❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Everything Has Changed
Sudah hampir seminggu sejak malam itu.
Sejak Javier tiba-tiba menciumku, hubungan kami berubah menjadi canggung. Kami masih tinggal serumah, masih makan di meja yang sama, tetapi hampir tidak pernah mengobrol lagi. Kalau pun berbicara, hanya seperlunya.
Di sisi lain, aku justru semakin sering menghubungi Pandu.
Hampir setiap malam kami saling bercerita. Dari Pandu aku tahu ternyata selama bekerja di Korea, ia tidak hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja. Saat libur, ia sering mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa kulihat di drama Korea.
Sungai Han.
Istana Gyeongbok.
Namsan Tower.
Bahkan kampus tempat Lee Jun-ha dulu kuliah pun pernah ia datangi.
Semakin banyak cerita yang kudengar darinya, semakin besar pula keinginanku menginjakkan kaki di Korea. Entah kapan mimpi itu bisa terwujud.
Pagi itu aku terbangun ketika azan Subuh berkumandang.
Aku duduk di tepi tempat tidur, lalu berniat merapikan sprei sebelum mengambil wudhu.
Namun pandanganku tiba-tiba berhenti pada sprei yang baru saja kugunakan.
Ada bercak merah di atasnya.
"Ya ampun..."
Aku segera memastikan keadaanku.
Benar saja.
Aku haid.
Aku menghela napas pelan, lalu mengambil pakaian ganti dan perlengkapan yang kubutuhkan sebelum menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, aku keluar sambil membawa pakaian dan sprei yang harus segera kucuci.
Baru saja pintu kamar kubuka, Javier juga keluar dari kamar mandi.
Kami saling menatap beberapa detik.
"Udah pakai kamar mandinya?" tanyaku memecah keheningan.
Javier mengangguk pelan lalu bergeser memberi jalan.
"Iya."
Aku balas mengangguk tipis sebelum melewatinya dan masuk ke kamar mandi.
Aku mencuci pakaian yang kotor itu di kamar mandi, lalu membawanya ke belakang rumah untuk dijemur.
Udara pagi masih terasa sejuk. Matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi. Namun, rasa nyeri di perutku justru datang.
"Aduh..."
Aku memegangi perut bagian bawahku sambil menarik napas pelan.
Setelah selesai menjemur pakaian, aku masuk ke dapur. Aku mengambil sebuah botol kecil, lalu menuangkan air hangat ke dalamnya. Begitu botol itu terasa cukup hangat, kubawa kembali ke kamar.
Aku berbaring di atas tempat tidur.
Botol berisi air hangat itu kutempelkan perlahan ke perutku.
Hangatnya sedikit membantu mengurangi rasa nyeri, meskipun belum benar-benar menghilangkannya.
Syukurlah hari itu hari Minggu. Setidaknya aku tidak perlu memaksakan diri berangkat kerja ke bank dan bisa beristirahat seharian di rumah.
Aku memejamkan mata, berharap rasa sakit ini segera mereda hingga tanpa sadar kembali tertidur.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu membangunkanku.
"Nay... Naya..."
Aku membuka mata perlahan.
"Ayo sarapan."
"Nggak, Mas..." jawabku lirih.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka.
Javier melangkah masuk dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Nay, ayo sarapan."
Aku menggeleng pelan.
"Nggak, Mas. Aku belum pengen makan."
Javier berjalan mendekat ke sisi tempat tidur.
"Kamu sakit, ya?"
Belum sempat aku menjawab, punggung tangannya sudah menyentuh dahiku.
"Hm... nggak panas."
"Aku nggak apa-apa, kok."
"Nggak apa-apa gimana?" Javier mengernyit. "Wajahmu pucat."
Aku mengembuskan napas pelan.
"Ini karena kram haid aja, kok. Kalau hari pertama memang biasanya begini."
Ekspresi Javier langsung berubah menjadi sedikit mengerti.
"Sakit banget, ya?"
"Iya." Aku mengangguk pelan. "Tapi ini lagi aku kompres pakai air hangat. Nanti juga sembuh sendiri."
"Serius? Nggak perlu minum obat atau ke dokter?"
Aku kembali menggeleng.
"Nggak perlu."
Javier terdiam beberapa saat, seolah masih memastikan keadaanku.
"Jadi kamu nggak bisa sarapan sekarang?"
"Iya."
Ia menghela napas pelan.
"Ya udah. Kamu istirahat aja."
"Ya."
Javier mengangguk singkat sebelum berbalik meninggalkan kamar.
Pintu kembali tertutup pelan, menyisakan keheningan di dalam kamar.
Aku kembali memejamkan mata.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat membuka mata lagi, cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden sudah jauh lebih terang daripada tadi pagi.
Perlahan aku menggerakkan tubuhku.
Rasa nyeri di perutku masih ada, tetapi tidak lagi menusuk seperti beberapa jam yang lalu. Kompres air hangat yang tadi kupakai ternyata cukup membantu.
Aku mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah..."
Setidaknya sekarang aku sudah bisa berdiri tanpa harus meringis setiap kali bergerak.
Perutku mulai terasa lapar.
Aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan, lalu membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Baru beberapa langkah, pandanganku langsung tertuju ke ruang tamu.
Javier masih berada di rumah.
Pria itu duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Mendengar suara langkah kakiku, ia langsung menoleh.
"Eh, kok kamu keluar?" tanyanya. "Ada yang kamu butuhkan?"
Aku justru mengernyit heran.
Mataku beralih ke jam dinding.
Jarum pendek sudah menunjuk angka sepuluh.
"Mas..." ucapku heran. "Kamu kok masih di sini? Kamu nggak ke Ruang Rindu?"
Javier mengambil remote lalu mengecilkan volume televisi.
"Gimana aku ke Ruang Rindu kalau kamu lagi sakit begitu?"
Aku terdiam beberapa detik.
Jadi... dia belum berangkat karena aku?
"Aku nggak apa-apa, kok," ucapku pelan. "Ini aku udah sembuh. Aku cuma lapar. Mau makan."
Javier menatapku beberapa saat, seolah memastikan aku tidak sedang berpura-pura kuat.
"Bener?"
Aku mengangguk kecil.
"Iya."
Aku berjalan menuju meja makan.
"Udah sana. Ke Ruang Rindu."
Bukannya langsung mengambil kunci mobil, Javier justru ikut berjalan di belakangku.
Ia membuka tudung saji, memastikan semua lauk masih tertata rapi.
"Makanlah," ucapnya.
Aku menoleh kepadanya.
"Makasih."
Aku menarik kursi lalu duduk.
Anehnya, Javier juga ikut duduk di kursi seberangku.
Aku kembali menatapnya.
"Mas, kamu ke Ruang Rindu aja. Aku udah nggak apa-apa, kok."
"Nanti kalau kamu udah selesai makan."
Aku mengembuskan napas pelan.
Dasar keras kepala.
Aku pun mulai menyendok nasi ke piringku.
Suasana kembali hening. Sesekali hanya terdengar suara sendok yang beradu pelan dengan piring.
Beberapa menit berlalu.
"Nay..."
Suara Javier memecah keheningan.
Aku mengangkat kepala dan menatapnya.
"Kenapa, Mas?"
Javier tampak ragu. Tatapannya turun ke meja makan sebelum akhirnya kembali menatapku.
"Maaf..."
Ia berhenti sejenak.
"Soal yang waktu itu."
Aku tahu maksudnya. Sangat tahu.
Namun aku sengaja memasang wajah bingung.
"Yang waktu itu yang mana?" tanyaku.
Javier tampak semakin salah tingkah.
Tanpa sadar, jemarinya terangkat menyentuh bibirnya sendiri.
"Oh..."
Aku meletakkan sendokku pelan di atas piring.
"Kenapa kamu ngelakuin itu?" tanyaku sambil menatap lurus ke arahnya. "Bukannya kamu nggak suka sama aku?"
"Ehm... itu..."
"Itu apa?"
Javier menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Aku cuma... ngetes kamu."
"Ngetes?"
"Iya." Javier mengangguk kecil. "Aku cuma pengen tahu, setelah kita ngelakuin itu... kamu masih bisa bilang nggak cinta sama aku atau nggak."
Mataku langsung membelalak.
"뭐?! 미친 새끼... (Apa?! Brengsek...)”
Javier mengernyit.
"Apa?"
Aku segera menggeleng.
"Bukan apa-apa."
Aku memijat pelipisku pelan.
Jadi...
Alasannya hanya itu?
"Cuma karena itu kamu ngelakuin hal segila itu?"
Javier mengangguk pelan.
Aku benar-benar tidak habis pikir.
"Wow... 미친 새끼... (Brengsek...)" gumamku lirih.
"Aku nggak nyangka kamu tipe cowok yang gampang nyium cewek yang nggak kamu cintai." Aku menatapnya tajam. "Udah berapa cewek yang kamu cium, hah?"
Javier langsung menggeleng.
"Aku bukan cowok kayak gitu."
"Kalau bukan, terus kenapa kamu cium aku?"
"Kan aku udah bilang alasannya."
"Itu bukan alasan."
Aku menunjuk bibirku sendiri.
"Kamu tahu? Itu ciuman pertamaku." Suaraku mulai melemah. "Seharusnya aku ngelakuin itu sama orang yang aku cintai. Tapi kamu malah merebutnya."
Javier terdiam beberapa saat.
"Itu juga ciuman pertamaku."
Aku langsung mendengus pelan.
"Bohong."
"Serius."
Aku masih menatapnya penuh curiga.
"Mantan kamu?" tanyaku. "Kalian nggak pernah ngelakuin itu?"
Javier menggeleng.
"Nggak."
"Serius?"
"Iya." Javier menjawab mantap. "Ina nggak mau ngelakuin itu sebelum nikah."
Aku terdiam.
Entah kenapa, kali ini aku merasa ia tidak sedang berbohong.
Tatapannya terlalu tenang untuk seseorang yang sedang mengarang cerita.
Beberapa saat kami sama-sama diam.
Javier kembali membuka suara.
"Jadi gimana?"
Aku mengernyit.
"Gimana apanya?"
"Setelah ngelakuin itu..." Javier menatapku lekat. "Apa kamu masih nggak cinta sama aku?"
Aku spontan mengangguk.
"Tentu aja masih nggak."
Jawabanku keluar tanpa berpikir.
"Kamu pikir aku cewek apaan? Yang gampang jatuh cinta cuma karena dicium?"
Aku berusaha terdengar yakin.
Padahal jauh di dalam hati, aku sendiri mulai bingung.
Kalau memang tidak ada apa-apa...
Kenapa sejak malam itu aku terus memikirkannya?
Kenapa setiap kali mengingat kejadian itu, jantungku masih berdebar?
Aku buru-buru mengusir pikiran itu.
Tidak.
Aku tidak boleh memikirkannya.
"Jadi..." Javier kembali bertanya. "Yang bisa bikin kamu jatuh cinta itu kayak gimana?"
Aku mengangkat bahu pelan.
"Entahlah. Aku kan nggak bisa milih bakal jatuh cinta sama siapa."
"Temen kamu yang kerja di Korea itu?"
Aku menatapnya.
"Pandu?"
"Ah..." Javier mengangguk pelan. "Namanya Pandu."
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Kamu gimana sama dia?" tanyanya hati-hati. "Ada rasa?"
Aku langsung menggeleng tanpa ragu.
"Nggak lah. Dia kan cuma temen."
"Tapi dia tahu banyak tentang Korea." Javier masih menatapku. "Sefrekuensi sama kamu."
Aku tersenyum tipis.
"Sefrekuensi dalam kesukaan belum tentu sefrekuensi dalam hati, kan?" ucapku pelan. "Aku nggak ada rasa apa-apa sama dia. Dia cuma temen."
"Oh..."
Javier mengangguk kecil.
"Oke."
Aku langsung mendecak pelan.
"Itu lagi."
Javier tampak bingung.
"Itu apa?"
"Kata 'oke' itu."
"Memangnya kenapa?"
Aku menggeleng pelan.
"Aku nggak suka dengernya."
Javier hanya mengangguk pelan.
"Jadi sekarang apa yang kamu mengerti?"
"Kamu nggak suka sama temen kamu itu."
Aku langsung melongo.
"Hah?"
Javier berdiri dari kursinya.
"Kayaknya kamu udah sehat. Berarti nggak perlu aku temenin lagi."
Ia berjalan menuju kamar, lalu kembali beberapa saat kemudian sambil membawa kunci mobil.
Sesampainya di depan pintu, ia menoleh kepadaku.
"Aku ke Ruang Rindu dulu."
Pintu rumah pun tertutup.
Aku masih duduk di kursi makan sambil memandangi pintu yang baru saja ditutup Javier.
Entah kenapa...
Semakin lama, aku semakin tidak mengerti pria itu.
Kadang dia bersikap seolah sangat peduli.
Kadang dia mengatakan sesuatu yang membuatku kesal.
Lalu tiba-tiba meminta maaf.
Dan sekarang...
Dia malah bertanya apakah aku menyukai Pandu atau tidak.
Aku mengembuskan napas panjang.
"Dasar aneh..."
Aku kembali melanjutkan sarapanku, meski pikiranku masih dipenuhi oleh pria bernama Javier.