Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan di atas Penderitaan
Malam terakhir di vila dihabiskan dengan santai. Bara dan Luna mengobrol di teras balkon sambil membahas acara fashion show yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi. Bara sudah memutuskan jika sang menantu akan dilibatkan dalam acara itu.
Luna sempat khawatir, takut tidak bisa melakukannya lantaran tak pernah ikut dalam acara besar seperti itu. Namun Bara tetap memiliki cara untuk membuat Luna tetap percaya diri.
Pada akhirnya Luna setuju, tetapi ia meminta pada Bara untuk tidak memberitahu Raka terlebih dahulu. Ia ingin memberikan kejutan untuk sang suami.
Obrolan selesai. Bara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Luna memilih untuk tetap di balkon, menikmati pemandangan dan udara malam yang menenangkan.
Setelah Bara pergi, Luna berdiri, melangkah ke pagar pembatasan balkon. Tangannya berpegangan pada besi pembatas, wajahnya menunduk, dan menghela napas berat, seolah semua beban berat berada di pundaknya.
TING
Luna menoleh, ponselnya di atas meja menyala. Ia mendekat, tangannya terulur, mengambil benda pipih itu. Ada notifikasi dari sosial media. Luna duduk lantas membuka pesan itu.
Luna tersenyum melihat postingan Vanessa. Sahabatnya itu mengunggah gambar tangannya dan tangan seorang laki-laki yang tak Vanessa tunjukkan wajahnya.
Akhirnya dia menikahiku.
Tulis Vanessa lengkap dengan caption love.
Luna langsung menekan tanda suka dan mengucapakan selamat di kolom komentar. Rasa iri tiba-tiba menyerap di dadanya.
"Serius sekali?"
Luna terkejut saat suara Bara tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia spontan menoleh ke asal suara. Bara terlihat segar setelah mandi.
"Eh, Pa."
"Lagi ngapain?"
"Aku lagi lihat sosmed." Luna menunjukkan unggahan foto Vanessa kepada Bara. "Papa ingat perempuan ini, kan?"
Bara mengangguk. "Kenapa dengan dia?"
"Jujur aku iri padanya. Dia sangat cantik dan terawat," ucap Luna.
"Kamu juga bisa, Luna."
"Tapi ada hal lain yang membuat aku iri."
"Apa itu?"
"Seorang pria mencintanya dengan begitu tulus," jawab Luna. "Dia pergi keluar negeri bersama anaknya dan kekasihnya itu. Mereka akhirnya menikah di sana."
"Sayangnya aku tidak bisa hadir dan mengucapkan selamat secara langsung."
Kening Bara mengernyit. "Wanita itu belum menikah tapi sudah memiliki anak?"
Luna mengangguk. "Katanya hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga kekasihnya dan terpaksa menyembunyikan hubungan mereka. Tapi … sekarang kekasihnya mengambil keputusan besar untuk menikahinya."
"Kamu sudah pernah bertemu dengan kekasihnya?"
Luna menggeleng. "Vanessa menyembunyikan kekasihnya itu dari siapa pun. Katanya takut jika keluarga kekasihnya melakukan sesuatu padanya dan anak mereka."
Bara mengangguk pelan, ekspresinya datar, terlihat sekali ia tidak memiliki minat sedikit pun dengan kisah cinta Vanessa.
Sesaat kemudian Bara berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Luna.
"Ayo, sudah waktunya untuk pulang."
Luna mengangguk diikuti dengan senyumannya. Kali ini Luna tidak lagi ragu untuk menyambut uluran tangan ayah mertuanya itu. "Sayang sekali. Padahal aku masih betah di sini."
"Lain kali kita datang ke sini lagi."
Luna mendesah pasrah yang justru membuat Bara tertawa kecil. "Baiklah, ayo kita pulang."
-
-
Pukul sebelas malam, Luna akhirnya tiba di rumahnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh hanya beberapa jam saja, namun karena kemacetan yang begitu panjang, membuat perjalanan itu memakan waktu tiga kali lipat lebih lama.
Sampai di rumah, Luna menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Setelah merasa lebih baik, Luna melihat sekeliling. Rumah terasa sangat sepi, tetapi membuatnya gelisah dan tertekan, tidak sewaktu berada di vila. Sepi, tetapi menenangkan.
Ia hanya bersama seorang pelayan, sedangkan Bara pergi setelah mengantarnya pulang. Ayah mertuanya itu mengatakan ada hal penting yang harus dia urus.
"Nyonya, silahkan istirahat. Kamarnya sudah saya bereskan," ucap si pelayan.
"Ah iya, Bi. Terima kasih," ucap Luna. "Bibi silahkan pulang dan istirahat."
"Saya menginap di sini, Nyonya. Tuan yang meminta saya menemani Anda," ucap si pelayan.
"Papa yang suruh?"
"Iya, Nyonya. Tuan tidak memperbolehkan Anda di rumah sendiri."
Luna menggangguk pelan. "Baiklah. Bibi tidur di kamar tamu saja."
"Baik, Nyonya." Pelayan itu membungkuk hormat. "Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk membangunkan saya."
Luna mengangguk. "Iya, Bi."
Pelayan pun pergi ke meninggalkan ruangan itu.
Luna menghembuskan napas panjang lantas beranjak dari ruang tamu, melangkah menuju kamar. Setibanya di kamar, Luna merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dengan posisi terlentang menghadap langit-langit kamar. Perlahan matanya mulai tertutup, dan terlelap begitu saja dengan napas yang teratur.
*****
Di tempat lain dan pada waktu yang berbeda.
Suara erangan penuh kenikmatan memenuhi sebuah kamar hotel presidential suite. Dinding dan barang-barang di dalamnya menjadi saksi bisu dua insan yang sedang memadu kasih.
Raka dan Vanessa sedang menikmati pergulatan panas mereka setelah Raka memutuskan untuk menikahi Vanessa secara diam-diam.
Keringat sudah membasahi tubuh keduanya, padahal suhu kamar itu sangat dingin.
"Sayang …," desah Vanessa.
Sesaat kemudian erangan panjang keluar dari mulut keduanya. Mereka sampai pada puncak kenikmatan bersama-sama.
Raka memeluk erat Vanessa seakan ingin menyatu lebih dalam lagi dengan wanita itu. Detik berikutnya tubuh Raka ambruk di atas tubuh Vanessa.
Napas keduanya tersengal-sengal. Mereka berlomba meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan oksigen di dalam tubuh mereka yang mulai menipis.
Setelah napas mereka mulai normal, Raka berpindah ke samping Vanessa. Duduk bersandar di kepala ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Vanessa.
Raka mengecup ujung kepala Vanessa sebagai tanda terima kasih karena selalu memuaskannya. Pria itu juga menatap Vanessa penuh rasa cinta, tatapan yang tak pernah ia tunjukkan pada Luna.
"Aku lelah sekali. Ini sudah ke berapa kali," rengek Vanessa manja.
Wanita langsung menyeret tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada Raka. Jemarinya bergerak di dada Raka, seperti sedang menggambar sesuatu.
"Kamu beneran gak pernah melakukan hubungan suami istri sama si Luna itu, kan?" tanya Vanessa.
Raka menarik tangan Vanessa di dadanya lantas mengecup punggung tangan wanita itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Vanessa, Raka justru memberikan pertanyaan pada wanita itu. "Gak percaya sama aku?"
Vanessa menggeleng, wajahnya penuh keraguan.
"Pernah beberapa kali kami hampir melakukan. Tapi … aku selalu ingat padamu." Raka menyentuh dagu Vanessa. "Hanya kamu yang bisa membuatku hilang akal."
Vanessa tersenyum penuh kebanggaan.
"Oh iya, kamu yakin papamu gak tahu tentang hubungan kita?" tanya Vanessa.
Raka menggeleng. "Aku yakin gak. Kalau papa tahu pasti dia sudah marah."
"Bagaimana kalau nanti papamu tahu kita menikah?"
"Ini akan menjadi tugasmu," ucap Raka. "Buat papa menyukaimu dan membenci Luna. Kamu pasti akan mendapatkan segalanya."
Vanessa mengangguk penuh semangat dan obsesi besar.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man