NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi itu, suasana mansion yang semalam begitu sunyi berubah menjadi riuh oleh suara seorang gadis yang sedang kesal.
"PAMAN... MARCOOO! BANGUN! INI SUDAH JAM DELAPAN PAGI!" teriak Liora dari balik pintu penghubung sambil mengetuknya berkali-kali.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada jawaban.
Liora mengembuskan napas, lalu menempelkan telinganya ke pintu.
"Halo Paman? Kau masih hidup kan?" gerutunya pelan.
Tetap sunyi. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda-tanda pria itu bangun.
"Sial, apa dia benar-benar melupakan janjinya?" gumam Liora dengan bibir yang mulai mengerucut kesal.
Ia sudah rapi sejak setengah jam yang lalu. Sweater rajut berwarna krem dipadukan dengan celana jeans biru muda dan sneakers putih membuat penampilannya sederhana tapi tetap cantik.
Sebuah tas selempang kecil menggantung di bahunya, sementara kamera instan sudah siap dibawa untuk mengabadikan momen selama berkeliling Amsterdam. Namun, orang yang berjanji mengajaknya jalan justru masih terlelap.
Liora kembali mengetuk, kali ini lebih keras.
"Paman Marco! Kalau kau lima detik lagi tidak juga bangun, aku akan masuk!"
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima!
Tak ada respons. Liora memutar kenop pintu penghubung yang ternyata tidak dikunci. Pintu itu terbuka perlahan.
"Ck, benar-benar tidur seperti beruang," gumamnya.
Ia mengintip dari balik pintu. Marco masih tertidur pulas di atas ranjang. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya, sementara rambut hitamnya tampak sedikit berantakan. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya, bahkan ada kesan lembut yang jarang diperlihatkannya saat sadar.
Liora berjalan mendekat sambil melipat kedua tangan di dada.
"Paman," Tak ada jawaban. "Marco!"
Masih diam. Liora mendengus pelan. "Baiklah, jangan salahkan aku."
Ia mengambil salah satu bantal di samping Marco, Bantal itu mendarat tepat di wajah Marco.
"Hmff!" Marco langsung tersentak bangun.
"Siapa—"
Ia buru-buru menarik bantal dari wajahnya, lalu terkejut saat melihat Liora berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Selamat pagi, Paman Marco apa kau melupakan janjimu?" ucap Liora dengan senyum manis yang jelas-jelas menyembunyikan kekesalan.
Marco berkedip beberapa kali sebelum menoleh ke arah jam di nakas.
"Pukul delapan?" Mata Marco langsung membesar.
"Sial!"
Ia segera bangkit dari ranjang hingga rambutnya semakin acak-acakan. Pria itu menyibak selimutnya tanpa berpikir panjang.
"Sorry aku sangat lelah!"
"Aaaakkkkhhh!"
"Hei ada apa denganmu?"
"Lihatlah itu."
Marco menatap kebawah. Ia lupa, ia lupa jika ia hanya memakai boxer saja.
Ah sial!
Tapi dengan segera pria itu tidak memikirkan lagi. Ia berjalan tanpa malu didepan Liora.
"Hei lihatlah, kau tidak punya malu."
"Terlambat, kau sudah melihatnya."
"Brengsek!" gumamnya nyaris tak terdengar. "Dia benar-benar Paman yang menyebalkan."
Marco sama sekali tidak menyadari wajah Liora sudah semerah tomat.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, pria itu berjalan santai menuju lemari pakaiannya, seolah hanya mengenakan boxer adalah hal yang biasa.
"Marco!" pekik Liora sambil buru-buru menutup kedua matanya. "Setidaknya pakailah celana dulu!"
Marco yang sedang mengambil kaus dari lemari akhirnya menoleh. Baru saat itu ia benar-benar menyadari betapa merahnya wajah gadis itu.
Ia menghela napas pelan, lalu terkekeh.
"Kenapa? Bukankah kau yang nekat masuk ke kamarku?"
"Itu karena kau tidak bangun-bangun!"
"Jadi sekarang salahku?"
"Iya!"
Marco menggeleng geli. Ia segera mengenakan celana training hitam dan kaus putih dengan cepat.
"Nah, sekarang aman."
Liora perlahan membuka matanya. Saat memastikan Marco sudah berpakaian lengkap, ia langsung mengembuskan napas lega.
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Kau juga cerewet sekali pagi-pagi."
"Cerewet? Kalau aku tidak membangunkanmu, mungkin sekarang kau masih tidur sampai siang."
Marco mengusap tengkuknya dengan wajah sedikit bersalah.
"Baiklah, aku memang salah."
Liora mendengus, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Jadi, sebagai hukuman, hari ini semua es krim yang kumakan kau yang bayar."
"Hanya es krim?"
"Belum tentu."
Marco mengangkat sebelah alis. "Lalu?"
"Minuman, camilan, mungkin juga suvenir."
Marco tertawa kecil. "Kau memang pintar memanfaatkan keadaan."
"Itu namanya kompensasi."
"Baiklah." Marco mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku akan membayarnya."
Mata Liora langsung berbinar. "Serius?"
"Serius."
"Jangan ditarik lagi ucapannya."
"Tidak akan."
Liora langsung tersenyum lebar. Rasa kesalnya seolah lenyap begitu saja.
"Kalau begitu cepat mandi! Aku sudah menunggu hampir satu jam."
"Iya, Nona."
Marco memberi hormat dengan gaya bercanda hingga membuat Liora memutar bola matanya dengan malas.
"Dasar."
Liora pun keluar dari kamar sambil menggeleng-gelengkan kepala, masih mengomel pelan.
"Benar-benar paman yang tidak tahu malu."
Sementara itu, Marco menutup pintu kamarnya dan bersandar sejenak dipintu kamar mandi. Senyumnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi yang lebih rumit.
Bayangan wajah Liora yang memerah karena malu kembali terlintas di benaknya.
Marco mengusap wajahnya kasar. "Apa yang kulakukan tadi." Ia menghela napas panjang. "Aku benar-benar lengah."
Entah mengapa, melihat reaksi Liora justru membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Perasaan itu kembali muncul, perasaan yang sejak semalam berusaha ia abaikan.
Marco mengepalkan tangannya pelan.
"Tidak, aku tidak boleh semakin larut."
Dengan cepat ia menuju kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, berharap dapat mengusir kekacauan yang memenuhi pikirannya sebelum menemani Liora berkeliling Amsterdam.