NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halte

Sedangkan Nara sekarang sedang berjongkok di halte depan sekolahnya. Dia belum membawa mobilnya karena masih masuk bengkel. Sekarang dia malah sibuk memikirkan gimana caranya uang Rp200.000 itu cukup sampai akhir bulan. Padahal sekarang masih awal bulan banget.

"Aduhh... gue nggak bisa begini. Lo sih bodoh banget, kenapa nggak pindahin uangnya ke rekening lo sendiri aja? Kan Papi nggak bakal ketahuan," gerutunya sambil mengacak rambutnya sendiri.

Sekolah sudah mulai sepi. Asha pulang bareng Niel, sedangkan Rora sudah dijemput sopirnya.

Nara sebenarnya sudah menelepon sopir rumahnya, tapi ternyata sopirnya sedang cuti karena sakit. Dia juga sempat menghubungi maminya buat minta dijemput, sayangnya chat yang dia kirim belum dibalas.

Akhirnya dia cuma bisa menunggu tanpa kepastian.

Sebenarnya dia bisa saja naik taksi, tapi sekarang dia sedang berhemat mati-matian.

Di sisi lain, Alden baru saja keluar dari gerbang sekolah. Tatapannya langsung menangkap sosok Nara yang masih berjongkok sendirian di halte.

Dengan inisiatif, cowok itu menghampiri.

"Ngapain lo masih di sini?" tanya Alden.

Nara hanya melirik sekilas.

"Gue nungguin mami. Lo sana pulang aja."

Alden mengangkat sebelah alisnya.

"Mami lo udah OTW?"

"Gatau."

"Loh, gimana sih lo?"

"HP gue mati. Jadi tadi gue udah kirim chat ke mami, tapi nggak tahu udah masuk atau belum. Soalnya HP gue keburu mati."

Alden mengangguk paham.

"Bareng gue aja. Sini, gue anterin."

Nara langsung menggeleng.

"Lo duluan aja. Gue nunggu mami."

"Mami lo belum tentu datang."

Nara tetap diam.

"Udah mau hujan, Nar. Lo masih mau nunggu di sini?"

Nara mendongak ke langit.

Benar saja. Awan gelap mulai menutupi langit sore itu.

"Iya..."

Alden mengembuskan napas pelan. Dia nggak tega ninggalin cewek itu sendirian.

Cowok itu mematikan motornya, lalu berjalan ke halte dan duduk di kursi.

"Sini duduk. Ngapain lo jongkok terus?"

Nara tetap nggak bergerak.

"Nggak deh, lo aja," jawabnya lemas.

Alden tahu kenapa suasana hati cewek itu jelek. Kemungkinan besar masih gara-gara kejadian di ruang OSIS tadi.

Akhirnya Alden ikut berjongkok di sebelah Nara.

"Lo ngapain jongkok juga sih?" protes Nara.

"Nggak papa."

Nara mendengus kesal.

Akhirnya dia ikut bangkit dan duduk di kursi halte. Beberapa saat mereka hanya diam ditemani angin sore yang mulai bertiup.

"Yakin mami lo udah OTW?" tanya Alden lagi.

Nara menggeleng pelan.

"Lo jahat sama gue, Al. Kalau tahu bakal begini, mending gue tolak aja pertunangan kemarin."

Alden menoleh pelan.

"Di mana-mana kalau dijodohin, pasangan itu harus ngambil hati pasangannya. Lah lo mah boro-boro. Jangan kan gue nyaman sama lo, yang ada gue darah tinggi mulu gara-gara lo. Gimana gue mau jatuh cinta sama lo, Al?" ucap Nara lirih.

Alden hanya mendengarkan tanpa menyela.

"Harusnya lo tahu gimana caranya bikin gue nyaman. Lah ini nggak ada sama sekali. Kalau emang lo terpaksa sama pertunangan ini, mending lo ngomong aja sama daddy lo kalau lo mau batalin pertunangan kita. Biar gue juga ngomong sama mami sama papi gue."

Alden masih diam.

"Udah?" tanyanya santai.

Nara mengernyit.

"Apanya?"

"Udah ngomongnya?"

Nara langsung terdiam.

"Gue udah tahu akal-akalan lo, Nar. Gue udah komunikasi sama opa lo, oma lo, mami lo, bahkan papi lo juga soal kepribadian lo."

Nara langsung menoleh.

"Gue nggak mau nurutin cewek yang ngajak gue ke hal yang salah. Dan sifat lo sekarang itu masih banyak yang salah. Makanya gue harus tegas sama lo, pelan-pelan nyadarin lo."

"Apaan sih... nggak paham gue."

"Gue banyak ngelarang lo ini itu karena emang salah. Kalau gue biarin, lo bisa makin jauh ke arah yang nggak bener. Makanya gue selalu tegas buat ngingetin lo. Sorry kalau kesannya gue nyebelin, tapi kalau gue nggak tegas, siapa lagi yang bakal cegah lo sebelum kebiasaan buruk itu makin parah?"

Nara hanya diam mendengarkan.

"Lo nanti bakal jadi Nyonya Besar Adinata. Orang-orang bakal hormat sama lo. Tapi kalau sifat lo masih kayak sekarang, gimana orang mau segan? Yang ada lo malah dijauhin. Berbuat onar, berantem, ngelanggar aturan, siapa yang mau tunduk sama lo?"

Ucapan itu membuat Nara terdiam cukup lama.

"Gue dibesarkan di London. Gue emang suka gaya barat-baratan. Gue juga suka film action, makanya gue belajar bela diri biar bisa berantem kayak di film."

"Gue tahu. Tapi nggak semua hal harus lo jadiin contoh. Lo harus bisa milih mana yang positif, mana yang negatif. Bela diri itu nggak masalah, gue juga belajar kok. Tapi ya tahu tempat juga."

"Temen gue suka balapan motor."

"Dan nggak wajib juga buat lo ikutan, kan?"

Nara kembali terdiam.

"Lo sekarang tinggal di Indonesia. Lo juga harus bisa menyesuaikan diri sama tempat tinggal lo. Nggak semuanya harus disamain sama London."

Beberapa detik suasana kembali hening.

"Kalau lo udah nggak bandel lagi, gue bisa fokus ke dua hal. Pertama, ngebimbing lo. Kedua, dapetin hati lo. Sekarang prioritas gue ngerubah sikap lo dulu."

Nara langsung mendecih pelan.

"Lo mah nggak ada niatan buat deketin gue."

"Siapa bilang?"

Nara menoleh.

"Ada kok. Gue cuma ngedeketin lo dengan cara gue sendiri. Nanti juga lo bakal ngerasain sendiri perhatian sama usaha gue buat dapetin lo."

Entah kenapa, ucapan itu membuat Nara menoleh cukup lama ke arah Alden.

Sebelum sempat membalas, setetes air hujan jatuh ke lantai halte.

Alden berdiri sambil mengambil helmnya.

"Mami lo kayaknya nggak bakal datang. Sini, gue anterin pulang."

Nara menatap langit yang mulai menurunkan gerimis.

Beberapa detik kemudian, dia mengembuskan napas pelan.

"...Iya deh."

Mau nggak mau, kali ini dia mengiyakan ajakan Alden.

1
fayepey
Alden ini bukan yang 17 tahun langsung jadi CEO yaa guyss, cuman sekarang ini lagi belajar dikit-dikit dulu dan cari pengalaman dalam hal berbisnis, jadinya dia dapat uang dari pengalamannya itu 🥰🥰
aya
Mau cowo kayak Alden, cuek cuek tapi perhatian
syifa
Jangan lupa di lanjut kak, semangat
fayepey: terimakasih kak
total 1 replies
syifa
Seru kak ceritanya, lanjut yaa
fayepey
Hallo, terimakasih sudah membacanya!
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
fayepey
Selamat membaca, tinggalkan komentar yang positif, jika tidak suka tinggal skip aja yaa🤗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!