Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Mereka
Rangga mengembuskan napas pendek, lalu menyandarkan punggung kokohnya yang bertelanjang dada ke sandaran sofa dengan pasrah. Pria itu membuang muka ke arah jendela malam, menyugar rambutnya acak-acakan seolah ingin menenggelamkan dirinya ke dalam bumi saat ini juga. Sialan. Harga diri korporatnya yang dibangun berdarah-darah di bursa saham hancur lebur malam ini hanya karena sebutir apel dan daster lengan buntung Arumi.
“Kalau mau ketawa, silakan saja ketawa sepuasnya, Mbak. Pokoknya aku sudah jujur," gerutu Rangga ketus dengan sisa-sisa gengsinya yang sudah sekarat. "Terserah Mbak mau menganggap aku payah, kaku, atau cupu. Yang jelas... aku sudah tidak menganggap Mbak Arumi sebagai orang lain lagi."
Rangga menjeda kalimatnya sejenak, beralih menatap lurus ke sepasang mata Arumi dengan sorot mata yang mendadak melunak, sarat akan ketulusan yang polos.
"Tiga bulan lebih, Mbak... tiga bulan lebih yang ada di dalam pikiranku itu cuma Mbak Arumi," aku Rangga, suaranya memberat pelan. "Aku terus-menerus kepikiran bagaimana keseharian Mbak Arumi melewati hari tanpa ada Mas Ary di samping Mbak. Aku sempat bingung, kok Mbak Arumi tidak pernah meneleponku sama sekali? Minimal hubungi aku buat minta bantuan, kek. Minta gantiin tabung gas yang habis, kek, atau minta tolong angkatkan galon ke dispenser. Bagaimana utang-utangnya, bagaimana cara Mbak membayar biaya sekolah Rian dan Aryo setiap awal bulan... Mbak Arumi benar-benar berjuang sendirian!"
Rangga mendengus pasrah, menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Dan Mbak sama sekali tidak meminta bantuan sepeser pun padaku selama tiga bulan penuh, Mbak! Itu kalau dalam kondisi jasad, sudah mengering jadi mumi tahu, Mbak! Makanya, lambat laun... aku jadi terbiasa memikirkan Mbak Arumi setiap hari sampai rasanya mau gila."
Mendengar rentetan keluhan jujur bernada emosi dan manja yang meluncur fasih dari mulut sang CEO muda, sisa-sisa tawa mengejek di wajah Arumi perlahan memudar. Berganti menjadi sebuah senyuman tipis yang sangat hangat dan tulus di sudut bibirnya.
Detik itu juga, Arumi akhirnya mengerti sepenuhnya. Ia paham kenapa selama seminggu ini Rangga selalu bersikap sangat santai dan chill di rumahnya, namun di saat yang sama, sepasang mata pria itu selalu bergerak canggung dan berusaha keras menghindar setiap kali mereka berpapasan dalam jarak dekat. Rangga hanya sedang bingung mengendalikan debaran di dalam dadanya sendiri.
Arumi mengembuskan napas panjang, melangkah satu senti lebih dekat ke arah sofa, lalu menatap Rangga dengan pandangan yang sarat akan kedewasaan seorang wanita.
"Terima kasih atas kejujuran kamu, Rangga," ujar Arumi lembut, suaranya mengalun tenang memenuhi ruang tengah. "Tapi, aku juga harus menegaskan satu hal kepadamu malam ini. Sampai detik ini, aku masih sangat mencintai mendiang Mas Ary. Hatiku belum siap, dan tidak akan bisa secepat itu terbuka untuk menerima pria lain sebagai sosok suami yang baru."
Rangga terdiam, menatapi Arumi dalam bisu.
"Tapi..." Arumi menjeda, senyumnya kembali mengembang tipis. "Kamu jelas sudah mendapatkan satu tempat yang sangat khusus di dalam hatiku sekarang, Rangga. Hanya saja, untuk saat ini, level posisimu di hatiku masih sama persis dengan posisi anak-anak. Bedanya, kamu adalah sosok provider utama di dalam rumah ini yang bertanggung jawab penuh menjaga kami."
Arumi melipat kedua tangannya di dada dengan rileks, auranya memancarkan karisma yang menyenangkan. "Jadi, mulai sekarang, kalau ada masalah apa pun di luar sana, jangan pernah ada yang ditutup-tutupi lagi dariku. Aku ini bukan wanita kaku yang membosankan, Rangga. Aku juga bisa diajak asbun, bisa diajak seru-seruan, bisa diajak main, bahkan sangat bisa diajak bertukar pikiran soal urusan berat sekalipun. Satu-satunya hal yang paling tidak aku sukai di dunia ini hanya satu: aku tidak suka diremehkan."
Rangga menatapi Arumi dengan dahi yang berkerut dalam, seolah sedang mencerna setiap aturan domestik baru yang dideklarasikan oleh wanita di hadapannya. Alih-alih merasa terbebani dengan syarat diposisikan setara dengan anak-anak, sebuah helaan napas lega justru lolos begitu saja dari rongga dadanya.
"Iya, Mbak. Paham," gumam Rangga akhirnya, menyunggingkan seringai tipis yang kembali dipenuhi rasa percaya diri. Ia meletakkan apel merahnya di atas meja dengan ketukan pelan, mendadak rasa laparnya sudah menguap digantikan oleh ketenangan batin yang baru. "Mulai besok... aku tidak akan menghindar lagi kalau Mbak Arumi lewat di depanku pakai daster."
"Rangga!! Masuk kamar dan tidur sekarang!!" seru Arumi kaget, wajahnya seketika memerah merona hebat karena digoda secara terang-terangan.
Rangga tertawa pelan, sebuah tawa lepas yang terdengar sangat renyah. Dengan gerakan tangkas, ia langsung bangkit dari sofa, mengambil apelnya, dan melangkah lebar menaiki tangga menuju kamar tamu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arumi yang masih berdiri salah tingkah sendirian di ruang tengah di bawah temaram lampu malam.
“Dia beneran sadar aku lupa pakai bra...” gerutu Arumi.
Arumi perlahan menatapi suasana rumahnya malam ini. Keheningan malam kembali menyelimuti ruang tengah, namun anehnya, sesak dan sunyi yang biasanya selalu menghantui Arumi setiap kali ia merindukan mendiang Mas Ary, entah mengapa perlahan mulai menguap. Rumah kayu ini memang tidak lagi tenang, tapi di bawah tatapan takdir yang berkelakar, Arumi tahu... bahwa malam ini, pintu batasan di antara dirinya dan pria bernama Rangga Adiwilaga itu resmi terbuka satu senti lebih lebar.