NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 8 : Makan Malam Keluarga

Malam itu, kediaman utama keluarga Mahendra tampak megah berbalut cahaya lampu kristal yang berpijar keemasan. Rumah bergaya klasik modern itu selalu berhasil mengintimidasi siapa saja yang memasukinya, termasuk Nadira. Bagi Nadira, setiap sudut rumah ini memancarkan kekuasaan dan batasan yang tegas, kontras dengan ruang kelasnya yang penuh warna dan kehangatan yang jujur.

Sejak melangkah turun dari mobil, Nadira bisa merasakan debaran halus di dadanya. Ia mengenakan gaun brokat berwarna salem lembut dengan riasan wajah tipis yang natural. Di sebelahnya, Arka berjalan dengan langkah tegap, mengenakan setelan jas formal tanpa dasi yang membuatnya tampak berwibawa namun tetap karismatik. Tidak ada obrolan berarti di antara mereka sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang canggung, menyisakan sisa-sisa ketegangan dari insiden gosip kantor yang belum sepenuhnya reda.

Pelayan membukakan pintu ganda ruang makan formal. Di dalam, meja panjang berbahan kayu mahogani telah dipenuhi dengan set peralatan makan perak yang berkilau. Di ujung meja, duduk Ibu Sarah—ibu kandung Arka—yang memancarkan aura elegan namun dingin. Di sebelahnya, duduk sang ayah, Pak Baskoro, yang sibuk memeriksa tabletnya sebelum akhirnya meletakkannya saat melihat kedatangan sang putra sulung.

"Malam, Pa, Ma," sapa Arka, suaranya terdengar datar saat ia menarikkan kursi untuk Nadira sebelum akhirnya duduk di sebelahnya.

"Malam, Tuan, Nyonya," sambung Nadira dengan anggukan hormat dan senyum manis yang tulus.

Ibu Sarah hanya menanggapi dengan gumaman tipis, matanya menilai penampilan Nadira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalian terlambat sepuluh menit. Arka, biasanya kamu tidak pernah tidak tepat waktu jika menghadiri jamuan penting."

"Jalanan sedikit padat, Ma," jawab Arka singkat, langsung memotong potensi perdebatan.

Hidangan pembuka mulai disajikan oleh para pelayan dengan gerakan yang sangat terlatih. Suasana di meja makan terasa sunyi, hanya terdengar denting halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Pak Baskoro sesekali membuka pembicaraan mengenai perkembangan saham dan ekspansi bisnis Mahendra Group di luar negeri, yang ditanggapi Arka dengan analisis taktis dan tajam. Di dunia ini, Nadira merasa seperti orang asing yang tersesat di tengah rimba angka dan kekuasaan. Ia memilih untuk tetap diam, menikmati makanannya dengan sopan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu hidangan utama berupa *wagyu steak* dengan saus *truffle* disajikan, Ibu Sarah meletakkan pisau makannya dengan ketukan yang sengaja dibuat terdengar. Pandangannya kini sepenuhnya terkunci pada Nadira.

"Jadi, Nadira," buka Ibu Sarah, nadanya terdengar manis namun menyimpan duri yang tajam. "Kudengar dari beberapa kolega Ibu di yayasan, kamu sudah kembali mengajar di taman kanak-kanak itu?"

Nadira menghentikan gerakannya sejenak, lalu menegakkan posisi duduknya. "Benar, Nyonya. Saya sudah kembali mengajar sejak kemarin dulu."

Ibu Sarah mendengus kecil, sebuah senyuman meremehkan terukir di bibirnya. "Ibu pikir, setelah menikah dengan seorang Mahendra, kamu akan sedikit menaikkan kelasmu. Setidaknya, belajarlah bagaimana menjadi istri seorang CEO. Mengurus administrasi yayasan sosial milik keluarga, atau bergabung dengan klub mengaji dan arisan para istri pengusaha. Bukan malah kembali ke tempat kumuh itu, bermain lumpur dan bernyanyi bersama anak-anak yang... yah, kamu tahu sendiri latar belakang mereka."

Mendengar kalimat itu, jemari Nadira yang memegang garpu sedikit bergetar. Hatinya mencubit perih. Bukan karena dirinya dihina, melainkan karena profesinya dan anak-anak didiknya yang tidak berdosa diseret ke dalam jurang kasta sosial yang diciptakan oleh ibu mertuanya.

"Maaf, Nyonya," ucap Nadira, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang dan stabil. "Bagi saya, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mencari uang. Itu adalah panggilan hati. Anak-anak di sana juga berhak mendapatkan pendidikan dan kasih sayang yang sama, tidak peduli apa latar belakang orang tua mereka."

"Panggilan hati?" Ibu Sarah tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat sinis di ruang makan yang sunyi itu. "Jangan naif, Nadira. Di dunia nyata, panggilan hati tidak akan bisa menjaga nama baik keluarga ini. Apa kamu tidak berpikir bagaimana pandangan kolega bisnis Arka jika tahu istri dari CEO Mahendra Group masih bekerja kasar sebagai guru TK dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pasang sepatu Ibu? Itu sangat memalukan. Kamu membuat citra Arka seolah-olah tidak mampu menafkahi istrinya dengan layak."

Kalimat itu begitu menohok. Nadira menundukkan kepalanya sejenak, meremas serbet di pangkuannya. Ia tahu posisinya di rumah ini hanyalah istri kontrak, dan ia tidak memiliki kekuatan ataupun hak untuk membela diri lebih jauh tanpa merusak kesepakatan. Rasa sesak mulai memenuhi dadanya.

Pak Baskoro hanya diam, tidak berniat ikut campur dalam urusan domestik para wanita, sementara Ibu Sarah tampak puas melihat menantunya yang kini terpojok tanpa kata.

Namun, sebelum Ibu Sarah sempat menambahkan kalimat sindiran berikutnya, terdengar suara denting yang cukup keras. Arka meletakkan pisau dan garpunya di atas piring dengan tegas. Suasana di meja makan mendadak mendingin beberapa derajat.

"Cukup, Ma," ujar Arka. Suaranya tidak tinggi, namun nada rendahnya memancarkan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Ibu Sarah tertegun, menatap putranya dengan tidak percaya. "Arka? Kenapa kamu malah bersikap seperti itu pada Mamamu? Mama hanya mengingatkan dia demi kebaikanmu dan reputasi perusahaan."

"Reputasi perusahaan tidak ditentukan oleh apa pekerjaan istri saya, Ma," potong Arka, matanya menatap tajam sang ibu. Tanpa sadar, ada dorongan kuat di dalam dirinya yang menolak membiarkan Nadira diinjak-injakan seperti itu. Bayangan ketulusan Nadira saat mengobati luka anak kecil di sekolah tempo hari mendadak melintas di benaknya, membuat pembelaan ini keluar begitu saja dari bibirnya tanpa sempat ia saring.

Arka melanjutkan, "Nadira bekerja dengan jujur. Menjadi seorang pendidik bukanlah hal yang memalukan, justru itu adalah profesi yang terhormat. Jika ada kolega bisnis saya yang menilai rendah keluarga kita hanya karena istri saya seorang guru, maka mereka adalah orang-orang dengan cara berpikir yang sempit, dan saya tidak butuh bekerja sama dengan mitra bisnis seperti itu."

Nadira spontan menoleh ke arah Arka, matanya membelalak tidak percaya. Jantungnya bertalu jauh lebih cepat, bukan lagi karena rasa takut pada Ibu Sarah, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa atas pembelaan Arka. Di dalam kontrak mereka, tidak ada klausul yang mengharuskan Arka untuk membelanya di depan keluarga. Ini murni di luar dugaannya.

Wajah Ibu Sarah memerah menahan dongkol. "Arka! Kamu berani membantah Mama hanya untuk membela wanita yang—"

"Saya tidak membantah, Ma. Saya hanya menegaskan posisi saya sebagai kepala keluarga di rumah tangga saya sendiri," serang Arka lagi, kali ini dengan tatapan yang membuat Ibu Sarah akhirnya bungkam karena terintimidasi oleh putranya sendiri. "Saya sudah memberikan izin penuh kepada Nadira untuk tetap mengajar. Selama hal itu membuatnya bahagia dan tidak mengganggu kewajibannya di acara resmi keluarga, saya tidak melihat ada masalah. Jadi, saya harap Mama tidak perlu mengungkit masalah ini lagi."

Pak Baskoro yang sejak tadi menyimak akhirnya berdeham, mencoba mencairkan suasana yang terlanjur tegang. "Sudahlah, Sarah. Arka benar. Selama tidak ada hukum yang dilanggar dan media tidak membuat berita yang merugikan, biarkan saja. Kita lanjutkan makan malamnya."

Ibu Sarah mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan kesal dan tidak lagi mengeluarkan suara sepanjang sisa makan malam. Suasana makan malam berakhir dengan keheningan yang kaku, namun bagi Nadira, keheningan kali ini terasa sangat berbeda. Ada kehangatan aneh yang menyelimuti hatinya, sebuah rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia kehilangan kedua orang tuanya.

---

Setelah berpamitan dengan formal, Arka dan Nadira berjalan beriringan menuju mobil yang sudah menunggu di lobi depan. Begitu pintu mobil tertutup dan kendaraan mewah itu mulai melaju membelah jalanan kota yang sepi, keheningan kembali merayap di antara mereka.

Nadira menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang bergerak cepat. Pikirannya masih tertuju pada kejadian di ruang makan tadi. Setelah mengumpulkan keberanian, ia memutar tubuhnya sedikit ke arah Arka yang sedang bersandar sambil memejamkan mata.

"Pak Arka..." panggil Nadira lirih.

Arka membuka matanya lambat-lambat, menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Ada apa?"

"Terima kasih untuk yang tadi di meja makan," ucap Nadira tulus, matanya berbinar tulus di bawah temaram lampu kabin mobil. "Anda... tidak seharusnya melakukan itu sampai bersitegang dengan Ibu. Tapi, terima kasih karena sudah menghargai profesi saya."

Arka terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah Nadira. Ada denyut aneh di dadanya saat melihat binar terima kasih di mata wanita itu. Ia berdeham kecil, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-as tiba melanda dirinya sendiri. Ia sendiri pun sebenarnya bingung mengapa kata-kata pembelaan itu bisa meluncur begitu tegas dari mulutnya tadi.

"Jangan salah paham," kata Arka, kembali memasang suara dingin yang menjadi benteng pertahanannya selama ini. "Saya melakukannya bukan karena apa-apa. Saya hanya tidak suka ada orang lain yang mendikte keputusan yang sudah saya setujui, termasuk Mama. Kita punya kesepakatan, dan selama kamu mematuhinya, menjaga ketenanganmu juga adalah bagian dari tugas saya agar pernikahan ini terlihat meyakinkan di luar."

Nadira tersenyum tipis, tidak merasa sakit hati dengan jawaban kaku Arka. Ia sudah cukup mengenal karakter pria di sampingnya ini—seorang pria yang selalu menyembunyikan kepeduliannya di balik topeng logika dan kontrak bisnis. Bagi Nadira, pembelaan spontan di depan Ibu Sarah tadi sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Arka Mahendra memiliki sisi humanis yang jauh dari apa yang dipikirkan orang-orang di luar sana.

"Tetap saja, terima kasih, Pak," bisik Nadira lembut sebelum kembali memalingkan wajahnya menatap jalanan.

Arka tidak menyahut lagi. Ia kembali menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Namun, di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, senyum tipis Nadira dan kehangatan suara wanita itu justru terasa makin nyata. Arka mengepalkan tangannya perlahan di atas pangkuan, menyadari sebuah kenyataan yang makin sulit ia pungkiri: benteng pembatas di dalam hatinya kini tidak lagi sekuat sebelumnya, dan kontrak yang ia buat sendiri kini perlahan-lahan mulai kehilangan kuasanya atas perasaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!