keluar dengan susah payah, seolah Rayhan tidak terbiasa memberi nama pada hal yang tidak bisa dihitung.
Dada Senja menghangat.
"Aku memang merasa lebih bebas di sana."
Rayhan menatapnya sebentar.
"Kalau begitu," katanya, "suatu hari aku ingin melihatmu menari penuh di panggung itu."
Senja masuk ke mobil dengan jantung yang berdetak lebih cepat daripada setelah satu putaran koreografi.
Di luar, Rayhan menutup pintu dengan hati-hati, seolah suara keras bisa merusak sesuatu yang baru saja mulai tumbuh.
Di dalam mobil, Senja membuka daftar biaya dari Ibu Ratna. Angka-angkanya membuatnya kembali ke bumi.
"Ini tidak kecil," katanya.
Rayhan duduk di sampingnya. "Tidak."
"Kalau memakai sponsor besar, nama sponsor pasti muncul."
"Bisa dibuat program patronase anonim."
Senja menoleh. "Anonim?"
"Dana masuk lewat yayasan seni. Nama publik tetap Sanggar Tari Jefri dan Gedung Kesenian Jakarta. Kalau kamu ingin."
Dia mengatakan kalau kamu ingin, bukan kalau aku putuskan.
Senja menatap daftar itu lagi. "Aku harus bicara dengan Ko Jefri."
"Bicara."
"Dan kalau dia menolak?"
"Cari bentuk lain."
"Kamu terdengar yakin semua hal punya jalan."
Rayhan memasang sabuk pengaman. "Tidak semua. Tapi kebanyakan masalah lebih mudah dipecahkan kalau orang berhenti panik."
Senja tersenyum kecil. "Itu nasihat atau kritik?"
"Dua-duanya."
Dia seharusnya tersinggung. Tetapi kali ini, di antara angka biaya, rencana panggung, dan pintu mobil yang tadi ditutup hati-hati, Senja hanya merasa percakapan itu terdengar seperti awal kerja sama.