Namanya Ahmad Lukman Al hafiz
Seorang gus yang terkenal dengan hukuman yang tidak main main dan sedikit kejam. Seorang gus yang dingin, cuek dan galak. Mendapatkan julukan Gus galak dari para santri termasuk seorang santriwati yang sangat sering berurusan dengan gus Lukman.
Namanya Syafa Aisyah
Gadis cantik yang terkenal dengan tingkahnya yang sangat bandel, membuat siapa saja yang berurusan dengannya harus ekstra sabar dan bagi para santri di pesantren syafa hanya santri yang susah di atur. Namun belum banyak yang tau sisi lain dari dirinya yang terjadi dimasa lalu.
Siapa sangka suatu insiden yang membuat gus Lukman dan syafa harus hidup sebagai pasangan suami istri.
"Mau pamer sama senja, kalau gus lebih indah dari dia."
"Mimpi apa saya semalam sapai dapat istri bandel seperti kamu."
"Syafa boleh nyerah ngak Gus, Syafa capek."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @nyamm_113, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 027
Happy Reading,,,
[GUS LUKMAN &SYAFA]
Setelah kejadian di mana Syafa di rawat di rumah sakit selama dua hari, kini dia kembali ke sekolah seperti biasanya. Menghadapi pertanyaan ke dua temannya.
"Tapi Syukur deh, kamu udah sehat." Ujar Isyana pada Syafa yang duduk di sebelahnya.
"Iya alhamdulillah." Jawab Syafa tersenyum pada keduanya.
"Kamu kapan selesai jadi santri khusus sih! Kangen tau tinggal barang lagi di asrama." Tutur Anjani sambil memajukan bibirnya beberapa senti.
"Mana aku tau! Tanya sendiri sama Gus Lukman."
"Ngak berani."
"Kenapa ngak berani?"
"Takut di makan hidup-hidup ana."
Syafa dan Isyana yang mendengar itu terwa dengan ucapan Anjani yang tidak masuk akal, memangnya Gus Lukman zombie apa makan orang pikirnya.
"Ada-ada saja kamu Ni." Kata Syafa.
Saat mereka sedang asyik berbincang suara bel pulang sekolah berbunyi, semua anak sekolah menyukai suara bel pulang setelah suara mesin atm iya kan?
Teng
Teng
Teng
"Alhamdulillah, ayok pulang!" Tutur Isyana dengan semangat 45 nya.
Mengambil tas ransel berwarna pink cerah itu, lalu menggendongnya di depan. Dia lebih suka menggendong tas ranselnya di depan dari pada di punggungnya.
Saat di tanya jawaban Isyana "belajar gendong anak, biar nanti kalau udah ada anak ngak kaku." Katanya.
"Ayok!"
Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari ruang kelas untuk pulang ke asrama.
"Mampir ke asrama dulu ngak nih?" Tanya Anjani pada Syafa yang berjalan di tengah.
"Kayanya ngak dulu deh, banyak kerja di rumah soalnya." Jawab Syafa. "Afwan yah." Lanjut Syafa merasa tak enak hati pada keduanya, dia memang sudah lama tidak mampir ke asrama dan Gus Lukman juga tidak pernah melarang dirinya untuk ke asrama.
"Lah! Santai ajah kali ukhti, besok-besok juga bisa kan? Iyakan Isyana?"
"Na'am, bener besok-besok kan bisa." Lanjut Isyana menggandeng lengan Syafa.
###
Setelah sampai dirumah Syafa langsung bergerak untuk membersihkan rumah ini, beberapa hari tidak berpenghuni karena dirinya sakit dan Gus Lukman juga tidak pernah pulang ke rumah ini.
Tok, tok,
Clekkk
"Assalamu'alaikum." Itu Gus Lukman yang baru saja datang dengan tas kerja di tangan kirinya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, mas." Jawab Syafa tersenyum manis. Mendekati suaminya lalu mengambil alih tas kerja itu, setelah itu mencium punggung tangan suaminya.
Gus Lukman yang melihat itu tersenyum lalu mengusap ubun-ubun Syafa dan mencium kening Syafa yang sudah menjadi kebiasaannya, lalu hal tak terduga terjadi.
Cup
"Manis." Ujar Gus Lukman. "Manis seperti biasa." Lanjutnya tersenyum lebar.
Syafa yang mendapat perlakuan itu mendadak tak bisa bergerak, masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Gus Lukman mencium bibirnya? Astaghfirullah bunda Syafa salting batinnya berteriak.
Gus Lukman yang melihat Syafa yang hanya diam tersenyum lagi melihat tingkah istrinya, ini bukan ciuman pertama mereka lalu kenapa Syafa masih malu pikirnya.
"Pipi kamu kenapa? Kok merah? Sakit? Atau demam lagi?" Cecar Gus Lukman. "Atau salting yah?" Lanjut Gus Lukman tersenyum jahil pada istrinya.
"Ih mas! Syafa ngak salting yah!" Elak Syafa sambil menyentuh kedua pipinya.
"Masa sih! Salting juga ngak apa-apa kok, saya suka." Kata Gus Lukman.
Setelah mengatakan itu Gus Lukman segera pergi dari hadapan Syafa, berlari pelan untuk ke lantai dua.
"Astaghfirullah! Syafa kamu malu-maluin banget sih! Gus Lukman juga kenapa jadi cerewet sih! Ngak tau apa pengen jungkir balik ana." Tuturnya. "Kalau tiap hari seperti ini, bisa mati muda ana." Lanjutnya.
Sikap Gus Lukman pada Syafa perlahan mulai berubah, dari yang dingin jadi biasa-biasa saja, lalu dari yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Lebih tepatnya es batu itu mulai mencair, Gus Lukman sudah banyak berkomunikasi dengan Syafa dan sedikit romantis mungkin. Walau Gus Lukman masih terkadang sedikit kaku, tapi Syafa menyukai itu.
###
Di kamar lantai dua, setelah Gus Lukman meninggalkan Syafa di lantai satu tadi. Dia juga sebenarnya sedikit salting catatan yah sedikit, namun dia masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
"Astaghfirullah Lukman, kau sudah gila!" Katanya pada dirinya sendiri.
"Seperti ini rasanya jatuh cinta versi halal? MasyaAllah." Lanjutnya.
Setelah itu Gus Lukman mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan, setelah mengganti pakaian dia lantas kembali ke lantai satu untuk melihat apa yang sedang dilakukan istri kecilnya itu.
Sedangkan Syafa terlihat sibuk menata makanan yang dia panaskan tadi, tadi pagi saat hendak berangkat ke madrasah Umi Salma datang ke rumah. Lebih tepatnya mengantarkan lauk pauk untuk menantunya yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Srekkk
Suara kursi di geser mengalihkan perhatian Syafa, saat melihat ke meja makan teryata suaminya yang duduk dengan kaos putih lalu sarung yang senantiasa dia pakai.
"Tunggu sebentar ya mas." Kata Syafa.
"Iya." Jawab Gus Lukman.
Setelah semua siap di meja makan, Syafa duduk di sebelah Gus Lukman yang sedari tadi asyik memandang sang istri dengan senyum yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapapun.
"Mas mau pake lauk apa?" Tanya Syafa setelah mengambilkan nasi untuk Gus Lukman.
"Apa saja Syafa." Jawab Gus Lukman.
Setelah itu Syafa mengambilkan beberapa lauk pauk untuk suaminya, setelah itu meletakkan piring yang sudah diisi nasi dan lauk pauknya ke depan Gus Lukman.
"Terimakasih." Kata Gus Lukman kepada istrinya.
"Sama-sama." Jawab Syafa tersenyum. Setelah itu Syafa mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Sebenarnya Syafa ingin mengatakan sesuatu pada Gus Lukman, namun dia akan mengatakan setelah makan siang ini.
"Ada apa?" Tanya Gus Lukman. Saat melihat Syafa yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Syafa mau bicara mas, tapi setelah makan saja." Jawab Syafa. Melanjutkan kembali makannya.
"Baiklah."
Setelah makan siang bersama, Gus Lukman duduk di ruang tamu dan Syafa sibuk membereskan bekas makanan tadi. Gus Lukman ingin membantu namun di larang oleh Syafa, dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu saja.
"Mas." Panggil Syafa. Setelah kembali dari dapur.
Gus Lukman menoleh lalu tersenyum, menepuk sofa di sebelahnya menyuruh Syafa duduk di dekatnya.
"Sini duduk samping mas." Kata Gus Lukman.
Syafa terdiam saat mendengar Gus Lukman memanggil namanya sendiri dengan mas, ini untuk yang pertama kalinya. Aduh salting lagi batin Syafa.
"Syafa?" Panggil Gus Lukman saat tak mendapatkan respon dari sang istri.
"Eh! Iya mas." Jawab Syafa. Setelah itu duduk di samping suaminya, entah mengapa saat duduk dengan jarak dekat seperti ini. Syafa masih merasa kaku lebih tepatnya masih grogi.
"Mau bicara apa?" Tanya Gus Lukman. setelah Syafa duduk di sampingnya.
Khemmm
"Syafa mau minta izin, boleh?" Tanya Syafa. Menatap mata Gus Lukman dengan senyum manis miliknya.
"Izin untuk apa?" Tanyanya lagi. Mengusap pelan kepala Syafa yang terbalut jilbab coklat besar.
Syafa yang mendapatkan perlakuan itu meremang sendiri, merasakan desiran aneh dalam dirinya.
"Syafa mm, mau izin pulang boleh?" Tanya Syafa. Entah keberanian dari mana dia dapatkan hingga dia dengan berani menggenggam tangan yang berurat milik suaminya itu.
"Untuk apa izin pulang? Merindukan ayah dan bunda?" Sekali lagi Gus Lukman bertanya.
"Itu salah satunya, tapi Syafa mau izin buat ketemu ayah dan ibu." Jawab Syafa. Menundukkan kepalanya dengan dalam, takut jika suaminya tidak mengizinkannya untuk pulang.
Gus Lukman yang mendengar itu diam sesaat, mengerti dengan apa yang di ucapkan Syafa. Mengangkat perlahan wajah Syafa untuk menatapnya. Lalu memberikan kecupan singkat di kening Syafa.
Cup
"Boleh! Asalkan mas yang antar." Katanya tersenyum manis. Syafa yang melihat itu kembali tertegun, ternyata Gus Lukman jika banyak tersenyum bertambah kali lipat ketampanannya. Sungguh demi apapun Syafa sangat beruntung menikmatinya sendiri.
"Mau kapan izinnya?" Lanjut Gus Lukman.
"InsyaAllah sabtu siang, boleh kan?"
Gus Lukman tersenyum. "Tentu saja."
"Benar? Mas ngak sibuk?" Tanya Syafa.
"Mas tidak pernah sibuk jika menyangkut dirimu istriku." Jawab Gus Lukman dengan tenang.
Sedangkan Syafa ketar ketir di buatnya, bagaimana mungkin Gus galak yang sering menghukumnya ini berkata seperti itu. Kan jadi salting lagi pikirnya.
"Mas ais." Ujar Syafa tidak jelas. Salting lagi dia.
"Salting yah?"
"Apa sih mas! Jangan di gitu in ih!"
"Mas ngak ngapain-ngapain loh."
"Ih! Ngak tau ah! Malas."
###
Sholat maghrib berjama'ah sudah selesai beberapa menit lalu, semua santri kini belajar kajian umum yang di bawakan langsung oleh Gus Lukman. Kajian pada malam ini adalah akidah akhlak.
Aqidah merupakan akar atau pokok Agama, sedangkan Akhlak merupakan sikap hidup atau kepribadian manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh Aqidah yang kokoh. Dengan kata lain, Akhlak merupakan manifestasi dari keimanan (Aqidah).
Aqidah dan akhlak dalam ajaran Islam kaitannya sangat erat. Aqidah yang kuat dan benar tercermin dari akhlak terpuji yang dia miliki dan sebaliknya. Dalam konsepsi Islam aqidah dan akhlak tidak hanya sebagai media yang mencakup hubungan manusia dengan Allah tetapi juga mencakup hubungan dengan sesama manusia ataupun dengan alam sekitar karena merupakan implementasi dari ajaran Islam yang rahmatan lil aalamiinnn.
Jika hubungan-hubungan itu bisa diterapkan dengan selaras maka akan membuat seseorang memiliki kehidupan yang Bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Demikian adalah pembahasan mengenai aqidah dan akhlak yang saling berhubungan satu sama lainnya.
[GUS LUKMAN &SYAFA]
salken, thor
ada ada aj kamu ning....
sana pulang belajar lagi, atau g buka bukunya jgn dijdikan pajangan lemari kaca..
ambil tindakan apa kamu sama si ning nong neng gong itu...