"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Menyaring Air di Tengah Lumpur
Malam turun menyelimuti Sekte Lembah Bambu Biru. Suara jangkrik dan gesekan daun bambu yang tertiup angin malam menciptakan harmoni yang tenang, sebuah ketenangan yang bagi Wei Changqing terasa teramat mewah.
Di dalam kamar kecilnya yang gelap, Changqing duduk bersila di atas ranjang kayu. Mata terpejam, napasnya diatur dalam tempo yang sangat lambat, nyaris tidak terdengar.
Ia sedang melakukan meditasi pemeriksaan tubuhnya secara menyeluruh.
Dalam dunia persilatan, teknik dasar yang diajarkan oleh sekte-sekte kecil seperti Lembah Bambu Biru umumnya kasar dan memiliki banyak kecacatan. Teknik pernapasan sekte ini, Aliran Bambu Putih, memaksakan tenaga dalam mengalir langsung melalui jalur meridian utama secara agresif. Akibatnya, dinding meridian murid-murid di sini sering kali mengalami cedera kecil yang membuat progres mereka mandek di tingkat Pendekar Menengah atau paling tinggi Pendekar Tinggi.
‘ Pantas saja di kehidupanku yang dulu, butuh waktu lima belas tahun bagiku untuk menembus tingkat Master Bela Diri,’ batin Changqing sambil menatap aliran tenaganya sendiri di dalam mata batinnya. ‘Jalur meridian di sekitar dada kiri dan punggung bawahku dipenuhi kotoran akibat teknik pernapasan yang salah.’
Bagi praktisi biasa, membersihkan meridian yang tersumbat membutuhkan ramuan pil spiritual seharga ribuan keping emas atau bantuan langsung dari seorang Grandmaster. Namun bagi Changqing yang kesadaran jiwanya berada di ranah Pendekar Nirwana, ia tidak butuh obat mahal. Yang ia butuhkan hanyalah kendali presisi.
Perlahan, Changqing mengendalikan tenaga dalamnya yang seukuran biji beras.
Alih-alih menabrakkan tenaga itu seperti arus sungai yang deras, ia merubah tenaga dalamnya menjadi setipis benang sutra. Dengan keakuratan tingkat tinggi yang dibimbing oleh Niat Pedang di dalam jiwanya, benang tenaga dalam itu mulai mengikis kotoran di meridian dada kirinya secara perlahan, lembut, dan tanpa rasa sakit sedikit pun.
Srrr... srrr...
Satu jam berlalu. Keringat hitam berbau amis mulai merembes keluar dari pori-pori kulit Changqing, itu adalah racun dan kotoran tubuh yang berhasil dikeluarkan. Aliran tenaganya kini menjadi dua kali lipat lebih lancar dari sebelumnya!
Meskipun tingkat latihannya secara resmi masih berada di Pendekar Menengah Tahap 3, kualitas tenaga dalamnya kini setajam Pedang Pendekar Ahli Persilatan.
‘Cukup untuk malam ini,’ Changqing membuka matanya, dan menghela napas panjang berupa uap putih yang sempat tertahan di udara selama tiga detik sebelum pudar. ‘Jika aku membersihkannya terlalu cepat, aura tubuhku akan berubah drastis dan Guru akan langsung menyadarinya.’
Changqing bangkit, mengambil handuk basah untuk membersihkan keringat hitam di tubuhnya. Saat ia sedang mengelap lengan nya, terdengar ketukan ringan di pintu kamarnya.
Tok. Tok.
"Changqing? Kau belum tidur?" Suara yang lembut namun berwibawa terdengar dari balik pintu.
Mendengar suara itu, gerakan tangan Changqing terhenti seketika. Jantungnya berdetak agak kencang. Itu adalah suara Guru Utama Sekte, Zhao Wuji. Seorang pria tua yang baik hati, yang berada di tingkat Pendekar Tinggi Tahap 4, yang di masa depan gugur demi melindungi Changqing muda dari kepungan penjahat.
Changqing segera melempar handuknya ke sudut gelap, merapikan jubah tidurnya, lalu membuka pintu dengan wajah khas pemuda 19 tahun yang sedikit mengantuk.
"Guru? Ada apa malam-malam ke kamar Changqing?" tanya Changqing sambil membungkuk hormat.
Pria tua berjubah putih pudar itu berdiri di depan pintu, jenggot putihnya diusap lembut. Mata Guru Zhao Wuji menatap Changqing dengan sorot menilai yang cukup dalam.
"Paman Gurumu, Lin, bercerita padaku tentang latih tandingmu dengan Zhou Hao pagi tadi," kata Guru Zhao dengan nada tenang. "Dia bilang, kau berhasil menangkis tebasan penuh Zhou Hao hanya dengan menempelkan pedangmu di pangkal pedangnya. Dia mengira kau beruntung... tapi aku mengenal cara bertarung mu, Changqing."
Changqing menahan napasnya. ‘Apakah Guru curiga?’
Guru Zhao melangkah masuk satu langkah, menatap mata Changqing. "Selama tiga bulan terakhir, gerakan pedangmu selalu kaku karena kau terlalu memaksakan tenaga di pergelangan tangan mu. Tapi hari ini... Paman Gurumu bilang gerakanmu sangat mengalir, seperti air yang menghindari batu."
Changqing segera memutar otak. Ia tidak boleh ketahuan, tapi ia juga tidak bisa menyangkal sepenuhnya pengamatan seorang Guru. Ia harus memberikan alasan yang masuk akal bagi seorang pemuda berbakat yang baru saja mengalami "pencerahan kecil".
"Itu... sebenarnya, Guru..." Changqing menggaruk belakang kepalanya, memasang wajah malu-malu. "Beberapa hari ini murid sering mengamati dedaunan bambu yang jatuh di halaman saat angin kencang."
"Dedaunan bambu?" Guru Zhao mengangkat alisnya.
"Benar Guru. Daun bambu tidak pernah melawan angin badai. Mereka menunduk, mengikuti arah angin, lalu kembali tegak setelah angin lewat," jelas Changqing dengan nada polos. "Murid berpikir... bagaimana kalau pedang murid tidak usah melawan tenaga Zhou Hao yang keras? Murid coba mengikuti arah tebasannya, dan ternyata... berhasil, Guru! Walaupun tadi murid hampir terpeleset karena belum terbiasa."
Mendengar penjelasan itu, mata Guru Zhao Wuji langsung berbinar bangga. Pria tua itu tertawa lepas, menepuk pundak Changqing dengan kuat.
"Hahaha! Pencerahan alamiah! Di usiamu yang baru sembilan belas tahun, kau sudah mulai memahami esensi 'kelembutan menaklukkan kekerasan'!" puji Guru Zhao dengan mata berkaca-kaca. "Bagus, Changqing! Sangat bagus! Bakat pemahamanmu jauh melampaui rekan-rekanmu!"
"Ah, Guru terlalu memuji. Murid masih harus banyak belajar," jawab Changqing sambil menunduk hormat, dalam hati ia bernapas lega karena alasannya diterima dengan sempurna.
Guru Zhao mengangguk-angguk puas. "Karena pemahamanmu sudah meningkat, sudah saatnya kau mendapatkan pengalaman di dunia luar agar ilumumu tidak hanya sebatas teori di atas kertas."
Inilah momen yang ditunggu-tunggu Changqing!
"Pengalaman di dunia luar, Guru?" tanya Changqing memancing.
"Benar. lusa, sekte kita menerima permintaan pengawalan pasokan obat-obatan menuju Kota Lembah Hitam di kaki gunung," kata Guru Zhao. "awalnya aku hendak mengirim murid senior lain, tapi melihat kemajuanmu hari ini, aku memutuskan untuk mengirimmu dan Zhou Hao lusa pagi. Anggap ini ujian pertamamu turun gunung."
Changqing menyembunyikan senyum puasnya di balik wajahnya yang terkejut dan antusias. Kota Lembah Hitam. Tepat sesuai rencananya. Di sanalah Baii Ling berada saat ini.
"Murid tidak akan mengecewakan kepercayaan Guru!" jawab Changqing tegas.
"Istirahatlah yang cukup. Besok persiapkan barang-barangmu," pesan Guru Zhao sebelum berbalik pergi meninggalkan kamar Changqing.
Menatap punggung gurunya yang menjauh di kegelapan malam, mata Changqing kembali berkilat hijau zamrud yang amat tipis.
"Guru... di kehidupanku yang dulu, aku tidak cukup kuat untuk melindungimu. Tapi di kehidupan ini, aku bersumpah, Sekte Lembah Bambu Biru tidak akan pernah runtuh."
Changqing menutup pintu kamarnya. Persiapan internal telah selesai. Lusa, ia akan turun gunung menuju Kota Lembah Hitam, mengawali langkah pertamanya memotong rantai takdir berdarah dunia persilatan.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏