"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Saran
Mendengar jawaban sang ayah yang terkesan diplomatis dan berusaha mencari ‘aman’, ada bagian dari hati Ameera yang menolak untuk percaya. Ia bisa melihat bagaimana mata ayahnya bergetar setiap kali nama Habibah disebut. Ia bisa merasakan ketegangan yang begitu pekat di rumah kontrakan itu. Bagi Ameera, kebohongan terbesar di dunia ini adalah ketika dua orang yang pernah saling mencintai setengah mati, pura-pura tidak merasakan apa-apa lagi saat dipaksa tinggal di bawah satu atap.
Sore harinya, setelah sampai di rumah lama mereka, Ameera yang sudah tidak sanggup membendung berkas pikirannya sendiri akhirnya menelepon Safia, sahabat dekat tempatnya selalu menumpahkan keluh kesah.
Di dalam kamarnya yang sepi dan terasa luas, karena hampir semua barang-barang sudah pindah ke rumah kontrakan, Ameera menceritakan semuanya dari awal tentang rahasia masa lalu Imam dan Habibah, tentang kehancuran Rayhan, hingga rencana panti jompo yang gagal. Namun, tanggapan Safia justru di luar dugaan Ameera. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu begitu dingin, realistis, dan seketika meremukkan fondasi rencana masa depan yang sudah Ameera bangun bersama Rayhan.
"Meer, coba kamu dengerin aku baik-baik," suara Safia terdengar tenang namun menusuk lewat pelantang telepon. "Kamu dan Rayhan itu masih muda. Umur kalian baru kepala dua. Masa depan kalian masih sangat panjang, Meer. Mungkin, diluar sana, masih banyak kesempatan buat kalian ketemu dengan orang baru, orang yang tepat, dengan cerita cinta yang mungkin jauh lebih baik, lebih tenang, dan lebih besar tanpa bayang-bayang masa lalu seperti ini."
Safia menghela napas di seberang sana, memberi jeda agar kalimat selanjutnya menancap lebih dalam.
"Tapi Papa kamu... beliau sudah tua, Meer. Beliau sudah berkorban banyak sekali untuk kamu sejak Mama kamu meninggal. Beliau menghabiskan sisa usianya dalam kesendirian demi membesarkan kamu. Di sisa umurnya ini, kecil kemungkinan Papa kamu bakal ketemu orang lain lagi atau memulai hidup baru dari nol. Kalau... kalau kalian berdua, kamu dan Rayhan yang mengalah untuk membatalkan pernikahan ini, gimana? Biarkan orang tua kalian yang menyelesaikan atau bahkan merajut kembali cerita mereka yang sempat putus paksa. Menurutmu gimana?"
Pertanyaan Safia telak membuat dada Ameera serasa dihantam godam. Handphone yang dipegangnya nyaris terlepas. Kamar tidurnya mendadak terasa begitu semakin dingin dan hampa. Kalimat sahabatnya itu tidak hanya menghancurkan hatinya, tapi juga menelanjangi ego terdalamnya sebagai seorang anak dan seorang kekasih.
Ameera terdiam cukup lama, menyeka air mata yang kembali lolos dengan kasar. Jawabannya keluar dengan suara yang bergetar hebat, namun sarat akan rasa sakit yang teramat dalam.
"Kamu... kamu gampang banget ngomong begitu, Saf," bisik Ameera, suaranya tercekat oleh tangis yang kembali pecah. "Kamu suruh aku dan Rayhan yang mengalah? Kamu pikir cinta aku ke Rayhan ini cuma main-main yang bisa ditukar tambah kalau ketemu orang baru di masa depan?"
Ameera mencengkeram ujung bajunya sendiri dengan erat, meluapkan seluruh emosinya yang tertahan sejak pagi.
"Pernikahan kami tinggal dua bulan lagi, Safia! Undangan sudah mau dicetak, baju sudah diukur, mimpi-mimpi sudah kami susun rapi. Aku sayang sama Papaku, demi Allah aku sayang! Aku hancur melihat Papa menderita. Tapi menyuruh aku mengorbankan laki-laki yang sangat aku cintai, laki-laki yang sudah berkomitmen bersamaku, hanya untuk menebus masa lalu orang tua kami yang bahkan bukan kami yang buat... itu namanya kejam!"
Ameera menarik napas yang terasa sesak, menggelengkan kepalanya di dalam kamar yang sunyi.
"Lagi pula, kamu pikir kalau aku dan Rayhan putus, Papa dan Tante Bibah bakal otomatis bahagia dan bersama? Nggak, Saf! Mereka itu orang tua yang punya harga diri sangat tinggi. Kalau kami batal nikah gara-gara masalah ini, mereka justru bakal hidup dalam rasa bersalah seumur hidup karena merasa sudah merenggut kebahagiaan anak-anak mereka sendiri! Jalan keluar dari kamu... bukan menyelamatkan siapa pun, Saf. Itu cuma bakal membuat kami berempat hancur bersama-sama tanpa ada yang selamat.”
Di seberang saluran telepon, Safia menarik napas panjang. Ia mendengar semua luapan emosi dan pembelaan Ameera dengan sabar, tanpa memotong sedikit pun. Sebagai sahabat, ia paham betul betapa hancurnya posisi Ameera saat ini. Namun, justru karena ia menyayangi Ameera, ia harus tetap menjadi suara yang paling realistis di saat Ameera sedang dikomandoi oleh rasa panik.
Setelah tangis Ameera agak mereda, Safia kembali berbicara. Suaranya melunak, namun setiap pertanyaannya justru terasa semakin menyudutkan batin Ameera.
"Oke, Meer. Anggaplah ucapanmu tadi benar. Kita kesampingkan dulu opsi kalian yang mengalah," kata Safia pelan. "Sekarang, mari kita pakai opsi yang sedang berjalan. Kedua orang tua kalian yang mengalah. Om Imam pergi, Tante Bibah tetap di kontrakan, dan rencana paviliun kembar dibatalkan."
Safia menjeda kalimatnya, memastikan Ameera menyimak dengan baik.
"Pertanyaanku sekarang... apa kamu dan Rayhan yakin bisa beneran bahagia setelah tahu semua kenyataan ini? Setiap kali kamu melihat wajah Rayhan, apa kamu nggak akan ingat kalau ibunya adalah wanita yang selalu ditangisi Papamu diam-diam? Dan sebaliknya, setiap kali Rayhan melihat kamu, apa dia nggak akan ingat kalau Papamu adalah pria yang hampir membuat ibunya mengasingkan diri ke panti jompo karena ketakutan?"
Ameera tertegun di atas tempat tidurnya yang hanya tinggal bagian dipannya saja yang tinggal, cengkeramannya pada bajunya perlahan melonggar. Pertanyaan Safia langsung menusuk ke titik ketakutan terdalamnya.
"Terus," lanjut Safia lagi, memberikan hantaman terakhir, "apa selamanya kalian akan membatasi orang tua kalian untuk bertemu? Seumur hidup kalian? Nanti kalau kalian punya anak, saat acara aqiqah, saat lebaran, saat anak kalian ulang tahun... apa kalian tega bilang ke Om Imam atau Tante Bibah untuk jangan datang karena takut mereka canggung? Kalian mau egois menikmati pernikahan kalian sambil terus-terusan jadi 'polisi' yang menjaga jarak aman di antara orang tua kalian sendiri?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Safia membuat kamar Ameera terasa tiba-tiba semakin menyempit. Semua bayangan indah tentang pernikahan yang hangat, berkumpul bersama keluarga besar di hari raya, mendadak runtuh dan berganti menjadi sebuah skenario masa depan yang penuh dengan kecurigaan, batasan, dan kepura-puraan yang melelahkan.
Ameera menjauhkan handphone-nya sedikit dari telinga, tidak sanggup lagi mendengar kebenaran yang terlalu jujur dari sahabatnya itu. Lidahnya mendadak kelu, dan untuk pertama kalinya, Ameera tidak punya argumen apa pun untuk membantah ucapan Safia.
Ameera merosot, duduk bertumpu pada lututnya di atas lantai kamar yang dingin. Handphone di tangannya bergetar seiring dengan dadanya yang terasa sesak luar biasa. Keangkuhan dan pembelaannya tadi luruh total, digantikan oleh keputusasaan seorang anak manusia yang merasa jalannya sudah buntu.
"Jadi... jadi aku harus melakukan apa, Safia?" bisik Ameera, suaranya parau, nyaris hilang di sela tangisnya yang tertahan. Mata Ameera melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, membayangkan ayahnya yang mungkin sedang meratapi nasib di ruang tengah. "Kasih tahu aku... aku harus gimana?"
Di seberang telepon, Safia menghela napas panjang. Nada suaranya tidak lagi menyudutkan, melainkan dipenuhi rasa empati yang mendalam sebagai seorang sahabat.
"Meer, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah berhenti memaksakan diri untuk mencari jalan keluar hari ini juga," ujar Safia lembut namun tegas.
"Kamu, Rayhan, Om Imam, dan Tante Bibah... kalian berempat ini ibaratnya baru saja selamat dari kecelakaan besar. Luka kalian masih basah, masih berdarah-darah. Dalam kondisi syok begini, keputusan apa pun yang kamu ambil entah itu nekat nikah atau langsung batalin, pasti akan salah karena cuma didorong pakai emosi."
Safia menjeda kalimatnya sejenak, memberikan ruang bagi Ameera untuk mencerna kata-katanya.
"Saran aku, lakuin tiga hal ini dulu, Meer. Pertama, beri jarak. Kamu sudah benar ikut Om Imam pulang ke rumah lama. Jangan paksa dirimu untuk kembali ke kontrakan itu dalam waktu dekat, dan jangan hubungi Rayhan dulu selama beberapa hari ini. Biarkan Rayhan fokus menenangkan ibunya, dan kamu fokus menemani Papamu. Kedua, ajak Om Imam bicara sebagai sesama orang dewasa. Jangan posisikan dirimu sebagai anak yang sedang menuntut penjelasan, tapi sebagai teman bersandar untuk Papamu. Tanyakan ke beliau, apa yang bener-bener beliau inginkan untuk sisa hidupnya. Bukan keinginan yang ditutup-tutupi demi kebahagiaanmu, tapi keinginan jujurnya. Ketiga, tunda dulu persiapan pernikahan, jangan dibatalkan dulu. Hubungi pihak vendor atau keluarga yang bisa kamu percaya dan mulai katakan, bilang kalau ada masalah internal keluarga yang harus diselesaikan dulu. Ulur waktu dua minggu atau sebulan."
Safia menarik napas dalam sebelum menyampaikan kalimat terakhirnya.
"Nanti, setelah suasananya sudah lebih tenang, baru kamu ketemu lagi sama Rayhan. Bukan di rumah kontrakan itu, tapi di tempat netral. Berdua saja. Tatap mata Rayhan, dan tanya ke diri kalian masing-masing, apakah kalian bener-bener siap membangun rumah tangga di atas rahasia besar ini?"
"Ingat, Meer," lanjut Safia lirih. "Mengalah itu bukan berarti kamu kalah atau cintamu pada Rayhan itu murah. Kadang, mengalah adalah bentuk cinta paling tinggi entah cinta untuk menjaga kewarasan orang tuamu, atau cinta untuk melepaskan satu sama lain sebelum kalian terlanjur saling menyakiti di dalam ikatan pernikahan yang dipaksakan."
Ameera memejamkan matanya erat-erat, membiarkan air matanya membasahi pipi. Kata-kata Safia terasa seperti obat yang rasanya sangat pahit, namun ia tahu, itulah satu-satunya kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.
****