NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Skuter Listrik yang Menggila

​Reno menatap nanar ke arah sepasang kaki kurusnya yang kini terekspos bebas tanpa sehelai benang tebal pun yang menutupi.

​Celana boxer pendek bermotif buah stroberi merah itu benar-benar menjadi satu-satunya pelindung terakhir bagi martabatnya sebagai seorang pria dewasa malam ini.

​Suara bantingan benda keras yang sangat nyaring mendadak terdengar bergema dari arah jendela kamar kosong di lantai dasar atasnya.

​Para pria berbadan kekar berjas hitam itu pasti sudah berhasil menjebol pintu kayu kamar dan menyadari bahwa target operasi mereka telah melarikan diri lewat jalur alternatif.

​Reno sama sekali tidak memiliki kemewahan waktu untuk terus meratapi nasib sial serta penampilannya yang kini menyerupai badut sirkus gagal tersebut.

​Ia memutar posisi tubuhnya dengan gerakan serabutan, memaksa kakinya untuk segera berlari menyusuri gang sempit berbatu kerikil itu menuju ke arah jalan raya utama kota.

​Kedua telapak kakinya yang tidak beralas sepatu harus menahan rasa perih luar biasa akibat gesekan langsung dengan permukaan aspal jalanan yang sangat kasar.

​Setiap langkah pelariannya terasa seperti sebuah siksaan fisik yang terus-menerus menguji batas ketahanan saraf motoriknya di tengah situasi hidup dan mati ini.

​Otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal untuk menghitung rute pelarian paling aman menuju rumah Radit yang berjarak sekitar tiga blok dari lokasi apartemen kosannya.

​Reno berharap sahabat karibnya itu belum tertidur pulas dan bersedia memberikan tempat persembunyian darurat dari kejaran komplotan mafia teknologi yang beringas ini.

​||||

​Jalan raya kota pada jam selarut ini masih menyisakan beberapa kendaraan roda empat yang melaju konstan dengan kecepatan sedang.

​Reno segera menyembunyikan separuh tubuhnya di balik sebuah pilar beton penyangga jembatan penyeberangan, mengatur ritme napasnya yang memburu tak terkendali akibat berlari kencang.

​Beberapa pejalan kaki yang kebetulan melintas di trotoar seberang memberikan tatapan aneh penuh penghakiman ke arah kemeja kotak dan celana boxer stroberinya.

​{Kalau aku terus memaksakan diri berjalan kaki menyusuri fasilitas umum dengan penampilan gila seperti ini, aku pasti akan ditangkap oleh satuan pengamanan kota karena dianggap meresahkan ketertiban.}

​Ponsel hitam canggih di dalam genggaman tangannya tiba-tiba memberikan sebuah getaran ritmis yang sangat menyengat permukaan telapak tangannya yang berkeringat.

​Reno mengangkat bodi logam dingin tersebut mendekati wajahnya, bersiap menerima ejekan rutin dari asisten digital yang selalu meremehkan penderitaan biologisnya.

​Teks berwarna biru menyala bergulir cepat di antarmuka layar sentuh, menyajikan sebuah hinaan mekanis yang sama sekali tidak membantu memperbaiki kondisi mental pemuda itu.

​"Berhenti memberikan komentar tidak berguna dan segera carikan aku kendaraan pelarian cepat yang tidak membutuhkan kunci kontak fisik untuk dinyalakan."

​Reno menempelkan bibirnya ke dekat batas mikrofon ponsel, berbisik dengan nada memelas yang dipenuhi oleh rasa panik luar biasa terhadap para pengejarnya.

​Reno segera menjulurkan kepalanya secara perlahan dari balik pilar beton berlumut tersebut, mengikuti arah petunjuk koordinat yang baru saja diberikan oleh kecerdasan buatan sarkastis itu.

​Sebuah skuter listrik ramping berwarna kuning mencolok tampak berdiri tegak di atas trotoar pejalan kaki, menunggu pelanggan acak yang bersedia membayar tarif sewanya melalui aplikasi telepon pintar.

​||||

​{Ini adalah satu-satunya tiket keselamatanku yang paling masuk akal untuk bisa mencapai rumah kos Radit dengan cepat sebelum para gorila berjas hitam itu menyisir jalanan ini.}

​Ia langsung berlari kecil menghampiri kendaraan roda dua berukuran mini tersebut, mengabaikan rasa nyeri yang semakin menyiksa di bagian tumit telapak kakinya yang telanjang.

​Reno mengangkat bodi ponsel misterius X-Phreak 9000 sejajar dengan bagian panel instrumen kendali skuter yang terletak tepat di tengah stang kemudi berbahan karet.

​Sebuah kotak penanda kuning muncul secara holografis di layar, lalu mengunci susunan garis hitam putih pada kode batang kendaraan tersebut dengan perhitungan matematis yang sangat akurat.

​"Buka sistem keamanan kendaraannya sekarang juga, nyawaku sudah berada di ujung tanduk kalau sampai ada mesin pelacak sinyal yang menangkap keberadaan kita di sini."

​Barisan kode peretasan berwarna hijau bergulir sangat cepat di layar ponsel hitam, menimpa seluruh sistem keamanan berbayar yang ditanamkan secara khusus oleh pihak pengembang aplikasi skuter.

​Sebuah bunyi bip mekanis terdengar mengalun singkat dari panel dasbor skuter listrik kuning tersebut, menandakan bahwa mesin motor penggeraknya telah aktif sepenuhnya tanpa perlu memotong saldo rekening.

​Reno menghela napas lega untuk kesekian kalinya malam ini, segera melompat naik ke atas pijakan papan skuter dengan kedua kaki telanjangnya yang masih gemetar hebat.

​||||

​"Kerja bagus, Siri-usly, malam ini kau benar-benar membuktikan diri sebagai asisten peretas yang paling bisa diandalkan oleh umat manusia."

​Reno menggenggam kedua tuas stang kemudi dengan sangat erat, lalu menarik tuas akselerasi di sebelah kanan menggunakan jempolnya secara penuh tanpa keraguan.

​Ia sangat berharap kendaraan komersial ini akan melaju dengan kecepatan konstan yang santai layaknya skuter sewaan pada umumnya.

​Namun, kalkulasi logika pemuda kurus itu terbukti sangat salah total ketika rekayasa perangkat lunak dari masa depan tersebut mengambil alih kontrol tenaga motor listrik secara ekstrem.

​Skuter kecil berwarna kuning itu mendadak menyentak kasar ke depan, melesat membelah aspal jalan raya dengan daya dorong yang luar biasa tidak masuk akal bagi mesin sekecil itu.

​Reno berteriak histeris dengan mulut terbuka lebar, tubuh bagian atasnya terlempar kencang ke belakang dan hanya tertahan oleh kekuatan cengkeraman kedua telapak tangannya di stang kemudi.

​Kecepatan kendaraan roda dua mungil itu melonjak drastis melewati angka delapan puluh kilometer per jam hanya dalam hitungan detik pertama proses akselerasi.

​Papan pijakan skuter bergetar luar biasa hebat menahan putaran roda karet kecilnya yang dipaksa bekerja melampaui seluruh batas toleransi keselamatan pabrik perakitan awal.

​{Mesin asisten laknat ini sama sekali tidak membantuku melarikan diri, dia justru sedang berusaha membunuhku dengan cara memicu kecelakaan lalu lintas paling konyol sepanjang sejarah otomotif!}

​Ia menekan tuas rem mekanik di sebelah kiri sekuat tenaga menggunakan jari-jarinya yang kaku ketakutan, mencoba setengah mati untuk memperlambat laju kendaraan rakitan yang sedang mengamuk ini.

​Tuas rem tersebut sama sekali tidak memberikan efek pengurangan kecepatan putaran roda, seolah seluruh sistem pengeremannya telah dimatikan secara sepihak oleh campur tangan sang kecerdasan buatan.

​||||

​Reno terus melaju tak terkendali menyusuri jalur aspal jalan raya utama kota, mendahului deretan mobil pribadi dengan manuver zigzag ekstrem yang sangat membahayakan nyawa siapa saja di sekitarnya.

​Penampilannya yang konyol hanya mengenakan celana boxer stroberi berpadu dengan kecepatan tidak wajar skuter listrik itu langsung menjadi pemandangan paling absurd bagi para pengendara lain.

​Ia menoleh cepat ke arah depan dengan kedua bola mata yang nyaris melompat keluar dari tempatnya, mengamati sebuah formasi barikade penghalang jalan yang terpasang kokoh di ujung persimpangan.

​Puluhan kerucut pembatas jalan berwarna oranye menyala berjejer sangat rapi menutup sebagian besar lajur utama, dijaga ketat oleh puluhan pria berseragam resmi yang berdiri tegap bersiaga penuh.

​Garis demarkasi kepolisian terbentang melintang panjang di antara beberapa mobil patroli yang diparkir menyilang membentuk blokade pertahanan absolut.

​Sebuah papan peringatan digital berukuran besar berdiri tegak di pinggir trotoar, menampilkan deretan huruf kapital menyala yang memberikan instruksi tegas bagi para pengguna jalan untuk segera menepi.

​Para petugas penegak hukum itu sedang mengadakan operasi razia kendaraan skala besar, memeriksa secara rinci setiap kelengkapan identitas pengemudi yang melewati jalur protokol kota pada pertengahan malam.

​Skuter listrik kuning yang diretas habis-habisan oleh sistem ponsel Reno melaju konstan menyerupai sebuah proyektil peluru kendali dengan kecepatan luar biasa ekstrem.

​Laju kendaraan beroda kecil yang tidak terkendali itu mengarah lurus tanpa ampun menuju ke titik pusat barikade para petugas kepolisian yang sedang sibuk merazia warga sipil.

​Reno menjerit sekuat tenaga memperingatkan rombongan petugas di depannya, melambaikan sebelah tangannya secara serabutan ke udara untuk memberikan peringatan dini atas malapetaka besar yang akan segera menabrak mereka.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!