NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Tamat
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 ~ Tidur Bersama Anakku

Suara Hezlin terdengar tenang namun tegas, tak ada keraguan sedikit pun.

"Tidak, Ayah." ada jeda sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkannya. "Aku bukanlah boneka yang bisa ayah mainkan sesuka hati. Dan aku tidak mau memakai hal pribadi hanya untuk kepentingan bisnis ayah. Jika ayah mau.. lebih baik bicarakan langsung saja dengan Mas Garra! Aku tidak mau ikut campur dalam hal apapun. Jadi tolong selesaikan masalah ini lewat jalur bisnis yang benar. Aku tidak bisa membantu untuk hal ini."

Tanpa menunggu balasan lagi, Hezlin langsung menutup panggilan itu. Ia meletakkan ponsel di meja, menatap lurus ke depan. Hatinya sudah bulat, kali ini ia tak akan mengalah demi keinginan yang salah.

Hezlin menghela napas panjang, membuang sisa rasa berat di dadanya. Ia segera menata kembali fokusnya, lalu kembali menekuni sisa pekerjaannya dengan teliti.

Tak terasa waktu berjalan cepat, hingga jarum jam di dinding tepat menunjukkan pukul lima sore. Wanita itu pun segera merapikan berkas-berkas di meja, memasukkan barang miliknya ke dalam tas, lalu berdiri tegak.

Belum sempat ia melangkah menjauh, ponsel di atas meja berkedip pelan.

Ting!

Hezlin melirik sekilas, membaca pesan itu sekilas. ["Aku sudah di bawah."] - Garra

Ia terdiam sejenak, menatap layar yang redup. Dalam hatinya masih bertanya-tanya. Bagaimana dia tahu jam berapa Hezlin akan selesai? Bahkan sebelum ia sempat mengirim pesan untuk memberitahunya.

Entah kapan Garra mulai menghafal setiap detik waktunya, atau bagaimana caranya dia selalu bisa hadir tepat waktu tanpa perlu diminta. Hal itu entah kenapa selalu membuat dadanya terasa bimbang, antara merasa diperhatikan, tapi masih ragu apakah perhatian ini benar-benar hanya untuknya.

Ia tidak mengetik balasan apa pun. Langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan tenang menuju pintu keluar kantor.

Saat Hezlin melangkah keluar pintu utama kantor, mobil hitam Garra sudah terparkir rapi di sana. Tanpa diminta, bahkan Garra sendiri lah yang langsung turun dan membukakan pintu untuknya.

Hezlin masuk ke dalam mobil, duduk dan menutup pintu pelan. Garra kembali ke kursi pengemudi, lalu menatapnya sejenak lama, diam tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap lekat seolah ingin memastikan wanita itu baik-baik saja.

Setelah itu ia perlahan menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor.

Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara halus deru kendaraan di luar. Garra tidak banyak bicara, matanya tetap fokus ke jalan, sambil sesekali menatap ke arah Hezlin.

"Kamu terlihat lelah," ucapnya pelan sekali, seolah sedang menjaganya dengan hati-hati. "Ada hal yang mengganggumu?"

Hezlin menatap jendela di sampingnya, membiarkan bayangan gedung dan pohon melintas di pandangannya. Ia tidak ingin menyebutkan soal telepon ayahnya, tidak juga menanyakan soal keputusan bisnis tadi meskipun hal itu cukup mengusik pikirannya saat ini.

Tapi bukan berarti Hezlin akan menuruti perintah sang Ayah. Ia hanya tak habis pikir dengan sifat ayahnya sendiri yang selalu saja merasa kurang dan selalu memanfaatkan segala cara demi kepentingannya sendiri.

"Hanya banyak pekerjaan," jawabnya singkat, datar.

Garra melirik sekilas, tidak menuntut penjelasan lebih lanjut. Ia tahu mungkin Hezlin belum bisa bercerita terbuka, atau mungkin memang tidak ada hal penting yang perlu diceritakan padanya.

"Istirahatlah nanti di rumah," ucapnya lembut. "Aku sudah minta Bi Rum untuk menyiapkan sup hangat. Dan jangan lupa minum obatmu."

Hezlin diam saja, tapi perlahan ia memejamkan mata. Entah karena lelah, atau karena suara rendah Garra entah bagaimana membuat ketegangan di dadanya sedikit berkurang meski keraguan itu belum sepenuhnya hilang.

Mobil berhenti di halaman rumah. Begitu pintu terbuka, Hezlin langsung turun dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun, tanpa menunggu Garra menyusul.

Garra tetap duduk diam sejenak di dalam mobil, menatap punggung yang perlahan menghilang di balik pintu utama.

Ia menghela napas pelan.

Garra tahu betul, tidak mudah untuk meluluhkan hati wanita itu. Terlebih dulu dialah yang berkali-kali menegaskan bahwa Hezlin hanyalah istri kontrak, tidak lebih. Kata-kata itu kini kembali menghantui dirinya, saat ia baru benar-benar menyadari betapa berartinya sosok Hezlin di hidupnya.

•••••

Malam pun tiba, kali ini keduanya duduk berhadapan di meja makan yang tenang. Hezlin mencoba menyantap makanannya perlahan, namun baru beberapa suap masuk ke mulut, rasa mual yang tak diundang tiba-tiba menyerang perutnya. Ia segera menutup mulut dengan punggung tangan, wajahnya berubah pucat seketika.

"Hueekk!"

Garra langsung sigap berdiri, menuangkan segelas air putih dan menyodorkannya ke tangan Hezlin dengan cepat.

"Minum dulu," ucapnya cemas.

Hezlin meminum air itu perlahan, mencoba menenangkan perutnya yang bergejolak. Setelah rasa mual itu sedikit mereda, ia menatap Garra sekilas.

"Aku naik ke kamar dulu," pamitnya pelan.

Ia pun berjalan perlahan menuju kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut hingga setinggi dada.

Belum lama ia memejamkan mata, pintu kamar terbuka perlahan. Garra masuk membawa bungkusan obat dan segelas air putih.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya lembut sambil duduk di tepi kasur.

Hezlin menoleh sedikit, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir."

Garra tidak menjawab, ia malah membuka obat itu, lalu menyodorkannya. "Minumlah. Ini akan membantu meredakan mualnya."

Hezlin menerimanya, namun saat obat itu menyentuh lidahnya, wajahnya langsung berkerut tidak suka. Rasanya sangat pahit, bahkan menelan saja terasa berat.

"Pahit sekali..." keluhnya pelan tanpa sadar.

Garra terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengambil kembali obat itu dari tangan Hezlin. Ia meletakkan butiran obat itu tepat di antara bibirnya sendiri. Tanpa memberi waktu bagi Hezlin untuk bertanya, ia segera mendekat, menyatukan bibir mereka berdua dengan lembut namun cepat.

Cup!

Hezlin terkejut besar, matanya terbelalak. Obat itu kini berpindah masuk ke mulutnya, disertai kehangatan bibir Garra yang basah dan lembut. Ciuman itu berlangsung cukup lama, membuatnya lupa caranya bernapas, hingga akhirnya Garra perlahan menarik wajahnya kembali.

Garra menatapnya lekat, satu alisnya terangkat sedikit dengan senyum tipis yang menggoda.

"Sekarang sudah tidak pahit 'kan?" tanyanya pelan.

Wajah Hezlin memerah seketika, ia segera memalingkan wajah dan menggeleng cepat. "Tidak..." jawabnya lirih, suaranya terdengar gugup.

Garra tersenyum puas, lalu menyodorkan air putih lagi. Hezlin meminumnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Setelah selesai, Garra meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.

"Kalau begitu sekarang istirahatlah," ucapnya lembut.

Hezlin pun menurunkan tubuhnya kembali, merebahkan kepala di bantal dan menarik selimut rapat. Ia mengira Garra akan pergi, namun bukannya berjalan menuju pintu, pria itu malah berbalik arah, menutup pintu kamar perlahan, lalu kembali mendekat ke arah kasur.

Hezlin menatapnya bingung. "Kenapa kamu tidak keluar?" tanyanya pelan.

Garra tidak menjawab langsung, ia malah berbaring di sisi lain tempat tidur, menatap wanita itu dengan tatapan lembut yang belum pernah Hezlin lihat sebelumnya.

"Aku ingin tidur di sini," ucapnya tegas namun lembut. "....bersama anakku."

❤️

1
Siti Maulidah
ceritanya menarik
🥀
terimakasih KK Thor 😍
Zhao_Xena: sepertinya tidak kakak.. yukk kepoin aja novel baru akuuh..🤗🤗
total 3 replies
Zhao_Xena
Luar Biasa
You `ka
semoga Garra mau membantu, kasihan Rachel
You `ka
masih nggak sadar juga Kamu Felicia. Jangan takut Rachel
ayo lawan..💪
You `ka
mampus kau Felicia 🤣🤣
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Zhao_Xena: silahkan... 🤗🤗
total 1 replies
Red Blossom
Bikin Hezlin bantu pengobatan mamanya Rachel serta biaya adiknya Rachel thor
Zhao_Xena: asyaaappp....👍
total 1 replies
Alya Bau
up yang banyak lagii thorr 😍
Zhao_Xena: ditunggu besok yakk....🤗🤗
total 1 replies
aku
gara lembek
Gita ayu Puspitasari
ayo hempaskan pelakor hezlin🤭
Zhao_Xena: /Determined//Determined//Hammer//Hammer//Hammer/
total 1 replies
🥀
lgi Thor jgn ngantung kyk jemuran 😄
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ditunggu ya kak...
total 1 replies
You `ka
Cerita yang sangat bagus .. Berawal dari sebuah kesalahpahaman yang perlahan tumbuh menjadi tembok tinggi di antara mereka, kisah ini mengajarkan kita betapa mahalnya sebuah kepercayaan.

Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.
Zhao_Xena: waahh... terimakasih banyak untuk bintang sempurna serta ulasan terbaiknya kakak...🥰🥰
total 1 replies
You `ka
next..
You `ka
akhirnya ketauan juga... ayo Ervan, buat Rachel mengaku..
Alya Bau
di tunggu bab selanjutnya Thor, up yang banyak
Zhao_Xena: asyiiiaaappp...🫡
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
semangat garra😄
Zhao_Xena: /Smirk//Smirk//Smirk/
total 1 replies
You `ka
lanjut
You `ka
gercep Garra.. jangan biarin Felicia berhasil membohongi Hezlin
You `ka
jangan mudah percaya ucapan Felicia Hezlin,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!