Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. BIMBANG
Rebeca sudah bangun jauh lebih awal dari biasanya. Sejak selesai mandi, ia berdiri cukup lama di depan lemari pakaian sambil memandangi deretan baju yang tergantung rapi. Tatapannya akhirnya berhenti pada sebuah rok rempel selutut berwarna putih. "Nah, ini dia!" gumamnya senang.
Rebeca segera mengambil rok itu, lalu memadukannya dengan kaus putih polos berlengan pendek seperti yang diminta Elgar semalam.
Setelah berpakaian, ia berdiri di depan cermin. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Ia hanya mengenakan riasan tipis agar wajahnya tampak segar tanpa terlihat berlebihan. "Hm ... manis juga."
Ia memutar tubuh pelan ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum puas. "Semoga Kak Elgar suka." Jantungnya sudah berdebar hanya karena membayangkan beberapa jam lagi akan bertemu langsung dengan aktor yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat layar.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga menit. Masih cukup lama menuju pukul sepuluh, tetapi Rebeca sama sekali tidak bisa diam. Ia memasukkan dompet, ponsel, power bank, dan lip balm ke dalam tas kecil berwarna putih. Beberapa kali ia mengecek isi tasnya. "Dompet ... ada. Ponsel, parfum juga ada. Semuanya sudah siap." Rebeca tersenyum sendiri sambil memeluk tasnya. "Aaa ... ini benar-benar seperti mimpi." Ia sama sekali tidak menceritakan rencana itu kepada siapa pun. Termasuk papanya dan Mili sahabat yang biasanya selalu menjadi tempatnya berbagi cerita. "Ini demi Kak Elgar. Aku akan merahasiakan dulu semua ini. Baru deh nanti, setelah pertemuan ini usai ... aku akan menceritakannya pada Mili. Dia pasti bakal jerit-jerit nggak percaya."
Membayangkan reaksi sahabatnya saja sudah membuatnya terkekeh kecil.
Tak lama kemudian, Rebeca melangkah keluar kamar dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya setiap kali mengingat obrolannya dengan Elgar semalam.
Baru saja tiba di lantai bawah, ia berpapasan dengan Mbok Nining yang sedang membawa nampan berisi segelas jus dan beberapa potong buah. "Non sudah bangun?" sapa Mbok Nining ramah.
Rebeca mengangguk sekilas. "Papa ke mana, Mbok? Masih tidur?"
Mbok Nining menggeleng pelan. "Tuan sudah bangun. Beliau pergi jogging."
"Oh." Rebeca mengangguk singkat, lalu hendak melangkah pergi.
"Non mau pergi ke mana?" tanya Mbok Nining dengan sopan.
Rebeca langsung menoleh. "Kepo!"
Seketika senyum di wajah Mbok Nining menghilang. Wanita itu langsung menundukkan kepala. "Maaf, Non. Mbok cuma bertanya."
Namun Rebeca sama sekali tidak menanggapi permintaan maaf itu. Dengan wajah jutek, ia mendengus pelan, lalu melenggang menuju pintu utama.
Mbok Nining hanya bisa memandangi kepergian putri majikannya itu sambil menghela napas lirih.
Sejak kecil, Rebeca memang tidak pernah bersikap ramah kepada para asisten rumah tangga di rumah tersebut. Ia jarang menyapa, enggan berbincang, dan kerap menjawab dengan nada ketus. Sikap dinginnya membuat para pekerja di rumah itu memilih menjaga jarak, meski tak seorang pun menyimpan kebencian kepadanya.
Tanpa menoleh lagi, Rebeca segera masuk ke mobilnya. Di benaknya saat ini hanya ada satu tujuan.
Bertemu dengan Elgar.
***
Pagi itu, Cika mendatangi satu per satu rumah murid les privatnya. Selama hampir dua tahun terakhir, ia mengajar lima anak sekolah dasar dari keluarga berada. Meski latar belakang mereka berbeda jauh dengannya, kelima anak itu sudah menganggap Cika bukan sekadar guru les, melainkan juga kakak yang menyenangkan.
Dengan berat hati, Cika berpamitan.
"Akhir bulan ini Kak Cika berhenti mengajar, ya." Untungnya, empat murid pertamanya menerima keputusan itu dengan cukup baik. Mereka memang terlihat sedih, tetapi orang tua mereka menghormati keputusan Cika dan segera mencari guru pengganti.
Namun, keadaan benar-benar berbeda saat Cika tiba di rumah murid terakhirnya.
"Enggak mau!" Suara lantang Gian memenuhi ruang keluarga. Anak laki-laki kelas tiga SD itu langsung memeluk lengan Cika erat-erat. "Aku maunya tetap sama Kak Cika! Pokoknya Kakak nggak boleh berhenti!"
"Gian ..." Cika berusaha membujuk.
"Enggak! Aku nggak suka guru lain! Aku mau Kak Cika! Kalau Kakak pergi, berarti Kak Cika nggak sayang sama Gian lagi!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah itu.
Cika ikut panik. "Sayang, bukan begitu maksud Kakak ..."
"Kak Cika nggak boleh berhenti!"
Suasana semakin ricuh.
Saat itulah seorang pria bertubuh tinggi menuruni tangga. "Ada apa ini?"
Cika dan Gian menoleh. "Mas Galih," ucap keduanya kompak.
Galih mengusap rambutnya yang masih sedikit berantakan. Ia baru selesai mandi. Melihat adiknya menangis sambil memeluk Cika, ia langsung menghampiri. "Gian."
"Aku nggak mau Kak Cika berhenti ngajar!"
Galih mengembuskan napas panjang. "Butuh napas ekstra menghadapi bocah satu ini," batinnya. Ia kemudian menepuk pelan bahu Gian. "Sudah, jangan nangis terus."
"Pokoknya Kak Cika nggak boleh berhenti!"
Galih menatap Cika dengan wajah meminta maaf. "Maaf ya. Gian memang susah dekat sama orang. Begitu sudah nyaman, dia bakal susah banget melepas."
Cika tersenyum canggung. "Iya, Mas. Nggak apa-apa."
Galih lalu membawa Gian duduk di sofa dan membujuknya cukup lama hingga tangis bocah itu perlahan mereda. Setelah keadaan sedikit tenang, Galih menoleh kepada Cika. "Cika ... boleh ngobrol sebentar?"
Cika mengangguk pelan. Mereka berpindah ke teras rumah agar Gian tidak kembali mengamuk. Anak itu kini sedang ditemani oleh salah satu ART.
Galih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ada di teras. "Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba kamu mau berhenti mengajar?"
Cika menggenggam kedua tangannya sendiri. Pertanyaan itu membuatnya bingung. "Haruskah aku jujur?" batinnya. Kalau ia mengatakan akan menikah, kemungkinan besar kabar itu akan cepat menyebar ke orang tua murid yang lain. Padahal, pernikahannya dengan Robinson belum berlangsung dan ia sendiri belum siap menjadi bahan pembicaraan.
Namun kalau berbohong, ia merasa tidak enak kepada Galih yang selama ini selalu bersikap baik kepadanya.
Cika menggigit bibir bawahnya pelan, masih bimbang menentukan jawaban yang harus ia berikan.
"Cika ..." Panggilan lembut Galih membuat kesadaran Cika kembali dari kecamuk batin. "Kenapa kamu tiba-tiba berhenti mengajar? Apakah kamu sudah dapat pekerjaan yang lebih layak?"
Cika menarik napas pelan. Setelah tadi bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk berkata jujur. "Sebenarnya ... saya mau menikah, Mas. Dan calon suami saya melarang saya untuk mengajar lagi."
Kalimat itu membuat Galih membeku.
"M-menikah?" Matanya membelalak hingga nyaris keluar. "Serius?"
Cika mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Galih masih menatap Cika tak percaya. "Kapan Cika?"
"Dua belas hari lagi, Mas."
Jantung Galih seolah ditarik paksa dari dalam rongga dada. Tangannya diam-diam mengepal. "B-Berarti sebentar lagi?" bisiknya nyaris tanpa suara. Hati Galih sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.
Cika mengangguk. "Iya, Mas."
Galih menatap wajah Cika lekat-lekat, namun gadis itu menundukan wajah. "Cika ... bolehkah saya tahu kamu akan menikah dengan siapa?"
Pertanyaan itu membuat Cika kembali menelan ludah. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam semakin erat. Ia bingung harus menjawab apa.