S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.
"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"
Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. MJ 29.
...~•Happy Reading•~...
Enni sampai tidak bisa berkata-kata, melihat sikap Bu Titiek yang tidak diduganya. Dia minta terima kasih sambil memegang dadanya, sebab sangat terharu atas sambutan Bu Titiek padanya.
"Bi, kami sudah bisa makan siang?" Tanya Bu Titiek kepada Bibi yang datang mendekati mereka di ruang tamu.
"Sudah siap, kalau Ibu mau makan sekarang." Bibi menjawab dengan hormat.
"Baik. Tolong siapkan, ya." Bu Titiek ingin mereka bisa makan siang bersama, jadi minta Bibi segera siapkan untuk mereka.
Mendengar itu, Bagas segera pamit. "Bu, maaf. Bagas ngga bisa ikut makan siang. Tadi kehilangan banyak waktu di jalan dan ini sudah terlambat." Bagas berkata setelah melihat jam tangannya.
Selain ada yang mau dikerjakan, Bagas memberikan waktu buat Enni beradaptasi dengan Bu Titiek dan orang rumah. Sebab dia melihat Bu Titiek dalam kondisi baik dan bisa diajak ngobrol oleh Enni.
Bagas tahu, kondisi Bu Titiek kadang drop. Sehingga dia ingin waktu yang baik itu bisa digunakan Enni untuk berkomunikasi dengan Bu Titiek.
"Oh, iya, Nak. Hati-hati, ya." Bu Titiek berbalik melihat Bagas yang mau pamit padanya. Bu Titiek mengerti kesibukan Bagas, sebagaimana memaklumi kesibukan putranya.
"Trima kasih, Pak." Ucap Enni sambil mengatup tangannya di dada sebagai ungkapan terima kasih kepada Bagas yang sudah mengantarnya.
"Nanti kalau longgar, saya kembali." Ucap Bagas kepada Enni, lalu pamit pada Bu Titiek dan Enni. Kemudian meninggalkan mereka di ruang tamu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Bu Titiek melihat Enni. "Sebelum kita makan, Enni ke kamar untuk simpan bawaannya, ya." Bu Titiek berkata kepada Enni dan memberikan isyarat kepada Bibi untuk mengantar Enni ke kamarnya.
Bu Titiek tertegun melihat Enni hanya mengambil paper bag yang dia letakan di lantai, lalu berjalan mengikuti Bibi menuju kamar. Bu Titiek berpikir, Enni membawa tas berisi keperluannya.
"Nak, Enni." Panggil Bu Titiek.
"Yaa, Bu." Jawab Enni sambil berbalik.
"Ya, sudah. Ikuti saja Bibi. Ibu tunggu di ruang makan." Bu Titiek tidak jadi bertanya tentang bawaan Enni.
Tidak lama kemudian, Bu Titiek dan Enni duduk makan berdua. Bu Titiek tetap di kursi roda. "Makan yang banyak, Nak. Kulitmu sangat pucat. Di sini hanya kita berlima, jadi kalau mau makan sesuatu yang disuka, minta sama Bibi, ya." Bu Titiek berkata pelan, sambil meletakan potongan ayam ke piring Enni. Bu Titiek lakukan itu, karena melihat Enni sungkan mengambil lauk di depannya.
"Trima kasih, Bu." Enni berkata pelan, tersentuh.
"Semua yang sudah diletakan di sini, dimakan saja. Mereka bertiga sudah punya sendiri, nanti mereka makan setelah kita." Bu Titiek jelaskan lagi, agar Enni tidak ragu-ragu untuk makan.
"Iya, Bu. Trima kasih." Enni berkata lagi pelan. Dia sangat terharu, sebab ingat makan terakhir di meja makan bersama Prita di rumah Mami Sinna. Setelah itu, dia makan sendiri di kamar. Dia jadi teringat Prita, dan hampir membuat dia meneteskan air mata.
Enni buru-buru minum untuk menenangkan hatinya, agar tidak mengganggu makan Bu Titiek. Apa lagi melihat Bu Titiek makan hanya sedikit, dia segera makan dengan cepat agar tidak ditunggu.
"Pelan-pelan saja makannya. Ibu tidak bisa makan banyak." Ucap Bu Titiek saat melihat Enni makan dengan cepat saat melihat piringnya hampir kosong.
"Kalau mau tambah, silahkan. Ibu tunggu sambil makan buah." Bu Titiek melihat Enni telah menghabiskan makanannya.
"Cukup, Bu. Trima kasih." Enni berkata sambil mengangat kedua tangannya sebagai tanda sudah cukup dan berterima kasih.
"Baik. Kalau lapar, minta makan sama Bibi. Setelah ini, ikut Ibu ke kamar, ya." Bu Titiek berkata saat melihat Enni telah selesai makan jeruk.
"Iya, Bu." Enni merapikan meja saat melihat suster datang membawa obat dan melayani Bu Titiek.
"Biarkan saja, Non. Nanti Bibi yang rapiin. Non ikut Nyonya besar saja." Bibi mendekati Enni dan mengambil piring dari tangan Enni.
"Trima kasih, Bi." Enni menyerahkan piring dengan tidak enak hati, lalu berjalan cepat mengikuti Bu Titiek yang sedang didorong oleh suster.
Setelah di kamar, Enni memperhatikan semua yang dilakukan suster kepada Bu Titiek. Cara mengoperasikan kursi roda, sebab kursi roda Bu Titiek tidak sama yang di rumah sakit. Lebih cangih dan banyak cara untuk mengoperasikan.
Setelah Bu Titiek duduk bersandar di tempat tidur, suster keluar kamar meninggalkan mereka. Dia sudah terbiasa dengan rutinitas Bu Titiek, jika seseorang diajak ke kamar, ada hal pribadi yang akan dibicarakan.
"Nak, duduk di sini. Ibu mau tanya." Bu Titiek menepuk kasur di sampingnya. Enni duduk sesuai permintaan sambil berpikir, mungkin akan ditanyakan tentang profesinya.
"Tadi Nak Bagas lupa turunin tas pakaianmu, atau emang Enni tidak membawa tas?" Tanya Bu Titiek membuat Enni tertegun. Sebab dia sedang berpikir bagaimana cara menjelaskan tentang profesinya, agar tidak mempengaruhi kesehatan Bu Titiek.
"Ooh, memang tidak ada tas, Bu. Kantong yang saya bawa itu dari dr Kiran. Saya belum punya banyak pakaian. Semua dibeliin sama dr Kiran, Bu." Enni berkata pelan sambil menunduk, malu.
"Ooh, tidak apa. Ibu kira tadi ketinggalan atau Nak Bagas lupa turunin. Pakai dulu yang dibeliin sama dr Kiran. Nanti mantu Ibu datang, kau bisa pergi dengannya untuk cari kebutuhanmu." Bu Titiek berkata sambil menepuk pelan tangan Enni. Beliau jadi berpikir akan berbicara dan minta tolong Ambar, istri Mathias untuk menemani Enni.
"Kalau kau mau, bisa pakai baju rumah Ibu sambil tunggu mantu Ibu datang. Itu lemari pakaian Ibu yang sebelah kiri. Kau bisa pilih baju yang bisa kau pakai di rumah." Bu Titiek menunjuk ke salah satu lemari di dalam kamarnya.
"Pakaian Ibu bisa muat denganmu, sebab postur tubuh Ibu sebelum sakit sepertimu. Ini kunci, kau bisa buka, lihat dan pilih." Bu Titiek sangat terenyuh melihat kondisi Enni. Gadis seusia dia bisa dikasari dan dalam kondisi seperti itu. Apa lagi melihat bekas luka goresan di lengan yang masih berbekas, walau sudah sembuh.
"Trima kasih, Bu. Sementara saya pakai yang dibeliin dr Kiran dulu. Nanti kalau perlu, saya akan minta izin sama Ibu." Enni menolak dengan halus, sebab dia tahu ada beberapa potong pakaian yang diberikan dr Kirana padanya.
"Baik. Kalau ada perlu sesuatu, bilang saja sama Ibu. Sekarang istirahat dulu, nanti sore baru kita ngobrol lagi. Kalau perlu bacaan, minta saja sama suster. Ibu tidak bisa ngobrol lama, karna pengaruh obat." Bu Titiek kembali menepuk pelan tangan Enni.
"Kalau perlu sesuatu, bicarakan dengan Bibi, ya." Ucap Bu Titiek pelan, lalu memejamkan matanya. Hal itu membuat Enni sangat tersentuh. Dia segera merapikan selimut untuk menutupi tubuh Bu Titiek dan merapikan bantal di samping tubuh Bu Titiek untuk melindungi. Kemudian dia keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.
Setelah Enni keluar kamar, Bu Titiek membuka pelan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ada rasa sakit dan kesedihan yang dirasakan Enni dan ditahannya, membuat Bu Titiek tidak sampai hati menanyakan apa pun tentang kejadian yang menimpa Enni.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...